
Setelah pertemuan kelas membahas festival untuk nanti. Shei melanjutkan latihan marching band di lapangan indoor untuk mempersiapkan penampilannya di festival sekolah.
Shei dan teman-temannya sedang berlatih, menari dan bergerak sesuai koreografi yang telah ditentukan, ada juga beberapa alat peraga yang dimainkan oleh mereka. Mengikuti instrumen musik yang dimainkan oleh yang lainnya dengan posisi mereka masing-masing.
Tak berapa lama ada seseorang yang baru saja datang dengan tergesa-gesa, namun musik masih terus dimainkan, latihan itu tanpa henti dengan datangnya salah satu anggotanya yang baru saja bergabung.
"Maaf kak baru gabung."
Ketua Feby tidak bersuara, hanya menginstruksikan Alya untuk segera bergabung memainkan alat musik sesuai posisinya. Sebelumnya, Alya sempat meminta izin untuk datang terlambat karena ada tugas yang diberikan oleh wali kelasnya, dan Feby memahaminya. Karena wali kelas juga merupakan pembina ekstrakurikuler ini. Feby sebagai komando, mayoret mencoba berkonsentrasi lagi.
Alya yang sudah mahir dalam memainkan xylophone telah masuk dengan iringan bagian sekarang. Di sana, Ello yang biasanya selalu bercanda tapi dalam latihan, dia sangat serius. Dia akhirnya memainkan drum elektrik di posisinya. Ia pandai membuat ekspresi wajah, dengan suasana iringan musik ini. Mungkin dia sudah terbiasa, karena dia selalu tampil di panggung dengan nyanyian rock-nya. Lalu ada Rave yang awalnya memainkan alat musik tiup yaitu terompet, kali ini dia sibuk dengan jemarinya karena sekarang dia memainkan piano.
Karena sudah diputuskan konsep baru marching band akan digabungkan dengan band. Beruntung, ada anggota marching band yang mahir memainkan alat musik seperti Ello dan Rave. Dan yang lainnya memainkan alat musik yang dimainkan oleh marching band seperti sebelumnya.
Dub dub dub jreng...
PROK PROK PROK PROK....
"WOW... AMAZING."
Semua orang terkejut ada suara tepuk tangan dan dua suara pria yang berbeda terdengar. Setelah kami cari, kami menemukan Pak Satria dan Joy sedang duduk di tribun atas, menonton latihan anak-anak marching band Baknus di bawah sini.
"Saya sangat terharu. Bisa melihat kalian latihan lagi dengan serius, penuh semangat. Untuk sebuah event pertama kalian setelah sekian lamanya." Joy membuat ekspresi sedih, menepuk pundak orang yang lebih tua darinya itu. Gurunya.
Anak-anak marching band hanya bisa tersenyum. Mereka juga sangat merindukan moments latihan serius seperti sekarang ini.
"Dan kamu, Sheila. Bapak senang kamu dapat bergabung dengan ekskul ini," lanjutnya.
Shei hanya tersenyum.
Pak Satria bangkit. "Kalian teruskan lagi latihannya. Bapak, harus kembali ke kantor, mengurus hasil ulangan kalian."
"Siap, Pak."
"Oke guys... kita istirahat dulu lima belas menit baru kita mulai lagi," ucap Feby.
__ADS_1
"Ayey kapten."
Dari beberapa orang ada yang izin ke toilet, bermain-main, juga langsung merebahkan tubuhnya karena lelah. Disini sudah disediakan minuman yang dibeli dari uang kas ekstrakurikuler ini. Jadi, anak-anak marching band tidak perlu repot lagi membeli minuman.
Joy sudah turun dari tempat duduk penonton, dan memutuskan untuk bergabung di bawah sana dengan anak-anak marching band. Dia ingin menemui Shei namun dia urungkan setelah melihat Alya dan memutuskan untuk menemuinya lebih dulu.
"Ini." Ello membawakan minuman untuk Shei.
"Makasih."
Dia duduk di samping Shei yang sudah meluruskan kakinya, karena pegal-pegal. Tentu saja seluruh tubuhnya sakit karena ia termasuk latihan yang menggerakkan seluruh tubuh. Sudah lama sekali, Shei tidak pernah bergerak cukup berat seperti sekarang, tubuhnya mulai meregang setelah kaku yang ia rasakan.
"Usman! Jangan dimain-mainin," tegur Feby yang melihatnya memainkan baton dilempar-lempar tidak sesuai dengan aturan.
Semua orang langsung melihat ke arah Usman setelah ketua menegur salah satu dari kami. Tidak didengarnya oleh Usman, tampaknya yang ditakutkan oleh ketua Feby terjadi.
Klotak....
"Ah!" kejutnya. Baton itu terjatuh, dan ada benda berbentuk bundar yang merupakan ujung dari tongkat terlepas. Benda itu menggelinding.
Sampai ke arah Shei berada.
"Hei! Udah gue bilang jangan dimainin! Rusak, kan!" sembur Feby kepada Usman.
"Sorry. Lepas doang itu, nggak rusak." Pembelaan diri sendiri dari Usman.
Namun, sepertinya kejadian ini bergerak lambat, bergulir ke arah Shei. Shei terus menonton dengan ekspresi yang sangat gelisah di wajahnya. Bahwa suara menjadi redup, hanya suara benda menggelinding yang terdengar.
Deg!
Detail peristiwa masa lalu melintas di benak Shei. Benda bundar di ujung baton, alat yang digunakan oleh mayoret berguling ke arahnya, setelah alat itu dilempar ke arahnya dengan keras menimbulkan rasa sakit oleh seseorang.
Suara nafas Shei dan pandangan Shei semakin tidak terkendali, peristiwa itu terus berputar-putar. Keringat dingin mulai terasa, wajahnya semakin pucat. Di saat benda itu sudah berhenti di dekat kakinya.
"Shei?" Ello yang berada disampingnya merasa ada yang aneh dari gerak-gerik Shei. Wajahnya menjadi pucat, yang ia lihat. "Lo nggak papa? Wajah lo pucet. Lo sakit?"
__ADS_1
Mendengar perunturan Ello barusan, semua orang langsung menatap ke arah Shei. Tampaknya Shei sedang kenapa-kenapa.
"Gueh... nggak papa." Ucapannya tidak sesuai dengan keadaannya sekarang.
"Serius lo nggak papa?" tanya kembali Ello yang khawatir.
"Shei kalau lo sakit jangan maksain latihan. Lo mending pulang aja istirahat," sambung Feby.
"El. Anterin dia pulang," ujar Rave kepada Ello. Ello segera mengangguk. Namun Shei menahannya.
"Gue nggak papa, serius," ucap Shei lemas.
"Nggak kenapa-kenapa gimana? Wajahnya lo pucet gituh. Jangan keras kepala! El buruan anterin," decak Rave mengerutkan keningnya kesal.
Rasanya seperti Shei ingin membalas kekesalannya dengan nada suara Rave. Tapi sekarang tidak, karena kata-kata Rave tak tertahankan.
"Ayok, Shei," ajak Ello membantunya berdiri. "Biar gue aja yang bawa." Dia juga membawakan ransel milik Shei.
Orang-orang melihat kepergian Shei bersama Ello keluar dari lapangan indoor ini.
"Alya..."
"Yah Kak Feby?"
"Tadi di kelas gimana? Emang lagi sakit?" Feby bertanya karena Alya satu kelas dengan Shei, juga Alya sebagai ketua kelas.
"Waktu di kelas baik-baik aja. Dia juga ikut ujian," jawabnya. Lalu ia menoleh ke samping pada Joy untuk meminta penjelasan lebih. Karena Joy lah teman satu-satunya Shei disini. "Iyah kan Joy? Atau emang dia lagi sakit?"
"Dia nggak sakit, kok. Baik-baik selama di kelas," jelas Joy memberitahu semua orang.
"Mungkin kecapean kali ya udah ujian langsung latihan. Kalau gituh, daripada ada yang sakit lagi. Hari ini latihannya cukup aja yah. Lusa kita sambung lagi."
Semua orang bersiap-siap untuk pulang tetapi sebelum itu mereka membersihkan alat-alat yang telah digunakan tadi.
Alya memungut benda bundar yang terlepas dari ujung tongkat, di tempat Shei tadi duduk. Alya mengkhawatirkannya, Shei tiba-tiba terlihat gelisah, membuat wajahnya pucat. Berharap Shei baik-baik saja.
__ADS_1
...🌸...