
Alvin, Alya, dan Fay telah memasuki babak selanjutnya untuk masuk sepuluh besar masing-masing bidang studi mereka dan ini adalah akhir dari kompetisi mereka. Mereka berada di ruangan yang berbeda. Shei, Ello, dan Rave, tidak dapat melihat kompetisi itu karena berada di ruangan yang tertutup.
Ketika Shei sampai di sekolah lamanya, Nusantara High School, semua orang langsung sadar bahwa mantan murid ini, Shei, ada disini. Tentu saja orang-orang langsung membicarakannya. Shei berpikir apakah Alya juga dibicarakan seperti ini ketika datang ke sekolah ini lagi.
Shei dan Rave masuk ke kandang lawan, tentu berdampak besar terutama bagi Rave, karena kini geng NHS mengincarnya. Tinggal menunggu instruksi dari seseorang untuk melakukan rencana. Semuanya telah disiapkan sebaik mungkin untuk mencari keadilan bagi kami sebagai murid dan mantan murid Nusantara High School.
Sudah berlalu beberapa jam dimana waktu kompetisi olimpiade akan segera habis. Shei, Rave, dan Ello menunggu di suatu tempat dimana penghuni sekolah ini telah pulang tampak sepi disini karena langit akan segera gelap.
Sudah beberapa jam waktu kompetisi Olimpiade akan habis. Shei, Rave, dan Ello menunggu yang lainnya datang. Para penghuni sekolah ini sudah pulang tampak sepi di sini karena langit akan segera gelap. Tidak lama kemudian terlihat Alya dan Alvin berjalan bersamaan dengan tergesa-gesa.
"Gimana? Lancar ngerjainnya?" tanya Shei.
Alya dan Alvin angguk, walaupun ada kesulitan dari soal yang mereka kerjakan tetapi mereka bisa mengatasinya, mereka mungkin tidak tahu apakah jawaban mereka benar atau salah. Yang pasti kegugupan mereka sudah hilang, dan berharap apapun hasilnya mereka sudah bekerja keras.
"Pak Satria? Fay?" tanya Ello.
"Fay bareng sama Pak Satria lagi ngobrol sama Kepala Sekolah disini."
"Oke bagus."
......................
Sementara Joy dan Ghesa mereka sedang berjaga-jaga, berkeliling untuk mengamankan TKP.
"Lama banget, oy, dimana sih mereka?" decit Joy.
"Gue juga lapar," keluh Ghesa seketika bola matanya membesar setelah melihat sosok itu telah tiba. Ghesa segera menepuk-nepuk Joy, memberitahukannya. "Joy, Joy! Si Kutu udah dateng..."
"Hah? Mana? Mana?" Joy dengan cepat segera melihat ke arah yang Ghesa tuju. Terget telah ditemukan. Lisa menemui anak laki-laki bernama David. Joy sekarang sudah tahu, David adalah mantan pacar Alya. Berharap Alya dan David tidak akan pernah balikan. Dia berdoa sungguh-sungguh.
Lisa dan David telah pergi lagi masuk ke dalam sekolah.
Joy telah menelepon seseorang. "Hallo Shei. Target sudah bergerak. Situasi aman terkendali."
......................
"Maaf aku nggak bisa dateng lihat penampilan kamu."
"Nggak papa, Beb. Semoga tim sekolah kita menang, jadi kamu bisa lihat lagi penampilan aku besok." David tersenyum lebar sambil merangkul pacarnya, Lisa. "Kamu ngurusin ini pasti capek ya?"
"Nggak. Setelah lihat kamu, aku jadi semangat lagi."
"Hmm gombal."
Mereka tekekeh sambil berjalan terus ke depan sampai akhirnya mereka tiba di ruangan OSIS. "Beb. Kamu tunggu dulu disini, aku beliin minum."
__ADS_1
Lisa angguk dan David pun telah pergi meninggalkan Lisa sendirian di ruangan ini. Lisa tanpa curiga sama sekali, tengah duduk manis sambil memainkan ponselnya. Tapi tidak berlangsung lama, dia mendengar suara seseorang telah kembali lagi.
"Beb kok cepet banget beli minumnya?" Ketika Lisa menoleh, dia tersentak kejut dan langsung bangkit dari duduknya setelah melihat sosok Shei ada disini, dan Shei mengunci pintu ruangan ini. "Lo lagi ngapain disini, Shei? Kalau gue tahu lo ke sekolah kita bisa berangkat bareng." Lisa bersikap seperti biasa di depan Shei, seolah teman yang baik.
"Gituh yah?" Basa-basi Shei. Lisa tersenyum angguk. "Gue... kesini lagi dukung sahabat gue, Alya."
"Alya? Dia disini? Kok bisa?"
"Bisa. Dia ikut olimpiade bareng sama temen lo juga."
"Hah? Temen gue?" Lisa menatapnya bingung.
Shei mengangguk-angguk sambil berjalan mendekati meja panjang yang ada disini. "Fay," ucapnya.
Deg!
Lisa menjadi gugup seketika. Jadi, apa yang dikatakan Fay tidak bohong kalau Shei sudah tahu tentang kebusukan dirinya dengannya.
"Lo nggak ada yang mau dibicarain sama gue, Lis?"
"Ng-nggak ada," gagapnya.
"Serius? Mungkin kayak.... surat ancaman?" Lisa semakin gugup dibuatnya. Tapi dia tidak ingin berakhir seperti ini, karena permainan ini belum selesai. "Atau... soal ujian yang bocor?"
Prang!
"Kenapa?" tanya Shei begitu dingin. "Lo tahu sesuatu tentang itu? Atau mungkin lo tahu pelakunya siapa? Siapa Lis? Kasih tahu gue?" Seketika nada suara Shei menjadi bersemangat penuh harap dan berlangsung menjadi datar lagi menatap sahabatnya kecewa. Shei sudah memberi dia kesempatan untuk mengakui kesalahannya, tapi ternyata dia enggan untuk jujur. Lisa masih tetap diam dengan gelisah. "Kalau gituh... mau gue kasih tahu nggak siapa pelakunya?"
Tatapan Lisa terangkat, tertuju pada Shei. "Lo tahu pelakunya?"
Shei tidak menjawab, dia melakukan sesuatu pada laptop yang ada di atas meja ini, di hadapannya.
Sesuatu yang bersinar langsung menancap layar proyektor, Lisa segera menoleh melihat ke arah tersebut yang menunjukkan sebuah video. Terkejutnya dia bagaimana bisa Shei memiliki rekaman CCTV itu. Padahal Lisa telah menyembunyikan semua bukti itu juga bersama yang lainnya.
"Orang-orang ngira itu gue. Padahal, David. Pelaku sebenarnya."
Lisa tampaknya terkejut, dia tidak bisa menyembunyikan. "Shei. Gue nggak tahu apa-apa. Gue nggak tahu kalau David ternyata.... Pelakunya. Apa lo mau laporin David?" tanyanya cemas.
Shei memandang tidak percaya pada Lisa, Lisa masih saja berakting sampai sejauh ini. "Gue nggak tahu."
"Jangan laporin David," kata Lisa.
"Kenapa?"
"David teman kita, Shei. Sahabat kamu dari kecil. Kamu nggak kasihan sama dia?"
__ADS_1
"Kasihan? Apa lo nggak kasihan sama gue yang jadi korbannya?" lirih Shei.
"Bukan gituh. Lo tahu kan bokap nyokapnya pejabat. Kalau semisalkan itu tersebar, David bakalan hancur, reputasi bokap nyokapnya bakal kena juga. Mereka bakalan malu."
"Nggak," tawar Shei membuat Lisa melongo. "Kecuali kalau emang David nggak bersalah."
"Lo ngomong apa, sih?" kelit Lisa. Pembicaraan Shei berputar-putar.
Shei berjalan mendekatinya, menatapnya penuh kekecewaan. "Di CCTV emang David pelakunya. Tapi di belakang, lo, Bimo, geng NHS, kalian dalang dari semua ini. Gue, David adalah kambing hitamnya kalian."
Lisa membeku tidak mampu bicara, dia begitu gelisah terlihat dari wajahnya. Kebusukan telah terbongkar.
Seseorang datang dari balik pintu, Lisa menyadarinya, David telah kembali dengan perasaan yang sama seperti Shei penuh kekecewaan terhadap Lisa.
"David?" kejut Lisa menatapnya lalu beralih pada Shei dengan bergantian. "Kalian kerjasama buat jebak gue?" Amarahnya semakin besar, selama ini ternyata mereka berpura-pura tidak tahu.
"Kenapa kamu ngelakuin hal ini sama kita, Lisa?" keluh David kecewa. "Kamu itu temen kita, kamu pacar aku. Kenapa kamu tega bohongin aku kalau kamu diancem sama geng NHS padahal kamu dalang dari semuanya! Kamu udah buat temen kamu sendiri dikeluarin dari sekolah! Kenapa, Lis? Kenapa?!"
"KARENA AKU BENCI SAMA DIA! PUAS!" raung Lisa terdengar sambil menunjuk Shei. Akhirnya Lisa menunjukkan sisi yang sebenarnya dari dia.
"Apa salah gue sampai lo sebenci itu?" Shei yang sudah terisak tangis.
"SALAH BANYAK! Apapun yang lo lakuin buat gue benci sama lo! Keberadaan lo buat gue sengsara! Lo udah curi semuanya dari gue! Temen-temen gue, perhatian orang-orang terhadap gue termasuk orangtua gue sendiri. Dan mimpi gue yang lo renggut waktu SMP!
Lisa terengah-engah penuh dengan emosi, dia melupakan semuanya.
"Kalau gue bisa singkirkan lo gue pikir gue bakal dapet lagi apa yang selama ini lo curi dari gue. Dan ternyata.... itu berhasil. Gue dapetin perhatian temen-temen gue lagi, orangtua gue, David, termasuk mimpi gue. Gue bisa jadi mayoret lagi."
"Lisa... Lo bisa aja cerita sama gue apa yang lo rasain itu. Gue bisa lakuin apapun yang lo mau, lo mau gue pergi dari kehidupan lo, nyerahin posisi gue sebagai mayoret gue bisa. Lo itu sahabat gue, gue nggak mau kehilangan lo ataupun hubungan pertemanan kita rusak. Nggak seperti sekarang, apa yang lo udah lakuin itu udah salah, Lisa."
Lisa berdecak kesal mendengar omong kosong Shei itu, itu adalah sesuatu yang Lisa benci seolah Shei adalah yang tebaik. Menyerahkan semuanya? Munafik! Membuat Lisa merasa direndahkan.
Ternyata di luar ruangan teman-teman Shei ada di sana untuk menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di dalam. Tiba-tiba saja.
GEDEBUG!
"Akh!"
"Jonathan?" Khawatir Alya segera membantunya.
Mereka semua benar-benar terkejut melihat teman mereka, Joy, tersungkur cukup keras.
"Ohoo... ternyata ada yang salah masuk ke kandang macan kayaknya nih?"
Mereka segera menoleh ke belakang dan melihat Joy dibanting oleh geng NHS. Ada Ghesa yang ditahan oleh mereka.
__ADS_1
...🌸...