Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 89 Bagian Yang Telah Kembali


__ADS_3

Malam ini adalah hal yang begitu menyakitkan bagi Shei. Dia terus menangis karena marah, sangat marah. Ia pun segera pulang untuk meminta penjelasan kepada orang tua dan neneknya.


Ketika dia sampai dia melihat Ello dan Rave sudah berada disini, keluarganya berkumpul.


Rave telah memberi tahu mereka bahwa Shei sudah tahu bahwa dia memiliki saudara tiri. Tentu saja, Kevin, Rosa, dan Nenek Kartika khawatir ketika Shei pulang dengan wajah tidak sehat dengan mata bengkak. Shei segera menuntut penjelasan tentang masalah yang belum keluarganya ceritakan kepadanya.


Dan nyatanya ucapan Lisa benar.


Shei begitu lemah, marah, sedih bercampur aduk setelah mendengar jawaban dari ayahnya.


Dia memiliki suadara tiri, seayah. Ayahnya ayah kandung dari temannya, yaitu Rave. Rave adalah kakak tirinya. Ternyata sebelum mamahnya menikah dengan ayahnya, ayahnya sudah pernah menikah sebelumnya dan itu adalah ibu Rave.


"Hiks... Apa papah selingkuh?! Siapa anak selingkuhan papah, huh? Aku? Atau dia?!" teriak Shei dengan tangisnya. "Atau salah satu dari kita anak haram?!"


"SHEILA!" bentak Kevin.


"JAWAB, PAH!" raungnya.


Disini Rave juga merasakan apa yang Shei rasakan saat pertama kali mengetahui hal ini. Tapi bedanya Rave bisa mengatasinya tanpa emosi dan bersikap dewasa.


Seketika suara jatuhnya membuat semua orang terkejut panik. Nenek Kartika terjatuh pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit.


...****************...


Semua orang sangat khawatir dengan kondisi Nenek Kartika. Kevin berjalan mondar-mandir dengan goyah menunggu dokter yang memeriksa ibunya tidak keluar.


Shei yang duduk menangis dipelukan ibunya, dia merasa bersalah karena Nenek mengalami serangan jantung. Rave berusaha tegar tapi sayangnya perasaannya tidak bisa berbohong, dia menekankan air mata cemas, dan Ello mengusap punggung sahabatnya untuk menghiburnya.


Pintu terbuka, kami semua segera bangun begitu dokter yang memeriksa Nenek Kartika keluar.


"Bagaimana dengan ibu saya, Dok?"


"Beliau mengalami serangan jantung ringan. Bapak tidak usah khawatir, beliau hanya perlu rawat intensif."


"Tapi omah saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Shei cemas.


Dokter itu tersebut angguk. "Hanya saja jangan membuatnya banyak pikiran. Kalau begitu saya permisi."


"Terima kasih banyak dokter."


Kevin dan Rossa segera masuk. Namun saat Rave juga ingin melihat kondisi neneknya, Shei menahannya.


"Kita perlu bicara."

__ADS_1


"Jangan sekarang!"


"Sekarang!"


"Lo nggak mau lihat kondisi omah dulu apa?!" bisik Rave.


Ello hanya diam tidak bisa mencegah mereka.


Seketika pintu terbuka kembali memperlihatkan Kevin dengan raut wajah yang begitu dingin hingga Rave dan Shei terdiam. "Masuk. Omah mau bicara sama kalian."


Dengan berdebar gugup Shei masuk diikuti oleh Rave. Kevin menatap anak laki-laki yang merupakan pacar putrinya dan menyuruhnya masuk juga, Ello menunduk dan berjalan ke masuk ke dalam.


Shei dengan tergesa-gesa dengan penuh perasaan bersalah dan khawatir terhadap neneknya. "Omah, maafin aku.... Hiks..."


"Sudah. Ini bukan salah kamu. Ini semua kesalahan omah dan mendiang opa kalian membuat kalian menderita," ucapnya yang dalam kondisi lemah. Nenek Kartika memandang kedua cucuknya itu. "Kevin dan Dara menikah karena perjodohan. Karena keegoisan kami sebagai orang tua yang ingin menyelamatkan bisnis yang akan bangkrut."


Shei pun berpikir bahwa nama perempuan itu adalah nama dari ibunya Rave.


"Bisnis kami berjalan dengan baik setelah itu tetapi tidak lama kedua opa kalian bertengkar, dan menyuruh anak-anaknya bercerai. Kevin dan Dara, saat itu tidak bisa melawan keegoisan ayah mereka dan akhirnya mereka berpisah. Semua orang tidak tahu bahwa Dara hamil, kami semua baru tahu setelah perceraian terjadi."


Apa yang ditunggu-tunggu Rave untuk penjelasan tentang orang tuanya akhirnya terjawab sekarang.


"Orang tua kalian. Memutuskan untuk menjalani kehidupan baru." Nenek Kartika menatap cucuk pertamanya, Rave. "Ibu kamu bertemu dengan sosok laki-laki yang setia menunggunya, Haris yang kamu sebut papah." Lalu berganti menatap cucuk keduanya, Shei. "Dan Kevin bertemu dengan ibu kamu, Nak. Jangan berpikir kalau ayah kalian jahat. Atau kalian ini anak haram. Nggak. Kalian dilahirkan karena ada cinta dari orangtua kalian."


Shei segera memeluk neneknya. "Maafin aku, Omah." Nenek Kartika mengelus lembut puncuk kepala cucuknya.


"Maafin aku juga, Pah."


Rosa ikut bergabung dengan suami dan anaknya saling berpelukan.


"Maaf, Mah."


Kevin menatap putri pertamanya, Rave, di sela-sela pelukannya, dan mengulurkan tangannya untuk memberi tahu Rave agar datang ke sini. Rosa juga menyambut hangat Rave, yang merupakan anak berikutnya. Rave ragu-ragu berjalan ke arah mereka, memeluknya. Dia meneteskan air mata, mendapatkan pelukan hangat dari keluarga yang utuh.


Ello yang melihat pemandangan sebuah keluarga bahagia, ia senang teman masa kecilnya bisa bertemu dengan ayah kandungnya bersama-sama memiliki keluarga lagih.


Setelah apa yang terjadi tadi sepertinya Rave masih belum bisa menyesuaikan diri, akhirnya dia keluar dari kamar dan duduk di kursi yang tersedia di luar, dia menunduk untuk menyeka sisa air mata dari matanya.


"Rave... Kenapa di luar?" tanya Ello ikut duduk di samping sahabatnya. Rave hanya menggeleng kecil.


Suara dering telepon berbunyi dari ponsel Ello, Ello segera mengangkatnya. Dia lupa mengabari tim marching band nya, dan sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Alhamdulillah... Iyah sorry, sorry, gue lupa. Yah, gue balik sekarang."

__ADS_1


Telepon berakhir.


"Tim marching band gue lolos, besok lanjut lagi," ucap Ello girang. Rave senang mendengarnya. "Pertandingan lo jam berapa?" tanya Ello pada Rave, karena Rave juga masih memiliki jadwal tanding di semi final nanti besok.


"Pagi. Kalau gue menang lanjut lagi tanding hari itu juga. Kemungkinan agak siangan babak grand final nya."


"Oke deh. Tim marching band gue urutan terakhir tampil, sore udah penutupan."


"Oke."


Tidak lama setelah Shei terlihat berjalan ke arah mereka, dia langsung menatap Rave yang merupakan saudara tirinya. "Rave. Buat sekarang, gue masih perlu waktu."


Rave tersenyum tipis hanya angguk.


"Shei. Tim kita menang. Kita harus balik ke hotel. Coach nyariin."


"Yaudah ayok."


"Tapi, lo nggak papa?" tanya Ello masih khawatir dengan kondisi Shei.


Shei hanya tersenyum bahwa dirinya baik-baik saja. Shei masih memiliki tanggung jawab, dia harus bersikap profesional.


"Kamu mau pergi?" tanya Kevin tiba di antara mereka.


"Pah. Shei harus balik ke hotel. Tim marching band Shei menang dan besok bakalan tampil lagi."


"Kalian naik apa kesana?" tanyanya namun mereka terdiam bingung. "Biar papah antar. Kalian duluan, tunggu di parkiran. Papah ngambil kunci mobil dulu di dalem."


Shei angguk lalu pergi bersama Ello seperti yang dikatakan oleh ayahnya.


Di sisi Rave masih berdiri ditempatnya kaku. "Mm... Saya pamit pulang juga."


"Bareng sama ayah, ayah anter ke tempat penginapan kamu."


"Nggak usah. Saya bisa naik taxi."


"Rave... ayah anter," ucap Kevin berkali-kali menatap lembut.


Rave melipatkan bibirnya lalu dia pun angguk menerima tumpang dari ayahnya. Kevin pun terukir senyuman senang.


"Tunggu sebentar," ucap Kevin semangat. Dia bergegas masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobil dan tidak lama dia pun kembali dan merangkul putri pertamanya itu dengan senang. "Ayok."


Rave tersenyum mendapat perlakukan dari ayah kandungnya.

__ADS_1


Meski Shei masih memerlukan waktu untuk menerimanya.


...🌸...


__ADS_2