
Sehari menjelang Dies Natalis SMA Bakti Nusa. Semua orang sibuk dengan lebih banyak latihan dan kegiatan mereka untuk mempersiapkan acara besok. Namun untuk ekstrakurikuler marching band, mereka tidak berlatih, mereka hanya menyiapkan dan mengecek semua alat musik dan perlengkapan lainnya serta kostum yang akan mereka kenakan di hari terakhir Dies Natalis.
Ketika semua anggota marching band yang akan tampil mencoba kostum mereka yang terlihat sangat keren dan mewah. Kostum mereka memiliki warna yang lebih dominan, biru tua dan putih, serta penambah seperti kain batik. Saat Shei keluar dari ruang ganti, mata semua orang langsung tertuju padanya. Mereka terdiam, bukan karena anehnya Shei memakai kostum itu tapi Shei sangat cocok dan terlihat cantik. Apalagi jika hari itu tiba, Shei pasti akan berdandan lebih dari ini.
"Kalian... kenapa ngeliatin gue kayak gituh?"
"Hah? Ah! Shei... lo cantik bener...." puji Ello yang langsung tersadar.
"Shei gila... lo cantik..."
"Kak Shei cantik banget."
Anak laki-laki yang disini lebih-lebih memuja Shei. Shei tampaknya malu mendengar hal itu.
"Makasih," balas Shei tersenyum.
Feby merangkul pundak Shei dengan bangga. "Nggak nyesel kan masuk marching band?" Shei pun tersenyum lalu menggeleng. "Persiapkan... lo bakal jadi mayoret selanjutnya."
"Widih... Asik nih kalau Shei jadi mayoret nya."
"Heh Ahmad! Jadi kalau gue yang jadi mayoret nggak asik gituh?" sungut Feby.
"Gue udah bosen liat lo selama tiga tahun jadi mayoret. Butuh suasana dan pemandangan baru," sindirnya sambil tertawa mengejeknya dan sambil bertos bersama Usman karena telah berhasil mengejek ketua ekskul mereka.
Tiba-tiba hal itu membuat yang lain tertawa begitu juga dengan Shei. Tanpa disadari, dia benar-benar terjerumus ke dalam ekstrakurikuler marching band yang asyik. Padahal niat aslinya, dia hanya ingin mencari pelaku surat misterius itu dan mencari petunjuk di sini.
......................
Setelah mencoba kostum, kami semua bubar kembali ke aktivitas masing-masing. Alya adalah yang pertama sebelum Shei, Shei bisa melihat Alya dari belakang mengingat percakapan kemarin. Tidak lama setelah itu, Ello datang menyamai langkah Shei. Mereka saling memberi senyuman.
Meski Alya berjalan di depan, lalu ada Shei dan Ello yang berjalan bersama. Tampaknya di belakang Shei dan Ello ada Rave. Tentu saja mereka berjalan di lorong yang sama menuju kelas mereka, Flower (F1). Meskipun jalan mereka tidak sama tetapi mereka memiliki tujuan yang sama.
"El!" teriak Fay yang begitu nyaring di telinga semua orang yang berada di kelas.
"Apa?!" balas Ello dengan ketus.
Keributan mereka tidak membuat Shei berhenti berjalan menuju tempat duduknya. Begitu juga dengan Rave.
"Kita sama sekali belum latihan buat pentas!"
"Oh.. latihan dadakan kan bisa. Pentas seni juga hari terakhir ini. Mending lo kasih tahu gue aja, mau lagu apa? Nanti latihannya masing-masing dulu," jawab Ello datar sambil menggeserkan kursi dan duduk di samping Shei.
Fay mendengus kesal namun pada akhirnya ia menurut juga. "The Middle. Tahu, kan?"
Ello tampak berpikir lagu tersebut, namun itu tidak lama. "Oke."
Fay keluar kelas setelah mengatakan itu.
Tatapan Ello kembali ke Shei, Shei sedikit tidak nyaman karena Ello telah mengikutinya. Coba saja disini ada Joy, tetapi Joy sangat sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaannya yang akan menyiapkan dapur makan untuk Dies Natalis.
"Shei.."
"Hem?" dehamnya sambil mengambil sesuatu di dalam ranselnya, yaitu earphone miliknya.
"Lo nggak lupa, kan?"
__ADS_1
"Hum?" Akhirnya Shei menatap Ello, dengan heran.
"Janji lo. Buat ganti rugi," sahutnya berseri.
Serius, Shei mengingatnya sekarang. Saat mereka mengambil seragam dan kostum ekstrakurikuler mereka di penjahit. Saat Shei membantu memuat kostum ke dalam mobil.
"Shei, simpen di bagasi aja. Masih kosong," ujar Ello yang sedang menata dengan rapih di bagasi, belakang mobil.
Shei juga membawa kembali kostum yang sebelumnya diletakkan di kursi penumpang, namun secara tidak sengaja. Sesuatu menariknya. Membuat suara headset jatuh dan headset terbelah. Rusak. Shei kaget begitu juga Ello yang mendengar suara itu langsung menoleh.
"Sorry..."
Headset itu milik Ello, dan Shei tahu bahwa headset hijau itulah yang selalu Ello diselipkan di lehernya. Shei berjanji akan memberikan ganti rugi untuk membeli headset baru untuk Ello.
"Mau beli kapan?"
"Sekarang. Mumpung nggak ngapain-ngapain juga, latihan marching band juga nggak," sahut Ello bersemangat.
Shei mengangguk sambil tersenyum. Ada kesenangan dari Ello ketika dia bangkit dari kursi. Shei mengambil ranselnya serta Ello yang segera membawa ransel itu di tempat duduknya.
Ada sepasang mata dari beberapa orang yang melihat ke arah Shei dan Ello yang semakin dekat hingga mereka berdua keluar dari kelas. Tak lama kemudian, Alvin datang bersama Joy dan Fay. Mereka bertiga membawa beberapa keranjang besar berisi kaos kelas. Awalnya hanya ada Alvin dan Fay namun mereka tidak sengaja bertemu dengan Joy yang baru saja menyelesaikan urusan ekstrakurikulernya. Pada akhirnya Joy ikut membantu Alvin dan Fay, teman-teman sekelasnya.
"Guys... kaos kelasnya udah jadi...." kata Fay riang dan mereka bertiga disambut dengan antusias oleh seluruh kelas.
...****************...
Shei sudah lama tidak menaiki motor ini, dan sekarang dia kembali duduk di atas motor bersama Ello.
Sesampainya di toko musik yang menyediakan berbagai macam alat musik, serta CD musik, kaset, dan berbagai macam barang yang berhubungan dengan musik ada disini. Meski Shei selalu mendengar lagu, tapi tentang musik dia tidak tahu apa-apa. Shei hanya mengikuti Ello yang menelusuri koleksi di toko ini. Ketika Shei tidak sengaja melihat sesuatu yang menarik untuknya, dia berhenti untuk melihatnya. Sebuah alat musik carimba yang unik, dengan ukiran bunga. Bunga Alstroemeria, Shei tahu persis dengan jenis bunga tersebut.
"Mas..." Shei memanggil pekerja toko ini. "Tolong bungkus yang ini."
"Kaset apa?" tanya Shei yang sudah berada di samping Ello yang fokus melihat kaset yang dipegangnya.
Ello pun tersenyum melirik Shei. "Padi Reborn. Mau denger?"
Shei tersenyum angguk.
Ello membalik untuk memutar kaset yang ada di perangkat yang disimpan di dekatnya. Sebuah album Save My Soul dari Padi Reborn dengan judul lagu Menunggu Keajaiban dimainkan.
Keduanya menikmati setiap bait, alunan musik yang damai, dengan lirik lagu yang begitu menghidupkan suasana.
Bagi Shei, lagu ini mengartikan dirinya. Seharusnya dia tidak patut untuk bersedih dengan semua masalah yang datang menghampiri, itu semua adalah sebuah perjalanan. Terus berharap dan menunggu datangnya keajaiban. Tidak lelah terus berpeluh hingga saatnya tiba, dia akan menemukan apa yang ia cari selama ini.
Ello mengeluarkan kaset tersebut setelah selesai mendengarkannya. "Ayok. Headset nya udah ketemu."
Shei tersenyum melihat apa yang ditunjukkan oleh Ello yang ada di tangan sebelahnya, headset yang sama persis seperti sebelumnya.
...****************...
At Flower Class.
Semua anak kelas Flower telah mendapatkan kaos kelas yang telah dibagikan. Tinggal dua orang yang masih belum mengambilnya, karena orangnya tidak ada. Yaitu Ello dan Shei.
"Kaos punya El, titipin ke lo aja ya," ujar Alvin kepada Rave yang ada disini yang tidak sengaja pembagian kaos miliknya berada di akhir-akhir.
__ADS_1
Rave pun mengambilnya.
"Ah sekalian punya Shei," lanjutnya.
Hendak mengambil lagi, namun Alya tiba-tiba saja memotongnya. "Biar gue yang kasih."
Sontak pandangan Alvin dan Rave langsung mengarah ke arah Alya. Alya tidak curiga sama sekali tapi mereka curiga. Namun akhirnya Alvin menitipkan kaos Shei pada Alya.
"Tolong kasih ke Shei, Alya," kata Alvin.
Alya hanya tersenyum dan mengangguk kemudian setelah mengambil koas milik Shei, dia kembali ke tempat duduknya namun hanya mengambil ranselnya lalu dia berjalan menuju tempat duduk Ghesa untuk bertemu.
"Ghes.."
"Eh iyah Alya ada apa?" Ghesa yang sedari tadi memainkan ponselnya akhirnya berhenti.
"Masih mau disini?"
"Iyah. Lo?"
"Gue mau ke rumah Shei, ngasih kaosnya."
"Lo mau ke rumahnya Shei?"
Alya tersenyum angguk. "Mau ikut?"
"Gue? Mmm... nggak, deh. Lo aja..." Ghesa berseri. "Kalau ada apa-apa lo langsung hubungi gue ya."
Alya tertawa kecil. "Kayak yang mau kemana aja."
"Lo masuk kandang ketua geng, Alya..." decit Ghesa membuat tawa Alya berhenti.
"Nggak! Shei nggak bakal ngapain-ngapain gue. Yaudah, gue pergi duluan ya."
"Iyah hati-hati..."
Klotak!
Sebuah barang jatuh saat Alya hendak memasukkannya ke dalam tasnya. Ketika Ghesa ingin memanggil Alya untuk memberitahunya bahwa barangnya telah jatuh tetapi sudah terlambat, Alya sudah keluar dari kelas.
Ghesa mengambil barang Alya yang jatuh didekatnya, yaitu sebuah kunci.
"Kayak kunci loker. Ini beneran punya Alya?" Ia melihat nomor loker yang tertulis di kuncinya, berbeda dengan nomor loker Alya. Dia sangat hafal, mengingat nomor loker milik teman dekatnya itu.
...🌸...
...Jangan lupakan perjuangan orang-orang hebat terhadap Indonesia! Indonesia Negaraku Negara Kita!...
...🇮🇩🇮🇩🇮🇩...
...Author mau nanya nih......
...Dari sekian petunjuk yang sudah diselipkan di beberapa chapter. Kalian udah nemuin kecurigaan belum? Curiga sama siapa kalian?...
__ADS_1
...Antagonis or Protagonis...
...✨...