Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 58 Dies Natalis or Yes


__ADS_3

Penutupan Dies Natalis SMA Bakti Nusa telah dibuka untuk umum. Banyak orang dari sekolah lain atau mereka datang ke sini untuk melihat penutupan karena banyak pertunjukan, stand dagang dari sekolah dan mengundang penyanyi Indonesia, yaitu Padi Reborn dan Rizky Febian.


Acara diselingi dengan penampilan masing-masing kelas, kemudian Rizky Febian yang telah membawakan beberapa lagu kemudian dilanjutkan dengan penampilan sekolah dan terus berlanjut seperti itu.


Dies Natalis semakin ramai setelah dibuka untuk umum. Sekolah itu penuh dengan orang-orang yang menonton pertunjukan.


"Serius ini nggak bisa diubah giliran pentas kelas lo? Setelah lo tampil kan giliran marching band, lo harus cepet-cepet berarti, harus udah siap," tutur Feby.


"Yah gimana lagi. Kelas lain nggak ada yang mau tukeran. Bisalah, habis tampil gue langsung buru-buru gabung, persiapan," terang Ello.


Mereka dibuat bingung dengan penampilan Ello yang mewakili kelas, tapi setelah itu giliran marching band. Itu membuat waktu begitu ketat.


"Satu jam lagi kita siap-siap, jangan ada yang telat, langsung kembali ke posisi."


"Siap, Kak Feby."


Dengan cepat Ello menarik lengan Shei untuk ikut dengannya.


"El... Mau kemana?" heran Shei.


"Lihat-lihat stand. Siapa tahu ada yang menarik. Ah iyah..." Ello lebih mendekat dan berbisik pada telinga Shei. "Anggap aja ini kencan buat PDKT."


Shei segera menoleh untuk melihat Ello dengan terkejut, tetapi yang dia tatap hanya tersenyum kekeh. Mereka berjalan bersama mengenakan seragam marching band yang juga dibalut dengan gaya pakaian masing-masing. Keduanya bersenang-senang, untuk Shei dia akan menikmati saat sebelum apa yang akan dia lakukan nanti.


Kami membeli makanan ringan dan berencana untuk mencicipi semuanya tanpa sisa. Shei juga mulai merasa nyaman saat bersama Ello, mungkin karena Shei muali merasakan perhatian Ello padanya. Namun untuk membuka hatinya, Shei belum tahu.


......................


Ada sepasang kekasih tapi tidak bisa berjalan berdampingan, yaitu Rave dan Alvin. Mereka membuat jarak satu sama lain, satu diujung paling kanan dan satunya diujung kiri. Mereka mencuri pandang dan tersenyum bahagia meski harus seperti ini, mereka tidak bisa terang-terangan bersama di lingkungan sekolah.


Alvin sebenarnya sangat ingin hubungannya diketahui orang, namun dihalangi oleh Rave, dia belum siap. Apalagi Rave punya banyak musuh di luar sana, Alvin bisa terkena, dia bisa terluka. Namun yang paling ditakutkan Rave adalah nama keluarga Alvin tercoreng, terutama ayah Alvin, Djani Mahendra yang seorang pejabat. Bahwa putranya berkencan dengan gadis sepertinya.


Rave tahu Djani Mahendra adalah orang yang keras dan tegas terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu, Rave sedikit enggan untuk bertemu kecuali dengan mendiang ibunda Alvin, Mira Mahendra, Rave sempat bertemu dengannya dan diperkenalkan oleh Alvin sebagai pacarnya. Tentu saja Mira Mahendra adalah ibu yang lembut dan baik, dia memperlakukan Rave seperti anaknya. Rave sangat rindu. Apalagi Alvin pasti sangat merindukan mendiang ibunya.


......................


Alya dan Ghesa sedang berjalan-jalan mencari stand yang membuat mereka menarik, saat mereka tidak sengaja melihat Joy berada di stand ekstrakurikuler kewirausahaan, stand tersebut tampak seperti dapur. Joy di sana terlihat seperti koki hebat yang membuat sesuatu. Tapi sebenarnya, masakan Joy tidak terlalu buruk juga tidak terlalu bagus. Berada di tengah.


"Sibuk banget," lontar Ghesa.


"Eh Ay, Ghes...." sapa Joy tersenyum dengan tangan yang sibuk membumbui makanan yang ia buat. "Mau coba?"


"Boleh. Lo Ghes?" tanya Alya dan mendapat anggukan dari Ghesa. "Dua ya, Jonathan."


"Oke siap."


"Woah.. Hebat!" Alya terpukau dengan Joy yang dapat membalikkan masakannya.


Joy berseri, bangga, ia senang mendengar pujian dari Alya. "Oh kapan marching band tampil, Ay?" tanyanya.


"Satu jaman lagi. Setelah penampilan kelas kita."

__ADS_1


Joy sedikit terkejut. "Mepet banget. Terus Si El gimana?"


"Yah harus bisa gerak cepet. Setelah selesai, buru-buru gabung sama marching band."


Joy terkekeh dan juga prihatin pada temannya, Ello. Tidak lama kemudian, telepon Ghesa berdering, ada sedikit ekspresi khawatir di wajahnya.


"Mm guys. Gue mau nyamperin suadara gue dulu, dia lagi mampir kesini, mau lihat acara sekolah kita," cetus Ghesa.


"Ohiyah, Ghes. Nggak papa."


"Ajak, suruh ke stand gue, Ghes."


Ghesa tertawa mendengar lalu mengangguk dan beranjak pergi.


"Eh... Ini makanannya?" teriak Joy. Dia melupakannya. Tapi Ghesa sepertinya tidak mendengarnya karena suara di sini cukup berisik. "Yaudah buat gue aja. Ini Ay..."


"Berapa?"


"Nggak usah. Aku yang traktir."


"Serius?" Joy tersenyum angguk dan Alya terlihat senang. "Makasih."


"Sama-sama."


......................


Sekarang Shei dan Ello sedang menonton pertunjukan seni dari kelas lain yang menampilkan teater dan itu membuat mereka berdua tertawa karena teater itu memiliki komedi di dalamnya. Pertunjukan kelas menghibur banyak orang, Shei mengira mereka bisa memenangkan pertunjukan seni antar kelas ini.


Orang itu tersenyum dan kemudian mengarahkan kamera ke arah mereka. Namun sebelumnya ada sedikit penolakan dari Shei, namun pada akhirnya Shei mengalah dan Ello melingkarkan lengannya di bahu Shei agar terlihat akrab hasilnya.


"Satu kali lagi..." kata Hanna.


Shei dan Ello juga berganti gaya dan disini Shei mulai menyesuaikan dirinya lebih banyak tersenyum.


"Kak.. Makasih," tutur Ello.


"Makasih, Kak," sambung Shei.


Hanna hanya tersenyum dan mengangguk lalu kembali menjalankan tugasnya sebagai bagian dari ekstrakurikuler jurnalistik untuk mengambil momen di acara ini dengan kameranya.


"Nggak biasanya pake abal-abal 'Kak'," sindir Shei tersenyum.


"Soalnya dia baik. Makanya gue manggilnya pake 'Kak'."


"Oh... Jadi kalau nggak manggil pake 'Kak' yang lainnya pada nggak baik?"


"Nggak gitu juga, Shei. Gimana ya... Kak Hanna beda aja," terang Ello sulit untuk mendeskripsikannya.


"Beda ya...." Shei mengangguk-angguk.


"Cemburu ya..." goda Ello pada akhirnya.

__ADS_1


Shei hanya mendengus sambil tersenyum karena perkataan Ello itu tidak masuk akal untuk dirinya.


"El.... Lo kemana aja, sih?!" Suara nyaring terdengar semakin dekat. Tampaknya Fay datang untuk menjemput Ello. Namun sebelum itu dia memberikan tatapan tidak suka kepada Shei. "Ayok siap-siap. Bentar lagi giliran kita."


"Shei, gue siap-siap dulu ya. Lo harus nonton gue, nggak usah kalau Si Fay mah," celetuk Ello.


Bagaimana mungkin dia tidak memperhatikan Fay juga karena Ello muncul bersamanya secara otomatis Fay juga akan terlihat.


Shei masih diam di sini, dia akan menontonnya di sini tetapi segera teman-teman sekelasnya juga datang termasuk Joy yang datang bersama Alya.


"Udah disini aja, Shei. Nonton pacar?" celetuk Joy sambil tertawa.


"His apaan," dengusnya.


"Tapi gue pengennya lo sama Al aja. Gue takut kalau lo sakit hati sama Si playboy El."


Shei hanya bisa menggelengkan kepalanya, mengabaikan perkataan temannya itu. Lalu tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Alya. Mereka berdua memikirkan sesuatu yang berbeda tentang orang yang ada di depannya.


"Mereka udah di panggung tuh..." tunjuk Joy ke atas panggung. Mata Shei dan Alya tertuju pada Ello dan Fay yang sudah bersiap untuk tampil membawakan lagu The Middle, keduanya akan bernyanyi dan Ello juga mengiringinya dengan gitar.


Musik sudah terdengar, suara Fay cukup enak didengar, ada juga suara Ello yang sedikit bassy. Semua orang menikmati nyanyian mereka terutama kelas Flower untuk mendukung mereka berdua yang berjuang untuk kelas sebagai perwakilan untuk menampilkan pentas seni.


Mengapa setiap lagu yang didengar Shei selalu mencerminkan suasana hatinya hari ini. Selalu memandang rendah dia, dia sudah dalam perjalanan untuk mencoba yang terbaik yang dia bisa.


Everything, everything will be just fine


Everything, everything will be all right, all right


Yeah, just be yourself


It just takes some time


"Kak Alya..... Kak Shei...."


"Kak Rave...."


Orang itu terdengar panik. Dia adalah anggota marching band.


"Kamu kenapa?" tanya Alya cemas.


"Ka-Ka-Kakk Feby.... Jatuh," ungkapnya gelagapan.


Dan kami semua terkejut mendengarnya.


Apa yang akan terjadi pada penampilan marching band setelah ini dianggap sebagai insiden.


...🌸...


...Sebelum Shei mengacaukan, marching band sudah mendapat musibah. Setelah ini apa yang akan dilakukan Shei?...


...✨...

__ADS_1


__ADS_2