Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 66 Lupakan Keluh Kesahmu


__ADS_3

Libur telah tiba


Libur telah tiba


Hore! Hore! Hore!


Simpanlah tas dan bukumu


Lupakan keluh-kesahmu


Libur telah tiba


Libur telah tiba


Hatiku gembira


'Libur telah tiba' sebuah lagu yang dinyanyikan Tasya Rosmala menggugah semangat anak muda ini. Mereka lupa bagaimana menyenangkan diri sendiri, karena masalah di sekolah. Sekolah tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga teman, lingkungan sosial dan guru yang mengarahkan. Tapi apa yang terjadi sekarang adalah bentuk kesalahan dari semuanya.


Betapa sepinya tempat itu memiliki dunia tanpa bunga liar, ketika semuanya ingin melihat ternyata dia hanya bunga kecil yang memiliki akar yang paling kuat meski di handang berbagai rintangan, merasa khawatir akan dirinya untuk mekar namun nyatanya ia hanya butuh keterbukaan dan mengarahkan ke cahaya hingga akhirnya membuat ia indah. Keindahan itu belum sepenuhnya bermekaran. Karena sebagian dari duri-duri masih tertancap dalam bunganya.


Sebuah mobil telah terparkir di sebuah villa yang berada di pinggir lembah, pemandangan disini tidak diragukan lagi, sejauh mata memandang bisa melihat gunung yang tinggi menjulang. Mereka terpana dengan keindahan disini, udara pun begitu menyejukkan.


"Ayok." Tepuk Alvin kepada Ello untuk menurunkan barang-barang di bagasi mobil. "Ah iyah Shei, Rave. Kita bakal kedatangan temen kita yang lain."


Seketika pandangan Shei dan Rave segera ke arah Alvin yang berbicara. "Siapa?"


Suara jalanan, yang dilalui oleh sebuah mobil baru saja terlihat mengarah ke sini. Shei dan Rave sama-sama terheran, apa yang dikatakan Alvin mereka tidak tahu apa-apa.


"Shei...." ucap seseorang yang keluar dari mobil tersebut dengan ringan langsung berlari menghampiri Shei.


Shei yang masih tercengang melihat kedatangan Joy, tapi ia sangat senang bisa bertemu kembali dengan teman pertamanya di sekolah barunya. Namun yang membuat Shei terkejut adalah sosok Alya juga ada disana.


"Eh eh eh! Ngapain!" ucap Ello memperingati segera menarik Joy yang memeluk Shei.


"Napa, sih?! Gue lagi kangen sama temen gue!" dengus Joy pada Ello. Dengan segera tersenyum lagi kepada Shei. "Shei.. gue kangen. Kenapa chat gue nggak dibales?"


"Maaf. Belum sempet." Shei tersenyum, berusaha untuk tidak membuat temannya cemberut. "Jangan marah ya."


"Shei! Kenapa sama Joy baik ke gue nggak?" cicit Ello.


Shei hendak menjawab tapi Joy memotongnya. "Kasihan deh, loh!"


Keributan pun terjadi antara Joy dan Ello. Shei tersenyum merasa terhibur dan senang dapat dikelilingi oleh mereka. Saat sosok Alya mendekat, kecanggungan dengannya muncul. Namun di sisi lain, Ghesa terlihat tidak bersemangat. Ternyata bukan hanya dia, dengan Alya dan Joy. Tapi juga dengan teman-teman yang lain.


"Ekhm!" Ello bersuara agar suasana disini tidak canggung. "Kalau gituh kita masuk! Lihat villa nya."


"Woah... villanya bagus!"

__ADS_1


"Bisa berenang juga..... Asik!"


"Eh Rave! Nggak salah lihat nih mata gue? Lo pake baju ginian?" ledek Joy membuat Rave menatapnya malas dengan pertanyaan seperti itu lagi. "Cocok, sih.... Tapi. Gue lihat, lo nggak nyaman pakenya. Mending pake sesuatu yang buat lo nyaman aja." Perihal ber-fashion Joy muncul.


"Bukan gue yang pengen!" decit Rave lalu pergi lebih dulu masuk ke dalam.


Ello merangkul Joy tiba-tiba. "Untung lo nggak ditabok kayak gue."


"Lo ditabok?"


Ello angguk. "Gue ngetawain dia pake baju kayak gitu, soalnya jadi ngakak! Dari kecil gue sama dia belum pernah tuh liat dia pake gitu-gituan." Ia menahan tawanya, berusaha tidak mengeluarkan tawanya yang akan memancing pertengkaran dengan Rave.


"Pantesan lo ditabok, dodol! Gue mah muji sama dia, sambil ngasih usul." Joy berbangga diri membuat Ello sedikit jengkel.


Mereka pun kembali melihat-lihat sekeliling.


"Wah! Kita bisa camping di bawah tuh," usul Joy bersemangat.


Terletak dipinggir lembah, memiliki banyak pepohonan hijau dan terdapat sungai kecil dibawah sana.


Setelah mereka masuk ke dalam. Mereka segera mendiskusikan kamar mereka untuk tidur.


"Buat anak-anak cewek, kalian bisa tinggal di sini. Dan untuk cowok-cowok. Kita bakalan nempatin bangunan yang disamping satu kamar, disitu cukup luas buat kita bertiga," papar Alvin.


Mereka mengangguk setuju. Setelah itu anak-anak laki-laki bergegas ke gedung di samping gedung utama. Sedangkan yang ditempati untuk anak perempuan memiliki ruang tamu dan dapur yang terletak di sini.


Ruangan ini dipenuhi dengan suasana canggung antara Shei dan Alya. Akhirnya Rave telah kembali setelah memeriksa kamar membuat suasana di sini sedikit hidup.


"Gue... sama Ghesa aja," sahut Alya.


"Kamarnya ada disebelah sana," tunjuknya. Alya dan Ghesa langsung bergegas pergi. "Shei."


"Hum?" Shei terlihat tidak fokus.


"Lo kalau mau tidur sendiri masih ada kamar."


"Sendiri?" Rave angguk. Tampaknya Shei memikirkan ulang untuk tidur sendirian di vila ini yang belum beradaptasi. "Gue tidur sama lo aja, gimana? Gue takut." Shei berseri-seri, membuat Rave sedikit terkekeh kemudian ia mengizinkannya.


Sedikit demi sedikit Shei menunjukkan kepribadian aslinya yang mungkin akan membuatnya menjadi dirinya sendiri dan menjadi lebih baik.


......................


"Empuk nih kasur," lontar Joy bermain-main di atas kasur.


"Hoy! Bakalan berjalan lancar nggak, nih?" tanya Ello. "Takutnya malah memperkeruh keadaan Alya sama Shei."


Joy yang asik dengan tempat tidur beranjak duduk. "Gue jamin. Mereka baik-baik aja."

__ADS_1


"Kata siapa?"


"Kata gue. Kita pasrahkan saja pada Tuhan apa yang akan terjadi nanti."


"So iyey lo!" ledek Ello terkekeh dengan ucapan Joy tadi.


Mereka bertiga, berharap dengan rencana liburan yang sudah disusun oleh mereka ini dapat memperbaiki hubungan Alya dan Shei.


......................


Di ruangan tempat Rave dan Shei berada. Rave langsung merogoh tasnya, dia merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dia kenakan, apalagi angin yang terus bertiup membuat roknya sedikit terangkat, dia ingin menggantinya dengan celana. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia secara tidak sengaja melihat ke arah Shei yang sedang melamun yang duduk di tempat tidur.


"Lo kenapa?" tanyanya.


Shei baru saja menjawab beberapa detik dari Rave yang menanyakan itu. "Lo tahu Alya mau kesini?" Rave menggeleng. "Berarti Al sama El." Rave menganguk ragu, tapi dipastikan mereka.


"Gunain kesempatan ini," ucap Rave menepuk pundak Shei lalu beranjak keluar untuk mengganti pakaian.


Shei menghela nafas berat. "Aah gimana ini..."


......................


"Alya. Kok bisa ada mereka, sih?!" decit Ghesa.


"Nggak tahu, Ghes. Jonathan nggak ngasih tahu gue juga," kelit Alya.


"Lo juga kenapa diem aja?!" Alya mengangkat kepalanya menatap Ghesa terheran. "Lo itu ketemu sama Shei! Lo nggak marahin dia apa setelah foto aib lo disebar sama dia?!"


"Bukan Shei, Ghes!"


"Bukan Shei gimana? Jelas-jelas itu akunnya Shei!"


"Emang itu akunnya Shei. Tapi yang ngirim bukan dia!"


Deg!


Seketika Ghesa terdiam bisu mencerna semuanya. "Lo... kata siapa yang ngirim bukan dia?"


"Menurut gue," terang Alya. "Gimana bisa Shei mainin hp nya padahal Shei lagi tampil, sama gue, sama marching band."


"Ta... pi bisa jadi Shei yang nyuruh orang, kan? Dia juga ngakuin kalau dia pembully lo!"


"Udah, Ghes! Kita kesini mau liburan, gue nggak mau bahas itu dulu. Sebelum adanya bukti yang pasti, gue nggak bakalan nyalahin Shei."


Ghesa memegang ujung kemeja di bawahnya, dia tampak gugup karenanya.


...🌸...

__ADS_1


...Apa yang disembunyikan sama Ghesa ya kira-kira??...


...✨...


__ADS_2