
Alvin dan Rave tengah bersama di suatu tempat dari subuh. Tempat pertemuan mereka tak jauh dari pemandangan yang selalu menemani mereka berdua. Berada di atas bukit yang tidak terlalu tinggi, mereka menikmati pemandangan jalan di bawahnya telah menyaksikan sunrise di pagi hari ini.
Selama ini, Alvin terus memandangi wajah Rave yang tidak biasa. Sejak kemarin, Rave tampak bingung seolah-olah dia punya masalah yang ia sembunyikan darinya.
"Sayang."
"Hum?"
"Kamu kenapa? Dari kemarin kamu ngelamun terus. Ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu? Atau ada orang yang ganggu kamu? Hum? Siapa? Siapa yang udah berani ngusik pikiran pacar aku ini."
Alvin mengacak-acak rambut pacarnya, dan terkekeh. Rave tidak suka, tapi dalam hati ia sangat menyukainya.
"Hahaha... rambut kamu. Kayak singa."
"Benerin atau aku pukul nih?"
"Hehe maaf. Aku rapihin ya." Alvin segera merapihkan rambut Rave dengan lembut, menatapnya rapih kembali dengan perasaan. "Kenapa aku bisa suka sama kamu yah? Kayak preman kayak ginih tapi aku cinta."
Awalnya dia kesal karena disebut preman, tapi akhirnya rasa kesal itu hilang dimana Alvin bilang dia sayang sama dia.
"Cantik," ucap Alvin setelah selesai menata kembali rambut Rave. Rave tersipu malu meski ia menyembunyikannya.
Tiga tahun lalu di kolam renang umum, ada sekelompok anak-anak yang mengenakan seragam sekolah menengah dari sekolah yang berbeda. Salah satunya adalah Alvin dan Rave. SMP mereka berbeda tapi jika soal latihan renang dari sekolah, jadwal mereka selalu sama di tempat ini.
Yang membuatnya tertarik meskipun itu memalukan bagi Alvin. Dimana Alvin sempat terjatuh ke kolam renang karena ketahuan memandangi Rave membuat Alvin merasa salah tingkah dan terjatuh ke dalam kolam. Tentu semua orang mentertawakan Alvin.
Namun saat Alvin hendak berenang ke permukaan, tiba-tiba kakinya kram sehingga tidak bisa berenang ke atas. Rave menyadari keganjalan, dia dengan cepat melompat ke kolam untuk membantu Alvin yang masih menjadi orang asing baginya.
Rave mampu membawanya ke permukaan, dan langsung meninggalkan Alvin yang sudah dikepung banyak orang, terutama gurunya yang khawatir.
Sudah dua jam, Alvin diminta pulang dan istirahat tapi Alvin tegas ingin menunggu sampai latihan ini selesai meski dia tidak ikut latihan. Tapi sebenarnya, dia sedang menunggu sosok gadis yang sempat menolongnya tadi.
Tampaknya kedua sekolah ini menyelesaikan pelatihan pada waktu yang sama lagi. Alvin terus menunggu dan memperhatikan gadis itu. Gadis itu keluar dari kamar bilas. Alvin tersenyum segera menghampirinya dengan kakinya yang sudah merasa lebih baik daripada sebelumnya karena kram.
"Hai," sapa Alvin.
Dia tidak menjawab, dia juga tidak bersama teman-temannya. Alvin menyadari bahwa gadis ini selalu sendiri. Lebih tepatnya menghindari orang meski ada beberapa anak yang mendekatinya ataupun sebaliknya.
Rave mengingat anak laki-laki ini. Orang yang ia tolong tadi. Dia melihat ke bawah mengecek kaki anak laki-laki yang menyapanya barusan.
"Kaki lo udah baikan?" tanyanya.
"Iyah," jawab Alvin tersenyum. "Berkat lo. Makasih, lo udah nolongin gue."
Rave hanya berdeham. "Gue duluan."
"Sebentar," kilah Alvin segera memberhentikan langkah Rave. "Kita belum kenalan. Nama gue Alvin."
"Rave."
Tanpa pikir panjang Rave menerima jabat tangan itu, meski ketika orang lain ingin berkenalan dengannya, dia selalu mengabaikannya. Sementara dengan Alvin, Rave terheran.
"Udah jam enam lebih, Al. Gue ada latihan," kata Rave sambil bangkit, Alvin pun mengikutinya.
"Rave..." panggil Alvin sebelum mereka meninggal tempat ini. "Orang kuat pun butuh didengar."
Rave yang mengerti dengan perkataan Alvin langsung tersenyum tulus. Digenggam tangannya oleh Alvin, mereka meninggalkan tempat ini bersama.
...****************...
Deg!
Mata itu membuka lebar-lebar.
"Gue kesiangan."
Ia segera bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Dia terlambat ke sekolah. Sudah menunjukkan pukul tujuh lebih enam belas menit, Shei sudah selesai mengenakan seragam sekolahnya. Dia turun ke bawah, lari terbirit-birit sambil menjinjing tas ranselnya itu.
"Pagi Non Sheila," sapa paman Jaka.
"Pagi paman," jawab Shei secepat kilat. "Omah." Nenek yang sedang menyirami tanaman dengan gayung kesayangannya itu menoleh. "Omah Shei berangkat sekolah dulu, udah telat ini. Paman, ayok."
__ADS_1
"Non Shei."
Shei menoleh dengan gelisah.
"Hari ini tanggal merah. Sekolah juga di liburin kan?"
Tunggu dulu.
"Kenapa paman baru bilang sekarang? His, Shei udah panik nih, kalau gitu Shei lanjut tidur aja," gerutunya berjalan ke arah tempat duduk yang ada di luar.
Nenek dan paman Jaka tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shei barusan.
"Kamu mending bantuin omah aja nyiram tanaman, daripada tidur lagi. Sini."
Baru saja duduk, terpaksa Shei kembali bangkit untuk menghampiri neneknya yang meminta Shei untuk menyiram tanaman-tanamannya.
"Siramnya pelan-pelan aja," kata nenek Kartika. Memberikan gayung yang ia pegang pada Shei.
Shei memperhatikan gayung milik neneknya ini. "Omah kenapa pake gayung? Kan ada alatnya buat nyiram tanaman."
"Enak pake gayung, biar sekalian mandi. Udah siram aja."
Shei mengerucutkan bibirnya dan segera mengguyur tanaman-tanaman di depan matanya menggunakan gayung.
Byur
"Sheila.... siramnya pelan-pelan, tuh kan airnya sampe keluar rumah. Nanti kena orang," tegur nenek Kartika.
"Iyah omah," jawab Shei malas.
Tanaman nenek memang sangat cantik dan indah, sangat terawat. Memperindah tampilan rumah dan semakin sejuk.
Dert Dert Dert Dert
Suara dering telepon berbunyi.
"Non Shei."
"Iyah paman?"
Shei meletakkan gayung, dan segera menghampiri meja dimana ponselnya diletakkan di atasnya.
...__Mamah called__...
Raut wajah Shei berubah, sudut bibirnya terangkat menandakan kebahagiaan menerima video call dari ibunya.
"Hallo mamah..... Mamah Sheila kangen...."
"Hallo sayang. Mamah juga kangen. Gimana kabar si cantik anak mamah ini?"
Shei tersenyum malu-malu mendengar pujian dari ibunya. "Baik, Mah. Mamah gimana kabarnya? Sehat? Papah mana?"
"Papah lagi kerja." Shei sedikit kecewa. "Tapi papah bilang dia kangen berat sama kamu."
"Beneran, Mah?" Shei kembali ceria.
Rosa angguk membenarkan. "Omah kamu mana?"
"Ohiyah, sebentar, Mah." Shei menemui neneknya. "Omah, ini mamah video call."
"Ibu, maaf nggak bisa nengok ibu kesana. Ibu sehat?"
"Alhamdulillah sehat. Gimana Kevin, masih sibuk sama kerjaannya?"
"Lagi ada masalah sedikit, tapi nggak papa."
"Ibu doain semoga masalahnya cepet selesai."
"Aamiin. Ibu jadi berangkat umrohnya?"
"Jadi, insyaallah hari Senin ibu berangkat."
__ADS_1
"Senin omah udah berangkat?" kejut Shei.
"Iyah sayang."
Shei sedikit sedih, ditinggalkan lagi. Nenek menyadari hal itu.
"Shei nggak sendirian di rumah ibu kan?"
"Nggak, kok. Pak Jaka sama bi Lastri nanti yang nemenin."
"Kalau Shei sendirian, Rosa was was juga ibu. Takutnya anak ini macem-macem selagi nggak ada ibu yang ngawasin."
"Ih mamah. Shei anak baik tahu. Ya kan omah?"
"Iyah, cucuk omah anak baik. Tapi sayang, kurang senyum."
Shei kembali mengerucutkan bibirnya kesal. Di depan kekuarga lah, sifat kemanjaan Shei tampak ada.
Dibalik layar ponsel itu, Rosa menyadari apa yang dirasakan oleh putrinya.
"Yaudah, syukur kalau kalian sehat-sehat disana. Salamin buat Kevin yah. Omah mau masuk dulu, cuci tangan."
Nenek pun menyudahi lebih awal untuk mengobrol bersama menantunya. Dia masuk ke dalam rumah.
"Sayang..."
"Hem?" Shei kembali menatap ponselnya.
"Gimana sekolah? Temen-temen disana pada baik?"
Shei menggeleng pelan. Memberitahu bahwa dirinya pun tidak tahu apakah mereka dianggap teman atau tidak.
"Senin udah mulai ujian, Mah."
"Sebentar lagi anak mamah naik kelas tiga dong."
"Satu semester lagi, Mah." Shei tersenyum, namun dalam hati merasa sedih.
"Mamah doain, semoga ujiannya lancar dan kamu masuk rangking. Tapi, kalau kamu nggak masuk rangking juga mamah sama papah nggak papa yang penting kamu nggak kenapa-kenapa di sekolah, itu udah cukup."
"Makasih, Mah."
"Iyah sayang. Kalau ada apa-apa cerita sama mamah yah."
Shei angguk. "Mah."
Ibu Rosa menunggu Shei untuk kembali berbicara. "Kenapa sayang?"
Cerita jangan ya. Batin Shei galau.
"Shei,, masuk ekskul marching band lagi."
Dan akhirnya Shei hanya memberitahunya sedikit.
"Serius?" Rosa terkejut sekaligus senang. "Mamah seneng dengernya sayang. Lebih baik kamu isi kegiatan kamu kayak gitu lagi, positif. Daripada main kesana kesini nggak jelas kayak dulu."
"Iyah, Mah."
"Yaudah, mamah tutup yah. Kamu sehat-sehat disana, makan yang teratur, jangan kecapean."
"Iyan mamah. Mamah sama papah sehat-sehat juga disana."
Shei dadah kepada ibunya dibalik ponselnya. Sambil tersenyum. Video call pun telah berakhir.
Ketika Shei hendak masuk, suara klakson motor terdengar.
Tin, tin, tin, tin...............
"Aish siapa yang--"
Shei terkejut, di depan gerbang rumahnya ada sosok makhluk tidak undang.
__ADS_1
...🌸...
...Bersambung...