Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 72 Not Me


__ADS_3

Kembali ke sekolah, memulai semester baru pembelajaran di SMA Bakti Nusa. Tentu saja, ketika Shei menginjakkan kaki di sekolah lagi, tatapan semua orang tertuju padanya karena akhir semester lalu menjadi bumerang besar bagi Shei. Dan juga Alya, serta anak-anak kelas Flower.


Semua orang memandang Shei dengan jijik, sinis dan tidak suka. Shei bersyukur bahwa Alya terselamatkan, orang-orang lebih peduli padanya. Dan memang tujuan Shei sejak awal untuk melindunginya dari aib Alya yang bertebaran di sekolah ini.


Shei sudah terbiasa, hatinya seperti baja untuk melawan kebencian orang yang memperlakukannya. Tapi sekarang dia lebih percaya diri, dan memiliki benteng yang begitu besar karena ada teman-temannya yang sekarang akan membantunya, melindunginya, dan mereka begitu tulus dan percaya padanya.


Namun hanya kami yang tahu dan orang-orang tidak akan pernah tahu untuk sementara waktu.


Shei berperilaku seperti biasa, kembali dingin, acuh tak acuh dan orang-orang lebih takut padanya. Saat memasuki kelas, ekspresi kebencian tetap ada, tapi Shei mengabaikannya. Ia langsung menuju tempat duduknya. Dia tidak heran, bahwa banyak coretan di mejanya. Sesuatu yang mengganggu Shei, tapi dia menahannya. Cacian, makian, kata-kata di mejanya yang ditulis oleh orang lain.


"Pagi, Shei," sapa Joy dengan senyuman manisnya yang duduk di kursi depan Shei.


"Pagi," balas Shei.


Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa Joy masih ada di sekitar Shei. Meskipun Shei adalah seorang pengganggu, dan korbannya juga berada di kelas ini, Alya.


"Wah wah wah...." Suara yang ingin memulai keributan di pagi hari telah terdengar. Shei menoleh ke arah Fay yang berbicara. "Nggak tahu malu banget lo yah! Masih berani dateng ke sekolah?!"


Gue kan masih murid sini! Batin Shei.


Sebenarnya Shei sangat ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, tentang apa yang sudah dia ketahui tentang Fay dan Lisa meski belum sepenuhnya terbukti.


"Udah buat acara Dies Natalis hancur! Sekolah pun hancur gara-gara lo! Sama sikap tolol lo itu!"


"FAY!" teriak Ello yang sudah berada disini, dan mendengar lontaran Fay yang tidak mengenakkan itu untuk Shei.


Rave juga sudah berada disini tiba bersama dengan Ello. Ghesa dan Alya pun tiba baru saja sampai di pintu yang berbeda.


Fay melihat kedatangan Alya, dia segera menuntut padanya atas apa yang Alya alami harus mendapatkan tanggung jawab dari Shei. "Alya! Lo harus laporin Shei kalau dia! Udah ngebully lo! Apa lo mau biarin dia keluyuran di sekolah ini?! Kayak di sekolah lamanya?!"


Alya terdiam, dia terlambat merespon. Dia lupa bahwa masalahnya belum selesai ketika dia di sekolah. Namun sebenarnya Alya dan pihak terkait masalah tersebut sudah terselesaikan.


"Bener Alya! Gimana kalau ada korban lagi karena pembullyan yang dilakuin sama Shei?!"


Alya menatap teman-temannya satu per satu yang terprovokasi dengan ucapan Fay. Alya tahu, dari sudut pandang saat ini, Shei memang bersalah dan Alya harus mendapatkan dukungan. Mereka sangat peduli dengan korban bullying.

__ADS_1


"Lo ada di kelas yang sama, sama orang yang pernah bully lo, Alya! Sadar dong!" desak Fay. "Kalau gue jadi lo, gue udah laporin dia!"


Bisu sejenak. Tapi ketegangan masih ada bagi semua orang. Aya memikirkan apa yang dikatakan Fay itu.


"Gue udah laporin Shei ke pihak sekolah," ujar Alya. Sontak membuat yang lain terkejut, dan ada perasaan senang dari beberapa orang yang sangat membenci Shei. "Gue emang korban disini. Gue juga tahu pasti apa yang harus gue lakuin. Masalah ini biarin sekolah yang urus. Dan dia...." Merujuk ke arah Shei. "Bakal dapet ganjarannya!"


Fay menyeringai senang setelah mendengar apa yang telah dilakukan Alya untuk melaporkan Shei. Dan yang lain bergidik kaget melihat sikap Alya yang lebih tegas dan menakutkan sekarang.


"Mam. Pus!" bisik Fay ke arah Shei meski tidak mengeluarkan suaranya dan hanya gerakan bibir.


Namun Shei menyadari hal itu, dia hanya diam menatap amarahnya pada Fay. Sabar Shei. Bukan sekarang.


"Alya. Sheila," panggil Alvin baru saja tiba. "Kalian berdua ditunggu di kantor kepala sekolah."


Suasana tegang masih dirasakan bagi kelas Flower. Alya dan Shei bergegas pergi. Sementara Ello, dia mengkhawatirkan Shei.


"Al. Shei nggak bakal kena hukum, kan? Soal masalah ini?" tanya Ello cemas.


Alvin mengangkat bahunya tidak tahu. Tidak lama bel masuk pun berbunyi. "Karena Pak Satria ada urusan di kantor kepala sekolah. Jadi, gue yang bakal ngabsen hari ini. Tolong kerjasama, pada duduk."


David dengan seragam sekolah kebanggaannya, Nusantara High School, sedang merapikan berkas-berkas organisasi sekolah. David bersiap untuk menjadi ketua OSIS berikutnya. Dia sibuk berkampanye agar dirinya terpilih. Ketika dia akan keluar dan masih diujung pintu. Sesuatu membuatnya berhenti melangkah, dia tidak sengaja mendengar obrolan siswa siswi yang melewatinya.


"Eh katanya, ada yang bilang kejadian bocornya ujian semester kemarin tuh pelakunya bukan Sheila."


"Serius? Lo denger dari siapa?"


"Dari anak-anak yang lain. Lagi heboh bahas ini."


"Aneh, sih. Kenapa baru sekarang dihebohinnya kalau Sheila nggak salah. Kemarin kemana aja?"


"Hu'um. Semisalkan Sheila nggak salah. Kasian banget ya, dia dapet tuduhan palsu. Udah mah dikeluarin dari sekolah, reputasinya juga makin parah."


"Bener, bener. Terus siapa pelakunya yah?"


Tatapan David mengikuti kemana mereka pergi, yang sedang mendiskusikan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi masalah lagi di sekolah ini karena kasusnya sudah selesai. Tapi dia sadar, kasus tersebut baru saja dimulai lagi setelah tertunda beberapa bulan.

__ADS_1


Merasa cemas untuknya meskipun dia tidak mengingatnya lagi karena dia sibuk dengan organisasi sekolah. David segera mencari Lisa untuk menanyakan masalah ini. Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya ia menemukan Lisa yang sedang bersama teman-temannya.


"Lisa," panggilnya.


Lisa berbalik untuk menemukan pacarnya memanggilnya. David tiba, teman-teman Lisa bergegas pergi untuk memberi Lisa waktu berduaan dengan David.


"Kenapa, sayang?" Lisa tersenyum manis. Tapi ia menyadari David yang tampak gelisah. "Ada apa?"


"Lisa. Soal... Shei," ucap David gugup.


Lisa mengubah rautnya lebih menarik matanya, sinis. Menarik lengan David lebih kencang ke suatu tempat yang lebih sepi agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Kenapa sama Shei?" tanya Lisa menuntut.


"Anak-anak.... bahas kasus bocornya ujian semester kemarin. Me-mereka juga bicarin soal Shei yang bukan pelakunya," ujarnya gugup. David mencengkram pundak Lisa, dan menatapnya. "Lisa! Aku tahu, kasus ini bakal berlanjut lagi. Karena emang Shei bukan pelakunya! Tapi KITA! KITA, LISA! PELAKUNYA KITA BUKAN SHEI!"


"STOP DAVID!" seru Lisa.


David menunduk sedih, menyesal dan merasa bersalah terhadap sahabatnya sendiri. Dimana kesalahannya harus ditanggung oleh Shei. "Pelakunya kita. Bukan Shei.... Bukan Shei!" lirihnya redup.


Lisa meraih David untuk berdiri untuk meyakinkannya, bukan untuk takut. Lisa menatapnya penuh dengan rasa percaya diri kepada David. "Pelakunya bukan kita. Tapi Bimo, Yura dan gengnya itu. David... tatap mata aku. Kita nggak salah, apalagi kamu. Maafin aku..." Lisa memeluknya. "Karena aku, kamu jadi terlibat."


David diam, sepertinya dia mulai tenang untuk sementara ini. Tatapan Lisa berubah menjadi lebih tajam di belakang pelukannya itu.


Gue nggak akan biarin, masalah ini terungkap. Dan Shei, akan tetap jadi pelakunya. Batin Lisa.


...🌸...


...Jadi gimana nih??...


...Author jadi pusing juga apa yang udah dilakuin Lisa sampai ada masalah seperti ini? Kenapa sebenci itu sama Shei? Dan David...?...


...Alya juga udah ngelaporin Shei atas perilakunya. Apa pertemanan mereka jadi renggang lagi? Dan tidak jadi untuk bersama-sama melawannya....


...✨...

__ADS_1


__ADS_2