Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 36 Shttt


__ADS_3

Shei sudah mengenakan seragam sekolahnya bersiap untuk pergi ke sekolah untuk ujian semester. Tapi suasana masih seperti awan gelap, karena pertengkaran kemarin dengan Rave. Meski hanya bisa dikatakan pertarungan sepihak. Shei-lah yang melampiaskan emosinya. Shei juga merasa bersalah atas sikapnya. Meskipun Rave tidak tahu apa-apa, dia yang terkena imbas kekesalan Shei kepada geng Nusantara High School. Karena itu juga. Konsentrasi belajar Shei tadi malam pun terganggu.


Shei terdiam menatapnya, setelah dia melihat Rave berada di dapur tengah menyiapkan sarapan pagi. Ternyata Rave belum pergi dari rumah ini.


Ck. Dia bersikap seperti pemilik rumah.


"Gue udah usir lo kenapa masih disini?!"


"Gue tamu omah. Jadi, lo nggak ada berhak buat usir gue dari sini."


"Terserah!" desis Shei kesal.


Hendak pergi, Rave memanggil.


"Shei. Sarapan dulu," ucapnya.


Shei menghela nafas kasar. "Lo kalau mau sarapan ya sarapan aja."


"Kalau omah tahu cucunya bersikap nggak sopan sama tamunya... Apalagi tamunya buatin sarapan buat cucu kesayangannya... Tcp tcp tcp..."


Langkah Shei terhenti. Dia tidak jadi pergi, dengan terpaksa dia harus menghampiri Rave yang sudah menyiapkan sarapan. Meski dia menyiapkan roti selai dan susu. Shei kemudian duduk dengan matanya yang masih menyipit melihat Rave yang sudah makan roti selainnya.


"Lo kenapa perhatian banget sama gue? Sok akrab lagih."


"Gue? Perhatian sama lo?" Rave tersenyum mengejek. Lalu ia meminum segelas susu cokelatnya, tidak sampai habis, dia kembali meletakkan gelas itu dengan senyum yang masih sama. Ledekan. Dan meninggalkan Shei begitu saja.


"Nyebeliin lo! Pergi aja ke laut sana! Jangan balik lagi!" teriaknya untuk Rave.


Pagi yang seharusnya cerah, hancur hanya karena Rave. Menyebalkan sekali. Shei meneguk susu vanila yang dibuat Rave sebelumnya, setelah itu dia bergegas ke sekolah.


Mesin motor cross Rave terdengar, mata Rave dan Shei bertemu sejenak, keduanya mengerutkan kening karena kesal. Rave pergi dengan motornya, membunyikan klakson untuk berpamitan dengan paman Jaka yang dengan ramah membukakan pintu gerbang.


"Hati-hati, Non Rave."


"Eh Non Shei. Selamat pagi."


"Pagi, Paman. Shei berangkat sekolah dulu."


"Nggak naek mobil, Non?"


Shei melihat ke arah mobil yang masih terparkir lalu kembali melihat lawan bicaranya. "Nggak, deh, Paman. Shei naek busway aja kayak biasa."


"Yaudah kalau gituh. Hati-hati ya, Non."


Shei tersenyum mengangguk dan pergi. Saat di luar, masih di depan rumah. Shei melihat sepeda motor Rave berhenti di depan, berbicara dengan seseorang. Dan seseorang itu adalah Alvin.


"Kamu baik-baik aja, kan? Tinggal sama adik kamu?"


Rave angguk. Ketika melihat spion, memantulkan Shei yang memperhatikan dirinya berbicara dengan Alvin. Rave segera memutuskan untuk pergi.


"Ada Shei. Aku duluan."

__ADS_1


Alvin menoleh untuk melihat keberadaan Shei yang tengah berjalan kemari. Alvin tersenyum, disaat Rave pamit dengan kata 'Aku'.


"Hati-hati."


Rave kembali mengendarai motornya, bergegas pergi. Sebelum Shei curiga.


"Hei Shei," sapa Alvin ketika Shei sudah dekat dengan keberadaannya.


"Hai..." balas Shei. "Mm lo... deket sama Rave?"


"Rave?" Alvin tersenyum. "Rave kan temen sekelas kita. Mana mungkin nggak deket." Shei pun menyesali pertanyaan tadi. "Gue liat dia keluar dari rumah lo."


Shei berdeham malas. "Dia sementara tinggal bareng gue. Disuruh omah."


Alvin pura-pura terkejut, seolah-olah dia baru saja tahu informasi ini. "Kenapa bisa? Gue nggak tahu ternyata lo akrab sama Rave..."


"Yang akrab sama Rave bukan gue. Tapi omah gue. Hari pertama udah buat gue kesel, bisa-bisanya dia nyuruh gue nyuci baju kotornya!" Alvin terkejut sekaligus menahan tawanya mendengar itu. "Tahu ah... gue males bahasnya. Al..."


"Hem?" Senyum Alvin belum pudar dari kekehan tadi.


"Jangan kasih tahu siapa-siapa ya soal ini."


Alvin tersenyum angguk. "Beres."


Shei tersenyum lebar mendengarnya. "Makasih."


"Yaudah ayok. Ke sekolah." Shei menganguk, dan mereka berangkat sekolah bersama dengan busway.


"Kamu yakin?"


Rave angguk. "Aku nggak bisa nolak permintaan omah. Lagipula... Aku juga harus nyari sesuatu."


"Nyari sesuatu apa?"


"Tentang masalah Shei di sekolah lamanya. Aku harus tahu kebenarannya. Kenapa dia dikeluarin dari sekolah, masuk geng, yang ngebuat dia jadi anak yang kayak sekarang." Alvin tersenyum penuh arti. "Kenapa kamu senyum kayak gitu?"


"Ternyata... Kamu kakak yang peduli banget sama adiknya ya."


"Jangan mulai, deh. Aku lagi serius. Aku juga bersikap kayak biasanya. Nuntasin masalah anak sekolahan."


"Iyah, deh. Kakak yang baik--ahaww sakit..."


"Makanya jangan godain aku terus." Rave melepaskan tangan Alvin yang dililit.


"Iyah iyah..."


...🏫...


At school


Ello sedang berjalan di koridor sekolah dengan jari-jarinya sibuk memutar-mutar stik drum, menatap lurus ke depan dengan pikiran memikirkan hubungan antara Shei dengan Alya. Elo jadi penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang ingin dicari Shei di ekstrakurikuler marching band sebagai pelaku yang pernah menjebak di sekolah lamanya.

__ADS_1


"Kalau emang Si Shei gabung marching band cuman mau nyari pelaku... berarti... Si Shei beneran udah dijebak, dong? Di sekolahan lamanya."


"Pelakunya ada disini? Di ekskul marching band Baknus? Apa jangan-jangan Alya?" kejutnya. Namun ia segera tersadar lagi, menggeleng. "Ah nggak mungkin. Tapi... emang Alya doang yang punya hubungan masa lalu sama Shei, sih."


Tepat di depan matanya, dengan jarak yang sedikit jauh, Alya terlihat tengah berjalan bersama Ghesa. Langkah Ello berhenti, menatapnya ke depan.


"Apa gue tanya langsung aja yah ke Alya?"


"Mau tanya apa emang?" Ello terperanjat ketika suara menyambar dari belakangnya. Dan orang itu hanya cengengesan. "Lo mau nanya apaan ke Alya?"


Joy bertanya lagi namun diacuhkannya dia oleh Ello yang bergegas pergi.


"Eh! Ditanya malah kabur. Apaan oy? Lo ada urusan apa sama Alya? Apa jangan-jangan lo suka ya sama Alya?"


Plak


"--Aaw! Bangsat lo! Maen tonjok!" Dihantamnya Joy oleh Ello meski sebenarnya pelan. Namun Joy bereaksi berlebihan, ia juga sedikit terkejut dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. "Aduh. Mommy maafin aku keceplosan gara-gara... Nih ANAK NIH!"


"Dih dasar anak mommy," ledeknya.


"Emang lo bukan anak mamah? Dilahirin dari rahim siapa? Ibu kan? Bukan bokap lo," timpal Joy membalas tidak mau kalah.


"Alahh... gue males, banyak bacot lo!" Ello pun bergegas pergi.


"Sabar Joy... Inget pesen mommy. Jangan sampe keluar lagi kata kasar. Sabar...." Joy berusaha mendamaikan hatinya di pagi hari.


"Oy.." sapa tiba-tiba dari seseorang yang melewatinya.


Dua orang yang melewati Joy, tersenyum tipis sambil terus berjalan ke depan menuju kelas. Joy pun ikut tersenyum segera mengejar langkah mereka untuk pergi bersama.


"Pagi Shei," sapa Joy kepadanya.


"Pagi."


"Kalian berangkat bareng?" tanyanya kepada Shei dan Alvin. "Ooo gue curiga bakalan ada couple di Flower nih."


"Joy..." Suara rendah namun tajam dari Shei memperingatinya.


"Hehehe sorry sorry." Cengirnya.


"Gue lupa," ucap Alvin. "Kalian duluan aja ke kelas. Gue mau ke Sekre Osis dulu."


"Oke siap Caketos," sahut Joy berseri.


"Kalian... kenapa masih di luar? Cepat masuk kelas," perintah pak Raja yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Joy dan Shei langsung terpengarah, mereka membungkuk memberi salam sebelum masuk ke kalas.


Pak Raja selaku guru kedisiplinan hanya bisa menggelengkan kepala terhadap murid-murid ini. "Hah... anak-anak ini. Masih aja leha-leha padahal sedang ujian semester."


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2