
Seminggu telah berlalu bagi Shei untuk menenun hukumannya. Dia telah kembali ke sekolah setelah dia mendapat skorsing meski begitu dia tidak akan berlama-lama di sekolah karena dia dispensasi untuk latihan marching band selama sebulan di kompetisi tingkat nasional.
Shei dan Ello duduk bersama di kelas sambil menunggu mereka dispensasi untuk latihan. Hubungan mereka selama ini baik-baik saja tetapi sejak beberapa hari yang lalu sikap Ello sedikit berubah, Shei menyadari itu tetapi dia hanya diam dan tidak bertanya mengapa. Shei hanya ingin Ello membicarakan masalahnya ketika dia siap untuk berbicara.
Tatapan Shei tertuju pada sosok Alya yang sedang duduk di depan bersama Ghesa yang sedang mengobrol. Shei mati-matian menahan keinginan untuk berbicara dengan Alya. Untuk sekarang. Demi kebaikan dan kelancaran rencana. Lalu dia menoleh ke teman sekelasnya yang tidak pernah menyangka bahwa dialah salah satu dalang dari masalah yang menimpanya di sekolah ini, Fay. Yang lebih mengejutkannya adalah Fay bekerjasama dengan Lisa, sahabatnya.
Mungkin Shei tampak diam tapi sebenarnya dia melakukan sesuatu di belakang untuk mengungkapkan semua ini.
Suara larinya sangat kencang sampai masuk ke kelas Flower, semua orang terkesima karenanya. Dia adalah Joy. Baru saja kembali dari izinnya dari Korea Selatan. Tapi kepulangannya tidak terlihat senang tapi begitu panik.
"Heh! Dateng-dateng buat orang panik aja! Kenapa?" cemooh Ello.
Joy berada di meja Ello dan Shei sambil terengah-engah. "Eh Hai! Skorsingnya dah beres?"
Shei angguk. "Gimana Korsel?"
"Ah iyah gituh, banyak poster dijalanan. Biasalah K-POP. Gue juga kan bukan liburan, ngikut bokap nyokap urusan kerja."
Shei hanya tersenyum. Tapi tiba-tiba membuat Joy sadar bahwa dia seharusnya mengatakan sesuatu yang sangat penting, Joy panik lagi. "Gawat! Shei! El! Gawat banget!"
"Gawat kenapa?" tanya Shei.
"Ngomong yang bener, bego!" celetuk Ello.
Mendengar itu, Alvin yang menoleh ke belakang memperhatikan mereka.
"Rr-Rave.." gelagapnya.
Alvin dengan kejut segera bangkit dari tempat duduknya menghampiri mereka di belakang sana dengan cemas. "Kenapa sama Rave?!" Suara begitu menekan, dan khawatir.
"I-itu... di sana.... Si Rave dicegat!" teriak Joy.
"Sama siapa?" tanya Ello beranjak dari duduknya.
"Nggak tahu! Tapi mereka banyakan.... laki-laki semua."
"Kasih tahu gue," tuntut Alvin dan Joy mengangguk.
"Ayok. Ayok!"
Mereka semua bergegas pergi untuk menolong Rave seperti apa yang dikatakan Joy.
Alya dan Ghesa walaupun tidak ikut tapi mereka mendengarkan apa yang Joy bicarakan, mereka juga sangat khawatir dan memutuskan untuk mengikuti teman mereka.
Fay and the geng yang baru saja tiba, berada di lorong kelas melihat mereka keluar dengan panik, dan berlari. Dia bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kenapa mereka lari-lari yah?"
"Kayak yang panik gituh."
Fay hanya diam, dan terus bertanya-tanya dalam pikirannya.
...****************...
Di jalan yang tampaknya sepi, sekelompok anak muda yang tampaknya tidak pantas berada di sini. Mereka dengan motor dan mobil menghadang seorang gadis yang hendak pergi ke sekolah.
Orang-orang itu telah membuat kesalahan besar dalam menghentikan gadis itu. Karena gadis itu bukan sembarang gadis biasa seperti biasanya, tapi dia adalah seorang 'Bos' bernama Rave.
Rave melepas helmnya yang masih duduk di motor crossnya. Dia selalu memakai celana dulu dan ketika dia sampai di sekolah dia akan mengganti seragamnya, memakai rok. Karena dia selalu menghadapi sesuatu yang cukup berbahaya seperti saat ini. Menurutnya itu tidak merepotkan.
Tatapan tajam Rave menatap satu per satu pada orang-orang yang menghalangi jalannya. Dia menghela nafas kasar setelah melihat siapa orang-orang itu yang ternyata adalah Bimo dan geng NHS-nya.
Mereka mau balas dendam?
Rave tidak percaya, jika tujuan mereka untuk pergi jauh-jauh dari Jakarta ke Bogor benar-benar seperti otak kosong untuk membalas dendam karena apa yang terjadi saat itu, mereka semua kalah darinya.
"Akhirnya gue nemu lo juga," cetus Bimo menyeringai.
"Lo semua mau apa?" ketus Rave bertanya.
"Kita-kita cuman mampir aja, pengen liat seberapa hebatnya anak sekolah sini."
Geng NHS bersorak meledekinya membuat Rave bertambah kesal. "Ahh.. takutnya..."
"Hahahaha hahahaha....."
Tidak ingin berlama-lama, Rave yang hendak pergi pun tidak jadi karena Bimo mengoceh kembali.
"Gue salut, sih. Ada cewek kayak lo ini. Menarik," ucap Bimo.
"Gue nggak ada waktu buat ngeladenin orang-orang kayak lo semua. Minggir!" sungut Rave.
"Kita belum selesai," tangkas Bimo. "Lo lupa apa? Apa yang lo udah lakuin sama teman-teman gua? Gue! Nggak! Terima!"
"Dan gue nggak terima, apa yang udah lo semua lakuin sama adik gue!" Tatapan Rave berubah drastis begitu menakutkan, dia turun dari motornya dengan percaya diri.
Bimo menyipitkan matanya bingung dengan apa yang dikatakan Rave, 'Adik'. Adiknya siapa? Shei?
"Terutama lo! Yura, Lisa, David! Kalian harus nembus kesalahan lo itu sama Shei!" lanjut Rave menatap kuat kepada Bimo, sampai Bimo sedikit bergedik gugup.
Apa yang dia tahu? Bagaimana bisa Rave tahu nama teman-temannya juga. Bimo mengepalkan tinjunya dengan marah, dia segera memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Rave. "HAJAR!"
__ADS_1
Dia pagi seperti ini kenapa harus ada orang seperti mereka. Sebenarnya Rave sangat malas, dia cukup lelah selama seminggu ini karena harus terus berlatih untuk O2SN. Tetapi kedatangan para lelaki itu, membangunkannya dan membangunkan singa betina yang harus segera mencari makanan untuk mendapatkan energi di pagi hari dengan berolahraga, memangsa memukuli mereka.
Salah mereka yang memancing duluan.
Perkelahian terjadi antara sekelompok anak laki-laki dan seorang perempuan. Tidak malu mereka memukuli gadis itu. Tapi Rave dikecualikan di antara orang-orang muda yang mengenalnya.
Rave sedikit mundur karena terkena pukulan mereka. Itu membuat mereka tersenyum puas, tetapi itu hanya membuat Rave semakin marah karena dia ingin benar-benar menghajar mereka. Mengingat apa yang telah dialami Shei, saudara perempuannya. Karena mereka ini.
"Hah ternyata cuman segitu kehebatan lo? Gue kira lo Wonder Woman dari Indonesia! Hahaha hahaha...."
Nggak tahu malu banget! Batin Rave kesal. Dirinya seorang diri yang harus menghajar delapan anggota geng NHS.
"Cih! Ternyata geng NHS semua pada banci! Hah, orang-orang pengecut!" sindir Rave keras, dia tidak mau kalah.
"BANGSAT, LO!"
Bimo murka bersama yang lainnya, mereka kembali menyerang Rave.
Ketika Rave benar-benar terpojok oleh mereka, Rave tidak bisa berbohong bahwa kekuatan mereka cukup kuat dan dia adalah satu-satunya yang harus melawan mereka. Dikuras dari pelatihan dan sekarang, Rave kelelahan. Tubuhnya tidak lagi hanya pegal tapi semuanya remuk, sakit.
"Kalah juga lo!"
Di saat Rave hampir putus asa.
"Rave....!"
Suara seseorang memanggil dari belakang. Rave menoleh ke belakang, dan Bimo and The Geng NHS menatap lurus pada orang-orang yang baru saja tiba bersamaan memakai seragam sekolah Bakti Nusa sambil membawa sesuatu seperti senjata. Dan diantara orang-orang itu, ada Shei yang mereka kenali.
"Kalian?" heran Rave.
Shei.
Ello.
Alvin.
Joy, Alya, dan Ghesa.
Berjalan bersama dengan berani dan percaya diri sambil membawa senjata yang mereka miliki.
...🌸...
...Ouh! Marching Flower bersatu nih......
...Mampukah Marching Flower melawan Geng NHS?...
__ADS_1
...✨...