
Berlanjut...
"Udah lo tempel di papan pengumuman kelas?"
"Udah. Udah dikirim juga ke grup. Sama yang baru, sekarang mau ngasih tahu anak-anak kelas."
Alvin dan Alya baru saja menyelesaikan urusan mereka dengan Pak Satria, wali kelas. Mereka berjalan kembali ke kelas. Tapi sesuatu yang mereka lihat di kelas, keributan terjadi di sana.
"Hei! Ada apa ini ribut-ribut?!"
"Shei? Fay?" kejut Alya setelah melihat dua anak itu saling menjambak satu sama lain.
"Akh! Lepasin nggak!" Fay berteriak. Rasanya kulit kepala berdenyut karena rambutnya ditarik.
"Lo duluan yang lepasin!" cecar Shei tidak mau mengalah.
"Dasar pencuri!" Shei tidak terima dirinya dihina. Ia semakin geram padanya. "Aah! Sakit Shei!" Shei menjambak rambut Fay semakin kencang membuat Fay terus mengumpat dan menghina Shei lebih. "Sialan jalang!"
"Dasar cabe!" Shei membalas makian Fay.
Keributan mereka mengundang anak-anak dari kelas lain untuk datang. Mereka semua menontonnya. Beberapa anak mencoba memisahkan Shei dan Fay tetapi tetap tidak berhasil.
Sebenarnya, ada Rave sedari tadi di sini yang dengan tenang duduk di bangkunya menyaksikan perkelahian Shei dan Fay sampai dimana mereka saling menjambak. Pada awalnya Rave akan melerainya, tapi dia tidak melakukannya. Karena dia sudah kesal dengan sikap Shei ketika mereka berada di Jakarta. Rave juga memutuskan untuk tidak membantu masalah Shei lebih jauh, dan akan membuat Shei menyelesaikan masalahnya sendiri.
Ello yang terus berteriak meminta bantuan kepada Rave pun diabaikan. Rave tersenyum menikmati hiburan pertarungan ini, apalagi sekarang Ello sudah ikut terjambak oleh Shei dan Fay.
"Akh! Anjir! M*nyet!" umpat Ello dengan meringkis kesakitan.
Dan tawa Rave semakin menjadi-jadi.
"Alvin... tolongin Shei. Pisahin mereka," pinta Alya dengan khawatir.
Alvin mengangguk. Ia segera mendekati pertarungan versi anak perempuan, mencari celah untuk masuk begitu juga dengan Ello yang kini mendapat bantuan dari Alvin.
"Udah! Udah!" teriak Alvin berusaha memisahkan mereka. Alvin menarik Fay dan Ello menarik Shei.
Tawa Rave memudar ketika perkelahian telah berakhir.
__ADS_1
Nafas mereka terengah-engah, rambut dan pakaian mereka acak-acakan. Tatapan keduanya masih saling tidak suka.
"Sini lo!"
"Eh eh! Udah Fay!" Alvin menahan Fay yang kembali mengamuk.
"Udah, Shei! Jangan ribut lagi!" kata Ello kepada Shei.
"Tapi dia yang duluan, El!" geramnya.
"Gue tahu," lirih Ello mencoba menenangkannya.
Fay tetaplah Fay. Dia tidak suka ketika sesuatu yang dia tandai sebagai miliknya diambil oleh orang lain. Seperti Ello, Fay naksir sejak kelas 10 tetapi dia belum berhasil berkencan dengannya meskipun aneh bahwa Ello adalah seorang playboy, dia tidak menerima gadis bernama Fay ini. Kemudian Fay juga khawatir dengan posisi rankingnya di kelas. Mungkin alasannya bukan hanya itu saja, tapi karena Shei. Apapun tentangnya, Fay benci itu.
Suara tepuk tangan terdengar dari Rave sambil melewati mereka untuk keluar kelas. Prok Prok Prok. Sambil tersenyum mengejeknya.
"Sialan lo, Rave!" sembur Fay ketika Rave sudah keluar dari kelas. Rave, termasuk orang yang ia benci seperti Shei.
Shei semakin jengkel kepada Rave. Tatapannya tidak bisa membohongi. Sementara Ello dan Alvin, mereka sama-sama tidak mengerti dengan jalan pikiran Rave itu. Ello yang merupakan sahabatnya dan Alvin sebagai pacarnya. Mereka berdua tahu bahwa Shei adalah saudara perempuan Rave. Tapi kenapa Rave hanya duduk dan menonton disaat adiknya berkelahi dengan teman-teman sekelasnya.
......................
Pak Satria selaku wali kelas membawa Shei dan Fay ke kantornya untuk diceramahi dan diberi sanksi atas perilaku yang tidak pantas. Baru kali ini anak didiknya membuat masalah sampai seperti itu.
"Maafan!" Suruh Pak Satria sambil memijat pelipis dahinya, pusing. "Cepetan...!"
Dengan terpaksa Shei dan Fay saling berjabat tangan meski secuil tangan mereka bersentuh, satu detik. "Maaf."
"Saya tidak mau ada keributan lagi seperti tadi di kelas. Kamu Fay, jangan membuat teman kamu sakit hati dengan ucapan mu. Hati-hati kalau bicara."
"Ck. Dia bukan temen gue," gumam Fay dengan suara kecilnya. Namun Shei dapat mendengar hal itu yang berdiri di sampingnya.
"Kamu Sheila. Kamu sekolah disini belum sampai dua bulan penuh, tapi poin penalti kamu sudah banyak, kamu sering bolos," lanjut Pak Satria. Tentu saja mendengar Shei ditegur habis-habisan membuat Fay puas. "Kamu selamat, saya tidak akan memberi skorsing."
"Kok gitu, Pak?! Dia udah sering ngelakuin kesalahan harusnya dikasih hukuman yang setimpal, Pak!" berang Fay tidak terima.
"Ini bukan lagi praktikum pembelajaran. Kita sudah selesai ujian. Tapi kalau kamu membuat masalah lagi di semester depan. Saya tidak akan segan-segan kasih kamu skorsing. Kamu paham, Sheila?"
__ADS_1
Shei menunduk. "Baik, Pak."
"Hukuman kalian berdua. Tulis permohonan maaf dalam satu buku tulis penuh."
"Apa?!" kejut Fay.
Sementara Shei hanya diam menerima hukuman apapun itu.
"Selesaikan hari ini juga. Saya tunggu."
......................
Alya terduduk khawatir kepada Shei. Ghesa memperhatikannya dari tadi.
"Alya! Lo kenapa?" Alya diam tidak menjawab. "Lo ngekhawatirin Shei?? Astaga Alya! Ngapain?! Dia orang yang pernah bully lo juga!"
"Shutt Ghes!" Alya memperingati Ghesa agar berbicara tidak terlalu keras untuk kalimat dirinya pernah dibully oleh Shei. "Shei nggak pernah bully gue ya!"
"Apa? Hah hah... Haha. Alya... lo nggak usah takut lagi sama Shei. Ini bukan lagi di sekolah lama lo, ini Bakti Nusa."
"Tapi Shei emang nggak pernah bully gue, Ghes. Temen-temen geng nya aja. Bukan Shei!"
"Sama aja! Shei itu ketua geng yang
pernah bully lo! Sadar dong, Alya! Meskipun dia secara nggak langsung, dia sama aja ngebully! Bukannya bantuan lo, dari temen-temen geng nya itu!" geram Ghesa kepada Alya yang sudah jelas Shei salah satu pelaku perundungan.
Untungnya di kelas ini hanya ada Ghesa dan Alya dan yang lainnya tidak ada setelah keributan Shei dan Fay selesai. Jadi percakapan ini tidak didengar oleh yang lain.
Tapi apa yang dikatakan Gesa memang benar. Shei hanya diam dan tidak melakukan apa pun untuk menghentikan perundingan tersebut dan membiarkannya begitu saja. Mengingat wajah Shei saat itu, Alya sangat benci. Tapi kenapa semakin berusaha membencinya tapi ada penolakan besar untuk mendorong kebencian itu pada sahabatnya sejak SMP.
Ternyata di luar dekat pintu, ada seseorang yang berdiri mendengar perbedaan di dalam kelas.
Alya belain gue? Dalam hati Shei.
Dia baru saja kembali ke kelas setelah datang dari kantor guru. Namun saat hendak masuk ia mendengar keributan kecil antara Alya dan Ghesa sehingga ia menunda masuk kelas. Ia sedikit terkejut masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar bahwa Alya membelanya.
...🌸...
__ADS_1