Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 67 Permainan


__ADS_3

Ello, Alvin, dan Rave berada di lembah menyiapkan tenda untuk berkemah. Sementara Shei dan Joy sedang menyiapkan makanan di dapur, lalu Ghesa dan Alya mereka menyiapkan peralatan apa yang akan mereka bawa untuk berkemah.


"Joy."


"Hem?"


"Thanks."


Joy menoleh heran. "Buat?"


"Everything," jelasnya Shei tulus berterima kasih kepada Joy. Joy adalah teman pertama, meski rumor buruk terus bermunculan, tapi Joy tidak pernah meninggalkannya.


Joy tersenyum. "It doesn't matter, because you are my friend."


Mereka tersenyum bersama, bersyukur atas pertemanan ini.


"Lo... udah tahu?" tanya Shei ragu.


Joy tampak berpikir dulu, apa yang dimaksud olehnya. "Yah. Gue nggak sengaja ketemu Al, El dan mereka cerita sama gue. Shei. Gue sedih dengernya. Tapi dari awal gue tahu, lo itu orang yang kuat, dan baik." Shei salah tingkah mendengar hal-hal baik dari temannya tentang dia. "Yaudah. Udah, nih."


Shei mengangguk. Mereka sudah selesai menyiapkan makanan. "Biar gue manggil Al, El sama Rave."


"Ayok biar gue anter..."


"Nggak papa. Biar gue. Lo disini aja, kasih tahu Alya sama Ghesa."


"Serius?" Shei tersenyum angguk. "Yaudah hati-hati."


"Oke."


Shei dengan senang hati bergegas pergi tetapi sesuatu dari senyum itu meredup ketika dia melihat sosok Alya, mereka saling memandang sejenak tetapi Shei segera mengalihkan pandangannya dan pergi.


Gue malu ngadepin lo, Alya. Gue terlalu jahat. Batin Shei merasa bersalah.


......................


Rave kesulitan memasang tenda yang satu ini, ujung-ujung tenda ini sepertinya masih kendor, dia butuh penyangga.


"Biar sama aku."


Ia sedikit terkejut, ketika Alvin tiba di dekatnya. Sepertinya posisi ini terlalu dekat untuk membuat Rave gugup, dia berusaha menutupinya. Sementara Alvin serius untuk memperkuat tenda ini, Rave memperhatikan dengan seksama.


"Selesai," ucapnya senang dan kemudian Alvin menemukan pipi pacarnya yang kotor dengan tanah, membuatnya tertawa, dengan segera ia membersihkannya dengan tangan. "Kamu ini... kayak anak kecil. Pipi kamu kotor, ada tanahnya."


Rave mematung, degup jantungnya memompa lebih cepat karena ulah tangan Alvin yang ada di pipinya.


"Tapi aku, lebih suka kamu yang kayak ginih, ngelakuin hal kecil daripada kamu ngelakuin hal besar buat diri kamu bahaya." Tangan Alvin sudah terlepas dari pipi pacarnya, tapi pandangan mereka masih bertemu begitu dekat. "Rave... Aku tahu. Kamu itu bisa jaga diri sendiri tanpa perlu orang lain. Aku jadi ngerasa bukan pacar yang baik, dan nggak bisa ngelindungin kamu."


"Alvin..."


"Sayang," tungkasnya. "Aku mau--"


"Nggak!" pekik Rave membuat Alvin sedikit terkejut. "Aku nggak mau putus!" Rave sangat gugup kenapa Alvin tiba-tiba seperti ini. Dia tidak mau hubungan yang sudah lama ini berakhir begitu saja. Meskipun Rave cuek, tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya, tetapi sebenarnya dia tidak bisa mengekspresikan dirinya.


Tapi dari wajah Alvin sekarang dia mendengar kebingungan, dan menyadari dia tertawa setelahnya. "Sayang... Siapa yang mau putus? Mana mungkin aku nyia-nyiain cewek kayak kamu."


"Barusan... Apa?" Rave mulai malu tapi juga gugup untuk hal itu jika terjadi.


"Makanya dengerin dulu. Aku kan kan belum selesai ngomong. Tapi aku seneng, sih. Ternyata kamu sayang banget, nggak mau putus sama aku." Alvin menggodanya, membuat Rave sepertinya ingin melarikan diri dari kenyataan. Alvin meraih tangan Rave dan menggenggamnya. "Aku bakal nunjukin, kalau aku bisa lindungin kamu, jadi pacar yang baik buat kamu."


Rave tersenyum senang. "Dulu, sampai sekarang pun. Kamu orang yang baik buat aku. Jadi diri kamu sendiri, itu yang ku suka."


"Orang?" Alvin menatapnya kecewa.


"Pacar," ulang Rave tersenyum.


Senyuman pun terukir dari bibir Alvin.


"Oy! Rave! Al! Lagi ngapain disitu?"

__ADS_1


Gedebug!


Rave langsung mendorong Alvin sampai terjungkal ke tanah. Rave pun segera berdiri dengan wajah yang berusaha untuk tidak panik.


Ello sudah terlihat, karena tadi posisi Rave dan Alvin berjongkok sehingga tertutup oleh tenda.


"Al? Kenapa tiduran di tanah?" tanya Shei bingung.


Ello datang dengan Shei.


"Oh ada lo, Shei. Gue... Kaget aja tadi ada serangga jadinya jatoh," gugupnya berusaha untuk mengelabui Shei dan Ello. Alvin segera bangkit.


Ello dan Shei pun percaya saja tidak ada curiga sama sekali.


"Sendirian?" tanya Rave kepada Shei.


Shei angguk. "Kita makan dulu, udah siap diatas."


"Ah iyah. Ayok."


"Ini udah pada beres, kan?" tanya Ello pada Alvin dan Rave.


"Udah udah."


Rave dan Alvin menghela nafas lega. Beruntung tidak tertangkap basah. Mereka saling melirik dan tersenyum kemudian dengan apa yang terjadi sebelumnya. Kemudian mengikuti Shei dan Ello yang berjalan lebih dulu.


Mereka semua bersenang-senang untuk liburan ini melupakan sejenak masalah yang mereka alami. Menyiapkan makanan bersama, makan bersama, bercanda satu sama lain dan melompat ke kolam. Tawa menghiasi dirinya, menambah momen bahagia yang memasuki memori di benak Shei yang tak akan pernah terlupakan. Selama sekolah, ini adalah pertama kalinya dia merasakan bagaimana bermain dengan teman-teman yang tulus padanya.


...⛺...


Menjelang malam kami semua turun menuju lembah tempat kami akan berkemah. Ditemani api unggun membuat kami semakin hangat. Kami ingin menikmati alam di malam hari, jika cuaca semakin dingin mungkin kami semua akan kembali ke villa.



Kami mengitari api, menari dan bernyanyi bersama. Senyum tidak hilang dari kita semua. Setelah itu, kami saling menghangatkan di dekat api unggun dan tiba-tiba Joy menyarankan sebuah permainan.


"Boleh tuh. Gue ambil dulu botolnya," sahut Ello.


Namun tidak bagi orang yang menyembunyikan sesuatu, mereka terlalu gugup untuk memainkannya.


Kami duduk melingkar dengan botol diletakkan di tengah.


"Gue yang puter," kata Ello.


Mereka semua tegang saat botol terus berputar dan tidak berhenti, dan ketika botol berhenti mereka semua bersemangat dan melihat ke arah yang ditunjuk botol, yaitu Ello.


"Lah gue yang muter gue yang kena!" cicit Ello.


"Mampus lo!" ledek Joy. "Truth or Dare?"


"Truth."


"Halah ngindarin tantangan lo cemen!"


"Oke oke dare!"


"Kalau ada cewek yang lo suka disini tembak sekarang...."


"Harus nih gue tembak lagi?" tanyanya Ello begitu santai namun membuat yang lain heboh dan bersemangat kecuali Shei yang terdiam malu.


"Shei! Si Ello udah pernah nembak?" kejut Joy pada Shei. "Ah nggak seru, nih! Kenapa malah lo bukannya Si Al!"


"Kenapa jadi ke gue?" heran Alvin.


"Joy! Udah, lanjut main lagi..." kata Shei. "Biar gue yang puter."


Botol itu berputar lagi tetapi tidak lama seperti sebelumnya, putaran itu berhenti dan menunjuk ke Rave.


"Ayok, Shei. Tanyain ke Rave..." seloroh Ello.

__ADS_1


"Truth or Dare?"


"Dare," jawab Rave.


"Wah Si Rave punya rahasia..." celetuk Joy yang langsung mendapat tatapan malas oleh Rave.


Padahal yang Shei harapan bahwa Rave memilih truth. Tapi tidak apa lah. "Kalau ada sesuatu yang bahaya, tolong lo hindari. Apalagi kalau itu menyangkut gue."


Tidak hanya Rave tetapi semua orang langsung terdiam dengan apa yang dikatakan Shei.


"Itu... tantangan?" tanya Joy ragu.


Shei angguk. "Karena Rave orangnya berani. Berarti sesuatu yang harus dihindari itu tantangan buatnya. Kan?"


Alvin mengangguk setuju. "Gue setuju." Karena apa yang Shei katakan adalah hal yang baik untuk pacarnya.


Tapi untuk Rave, dia tidak bisa melakukan apa yang diberikan Shei padanya. Namun apa boleh buat, dia sudah terlanjur terjebak dalam permainan ini. "Oke. Satu kali gue bakal hindari itu."


Shei tersenyum senang.


"Ghes. Giliran lo," ucap Joy.


Ghesa mulai memutarkan botol, kali ini boto berhenti menunjuk ke arah Alvin. "Truth or Dare?"


"Truth," jawab Alvin.


"Keren nih..." puji Joy. "Ghesa, jangan asal kasih pertanyaan."


Ghesa tersenyum angguk. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Apa ada cewek yang lo suka sekarang?"


"Oooouuuhhhh......" sorak semuanya bersemangat untuk mengetahui kebenaran isi hati dari Alvin.


Alvin tersenyum malu. "Ada." Pandangan Alvin langsung tertuju kepada sosok gadis di depannya, yaitu Rave. Pacarnya.


"Siapa?" tanyanya Ghesa lagi sedikit berharap.


"Cewek yang udah nyelamatin gue waktu gue tenggelem di kolam renang," jawab Alvin tersenyum tampak ada kebahagiaan darinya ketika mengatakan itu. Dia mengingat pertemuan itu sehingga karena kejadian itu, Alvin akhirnya bisa berkenalan dengan Rave.


Ada suara tawa keras dari Ello yang mengejeknya. "Malu-maluin lo, Al. Ditolongin sama cewek."


"Bukannya kemarin lo diselematin sama Rave. Dia cewek," sindir Alvin.


"Hahaha Si Rave beda lain, dia bukan cewek," celetuk Ello membuat dirinya mendapat tatapan tajam dari Rave dan Ello hanya cengegesan untung saja duduk mereka berjauhan sehingga


Ello tidak mendapat pukulan. "Siapa nama cewek yang lo suka itu?"


"Truth sudah tidak berlaku lagi," pungkas Alvin tertawa kecil.


"Nggak seru huuuuuuu....."


"Oke oke oke... mending lanjut lagi. Ay, giliran kamu," kata Joy.


Alya langsung memutar botol, tak lama kemudian botol itu berhenti menunjuk sosok Shei. Semua orang langsung terdiam, saling memandang menjadi suasana canggung.


"Shei, truth or dare?" tanya Joy untuk mewakili.


Tatapan Shei tidak lepas untuk tertuju kepada Alya. Shei akan mencoba memberanikan diri. "Gue pilih truth."


Semua orang tegang menunggu apa yang akan Alya tanyakan pada Shei.


"Soal postingan waktu itu.... Apa bener kamu yang ngelakuinnya?"


Shei menggeleng pelan. Ada perasaan lega bagi Alya setelah mengetahuinya. "Bukan gue. Tapi ada orang lain yang ngirim lewat akun gue."


...🌸...


...Apa perlahan pertemanan Shei dan Alya akan membaik?...


...✨...

__ADS_1


__ADS_2