
Di pagi yang indah ini, ada seorang anak laki-laki dengan gaya pakaian imut bersandar di dinding menunggu seseorang di depan perpustakaan kota. Dia sangat bersemangat untuk bertemu orang itu sehingga dia ada di sini setengah jam, lebih awal. Dia melihat pada arlojinya, menghitung mundur mengikuti detak garis arah jam sampai menunjukkan pukul sembilan.
"Lima... empat.... tiga.... dua.... sa.... tu."
"Hai Joy," sapa gadis yang ia tunggu-tunggu, Alya. Joy tersenyum manis dan menyapanya balik. "Udah daritadi?"
"Nggak, kok."
Bohongnya.
"Yaudah masuk yuk." Mereka berdua memasuki perpustakaan kota sambil berbincang hangat. "Kamu serius mau ikut gabung jadi sukarelawan disini?"
Joy mengangguk semangat.
"Satu minggu loh... nggak sebentar..."
"Nggak papa. Yang penting kan ada kamu yang nemenin."
Alya tersenyum dengan sikap manis dari Joy. Dia baru sadar ternyata Joy terlampau manis meski terkadang sangat jahil dan heboh. Terkadang menyebalkan. Jika ia menyuruh Joy karena Joy seksi peralatan di kelas, Joy terkadang lupa dengan tugasnya itu.
Sejak Joy mengantarkannya pulang saat itu, sekarang dia lebih berani dan sering mengirim pesan ke Alya. Alya mencoba untuk membawa sikap Joy hanya sebagai teman tidak lebih setelah Shei dengan jujur mengatakan kepada Alya bahwa Joy memiliki perasaan untuknya.
Alya saat ini belum berpikir untuk mencoba pacaran lagi setelah putus dengan David. Alya hanya ingin fokus sekolah sekarang dan menikmati masa SMA yang lebih baik di SMA Bakti Nusa bersama teman-teman barunya.
Bukan sebagai pesuruh anak-anak ataupun murid culun yang pintar. Tapi dirinya sekarang dilihat sebagai sosok teman dan murid teladan. Ia juga memiliki sahabat baru di SMA Bakti Nusa ini, yaitu Ghesa.
...****************...
"Hwuaaa...." Suara menguap cukup keras dari anak laki-laki yang tidur di sofa. Dia melihat sekeliling tetapi tempat ini sepertinya bukan rumahnya. Butuh beberapa detik baginya untuk bangun, terkejut, setelah melihat temannya Alvin tidur di sofa juga dan di lantai sana menggunakan karpet, Rave dan Shei tertidur lelap dalam posisi berdekatan.
"Astaga gue ketiduran disini...." Bisa-bisanya dia tertidur di rumah seorang gadis sepanjang malam setelah menonton. Meskipun bukan hanya dia, ada teman lain seperti Alvin dan Rave.
Ello mengecek ponselnya, mendapatkan puluhan missed call dari orangtuanya. "Mampus gua. Pulang-pulang bakal kena marah," umpatannya.
"Al... Alvin... Al.. Bangun woy!" Tidak cukup lama untuk membangunkan temannya ini, Alvin segera bangun dengan mata kantuknya itu. "Kita ketiduran di rumah Shei." Beritahunya.
"Hah?" kejut Alvin. Nyawanya langsung terkumpul. Dia melihat sekeliling. Benar saja, dia tertidur setelah menghabiskan sepanjang malam menonton beberapa film.
__ADS_1
Kaset yang dibawa Alvin tidak terpakai karena ternyata disini mudah untuk menonton karena adanya parabola. Dari keempat remaja ini menginginkan film yang berbeda dan mereka memutuskan untuk menonton semuanya secara hompimpa film mana yang akan ditayangkan terlebih dahulu.
Film pertama yang ditonton yaitu Merah Putih Memanggil, film yang diinginkan Rave lebih dulu diputar. Rave sangat menyukai genre aksi terutama tentang perjuangan prajurit tentara karena dengan menonton hal itu ia dapat mengenang perjuangan ayahnya, Jenderal Haris yang gugur.
Lalu film kedua War For The Planet of The Apes yang Alvin inginkan. Ternyata film ini dinikmati oleh keempatnya.
Ketiga. Film yang ditonton bergenre horor yang dipilih oleh Ello. Yang menayangkan Anabelle. Tentu rumah ini dipenuhi oleh jeritan karena terkejut dan takut dari keempatnya.
Dan terakhir.... inilah alasan mengapa mereka bisa tertidur di sini. Film pilihan Shei yang mendapatkan urutan terakhir yang akan ditonton yaitu Love, Rosie. Meski sebenarnya film ini terbilang bagus dengan genre romantis. Namun suasana tidak kondusif untuk membangunkan rasa ngantuk mereka di tengah malam, mereka juga sudah menonton tiga film sebelumnya. Dan akhirnya... berakhir dengan Rave, Alvin, Ello dan Shei tidur.
"Aduh... Gadis, adik gue, kasian di rumah sendirian," resah Alvin segera bangkit diikuti oleh Ello yang tengah membenahi dirinya untuk pulang.
Saat Ello hendak membangunkan Rave dan Shei. Tapi niatnya itu diurungkan oleh sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya. Senyum nakal muncul di bibir Ello. Dia segera mengeluarkan spidol yang ada di ranselnya.
"Lo lagi ngapain? Buruan bangunin mereka," suruh Alvin kepada Ello. Melihat gelagat Ello yang tidak beres, Alvin segera menemuinya dan ternyata. "Astaga! Lo apain mereka?"
Alvin terkejut ketika Ello dengan nakal mencoret-coret wajah Rave dan Shei dengan spidol saat mereka masih belum bangun dari tidurnya.
Aduh... muka pacar gue... Batin Alvin sesal tidak dapat mencegah tangan Ello yang jahil itu.
Sementara Ello yang sedang pusing menahan tawanya sibuk melukis wajah kedua teman perempuan ini dan memotret momen yang ternyata Rave dan Shei merupakan saudaraan. Rave bergerak sepertinya dia terganggu, dengan cepat dan panik Ello segera mengakhiri aksinya.
"Pagi Rave..." sapa Ello dengan senyuman menyembunyikan tawa dibaliknya.
"Alvin?" kejut Rave setelah melihatnya. "Lo pada kenapa masih disini?" Namun tidak lama Rave sudah teringat dengan kejadian malam. "Astaga... Lo pada ketiduran juga?"
Ello dan Alvin mengangguk. Keduanya benar-benar menahan tawa.
Rave menyipitkan matanya curiga. Dia juga melihat ke samping, untuk membangunkan Shei dan terkejut melihat Shei memiliki coretan hitam di wajahnya, menggambarkan kucing.
"Siapa yang ngelakuin ini?" bisik Rave menatap tajam pada kedua anak laki-laki ini, Ello dan Alvin. Alvin tidak mau terkena amukan pacarnya, dengan cepat dia menunjuk Ello sebagai pelaku sebenarnya.
Tentu saja Ello langsung mendapat tatapan membunuh dari Rave, sementara yang ditatap tertawa keras, membuat sang putri yang sedang tertidur terbangun. Shei terganggu oleh suara yang membuatnya terbangun dari tidurnya.
"El? Al? Kalian masih disini? Kenapa gue bisa ketiduran disini?" Shei masih belum sepenuhnya bangun, dan kebingungannya diperparah oleh tawa Ello yang lebih keras dan tawa Alvin. Melihat ke samping, ia terkejut dengan wajah Rave. "Rave... muka lo kenapa?"
"Hah? Gue?" heran Rave.
__ADS_1
Tanda bahaya terlihat. Ello dengan gugup langsung pamit untuk pulang. "Eh Rave.. Shei... gue pulang dulu. Nyokap, udah nyariin. Sorry, Shei ... gue ketiduran di sini."
Cepat-cepat Ello berlari terbirit-birit.
Tidak lama Alvin ikut pamit dengan gugup dan santai. "Gue... juga... pamit pulang. Gadis pasti udah khawatirin gue karena semalaman nggak pulang. Rave,, Shei, sorry."
Dengan cepat Avin kabur. Dia tidak mau terkena sasaran amukan. Karena jelas yang salah adalah Ello.
Rave dan Shei masih diam mengumpulkan nyawanya. Terheran melihat tingkah laku Ello dan Alvin.
"Rave. Muka lo. Pthh...!" ucap Shei sambil menahan tawanya. "Item... cocok emang jadi evil." Karena di wajah Rave ada gambar tanduk.
Rave dengan kesal membuka kamera dari ponselnya untuk melihat wajahnya. Tentu saja. Ternyata bukan hanya Shei yang dijahili oleh Ello tapi Rave juga terkena. Suara tawa Shei semakin kencang, Rave tidak mau kalah.
"Lo juga lihat." Rave mengulurkan ponselnya di depan Shei agar dia bisa melihat wajahnya juga.
"God!" Hampir saja bola matanya Shei keluar karena terkejut. "Kenapa wajah gue jadi kayak ginih?" Menatap Rave penuh tanya.
"Siapa lagi yang jahil disini," sahut Rave.
"Ello?"
Rave angguk.
Dan Shei mengumpat dalam hatinya dan ia juga bersumpah akan membalas kejahilan Ello padanya. Begitu juga dengan Rave berpikir sama seperti Shei.
...🌸...
...Plotnya tenang lagi... untuk pemanasan sebelum memasuki konflik selanjutnya dan juga plot ini mengisi perkembangan pertemanan mereka...
...^^...
...Ikutin terus ceritanya ya jangan lupa mampir karya Aniedaa lainnya...
...Terima kasih...
...follow ig @aniedaa__...
__ADS_1
...✨...