
Berlanjut....
Sepeda motor Ello kembali memijakan kosan elit, tempat tinggal Alya.
"Makasih, El. Maaf ngerepotin lagi," kata Alya sambil mengembalikan helm.
"Slow aja." Ello berseri.
"Gue masuk dulu. Makasih."
Ketika Alya berbalik untuk masuk ke dalam, sesuatu jatuh darinya. Ello yang melihatnya langsung memanggilnya kembali dan memungut benda yang jatuh itu. Kalung dengan liontin puzzle dengan warna putih yang cantik dan terdapat tulisan kecil 'Alstro'
"Alya tunggu sebentar." Langkah Alya terhenti, bertanya-tanya. Ello sudah menghampiri. "Ini. Kalung lo jatuh barusan disana."
"Hah... syukur deh nggak ilang." Alya terlihat panik disaat kalungnya sempat terjatuh. "Makasih ya El. Kalau kamu nggak nemuin kalung ini, aku bakal sedih banget."
Ello tersenyum. "Kayanya itu kalung pasangan. Ada nama Alstro. Itu pacar lo?"
"Hah? Ng-nggak! Bubukan. Aku nggak punya pacar." Ello menyadari dengan perubahan cara bicara Alya, namun Alya tidak sadar.
"Lo sempet panik gitu kalungnya hampir ilang," lanjut Ello untuk menggodainya.
Jahil.
"Iyah kalung ini berharga tapi bukan sama pacar juga," tangkasnya.
"Hahaha iyah deh. Yaudah, gue balik dulu. Kalau kalung itu berharga, hati-hati jangan sampai jatuh lagi."
"Iyah. Sekali lagi makasih."
Ello tersenyum dan mengangguk. Alya masih berdiri di depan kost sampai Ello meninggalkan tempatnya. Alya bernafas lega, menatap kalung yang dipegangnya tidak jadi hilang. "Aku nggak bisa benci dia."
...****************...
Joy masih bersama Ghesa. Seperti yang dikatakan Joy tadi, dia akan mentraktirnya. Sekarang mereka sedang makan di suatu tempat, sebuah kafe.
"Yang tadi temen-temen lo dari sekolahan mana?" tanya Joy yang sambil makan.
"SMA Merdeka."
"Ohh SMA Merdeka. Ternyata lo banyak kenalan ya."
"Iyah gitu," sahutnya. "Lo... nggak main sama temen baru lo itu. Shei. Katanya sahabat..." Ghesa tersenyum mengejek.
"Dia lagi sibuk sama ekskul barunya. Mau tampil di festival nanti."
Ghesa hanya mengangguk-angguk. "Dia kuat banget, padahal banyak desas desus dimana-mana. Di keluarin dari sekolah, nyuri jawaban, ngebully, dan yang lebih parahnya, dia disebut cewek murahan."
Craang.
Sendok jatuh di atas piring menumbuk suara cukup keras. Ghesa terperanjat. "Hati-hati Joy!"
"Sorry sorry. Tadi lo bilang apa? Cewek murahan?" Ghesa angguk dengan tenang. Namun Joy terlihat kesal dengan informasi baru itu. "Siapa yang bilang?! Siapa yang nyebarin Shei itu cewek murahan huh?"
"Gue nggak tahu. Tapi waktu gue sama temen-temen gue barusan. Mereka ngebahas itu. Katanya Shei itu cewek murahan. Di sekolah lamanya, dia sering dipegang-pegang. Lo tahu kan. Shei salah satu anggota geng nggak baik."
"Gue nggak terima! Apalagi gosip itu dari sekolah lain! Dasar, gue harus temuin ular berbisa itu," cemooh Joy. "Biang gosip."
Ghesa tertawa, sambil menyeringai. "Perhatian banget sama Shei. Apa jangan-jangan lo.... suka.... yaa..."
__ADS_1
"Mana ada. Gue udah suka sama yang lain," terangnya.
"Ouh?" Ghesa terkejut. Begitu juga dengan Joy, yang keceplosan.
"Lo mau tahu gue suka sama siapa?" Joy berusaha mengalihkan.
"Siapa?"
"Mommy gue HAHAHAHA...... Aaakh! Ghes! Kotor!" lirih Joy, karena mendapat lemparan makanan membuat pakaian atasnya kotor.
"Rasain!"
...****************...
Rave telah tiba di depan rumah Shei mengantarnya, wajahnya masih pucat. Rave memutuskan untuk mengantarnya sampai ke pintu depan. Shei juga heran dengan sikap Rave yang terlalu perhatian. Dan entah kenapa, Shei merasa ada sosok seorang kakak perempuan yang melindungi dan membelanya saat masalah menimpanya, saat orang tuanya tidak berada di sisinya.
"Makasih. Maaf udah ngerepotin. Makasih juga lo udah belain gue tadi."
Rave hanya angguk kecil.
"Shei, itu kamu udah pulang?" Suara perempuan paruh baya terdengar dan semakin jelas dari dalam.
"Iyah, Omah. Aku udah pulang."
"Kamu lagi ngobrol sama sia.. pa?" Suaranya semakin rendah ketika dia melihat seseorang yang bersama cucunya di luar.
"Kenalin, Omah. Dia Rave temen sekelas aku." Matanya saling bertemu dengan Rave, Rave segera bersalaman mencium punggung tangan nenek Shei ini. "Omah."
Nenek tersadar dari lamunannya yang terus-menerus menatap Rave. "Ajak masuk dulu temen kamu."
"Ng-nggak papa, Omah. Saya mau langsung pulang aja," tolak Rave dengan sopan.
Rave tidak bisa lagi menolak karena nenek Kartika ini sudah menarik-nariknya untuk masuk. Dan Shei terus memperhatikan sikap neneknya itu.
Waktu makan malam masih setengah jam lagi, jadi Shei membawa Rave ke kamarnya terlebih dahulu.
"Maafin, Omah, lo jadi ditahan disini, ngebuang waktu lo."
"Nggak masalah."
Sesampainya di kamar, keduanya terlihat canggung meski Rave tidak menunjukkannya. Pertama kali, Rave jarang pergi ke rumah teman sekelasnya selain untuk mengerjakan tugas kelompok. Pengecualian rumah Ello, rumahnya sudah dianggap seperti rumahnya sendiri.
"Gue mau mandi dulu."
Rave hanya angguk. Setelah mengambil pakaian dari dalam lemari, Shei segera masuk ke kamar mandinya. Meninggalkan Rave seorang diri di kamar asing.
Rave duduk di tepi tempat tidur. Melihat kamar Shei. Sangat berbeda dengan kamarnya, kamar Shei berwarna cerah seperti pemiliknya. Meskipun sifatnya itu ditutupi karena masalah yang dihadapinya. Melihat ke arah meja belajar, ada yang menarik. Rave bangkit untuk melihatnya. Bingkai foto Shei dengan orang tuanya dan foto Shei kecil digendong neneknya.
Rave mengambil bingkai foto Shei dengan orang tuanya. "Salah satu bagian hilang." Ucapnya pilu.
Kreeek
Suara pintu terbuka. Rave segera menoleh untuk melihatnya. Pintu yang bukan dari arah kamar mandi melainkan pintu kamar ini. Rave segera meletakkan kembali bingkai foto tersebut.
"Makan malamnya udah siap." Nenek Kartika lah yang datang. Ternyata jam makan malam lebih cepat, dari perkiraan awal. "Dimana Sheila nya?"
"Lagi mandi, Omah."
"Oh gituh." Nenek terdiam sejenak, dan kembali memandangi gadis muda itu dengan tatapan sayu. "Boleh omah bicara sama kamu sebentar?"
__ADS_1
Hal yang telah dia prediksi sebelumnya, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Rave mengangguk, dan ikut nenek Kartika keluar.
...****************...
Alvin duduk di kursi menghadap meja belajar. Dia sedang belajar untuk mempersiapkan ujiannya dan juga menunggu kabar dari seseorang. Lebih tepatnya, menunggu kabar dari pacarnya.
Pesan terakhir yang dia terima adalah di pagi hari di mana Rave memberitahunya bahwa dia memiliki pelatihan ekstrakurikuler dan sampai hari gelap, Rave tidak memberitahunya lagi. Pesan yang dikirim Alvin belum dibaca atau bahkan dibalas.
Alvin sangat mengkhawatirkannya. Meski sebenarnya Rave adalah tipe orang yang tidak pernah memposting, ia terlalu cuek dengan media sosial.
Alvin meletakkan penanya dan beralih ke ponsel yang dipegangnya. Membuka kontak pesan Rave. Masih belum berubah. Melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Tadinya mau nelpon, ternyata Rave yang nelpon duluan. Alvin menerima panggilan itu dengan senang hati.
"Sayang kenapa baru ngabarin?" Suara khawatir Alvin terdengar jelas bagi Rave disana.
"Maaf. Tadi aku ada sedikit masalah."
"Masalah apa? Kamu nggak berantem, kan?"
"Nggak."
"Hampir," ralatnya.
"Astaga kamu ini. Kenapa?"
"Nanti aku ceritain. Kamu.... lagi sibuk? Aku mau ketemu kamu. Sekarang. Tapi kalau kam--"
"Nggak, aku nggak sibuk. Mau ketemu dimana?" Alvin bersiap, dia langsung mengambil jaketnya.
"Aku ada di komplek perumahan kamu."
Alvin terdiam sejenak. Karena saat masuk SMA, Rave sudah tidak mau ke sini lagi. Bukan karena takut mengetahui bahwa mereka sering bertemu. Tapi. Alasan lain yang masih belum diketahui oleh Alvin sendiri.
...****************...
Setelah berbicara dengan Alvin untuk mengajaknya bertemu, Rave segera memutuskan sambungannya.
"Rave..." Rave menoleh setelah namanya terpanggil oleh Shei. Dia masih berada di rumah Shei, setelah disambut hangat oleh neneknya Shei yang mengajaknya makan malam disini. "Sekali lagi gue mau bilang makasih, lo udah belaiin gue di depan orang-orang tadi."
Rave berdeham. "Tadi kenapa lo nggak lawan? Biasanya juga lo bisa ngelawan orang-orang yang ngejek lo. Apalagi ini ngehina."
Shei menggenggam tangannya sendiri erat. Rave menyadari perubahannya lagi.
Rave menghela nafas. "Gue balik dulu. Makasih makan malamnya sampaiin juga buat omah."
Shei mengangguk.
Setelah Rave pergi, Shei duduk lemas. Dia memikirkan kembali apa yang terjadi sore itu. Orang yang telah memfitnah nama baiknya karena termakan oleh kejadian di masa lalu. Dan sekarang .... dia dihina sebagai pelacur.
Memikirkan hari esok. Berharap waktu memperlambat untuk berganti hari.
...🌸...
...Kalung apa yah yang dipunya sama Alya? ...
...Apa arti 'Alstro' ini?...
...Ada yang bisa nebak?...
__ADS_1
...✨...