Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 93 Flower [End]


__ADS_3

Semua orang berlari terburu-buru dalam kepanikan, kesedihan, dengan perasaan takut kehilangan. Terutama untuk keluarganya. Saudara perempuannya. Teman-temannya.


Ada air mata penyesalan untuk Shei karena tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan bahwa dia menerimanya sebagai kakaknya.


Setelah kemenangan itu ia mendapatkan Marching Band Merdeka menjadi juara umum, dan Shei juga meraih posisi sebagai komandan terfavorit. Saat ia merasakan kebahagiaan, namun kesedihan datang dengan musibah yang menimpa Rave. Shei merasa bersalah, karena jika Rave tidak membantunya dalam masalahnya mungkin Rave tidak akan terluka mungkin Rave tidak akan pernah bertemu geng NHS tidak akan pernah bertemu Bimo yang begitu berani melukai Rave dengan pisau.


Mereka semua mencari kamarnya ketika suster baru saja keluar dari salah satu kamar mereka langsung bertanya padanya. "Anak saya dimana suster? Rave..."


"Kami sudah melakukan tindakan operasi kepada pasien dan sekarang pasien masih tidak sadarkan diri. Bapak, tidak usah khawatir. Luka tusuknya sudah kami tangani."


"Terima kasih, suster. Terima kasih, dokter."


"Tolong untuk tidak masuk berkerumunan. Hanya tiga atau empat orang saja. Di dalam sudah ada temannya pasien yang menunggu."


"Baik suster."


Kevin dan Rosa segera masuk. Shei melirik Ello dulu sebelum masuk, Ello mengangguk. Shei segera mengikuti orang tuanya masuk ke kamar rawat. Ello menunggu di luar bersama yang lainnya.


"Alya..." Seseorang memanggilnya.


Namun yang melirik semua orang, bukan hanya Alya.


"David? Kamu kenapa bisa ada disini?"


"Aku denger Bimo nyerang kalian?"


Alya angguk. "Temen aku terluka. Bimo udah nusuk Rave."


David turur sedih. "Apa dia baik-baik aja sekarang?" Alya mengangguk. "Syukur kalau gitu. Aku kesini mau minta maaf sama kamu, sama kalian semua. Maafin gue."


Mereka memaafkannya.


"Apa Shei di dalem?"


"Iyah. Kamu mau bicara sama dia?"


David mengangguk. "Tapi kayaknya dia nggak bisa diganggu. Aku juga harus pergi lagi. Buat terakhir kalinya aku pengen lihat kamu, Alya."


Alya terdiam sejenak. Tapi di sisi lain ada orang yang cemburu, tidak diragukan lagi itu adalah Joy, dan Ghesa benar-benar mengolok-oloknya.


"Kamu mau kemana?"


"Mungkin ini hukuman aku setelah apa yang aku lakuin sama Shei. Aku dikirim sama orang tua aku ke luar negeri." David terlihat sedih. "Yah.. Buat nutupin aib anaknya."


"David...." lirih Alya.


David tersenyum meski tatapannya itu tidak bisa berbohong. "Nggak papa. Boleh aku peluk buat terakhir kalinya?"


Alya sedikit ragu tapi ia pun tidak ingin melewatkannya bersama David. Entah kapan ia akan bertemu lagi dengannya. David langsung memeluknya.


"Makasih. Udah pernah jadi bagian dari kebahagiaan ku." David melepaskannya. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah surat. "Tolong kasih ini ke Shei yah."


"Kamu hati-hati."


"Iyah. Jaga diri kamu, salam buat semuanya."


David telah pergi meninggalkan negara ini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada teman yang lainnya.


......................


"Rave..."


Alvin langsung bangkit ketika melihat keluarga Rave sudah datang, mempersilahkan mereka duduk. Melihat Rave yang terbaring lemah dengan tangan yang diinfus, dan tentu saja luka tusuk di perutnya dibalut perban. Shei tidak bisa menahan air matanya. Dia merasa bersalah.


"Rave.. Hiks.. Maafin gue." Alvin mendekati Shei, mengusap punggungnya agar tidak menyalahkannya dirinya sendiri. Ini sebuah musibah. "Karena gue lo kayak ginih... Maafin gue hiks...."

__ADS_1


"Gimana ceritanya anak saya bisa kayak ginih?"


"Karena Bimo, om. Bimo ketua geng di sekolah lama Shei. Dia datang nemuin Rave. Waktu saya kembali habis beli minuman, mereka bertengkar dan Bimo nikam Rave pake pisau yang dibawa dia," tutur Alvin.


Shei menangis lagi begitu keras hingga dia tidak kuasa mendengarnya begitu juga dengan Kevin dan Rosa.


"Saya sudah melaporkan ini ke polisi," lanjutnya. "Maaf om. Saya nggak bisa jagain putri om dengan baik."


"Tidak. Terima kasih sudah selamatkan putri saya."


Alvin mengangguk.


...🏙️...


Hari semakin larut teman-teman yang lain sudah pulang setelah menjenguk Rave yang masih belum sadarkan diri. Kecuali Ello dan Alvin yang masih setia menemani pacarnya.


Nenek Kartika juga sangat panik setelah mendengar kabar bahwa cucunya telah dirawat di rumah sakit, tetapi untungnya penyakit jantungnya tidak kambuh. Namun kini Nenek Kartika harus pulang karena tidak boleh berlama-lama di sini karena kondisinya, ditemani Rosa dan Kevin untuk mengantarnya pulang ke rumah.


"Aku beliin makan dulu yah buat kamu. Aku tinggal nggak papa?"


Shei hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Rave sedikit pun. Ello pun mengajak Alvin pergi. Dan tinggalah Shei di sini yang menjaga Rave yang masih tidak sadarkan diri juga.


Pintu itu telah tertutup.


Shei kembali diliputi rasa bersalah, dia menangis lagi. Dia menundukkan kepalanya air matanya menetes dan terus meminta maaf pada Rave.


"Maafin gue... Maafin gue Rave... Hiks..."


"Gue selalu buat lo celaka. Maafin gue..."


"Lo itu jago berantem kenapa lo nggak bisa hindarin ini?! Hiks.... Apa lo inget janji lo itu ke gue?"


Jika memang benar Rave menepati janjinya, Shei merasa lebih bersalah. Shei seharusnya tidak memintanya untuk menghindari perkelahian karena pertarungan adalah untuk Rave demi perlindungan. Shei pun baru sadar Rave pandai berkelahi pun karena dia hidup sendiri, untuk melindungi dirinya.


Shei kembali menundukkan kepalanya menahan tangisnya itu.


"Aish! Gue mau tidur aja susah!" dengus gadis yang terbaring itu.


Shei yang tertegun segera mengangkat kepalanya untuk melihat, mendengar suara menyebalkan itu lagi. Terukir senyuman setelah melihat Rave telah sadarkan diri. "Lo udah sadar?"


Rave hanya berdehem. Tapi ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Shei itu. "Kenapa liatin gue? E-eh? Ngapain lo?" Shei memeluknya erat. "Aw sakit sakit."


"So-sorry gue lupa," putusnya. Shei mengenai luka di perutnya itu.


"Rave maafin gue..." Tatapan sendu dari Shei yang terlihat.


"Bukan salah lo."


"Dan makasih karena lo udah bangun."


Rave tersenyum. "Beneran lo nggak mau gue pergi?"


Shei mengangguk cepat.


Tapi Rave berdesis. "Gue denger. Lo cuman mau gue buatin sarapan doang."


Shei terlihat bingung untuk menjawab tapi dia tidak berbohong bahwa dia tidak ingin kehilangan kakaknya. "En-nggak. Gue serius pengen lo bangun. Yah... nggak salah juga, sih, gue kangen lo buatin sarapan hehe...."


"Dasar Kucing."


Shei langsung mengernyit. Saar baru tersadar, mulut Rave langsung mengejeknya. "Lo Singa Jelek!"


"Meong....!"


"Dih! Suara lo nggak cocok. Lo mah harusnya 'gruooahh'....!!"

__ADS_1


"Phht..." Rave menahan tawa, dia menertawakannya sambil mengolok-olok Shei.


Pada akhirnya mereka saling mengejek dan berkelahi di dalam. Di luar, Ello dan Alvin sudah lama kembali karena melihat momen Shei dan Rave mereka memutuskan untuk tidak mengganggu kakak-adik yang sudah mulai menerima satu sama lain sebagai saudara.


...🏫...


...SMA BAKTI NUSA...


...( BAKNUS )...



Pada hari penerimaan penghargaan bagi siswa berprestasi setelah selesainya upacara bendera.


Peserta Olimpiade Sains Nasional. Callista Fay menerima penghargaan sebagai juara harapan di bidang pelajaran bahasa Inggris. Kemudian Dwi Alya Putri meraih juara ketiga bidang Matematika. Alvin Mahendra meraih juara pertama bidang Biologi.


Dilanjutkan dengan Olimpiade Olahraga Pelajar Nasional (O2SN) dimana Brave Razita alias Rave mendapatkan piala dan penghargaan sebagai Juara II Karate Putri. Dia menerima penghargaan itu dengan bangga.


"Selamat."


"Terima kasih, Pak."


Akibat kecelakaan saat akan bertanding di grand final, ia didiskualifikasi sehingga juara pertama menjadi milik lawan. Tapi Rave tidak menyesalinya.


"Sheila Gouverneur."


Shei tersenyum bahagia, dia menerima penghargaan marching band lagi setelah masuk SMA. Dia benar-benar bahagia.


"Ello Rayyan Altair."


Ello pun tak lunturkan senyum bahagianya menerima penghargaan ini di sekolahnya. Meski ia jarang mendapat penghargaan di sekolah dan selalu mengacau, sebagai siswa yang selalu bolos. Akhirnya ia merasakan mimpinya di sekolah ini.


SMA Bakti Nusa.


Menjadi bagian dari Flower Class.


"Congratulations..... Marching Flower...." sorak Joy terdengar oleh semua.


Kami yang berdiri di depan saling tersenyum dan tertawa kecil melihat ini semua.


Tepuk tangan dari para siswa di sini yang masih berbaris, ikut meramaikan kemenangan teman-temannya. Ghesa bertepuk tangan ikut senang melihat pencapaian teman-temannya juga.


Perjalanan telah sampai pada titiknya. Dia telah menemukan semuanya. Lebih dari sekedar menemukan bunga yang harus dihancurkan tetapi dia memiliki bunga-bunga cantik. Teman. Sosok yang telah membuatnya mekar.


Duri-durinya telah rontok dan diganti dengan kelopak baru yang membuatnya semakin indah karena memiliki lingkungan yang lebih baik.


Sesuatu yang seharusnya dimusnahkan sudah terjadi. Seperti geng NHS kami tidak tahu kabarnya, yang pasti mereka dikeluarkan dari sekolah setelah kasus itu terbongkar. Sementara itu, Bimo telah ditangkap dan ditahan di penjara.


Bagi Lisa, dia akhirnya menyadari bahwa apa yang telah dia lakukan adalah salah tidak hanya untuknya tetapi orang tua Lisa juga menyadari kesalahannya terhadap anaknya yang terlalu menekannya untuk menjadi yang terbaik dan mengalahkan seseorang dengan sesuatu yang tidak pantas dengan cara yang kotor. Kini mereka bisa saling memahami karena keterbukaan mereka untuk mengutarakan isi hati mereka.


Lisa juga datang menemui ku, dia meminta maaf kepada ku. Tentu saja aku sangat kecewa padanya tapi aku tidak pernah membencinya karena dia adalah sahabatku yang berharga, aku dan Alya memaafkannya.


Kemudian David, dia sekarang belajar di luar negeri, dan aku telah menerima surat darinya yang dititipkan kepada Alya. Aku sedih tidak bisa melihatnya saat David hendak pergi. Tentu saja itu bukan percakapan terakhir kami sampai sekarang aku dan David selalu meluangkan waktu untuk saling memberi kabar.


Aku sangat bersyukur bisa bertemu teman-temanku sekarang di sekolah ini. Persahabatanku dengan Alya telah kembali, mendapatkan teman baru seperti Joy dan Ghesa, mungkin juga dengan Fay. Lalu Alvin yang ternyata adalah teman sejak kecil ku, kemudian Rave yang di luar dugaan yang ternyata saudara perempuan ku. Jika saudaranya itu dia, aku tidak akan pernah menolak. Dia benar-benar sangat melindungi ku seperti adik kandungnya sendiri. Dan yang terakhir.... Ello. Sosok yang selalu berada di sisiku dan aku baru menyadarinya, merasakan jatuh cinta itu menyenangkan.


...TAMAT...


...🌸...



...~ MARCHING FLOWER ~...


...✨...

__ADS_1


__ADS_2