Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 37 Ujian Akhir


__ADS_3

Hari ujian terus berlalu, dan hari ini ujian akhir semester ganjil telah selesai.


"Jangan pada pulang dulu ya. Kita lanjut bahas Dies Natalis buat nanti," kata Alya mengingatkan.


"Ketua kelas. Istirahat sebentar, jangan langsung rapat."


"Iyah... kalian istirahat dulu aja. Lima belas menit lagi kita mulai."


"Siap Alya...."


"Alya," panggil Alvin yang duduk di samping kanan. Alya menoleh. "Jangan lupa. Hari ini kita juga harus bantuin pak Satria meriksa ujian."


Alya menganguk senyum. "Nggak lupa, kok."


Shei sedang merapikan alat tulisnya, merasa lega karena ujian semester ini berjalan dengan baik. Dia sedikit khawatir dari awal karena takut terulangnya kejadian di masa lalu, di sekolah lamanya. Tepat pada hari ujian, dia dituduh mencuri kunci jawaban dan pada hari itu dia dikeluarkan dari sekolah lamanya. Dua bulan telah berlalu, tapi Shei masih belum bisa menemukan pelaku sebenarnya.


Dia sesekali melirik ke kanan ke tempat duduk Rave. Selama beberapa hari terakhir, Rave telah tinggal di rumahnya. Tidak ada lagi keributan seperti hari pertama. Mereka berdua saling mengabaikan, komunikasi pun seperlunya.


"Aaaa akhirnya... selesai juga nih UAS. Gue nggak sabar buat Dies Natalis sama libur semester nanti."


Shei tersenyum melihat kebahagiaan Joy yang duduk di depannya.


"Libur semester, lo mau kemana, Shei?"


"Gue? Mmm belum tahu."


"Gimana kalau kita liburan bareng?"


"Liat nanti aja."


"Oke deh."


Shei bangkit dari tempat duduknya hendak pergi tapi yang terjadi malah menabrak seseorang yang tiba-tiba ada disini, Alya. Catatan pribadi Shei pun ikut terjatuh. Alya segera mengambilnya, catatan itu terbuka, dia terdiam sejenak melihat isinya. Apa yang dia lihat salah? Ada nama orang? Ketika dia ingin memeriksa lebih lanjut, Shei sudah mengambil catatan itu terlebih dahulu.


Dia menatap tidak suka pada Alya, ia segera pergi menuju tempat lokernya di belakang. Joy yang memperhatikan sedari tadi kejadian yang dihadapannya ini hanya bisa diam.


"Alya..." panggilnya sambil tersenyum.


Alya membalas senyuman itu dengan kiku.


Gara-gara Shei bilang Joy suka sama aku. Aku jadi aneh sendiri ngadapinnya. Astaga. Joy juga kenapa akhir-akhir senyum terus ke aku lagih. Nggak biasanya.


Berada di belakang. Shei membuka lokernya, dia terkejut lagi bahwa ada surat lain yang dia terima. Padahal terakhir kali cukup lama, dimana dia baru masuk sekolah. Dengan gugup, ia membuka surat misterius itu.


...✉️...


...Sampe kapan lo mau diem aja?...


...Lo mau nerima aja semua yang dituduhin ke elo itu? Lo udah masuk marching band. Gunain sebaik mungkin hubungan lo di ekskul itu...


Tunggu. Shei bingung dengan isi surat misterius yang baru saja diterimanya. Surat itu tidak lagi berisi ancaman atau hal-hal buruk. Tapi kata-kata itu menyuruhnya untuk segera menemukan pelakunya.


"Isi surat ini.... persis surat pertama yang gue terima waktu itu. Nyuruh gue nyari pelaku yang udah jebak gue di sekolah lama."


"Berarti dugaan gue bener. Ada dua pelaku yang selalu ngirim surat ke loker gue."

__ADS_1


"Tapi kenapa... loker gue nggak ada kuncinya, sih?! Yang lain ada."


Shei melihat ke arah Alya yang masih belum beranjak dari tempat keduanya bertabrakan tadi. Alya sedang mengobrol dengan Joy. Shei segera menemuinya.


"Babu--emh! Maksud gue Alya." Alya yang merasa terpanggil langsung menengok. "Loker gue kenapa belum ada kuncinya?"


"Oh nggak ada kuncinya?" tanyanya polos.


"Iyah, lah! Gimana kalau ada yang nyuri barang-barang gue?! Kalau lokernya aja nggak bisa dikunci."


"Kenapa baru bilang sekarang? Itu salah lo sendiri," timpalnya. "Yaudah... yang sabar aja. Lo jangan nyimpen dulu barang berharga disana. Nanti gue sampein ke wali kelas ada loker rusak yang harus dibenerin."


Shei hanya berdehem. Kemudian Alya tidak sengaja melihat sesuatu yang sedang dipegangnya, yaitu sebuah surat.


Surat? Apa yang dimaksud Shei waktu itu, surat ini?


Shei menyadari tatapan Alya tertuju pada surat yang dipegangnya, ia segera menyembunyikan surat itu.


Alya pun bersikap tidak melihat apapun. "Guys... udah lima belas menit. Kita mulai sekarang yah biar cepet pulang." Ia pergi, berjalan ke depan kelas untuk memimpin sebuah rapat mengenai Dies Natalis yang akan segera diadakan sebentar lagi.


Dan di sisi lain, ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikan interaksi antara Alya dan Shei di seberang kanan. Itu adalah Rave. Juga Ello yang duduk di depan Rave memperhatikan sikapnya yang terus menatap mereka.


Sebenarnya apa yang lo rencanain ke Shei sih Rave? Batin Ello, penasaran.


"Ngapain liatin gue?" racau Rave ketika mengubah posisinya menghadap ke depan, ternyata Ello sedang melihat ke arahnya.


Ello mengarahkan jari telunjuknya, dengan tatapan yang menyipit mencoba mengingatkan pada Rave. Dan Rave tahu akan sinyal itu. Ello sedang menunggu penjelasan darinya.


"Temen-temen kemarin lari estafet tinggal satu orang lagi, nih. Cowok. Siapa yang mau? Kalau tetep nggak ada bakal ditunjuk," cetus Alya yang berdiri di depan kelas.


"Kamu aja Jonathan," tunjuk Alya cepat.


"What?! Aku?"


"Asoloreeee.... Aku kamu.... Ada apakah gerangan dengan kalian...." sorak yang lain.


Alya dan Joy nanap tersipu malu. Mereka reflek dengan hal itu.


"Joy... Alya... Kalian pacaran?"


"Wik wiww....."


"Heh! Berisik lo pada! Lanjut aja bahas nih Dies Natalis," cicitnya. "Ay-Eh Alya. Masukin aku."


Alya mengangguk sambil tersenyum. Meskipun pikiran Shei sedang memikirkan masalahnya tetapi dia juga tidak kehilangan fokusnya untuk memperhatikan pertemuan kelas ini. Dia tersenyum tipis ketika Joy dan Alya sedang digodai oleh anak-anak kelas.


"Olahraga udah keisi semua ya dari futsal putra, voli putri sama lari estafet campuran. Kostum kelas udah disepakati. Gimana Fay soal kostumnya ada kendala?" papar Alvin. Fay ditunjuk untuk mengurus kaos tim kelas.


"Nggak ada. Kalian tinggal tunggu beres," sahut Fay dengan bangga.


"Oke makasih, Fay. Untuk pentas Seni nya. Kita mau nampilin apa?"


"Teater?"


"Ah jangan-jangan. Gue males kalau teater. Makan banyak waktu buat latihan."

__ADS_1


"Setuju tuh. Males gue juga."


"Mau hibernasi nih, selesai ujian."


"Kalau gituh kasih usulan lain!" pungkas Alvin.


"Noh nggak usah diribetin! Suruh aja Ello yang sering manggung. Kan pengen jadi penyanyi rock tuh," usul yang lain.


"Gue lagi," gerutu Ello. "Biarin yang lain tampil!"


"Ah males ah."


"Dih! Yaudah gue juga males. Tuh suruh Si Fay aja ikutan. Bisa nyanyi."


"Fay, lo aja berarti ya," pinta Alvin.


"Boleh sih... Asalkan ditemenin sama El," ujar Fay tersenyum penuh arti.


Sontak Ello menolak mentah-mentah. "Malesin gue tampil sama lo."


Namun mata semua orang langsung menatap ke arah keberadaan Ello. Tatapan memohon namun lebih menekan secara paksa.


"Bantuin aja, El, Si Fay nya," lontar Joy.


"Mit-amit lo aja!" dengus Ello.


Semua orang kembali menatap Ello dengan tajam lalu tatapan Ello bertemu dengan mata Shei yang duduk di ujung sana. Shei memberikan ekspresi meminta Ello untuk ikut dan mereka akhirnya berbicara satu sama lain diam-diam hanya mengendalikan ekspresi dan gerakan mereka. Namun tampaknya Ello tidak bisa bergeming lagi.


"Oke oke. Gue bakal ikut tampil," sungutnya.


Semua orang pun bersorak gembira. Akhirnya.


Rapat kelas tidak lama dari itu telah selesai. Beberapa orang telah keluar kelas untuk pulang maupun melakukan kegiatan lainnya. Shei juga sudah bergegas keluar lebih dulu menggendong ranselnya.


"Sheila," panggil Ello segera menyusuli Shei di depannya. "Kenapa lo minta gue buat ikut tampil sama Fay?"


"Bukan gue doang. Anak-anak kelas."


"Buat alasan pribadi lo nggak mau liat gue manggung?"


"Mmm..."


"Oke dari tingkat sedikit, sedang, banget, mau banget. Lo pengen liat gue seberapa pengennya?"


"Milih nih?" Ello angguk penuh harap.


"Paling terakhir," jawab Shei.


"Terakhir? Berarti mau banget, dong?" harapnya.


"Maksudnya terakhir dari kiri. Sedikit," goda Shei tersenyum.


Ello pun cemberut segera menyamakan kembali langkahnya dengan mulutnya yang masih cerewet sebelum mereka berlatih marching band.


...🌸...

__ADS_1


__ADS_2