
Berlanjut....
Alya duduk di tepi tempat tidur sambil melamun. Dia memikirkan masalahnya dengan Shei. Kejadian tadi malam, Alya akhirnya mendengar dari mulut Shei bahwa dia bukanlah pelakunya. Namun setelah itu Alya tidak berani bertanya lagi.
Tetap diam dan menghindari masalah membuat Alya sadar bahwa masalah tidak akan pernah selesai jika terus seperti ini. Alya juga mempersiapkan diri, dia bangkit dari tempat duduknya untuk menemui Shei dan membicarakan masalah ini. Ketika hendak pergi, suara dering dari ponsel terdengar menghentikan langkahnya. Alya mencari ponsel tersebut, ternyata ponsel milik Ghesa yang berdering.
Tapi apa yang dilihatnya dari nomor kontak yang menelepon Ghesa. Alya terkejut, terdiam.
"Lisa?"
Dengan gugup Alya mengambil ponsel Ghesa untuk mengangkatnya. Alya ingin memastikan bahwa Lisa yang dimaksud adalah teman sekolahnya dulu atau Lisa yang lain.
"Ghesa! Kenapa ngangkatnya lama banget?! Lo dimana, sih? Kata tante lo udah di Jakarta? Kenapa nggak ke rumah?"
Deg!
Alya membulatkan matanya kejut. Suaranya sama. Lisa. Lisa yang menelpon Ghesa adalah Lisa yang ia kenal.
"Hallo? Ghes? Kenapa diem aja? Lo masih disana, kan?"
Alya segera mematikan telepon tersebut dengan gelisah. Ia masih nanap tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat.
......................
"Mau bayar berapa?"
"Bangs*t! Lo!" umpat Ello lagi.
Shei yang mendengar itu langsung menatap Ello dengan tidak suka, dia menggelengkan kepalanya membuat Ello mematung.
Shei menggeser untuk melihat foto lainnya. Ada foto saat marching band tampil, Shei tersenyum namun juga dengan perasaan sedih. Tapi ketika foto mengambil sudut ke arah penonton. Shei tercengang, ia memperbesar foto. Saat mencoba mempertajam penglihatannya lagi, Shei semakin terkejut.
"Lisa?"
"Ghesa?"
Mendengar Shei berucap nama 'Lisa' dan 'Ghesa' membuat yang lain menoleh ke arahnya, menatap tanya.
"Ada apa?" tanya Rave.
Shei terdiam, yang tanpa sengaja mengambil kehadiran Lisa bersama Ghesa di dalam foto ini. "Mereka...."
Rave menyambar ponsel di tangan Shei, untuk memeriksanya sendiri. Melihat sesuatu yang membuat Shei terdiam seperti ini, Rave menyadari bahwa foto itu juga mengejutkannya.
Alvin, Joy dan Ello saling memandang satu sama lain kebingungan.
......................
"Alya?" Alya kaget dan langsung menoleh untuk melihat, ternyata Ghesa sudah kembali setelah mandi. Namun yang dilihat Ghesa, ponselnya dipegang oleh Alya. "Hp gue kenapa ada di lo?" Ghesa mengambil ponselnya dari genggaman Alya, lalu mengeceknya.
Alya masih terdiam, dia masih shock. Setelah nomor Lisa dihubungi, kecurigaannya semakin bertambah. Dia mengobrak-abrik ponsel Ghesa dari setiap galeri, chatting dengan Lisa dan akun media sosial lainnya.
Alya mendapatkan sesuatu dari sana. Lisa yang ia kenal di sekolah lamanya, ternyata Ghesa yang juga mengenalinya. Lisa dan Ghesa juga berfoto bersama. Lalu foto-fotonya bersama Shei, Lisa saat bersekolah di Nusantara High School. Ghesa memiliki semua itu.
Ghesa sekarang dilanda kepanikan dan gelisah. Semuanya terbongkar.
"Ghesa... lo...."
"Alya... Gue bisa jelasin!"
Alya menggelengkan kepalanya masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan teman terdekatnya itu. Padahal Alya tidak pernah mencurigainya sama sekali, atau terlintas di benaknya bahwa Ghesa berada di balik semua ini.
"Kenapa ngelakuin ini, Ghes?! Salah Shei apa?!" berang Alya.
Raut wajah Ghesa yang awalnya sedih kini tertarik menjadi lebih mencekam. "Gue ngelakuin ini buat lo, Alya!"
"Buat gue apa, Ghesa?!" tuntutnya.
__ADS_1
"Shei! Orang yang udah bully lo!! Gue nggak mau, lo ngulangin masa-masa sulit itu lagi karena Shei! Gue pengen bantu lo, Alya! Buat balas dendam lo ke Shei!" seru Ghesa.
Alya terus menggeleng berkali-kali. Apapun itu alasan Ghesa, itu tidak dibenarkan.
"Jadi semua ini ulah lo?!" tuduh Shei.
Alya dan Ghesa tersentak kaget, mereka berdua menoleh dengan mata kaget karena ternyata Shei ada di sini, mendengarnya. Begitu juga dengan yang lain yang telah menyaksikan ini.
"IYAH!" erang Ghesa membuat mereka semua menatap tidak percaya.
"Jadi gara-gara lo Shei sama Alya ngalamin ini!" racau Joy. "Kenapa bisa lo sejahat ini?!"
"Gue?? Jahat? T'ck!"
"Ghesa..." lirih Shei. "Gue salah apa sama lo?"
"Lo nggak ada salah apa-apa sama gue!"
"Terus kenapa ngelakuin itu?!" geram Ello kali ini.
"Gue pengen NYADARIN DIA! DIA BANYAK SALAH SAMA ALYA!! Lo udah buat Alya sengsara karena di dekat lo, anggota geng NHS!!" berang Ghesa. "Gue tahu, Alya nggak bakal berani buat balas dendamnya sama lo! Terlalu bodohnya Alya masih nganggep lo sahabatnya!"
"Jadi... ini karena Alya," lirih Shei dengan suara rendah. "Tapi bisa-bisanya lo nyebarin aib Alya lewat akun gue?! Seakan-akan lo udah lindungin dia!"
"ITU BUKAN GUE!" sergah Ghesa.
"TERUS SIAPA?!" serang Shei.
Shei dan Ghesa saling memancarkan kemarahan mereka satu sama lain. Terdiam sejenak, memikirkan apa yang mereka akan katakan.
"Lisa," keluhnya.
"Lisa sama lo?! Kalian kerjasama," sosor Alya.
"Nggak, Alya! Nggak gituh!" bantahnya.
"Akuin aja, Ghesa! Lo nggak bisa lari lagi!" seloroh Joy.
"Apa yang lo lakuin ini, udah salah besar! Lo ngancurin persahabatan mereka!" cakap Ello.
"Ghesa. Lebih baik lo jujur sekarang daripada lo nyesel. Ini udah nggak baik," ucap Alvin.
Tampaknya Alvin dapat mempengaruhi Ghesa. Hanya Alvin yang terdengar tidak menuntutnya terus-menerus, berbicara dengan tulus padanya, dan lembut. Hal yang membuat Ghesa menyukai Alvin dari dulu.
"Lisa...." ucap Ghesa dengan perasaan sesal. "Dia dibalik semua masalah yang menimpa lo di sekolah, Shei."
Perasaan kecewa Shei terhadap sosok Lisa yang merupakan sahabatnya, dan orang yang dia percaya. Bagaimana bisa Lisa melakukan ini padanya?
"Dan yang udah bantuin dia, Fay," tebak Rave membuat yang lain menatap ke arahnya, bertanya-tanya. Dan Ghesa mengangguk membenarkan.
Semua orang terkejut.
"Rave lo kok bisa tahu?" kejut Ello.
"Gue cuman nebak," jawab Rave enteng.
"Yaelah kirain."
"Bercanda," lanjut Rave lagi membuat yang lain kebingungan. Ternyata lelucon Rave tidak membuat orang tertawa tapi hanya membuat mereka semakin gugup. Menyesal. "Hari terakhir Dies Natalis. Waktu marching band mau tampil, gerak-gerik Fay mencurigakan dan terus merhatiin ke arah ekskul kita dan saat marching band tampil, gue nggak sengaja lihat Lisa ada di area penonton bareng lo, Ghes. Awalnya gue curiga sama lo. Tapi saat kehebohan di sekolah karena aib nya Alya kesebar, ternyata dugaan gue salah. Pelaku sebenarnya adalah Lisa sama Fay."
"Ya! Alya korban bullying gue! Babu gue di sekolah lama! Itu kan yang kalian pengen denger dari mulut gue?! Cih!" Shei segera pergi dari keributan yang dia buat.
"Shei... Shei! Mau kemana?" Joy segera menyusulinya.
Rave tidak percaya dengan sikap Shei. Tanpa diduga dia melihat sesuatu yang mengejutkannya, dia melihat Lisa dan Fay bersama-sama tersenyum curiga melihat keributan ini. Dan disitulah awal dia menemukan jawaban bahwa Fay adalah kaki tangan Lisa, bukan Ghesa. Tapi yang belum diketahui Rave adalah, alasan mereka melakukan hal ini kepada Shei.
"Harusnya gue tahu Si Fay yang salah, dia selalu ngajak ribut lo terus, Shei," geram Ello.
__ADS_1
Shei merasa tersentuh ternyata Rave selama ini benar-benar membantunya untuk menemukan pelakunya. Shei merasa bersyukur.
"Tapi gue belum tahu. Usut kenapa Lisa sama Fay ngelakuin ini," ucap Rave. "Dan gue juga belum tahu, lo ada hubungan apa sama Lisa."
"Gue saudaranya Lisa," jawab Ghesa menunduk.
"Ah gue inget! Jadi yang lo maksud saudara lo dateng ke Dies Natalis itu, Lisa?" seloroh Joy.
Ghesa angguk.
"Jadi, Lisa beneran dateng ke Dies Natalis?" tanya Shei.
Ghesa kembali mengangguk, begitu juga dengan Rave, Alya dan Joy yang tahu hal itu.
"Berarti, yang udah nyebarin aib Alya ke akun Shei itu Fay, dan Fay tahu semua itu dari Lisa. Karena Lisa teman terdekatnya Shei, jadi Lisa tahu password maupun akun media sosial lo?" ucap Alvin. Shei angguk. Dia baru ingat, bahwa Lisa mengetahui password akun media sosialnya. Kemungkinan yang terjadi, adalah benar. "Termasuk surat misterius?" tanyanya Alvin lagi.
"Gue pernah lihat. Fay masukin sesuatu ke lokernya lo, Shei. Mungkin itu surat yang kalian maksud. Gue juga inget, waktu gue ngembaliin kunci ke Alya yang gue temuin. Alya bilang lo diteror sama surat-surat yang lo temuin di loker... dan...."
"Dan lo memanfaatkan kejadian ini dengan bilang buat balas dendamnya Alya ke Shei? Gituh?" potong Rave kesal kepada Ghesa.
"Yah! Apa yang lo semua ucapan itu bener! Gue ngaku, gue salah! Gue kesel aja sama sikap Shei ke Alya, buat Alya jadi korban bullying! Gue yang udah nyebarin rumor kebusukan di sekolah lama lo Shei. Waktu lo masih jadi anak baru di Baknus. Itu gue!"
Ghesa tidak bisa lagi berbohong, rumor yang tersebar di awal-awal Shei masih menjadi anak baru di SMA Bakti Nusa. Ghesa lah pelakunya sekaligus pemilik akun @Broken_flower. Dia juga orang yang menyebarkan kebohongan tentang Shei sebagai gadis murahan ke semua orang dan sekolah lain. Ghesa hanya ingin menghukum Shei atas apa yang dialami Alya sebagai korban bullyingnya.
"Ghesa... harusnya lo nggak ngelakuin sejauh ini. Shei nggak sepenuhnya salah," lirih Alya membuat Ghesa terdiam mulai muncul perasaan bersalah.
"Apa yang dibilang Alya itu bener," ujar Ello. "Lo udah salah sangka, Ghes. Selama ini, yang Shei lakuin ini buat lindungin sahabatnya. Alya. Shei cuman nggak ada pilihan sampe masuk geng NHS biar Alya nggak dibully lagi sama mereka."
Alya terkejut dia baru mengetahui kebenaran ini. Dia langsung menatap Shei dengan rasa bersalah begitu juga dengan Ghesa penuh rasa bersalah terhadap Shei.
"Shei... Gue... Minta maaf," ucap Ghesa menunduk.
Shei tersenyum tipis. "Gue juga minta maaf sama sikap gue selama ini. Gue sadar gue juga salah. Makasih." Ghesa mengangkat kepalanya untuk melihat Shei dengan penuh tanya mengapa Shei berterima kasih padanya. "Lo ngelakuin ini karena lo peduli sama Alya." Shei kemudian menatap Alya. "Lo beruntung, punya temen kayak Ghesa."
Mereka semua tersenyum ada perasaan haru dari semuanya dengan suasana sekarang ini.
"Sorry, Shei," ucap Ghesa. "Gue terlalu gegabah dan gue nggak tahu, ternyata apa yang lo lakuin ini buat ngelindungin Alya. Gue minta maaf. Gue benar-benar malu."
Shei melangkah mendekati Ghesa dan memeluknya sebentar. Mereka tersenyum lega dari setiap masalah yang menurun.
"Alya... lo lebih beruntung lagi punya sahabat kayak Shei," lanjut Ghesa dengan tulus.
Alya tersenyum dan mengangguk. Ada kebahagiaan dan rasa syukur bahwa ada sahabat yang selalu melindungi dan peduli padanya, dan juga dia sedih, merasa bersalah pada teman-temannya, mereka menderita karenanya.
"Jadi.... Soal Lisa sama Fay. Mereka kenapa neror Shei? Dan kenapa bisa mereka bisa saling kenal?" tanya Alvin membuat suasana disini menjadi tidak bersahabat lagi.
Dan mereka semua menatap bertanya-tanya kepada Ghesa yang mungkin tahu sesuatu tentang Lisa dan Fay.
...🌸...
...Hayohhh... Tebakan siapa nih yang bener dari para readers??...
...Ada yang kejebak juga yaa Ghesa pelakunya sama Lisa?? Hehehe.......
...Tapi malah Lisa sama Fay dibalik surat misterius itu. Tapi kenapa juga ya mereka ngelakuin hal itu sama Shei?...
...Kira-kira apa masa lalu mereka??...
...Mari kita tebak lagi!! Dari judulnya dan alur cerita pertama dan petunjuk pertama permasalahan pun seharusnya udah bisa nebak nih!...
Yeee!
Teka-teki telah terjawab satu-satu nih Rave sebagai pelaku surat misterius yang memberikan petunjuk. Ghesa adalah pemilik akun @Broken_flower dan memanfaatkan kejadian ini hanya untuk menghukum Shei, membantu Alya untuk membalas dendam ketika Alya sebenarnya tidak punya dendam sama sekali pada Shei. Dan Ghesa telah salah sangka.
Dibalik surat misterius yang berisikan sebuah ancaman, Lisa dan Fay bekerja sama untuk melakukan itu.
Tinggal beberapa teka-teki lagi nih yang belum terjawab.... Apa yah??
__ADS_1
...✨...