
Ello baru saja tiba di sebuah tempat tongkrongannya, disana ada sebuah studio musik dan juga kafe. Ello menghampiri teman-temannya dan menyapanya.
"Apa kabar, bro?"
"Baik-baik," jawab Ello. Lalu menemukan Ken, teman SMP nya disini. "Oy, Ken. Disini juga lo."
"Haha yoi, El."
"Dari tadi?"
"Yaah lumayan, lah."
Ello berseri, duduk di antara mereka. "Gimana nih belum ada pengumuman lomba lagi?"
"Nggak ada, bro. Masih sepi. Paling kalau manggung ada. Lo kalau mau, bisa ikut. Giliran lah biasa."
"Pengen sih. Tapi lo lo tahu, kan. Nyokap bokap gue nggak suka kalau gue nyanyi rock kayak ginih. Mm gue liat situasi dulu, deh."
"Lo kabarin aja kalau lo siap buat manggung selain ikut lomba."
"Siap siap."
"Gue kesana dulu, bentar."
"Oke oke."
Sekarang hanya ada Ello dan Ken di meja ini. Tiba-tiba saja Ken semirik jahil. "Cewek lo mana? Biasanya digandeng mulu kemana-mana," sindirnya.
"Nggak ada. Gue jomblo sekarang."
"Widih... jomblo nih. Gue kira nggak ada kata jomblo di kamus lo. Udah putus langsung embat yang baru."
"Sialan lo!" decitnya. Ken tertawa terbahak. "Kayak lo yang udah punya pacar aja."
"Eit eits,, jangan salah. Gua udah pacar kali."
"Dih, cewek mana yang mau pacaran sama lo?" ledeknya tertawa.
"Bangsat lo." Umpatan anak laki-laki tidak membuat mereka sakit hati. Hal itu lumrah bagi mereka. "Nih gue liatin nih cewek gua. Noh, gimana cantik kaga?"
Ello melihat foto-foto yang ditunjukkan olehnya. Ken terus menggeser ke kiri menunjukkan foto kebersamaannya bersama pacarnya itu.
"Gimana? Cantik kan cewek gua. Daripada mantan-mantan lo itu."
Ello tidak menanggapi hal itu. "Eh balikin ke yang tadi."
"Apaan?"
"Foto sebelum."
Karena Ello menemukan sesuatu yang menarik baginya.
"Yang ini?"
__ADS_1
"Nah iyah. SMP baru lo yang pindah itu?"
"Hooh. Waktu pindahan itu, nah ini SMP baru gua di Jakarta. Liat nih gua paling keren."
"Pthhh--keren-rambut batok kayak gitu... Hahahaha..."
"Euhhh rambut ginih juga banyak cewek yang ngejar."
"Masak?"
Ello kembali ke layar ponsel untuk meninjau foto tersebut. Tapi sekali lagi, dia menemukan sesuatu yang lebih menarik di sana. Dua gadis yang cukup akrab berdiri di tengah tersenyum bahagia satu sama lain, dan berpegangan tangan.
"Lah ini kok mirip Si Shei."
Ken segera melihat ke arah yang ditunjuknya. "Emang itu Si Sheila."
Ello tergemap. "Lo satu SMP sama dia di Jakarta?"
"Iyah. Makanya kan kemarin gue bilang, Si Sheila itu banyak yang sirik, udah cantik pinter kaya lagih. Banyak yang iri, banyak yang pengen temenan sama dia, dan jangan lupa banyak cowok yang nembak," ungkap Ken dan Ello benar-benar menyimak dengan serius. "Nah yang digandeng sama Si Sheila itu sahabatnya, namanya Alya. Mereka lengket banget deh."
"Lo bilang tadi siapa namanya?"
"Alya," ulangnya.
"Alya?" Ello segera menyalakan ponselnya, membuka galeri dan menunjukkan foto bersama anggota kelasnya. Dia memperbesar salah satu orang dan itu Alya. Apakah yang dimaksud oleh Ken itu Alya yang ini. "Yang ini bukan?"
Ken memeriksa dengan teliti dan membandingkan dengan foto di ponselnya. Agak susah dicocokkan karena perbedaan penampilan, di handphone nya Alya di kuncir dan berkacamata, sedangkan di handphone Ello, Alya adalah Alya berambut pendek dan sudah tampil sesuai zamannya. Modern.
"Wihh serius ini Alya yang dulu? Gile sekarang cantik, udah nggak culun lagi," kekeh Ken. Namun pada akhirnya Ken menemukan kesamaan.
Ello semakin tercengung dengan informasi yang diberitahu oleh Ken.
"Yoi sama. Lo kok bisa punya foto dia? Tunggu-tunggu. Itu foto sama anak-anak kelas, kan? Berarti lo sekelas sama Si Alya?"
Ello angguk. "Dia murid baru sebelum Shei dateng."
"Tunggu gue jadi bingung. Kalau seinget gue nih, mereka berdua sekolah di Nusantara High School. Jadi, sekarang dua-duanya, sama-sama pindah ke SMA Bakti Nusa, gituh?" Ello kembali memberi anggukkan. Ken tersenyum lebar. "Gila. Beneran soulmate mereka. Emang dah dari dulu, sahabatan. Yang satu sekolah disini langsung pindah. Nggak mau ke pisah deh kayaknya." Ken terkekeh.
"Sahabatan dari mananya? Malah mereka kayak orang yang nggak kenal."
"Masak ah? Nggak mungkin."
"Gue seriusan. Mereka nggak nunjukin mereka pernah deket. Pernah gue tanya, tapi Si Alya nggak tahu apa-apa soal Shei. Kayak musuhan, tapi nggak diumbar."
"Wah kenapa yah? Apa jangan-jangan, mereka punya masalah nih sampe kayak gitu."
"Gue juga nggak tahu persisnya."
"Tapi serius dah, Si Alya beda banget. Cantik, bro."
"Matanya udah mulai jelalatan. Inget pacar."
"Hahahaha tenang aja, pacar mah nomor satu."
__ADS_1
"Emak lo?"
"Setelah emak gua maksudnya," kekeh Ken.
Kecurigaan gue bener. Ternyata ada sesuatu antara Shei sama Alya dulu. Dalam hati Ello.
...****************...
Joy sedang belajar dengan Shei di rumahnya. Suasana di rumah Shei sangat sepi dan tenang, apalagi neneknya sangat ramah dan menyediakan banyak jajanan dan susu hangat membuat Joy semakin suka berlama-lama disini.
"Nah sekarang paham?" tanya Shei kepada Joy yang masih menatap fokus pada lembaran-lembaran soal Inggris.
Joy segera mengubah posisi duduknya lebih tegap, dan menatap Shei dengan kagum. "Woah Shei selain bisa lempar baton, lo jago juga mecahin nih soal Inggris."
"Inggris tuh sama aja kayak bahasa Indonesia. Bedanya Indonesia bahasa kita, kalau Inggris bahasa Internasional. Tiap soal juga persis, cuman kitanya harus teliti aja, fokus sama kalimat utama dari pertanyaan."
Joy menganguk-angguk kagum. "Gue nunggu kejutan dari lo lagi nih." Shei hanya tersenyum menghela pada temannya ini. "Gimana ekskul? Bakal tetep latihan waktu minggu-minggu ujian?"
"Kata Kak Feby sih, nggak. Disuruh fokus sama ulangan. Tapi latihan personal."
"Oh yah yah."
"Assalamu'alaikum."
Joy dan Shei segera menoleh ke arah gerbang rumah, menemukan teman sekelas dan tetangganya kemari, Alvin. Dia masuk, berjalan ke arah kami.
"Ada lo ternyata," ucap Alvin pada Joy.
"Yoi."
"Ada apa, Al?" tanya Shei.
"Ini. Gue bawain buku buat lo, bentar lagi kan ujian sekolah. Tapi ternyata ada Joy yah, udah bantuin lo. Syukur deh."
"Makasih ya. Maaf ngerepotin."
"Sama-sama. Ada salam juga dari Gadis, buat lo." Shei tampak senang. "Kapan-kapan lo maen aja ke rumah, temuin dia."
"Iyah nanti kalau senggang kesana."
Joy tersenyum penuh arti, melihat interaksi antara mereka berdua yang mungkin jarang ditemukan di sekolah. Melirik Shei lalu melirik pada Alvin. Berulang-ulang.
"Kenapa?" curiga Alvin merasa diintimigasi.
Shei pun ikut terheran.
"Gue nggak nyangka, ternyata kalian sedekat itu kalau di luar sekolah," goda Joy.
"Denger Joy. Kalau lo belum tahu, gue sama Shei itu udah temenan sejak kecil. Jadi, jangan heran."
"Iyah lo ini, gue sama Al cuman ngobrol bisa doang."
Namun bukan Joy jika tidak menggoda mereka.
__ADS_1
...🌸...