Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 68 Sebuah Foto


__ADS_3

Matahari telah terbit, kami semua melihat sunrise di pagi yang sejuk. Setelah camping melihat sunrise kami semua kembali ke villa, tentunya kami istirahat lagi, ada yang istirahat sambil bercanda dan ngobrol riang, ada juga yang sedang membereskan sesuatu yang terlihat berantakan.


Rave dan Alvin setelah merapikan apa pun yang berantakan di sini, mereka berada di halaman melihat alam bersama sambil meminum secangkir susu hangat.


"Rave..."


"Hum?"


"Ada yang ganggu pikiran kamu?"


"Nggak."


"Rave..."


Rave menghela nafas. Ia kembali menoleh pada Alvin, melihat Alvin meminta kejujuran dari Rave. "Yah."


"Apa?"


"Soal hubungan ibu sama ayah," jawab Rave.


"Om Kevin?"


Rave angguk.


"Oke. Jadi apa yang ngebuat kamu sedih kayak ginih, hum?" Alvin mendekat, membuat posisi mereka saling berhadapan.


"Aku takut. Aku takut, kalau aku bukan anak yang diinginkan mereka."


"Rave... Jangan mikir kayak gitu."


"Tapi Alvin..."


"Rave..." Alvin meraih tangannya, dan menggenggamnya. "Hilangin pikiran negatif kamu. Kamu harus selalu inget, perjuangan tante Dara ngelahirin kamu, itu berarti kamu anak yang diinginkan. Tante Dara sayang sama kamu."


"Aku tahu Alvin..." Rave tanpa sadar meneteskan air mata. Alvin juga merasa sedih, dan sakit melihat Rave menangis. Rave adalah orang yang jarang menangis, meskipun dipukuli dia tidak pernah menangis sama sekali. Kecuali ketika dia kehilangan ayah angkat Rave, Haris saat itu, Rave begitu hancur karena kehilangan lagi orang-orang yang dia cintai. "Tapi ayah...? Aku nggak tahu alasan mereka bercerai. Yang ku tahu pasti, nggak ada perselingkuhan. Lalu apa? Apa Alvin?! Apa yang buat mereka bercerai?! Kenapa omah nggak mau kasih tahu aku?! Segitu rahasianya sampai aku sendiri nggak boleh tahu soal orangtua ku sendiri?! Apa aku anak haram?!"


"Shutt! Rave...!!" Alvin menarik Rave dalam dekapannya.


"Hiks... Apa pernikahan ibu sama ayah karena terpaksa? Atau aku anak diluar nikah?! Aku takut, Alvin!"


Alvin tidak bisa membalas perkataannya tapi hanya bisa memberinya ketenangan dengan pelukan. Berharap apa yang ditakuti oleh Rave, itu bukan alasan dari perceraian orangtuanya.


......................


Joy masih tidak bisa menerima bahwa Shei telah ditembak oleh Ello. Shei sama sekali tidak memberitahunya tentang hal itu, yang membuat Joy sedikit kecewa meskipun mereka berteman. Ketiga orang itu membuat keributan, Shei berada di tengah untuk menghentikan pertempuran.


"Gue masih nggak terima ya lo nembak Shei!"


"Apa urusan lo ngatur-ngatur! Gue yang suka, gue yang nembak, yang ditembak juga biasa-biasa aja!"


"Hidihh! Suka lo itu bullshit! Gue tahu! Gue nggak terima kalau Shei nanti sakit hati sama lo! Mendingan Shei sama Alvin, lah!"


"Lo bilang apa?!" Ello mengeraskan rahangnya kesal dengan kata-kata yang dilontarkan Joy padanya yang menganggapnya hanya sebagai candaan menyukai Shei.

__ADS_1


"Apa?!" Tatap Joy balik.


"Berantem ayok!"


"Ayok! Sini! Gue rada letoy pun nggak bakalan ngalah dari lo!"


Joy dan Ello sama-sama tidak mau kalah, mereka meregangkan otot-otot mereka sebelum perkelahian dimulai.


Saat hendak terjadi perkelahian, Shei langsung menghentikan mereka namun ternyata Shei tidak sengaja membuat Ello dan Joy jatuh ke kolam renang.


BYUUR!


Shei membulatkan matanya kejut.


"SHEI!" pekik Ello dan Joy setelah sama-sama telah naik ke permukaan air.


Shei pun berseri-seri.


......................


Ternyata di balik kamar, ada Alya yang tidak sengaja melihat Alvin dan Rave berpelukan dari jendela kamarnya. "Al... Rave..." Ia sangat terkejut, karena persahabatan Rave sangat jarang diketahui orang lain. Dan satu-satunya yang tersebar adalah Ello, teman terdekatnya, sejak kecil.


Rumor satu-satunya yang dimiliki Rave di sekolah terlintas di benaknya, bahwa Rave telah memeluk seorang laki-laki, tentu saja itu bukan Ello. Tapi orang lain.


Apa jangan-jangan orang itu Alvin? Batin Alya.


"Alya..?"


Alya terperanjat dan segera berbalik dan menutup jendela, menarik tirai. Alya tersenyum kepada Ghesa. "Iyah, Ghesa?"


Alya mengangguk sambil tersenyum. Setelah Ghesa pergi mandi, Alya menghela napas lega. Alya melihat ke luar jendela lagi untuk mengecek, ternyata Rave dan Alvin sudah tidak ada lagi.


"Kalau sampe Ghesa lihat yang barusan. Dia pasti sedih banget. Alvin, cowok yang dia suka pelukan sama cewek lain."


Ghesa pernah bercerita bahwa dia menyukai Alvin sejak kelas 10. Namun Ghesa hanya bisa menyembunyikannya dan tidak berani mengungkapkannya. Dan tadi malam Ghesa secara terbuka karena permainan bertanya kepada Alvin 'Apakah ada gadis yang dia sukai?' Tentu saja Alya sadar, perubahan sikap Ghesa menjadi sedih mendengar Alvin jatuh cinta pada seseorang, bukan pada dirinya.


Alya ikut sedih, berpikir lagi bahwa gadis yang disukai oleh Alvin adalah Rave?


......................


Mendengar suara yang cukup keras dari kolam, Rave dan Alvin menyadari mereka melepaskan pelukan dan segera pergi ke sana untuk memeriksanya. Sampainya mereka terkejut melihat Ello dan Joy berada di dalam kolam renang dengan raut wajah yang kesal.


"Ada apa?" tanya Alvin kepada Shei.


"Mereka berantem, dan gue nggak sengaja buat mereka jatuh ke kolam. Hehe..." jawab Shei.


Rave tersenyum dan Alvin tertawa terbahak-bahak. Alvin segera mengeluarkan ponselnya untuk merekam Ello dan Joy yang sedang sengsara di kolam renang yang dingin.


Shei melihat ke arah Rave, menemukan matanya yang lembab. "Rave? Lo nangis?"


"Hah? Nggak," jawab Rave datar, sedatar-datarnya.


Shei pun tersenyum, meski sebenarnya ia curiga.

__ADS_1


"Lo ngapain heh?!" kelakar Ello kepada Alvin.


"Gue rekam. Hahahaha...." sahut Alvin.


"Ngapain direkam?! Males punya video sama ni anak! Mending rekamin gue sama Shei!" lirih Ello.


"Dih siapa juga yang mau? Gue juga ogah!" cela Joy.


Alvin tak henti-hentinya merekam momen ini sambil tertawa. Namun tak lama kemudian banyak sekali pesan dari ponselnya. Alvin juga menghentikan kegiatan ini untuk mengecek pesan dari grup chat Dies Natalis selaku panitia saat itu. Ternyata panitia dekomentasi mengirimkan foto-foto yang mereka ambil saat Dies Natalis.


Alvin sedang melihat foto Dies Natalis, dan saat foto 'itu' muncul. Alvin memanggil Shei. "Shei. Ada foto lo sama El, nih."


"Foto gue?" Shei beranjak, bergegas menuju Alvin. "Foto apaan, Al?"


Alvin memperlihatkan foto itu, sekarang ponselnya digenggam oleh Shei.


"Foto apa Shei?" tanya Ello yang mendengarnya.


Joy berhasil keluar dari kolam, sedangkan Ello masih di bawah sana karena saat hendak bangun, Rave mendorongnya lagi, menyebabkan Ello jatuh kembali. Byur!


"Brave! Sialan, lo!" umpatnya.


Rave tersenyum meledek. Joy tertawa terbahak-bahak.


"Foto ini." Shei menunjukkan foto tersebut kepada Ello.


Ello yang awalnya kesal. Tapi ketika melihat foto tersebut, kekesalan mereda. Ello sumringah. Melihat foto dirinya bersama Shei saat Dies Natalis. Foto yang diambil oleh kakam kelasnya, Hanna. "Kirimin ke gue!"


"Dari hp nya Alvin," sahut Shei.


"Al kirimin!"


"Mau bayar berapa?"


"Bangs*t! Lo!" umpat Ello lagi.


Shei yang mendengar itu langsung menatap Ello dengan tidak suka, dia menggelengkan kepalanya membuat Ello mematung.


Shei ingin melihat foto Dies Natalis saat itu, dia menggeser untuk melihat foto lainnya. Ada foto saat marching band tampil, Shei tersenyum namun juga dengan perasaan sedih. Tapi ketika foto mengambil sudut ke arah penonton. Apa matanya salah melihat atau bagaimana? Shei memperbesar foto. Saat mencoba mempertajam penglihatannya lagi, Shei sangat terkejut.


"Lisa?"


"Ghesa?"


Mendengar Shei berucap nama 'Lisa' dan 'Ghesa' membuat yang lain menoleh ke arahnya, menatap tanya.


Shei terdiam mencerna apa yang dilihatnya sekarang, yang tanpa sengaja mengambil kehadiran Lisa bersama Ghesa di dalam foto ini.


"Mereka...."


...🌸...


...Kenapa sama Lisa Ghesa ya?? Ada yang bisa nebak?? Alasan nya apa?? Ada yang bisa mendeskripsikannya?? Kiw......

__ADS_1


...Sebelum author kasih chapter selanjutnya nih... Hari ini juga...


...✨...


__ADS_2