Diary Of A School : Marching Flower

Diary Of A School : Marching Flower
BAB 65 Packing


__ADS_3

Ello keluar dari rumah, dia berada di halaman untuk mencari udara segar di pagi hari sambil menggerakkan tubuhnya sedikit berolahraga. Sambil mengusap sebentar dia terkejut dan tercengang dengan apa yang dilihatnya di hadapannya. Di sisi lain, orang yang di seberang menatap tercengang memikirkan hal yang sama dengan apa yang dilihatnya adalah benar.


"Joy?"


"El?"


"Wah gue nggak salah lihat? Beneran lo nih?" Ello bergegas mendekat begitu juga dengan Joy yang menghampirinya.


"Beneran, lah. Jonathan gue."


"Jadi liburan kesini lo?"


"Mm gimana ya. Gue kesini sih nemenin Alya pulang. Karena udah malem, gue nginep di rumah tante gue." Sambil melihat ke arah rumah dibelakangnya. "Terus lo ngapain di rumahnya pak pejabat?"


"Rumah bokap nya Si Alvin, nih..."


"Hah?!" kejut Joy.


"Eh ada lo Joy..." sapa Alvin yang telah tiba sedikit terkejut ada teman lain disini.


"Hallo, Al. Wah... ternyata rumah pejabat yang dimaksud tante gue bokap lo. Gue nggak tahu." Lalu Joy pun berdecak pinggang. "Kalian liburan nggak ngajak gue ceritanya nih."


"Bukan gituh, Joy. Kemarin kita baru aja ketemu sama Shei," jelas Alvin.


"Wah?! Shei?! Kenapa nggak ngajakin gue, sih! Gimana kabarnya? Dia baik-baik aja, kan?!" Joy begitu panik dan mencemaskan sahabatnya itu. "Gue pengen ketemu sama Shei juga!"


...****************...


"Non nggak papa, biar sama bibi aja."


"Nggak papa, bi. Saya nggak ada kerjaan juga. Udah biasa nyiram bunga... bunga omah juga." Rave tersenyum lalu menyirami tanaman di halaman rumah ini.


"Non deket banget ya sama omah," ucap Bi Ayu. Rave hanya tersenyum. "Bibi masih inget sama Non yang pernah kesini datengin tuan." Perasaan Rave terkejut langsung menatap bi Ayu. "Maaf, Non. Bibi denger pembicaraan Non sama tuan, nyonya waktu itu. Umur bibi udah tua kaya ginih, bibi udah kerja disini sebelum nyonya Rosa dateng."


"Berarti... bibi kenal sama ibu saya?"


Bi Ayu tersenyum angguk. "Bibi sedih banget waktu denger kabar nyonya Dara meninggal." Tanpa sadar Rave meneteskan air mata mendengar ini, Rave lebih merindukan ibunya, dia tidak diberi kesempatan untuk melihat wajah ibunya sendiri. "Lihat Non Rave ingetin saya sama nyonya Dara, Non mirip banget."


"Saya nggak bisa lihat ibu saya sendiri, bi..." ucap Rave tersedu kecil.


Bi Ayu mengusap-usap punggung Rave memberikan ketenangan. "Nyonya Dara pasti seneng lihat putrinya lahir dengan selamat, tumbuh jadi gadis cantik, baik hati. Mendiang bahagia lihat Non di atas sana."


"Bibi... Apa bibi tahu alasan kenapa ibu saya cerai sama pak Kevin?"


"Apa mereka belum kasih tahu, Non?"


"Omah cuman ngasih tahu kalau perceraian ibu sama pak Kevin bukan karena perselingkuhan. Tapi konflik lain. Apa bibi tahu?"


Bi Ayu terdiam, sepertinya dia tahu sesuatu tapi tidak mau menceritakannya. "Maaf, Non. Kalau tuan sama omah belum cerita sama, Non. Bibi juga belum berani buat ceritanya."


"Bi..." Rave memohon bibinya untuk memberitahu dia alasan mengapa ibunya menceraikan Kevin.


"Bi Ayu... Rave?" Suara Shei terdengar, ia telah berada disini membuat obrolan bi Ayu dengan Rave tertunda. "Kalian ngobrolin apa? Kayanya serius banget. Rave... lo nangis?"


"Hah? Ng-nggak! Ini... gue keringetan. Kayanya gue harus mandi lagi," tukas Rave.


"Oh lo mau mandi lagi?" tanya Shei dan mendapat anggukan dari Rave yang tidak curiga sama sekali. Shei dengan cepat meraih selang yang dipegang oleh Rave, dan mengarahkan selang yang menyala ke Rave membuat Rave terkejut. Shei tertawa puas. "Hahahaha...."


"Yah! Shei! Lo apa-apaan, sih!" Rave basah kuyup, Shei masih menyemprot Rave dengan tawa keras itu.


"Katanya mau mandi lagi," celetuk Shei dengan tawanya.


Sementara itu, Bi Ayu tersenyum melihat anak-anak majikannya bersenang-senang dan rukun. Tetapi jika kebenaran ini didengar oleh salah satu anak tuannya, Shei. Apa yang terjadi nanti.

__ADS_1


Tak mau kalah Rave mengambil kembali selang itu dan menyemprotkannya ke Shei, tentu saja Shei basah kuyup sepertinya. Rave sangat puas.


"Aah! Rave~ BASAH! Baru juga beres mandi, ih!" rengek Shei.


Ternyata di sisi sana ada dua pemuda yang datang melihat pemandangan dua bidadari sedang bermain air di depan matanya. Keduanya senang melihat Shei dan Rave rukun, dan Ello mengabadikan momen itu dengan merekamnya.


"Ayok," ajak Alvin dengan segera Ello menyudahinya.


"Daripada main-main di rumah aja...." lontar Ello membuat Shei dan Rave mengehentikan kejahilan mereka masing-masing dan tidak menyadari ternyata Alvin dan Ello sudah tiba. "Mending kita liburan, gimana?"


"Liburan?" gumam Shei.


Ello angguk. "Camping?"


"Gue tahu tempatnya," sahut Alvin. "Ada vila juga, bisa sekalian camping disitu."


"Bagus tuh. Gimana Shei, Rave?"


Shei dan Rave saling pandang setelahnya memikirkan.


...****************...


"Jonathan kenapa nyuruh aku bawa baju ganti? Emang kita mau main kemana?" Alya terheran pasalnya Joy menyuruhnya membawa pakaian ganti, dan lebih banyak pakaian hangat. "Kita bukan mau muncak gunung, kan?"


Joy tertawa. "Nggak, Ay. Yang pasti kita bakalan seneng-seneng deh. Bawa yang aku suruh, kan? Bawa jaket tebel?"


Alya mengangguk. "Tapi aku ngajakin Ghesa."


"Ghesa?" heran Joy.


"Iyah. Dia lagi di Jakarta juga ternyata, mau mampir ke rumah aku awalnya. Yaudah deh aku sekalian ajakin aja dia ikut. Maaf nggak bilang dulu kamu."


"Nggak papa," balas Joy. "Tapi kamu udah kasih tahu dia bawa-bawa apa aja?" Alya mengangguk. "Yaudah. Berarti nunggu Ghesa dulu ini?"


Sebuah mobil terparkir di depan pintu. "Alya..." Ghesa akhirnya tiba membawa ransel cukup besar. "Aduh berat banget ini." Dia melepaskan ransel dari punggungnya. "Hallo Joy." Menyapanya setelah melihat teman sekelasnya diisi.


"Ghes. Lo bawa apa aja?" tanya Alya.


"Bawa yang lo suruh, lah. Baju ganti. Gue bawa banyak buat jaga-jaga, kita nggak tahu kan mau kemananya. Eh iyah, Joy. Gue nggak papa ikut?"


"Nggak papa. Lebih banyak lebih rame. Yaudah kalau gitu, berangkat sekarang. Ghes, suruh supir lo pulang aja. Lo berangkat bareng kita."


Ghesa mengangguk.


...****************...


"Shei...." rengek Rave.


"Apa, sih?! Cocok ini!" decit Shei mendengar Rave terus menerus merengek.


Tentu saja Rave merengek dan kesal pada Shei. Jika dia tahu dia akan tinggal dan berlibur seperti ini, dia akan membawa baju ganti. Karena dia tidak tahu, dan tidak membawanya, dia dipinjamkan oleh Shei. Tentu selera berpakaian mereka jauh berbeda, Rave diharuskan memakai pakaian seperti Shei yang kebanyakan gaun, terlihat manis, imut. Rave tidak mau. Ditambah baju satu-satunya yang ia bawa yang ia pakai, basah karena tadi.


"Nggak mau, Shei!"


"Ih! Yaudah berarti lo mau telanjang?"


"SHEI!" tampik Rave.


"Iyah yah, sorry. Gue bercanda. Ini... gue udah pilihin baju yang mau dibawa. Sesuai yang lo mau. Untung aja gue pernah jadi anak nakal, jadi nyetok pakaian kasual, lah." Rave segera memeriksanya dan tersenyum senang. "Tapi. Pliss! Berangkat lo pake itu aja yah!"


"Hah! Nggak mau. Nggak enak pakenya, nanti kan naek motor," tolak Rave karena sekarang dia memakai rok putih dengan atasan bergaris. Bahkan jika sekolah memakai rok, itu adalah kewajiban, jadi Rave terpaksa memakainya.


"Kita kan naik mobil. Padahal gue udah susah-susah milihin baju, nyiapin baju buat lo," keluh Shei seolah-olah sedih karena tidak dihargai oleh Rave. Ternyata Rave lebih ribet daripada gue soal baju.

__ADS_1


Melihat ekspresi sedih di wajah Shei, Rave juga merasa bersalah karena menginginkan begitu banyak. Dia mengambil napas dalam-dalam. "Hah... Yaudah. Makasih, Shei." Rave tersenyum.


Ucapan terima kasih Rave membuat Shei kembali senang. "Ayok mereka pasti udah nungguin. Gue udah lama banget nggak liburan sama temen."


"Udah nganggep kita temen nih?" ledek Rave. Shei mengerucutkan bibirnya, membuat Rave tertawa kecil. "Ayok."


Shei dan Rave segera bergegas turun untuk menemui yang lain. Di luar, Ello dan Alvin sibuk menyiapkan kendaraan. Mereka akan berlibur menggunakan mobil Shei. Mereka melihat sebuah mobil copen oranye terparkir di garasi, mereka tertarik untuk menggunakannya namun sayangnya untuk liburan sekarang mobil tersebut tidak muat untuk empat orang dengan banyak tas. Jadi mereka memakai mobil lain.


"Kalian udah si–phtt!" Ello menyadari kedatangan Shei dan Rave. Namun ketika melihat ke arah Rave, Ello langsung tertawa melihat gaya berpakaiannya yang tidak biasa. "Lo nggak salah, pake rok?"


Alvin baru bisa menoleh setelah membereskan barang bawaan di bagasi mobil. Dia terkejut melihat pakaian Rave. Bukannya dia tertawa seperti Ello, tapi dia terpesona melihat pacarnya menjadi lebih feminim. Rave sangat cantik di mata Alvin.


Rave kesal mendengar tawa Ello itu yang meledekinya.


"Ello...." tegur Shei.


"Ngakak, Rave pake baju kayak gituh. Lo pasti yang milihin yah?" Ello tidak bisa berhenti tertawa terbahak-bahak. Namun seketika tawa itu mereda setelah mendengar apa yang dilontarkan oleh Alvin.


"Bagus," kata Alvin. "Cocok, kok."


Kekesalan Rave berubah menjadi pipi yang merona.


"Ehkm! Mata lo bermasalah ya?" celetuk Ello pada Alvin.


"Nggak. Gue seriusan. Rave cantik."


"Yaelah cantikan juga Shei daripada dia--aawh Brave!" Ello berhasil mendapatkan jitak dari Rave setelah Rave berhasil melepaskan topi dari kepalanya dan segera Rave memakai topi milik Ello itu. "Balikin!"


"Gue pinjem."


"Nggak boleh! Gue lagi pengen pake topi!"


"Pake aja, Rave. Topinya juga punya gue," terang Alvin.


Rave tersenyum kemenangan melihat Ello jengkel padanya. "Pinjem dulu," ucapnya mendapat anggukan dari Alvin. Tentu saja Alvin akan mengutamakan pacarnya daripada meminjamkannya kepada Ello.


"Pilih kasih lo, Al!" decit Ello meski sebenarnya ia tidak tahu bahwa sebenarnya mereka berpacaran. Ello pun menghampiri Shei, untuk membantunya membawakan ransel. "Biar gue masukin ke bagasi."


"Sekalian punya gue juga..." kata Rave dengan lantang.


Meski sebenarnya tidak ingin. Ello menerimanya dengan mendengus. Dia pergi ke belakang mobil untuk meletakkan tas-tas ini diikuti oleh Shei yang ingin membantu.


Sementara Alvin terus menatap pacarnya. Rave memakai jaketnya, untung baju yang dikenakannya sekarang tidak terlalu feminim karena dibalut jaket denimnya dan dia memakai topi pinjaman yang harus dia lawan terlebih dahulu dengan Ello padahal topi ini milik Alvin.


Menyadari Alvin terus menatapnya, membuat Rave salah tingkah. "Kenapa?"


Alvin mendekat dan berbisik. "Kamu cantik." Rave pun tersenyum senang mendengarnya.


"Kalian bisikin apa?" tanya Shei yang ternyata telah kembali. Membuat mereka terperanjat.


"Nggak ada!" kilah Rave berusaha untuk tidak membuat Shei curiga. Sedangkan Alvin hanya tersenyum seperti biasanya.


Shei pun hanya ber'oh.


Tidak lama kemudian Ello telah kembali lagi. "Sekarang?"


"Siapa yang mau bawa?" tanya Alvin. Dan semua mata tertuju padanya. "Oke biar gue."


"Oke berangkat...."


...🌸...


...Marching Flower nggak ngajak author nih liburan sama kalian? :'...

__ADS_1


...✨...


__ADS_2