
Kompetensi Marching Band Nasional masih berlangsung dan akan berakhir pada malam hari. Langit menjelang sore dimana penampilan dari Marching Band Merdeka telah selesai menunjukkan penampilan yang memukau dan penuh syukur dapat berjalan dengan lancar.
Meski belum usai ketegangan mereka sedikit mereda, mereka bersorak terlebih dahulu sambil saling berpelukan, saling memuji, saling berterima kasih atas kerja keras mereka.
"Oke. Semuanya...." ucap Coach Vivian ikut senang. Dan mereka terdiam setelahnya, sedikit mereda suara keramaian. "Saya ingin berterima kasih kepada kalian semua yang telah bekerja keras sampai sekarang. Penampilan kalian tadi sungguh luar biasa…walau ada beberapa kesalahan. Kecil. Tapi tidak apa-apa. Jangan ulangi jika kita masuk semifinal. Terus berdoa agar kita bisa lolos ke grand final. Siap?"
"Siap, Coach!"
"Dan kamu Sheila. Good job!" Shei tersenyum senang mendapat pujian. "Kalian semua keren!" Sorak kembali terdengar bahagia. "Kalian boleh istirahat dulu, boleh ganti pakaian, semuanya dirapihkan alat-alatnya. Saya akan bawa makanan untuk kalian dulu."
"Yeeeee..... Makasih, Coach."
Ketika hendak pergi, Shei dan Ello menghentikan Coach Vivian pergi. "Coach."
"Iyah ada apa?"
"Boleh kami izin, pergi dulu?" harap Shei.
"Memang kalian mau pergi kemana?"
"Kami ingin lihat teman-teman kami yang sedang berkompetisi Olimpiade Sains, tempatnya di Nusantara High School. Mereka tadi kemari menyempatkan untuk mendukung kami, Marching Band Merdeka. Dan kali ini kami juga ingin mendukung mereka. Apa Coach bisa memberi izin kami untuk keluar?"
"Sampai jam berapa?"
"Kemungkinan sampai malam, Coach."
"Acara ini selesai pukul setengah delapan. Kalau kalian lewat dari jam itu, kalian langsung pulang ke hotel saja. Tapi kalau urusan kalian sudah selesai lebih awal kalian kembali lagi kemari untuk mendengar pengumuman sama-sama."
Ello dan Shei senang setelah Coach Vivian mengizinkannya untuk pergi. "Makasih, Coach. Kami permisi dulu."
"Iyah kalian hati-hati."
"Siap, Coach."
Ello dan Shei segera pergi berganti pakaian dan akan mengikuti teman-temannya ke Nusantara High School sebagai tempat berlangsungnya Olimpiade Sains dan juga mereka akan melakukan sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya.
......................
Di luar Istora Gelora Bungkarno. Tim Olimpiade Sains akan kembali ke tempat mereka akan bertanding, mereka harus segera bersiap-siap. Disana Rave ikut menemani Alvin yang akan pergi untuk berkompetisi.
"Doain aku," ucap Alvin. Rave tersenyum angguk. "Aku janji. Besok, aku bakal dukung kamu, lihat kamu tanding."
__ADS_1
"Iyah aku tunggu."
Diraihnya tangan Rave oleh Alvin, Alvin menatapnya lekat. "Kamu hati-hati."
Rave malah terkekeh mendengarnya. "Emang aku mau kemana? Nanti juga aku nyusul kamu kesana."
"Rave..."
"Iyah yah," kata Rave dengan sadar dia memeluk Alvin di tempat umum. Kehangatan dan kenyamanan yang Rave rasakan dari tubuh Alvin. Entah kenapa Rave sangat ingin memeluknya lebih lama. Seperti bukan dirinya. Rave melepaskan pelukannya. "Sana. Mereka udah nungguin."
Alvin menarik Rave dalam dekapannya membuat Rave terkejut, Alvin terus merasakan perasaan tidak enak. Alvin tersenyum padanya berpamitan dan telah masuk ke dalam mobil bersama dengan yang lain.
Rave membalikkan tubuhnya dan menemukan orang-orang yang memiliki ikatan keluarga dengannya.
"Besok tanding jam berapa?" tanya Kevin.
"Pagi," jawab Rave dingin.
Kevin tidak pernah memudarkan senyuman pada putri pertamanya, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menembus kesalahannya karena tidak bisa menjadi figur ayah yang baik.
"Ayah, mamah Rosa, sama omah juga, nanti kita kesana lagih dukung kamu."
"Tidak perlu."
"Tidak apa, Bu. Mungkin dia masih perlu waktu," ucap Kevin.
"Rave..." ucap Rosa kali ini. "Mamah yakin. Suatu hari nanti kamu pasti menerima kami. Karena hati kamu, tidak bisa bohong. Kamu sudah menyayangi adik tiri kamu, Shei."
"Tidak. Shei tidak lebih dari sekedar teman sekelas saya," lirih Rave.
Rosa mendekat memeluk Rave membuat Rave membeku diam. "Tidak apa. Tapi kamu harus tahu, kami selalu menyayangimu, kalian berdua." Dia melepaskan pelukannya tersenyum tulus pada Rave, tapi Rave enggan untuk menerima itu semua.
"Mah, Pah?" Shei terlihat berjalan ke arah mereka bersama dengan Ello. "Mamah ngapain meluk Rave? Mamah kenal sama temen Shei?"
Rosa hanya tersenyum berusaha menyembunyikan kebohongannya. "Mamah cuman mau bilang makasih sama Nak Rave. Dia kan selalu jagain kamu, direpotin terus sama kamu."
"Ih nggak! Malah Shei suka direpotin sama dia, dia pernah buat Shei nyuci pakaian kotornya," adu Shei mendapatkan tatapan tajam dari Rave.
Tapi yang mendapat aduan mereka tertawa riang mendengarnya. Bukan suatu masalah tapi hal itu ada sebuah cerita yang dapat dikenang bagi mereka tentang kedua putrinya.
"Shei. Siapa cowok yang bareng kamu?" tanya Kevin menyelidiki. Hal itu membuat Shei gugup melirik ke arah Ello.
__ADS_1
Ello dengan tenang salam kepada kedua orangtua pacarnya. Ini adalah pertemuan pertama mereka. "Om, tante, salam kenal saya El pacarnya Shei."
"Pacar?" ucap Rosa dan Kevin bersamaan langsung menatap putrinya, Shei. "Benar pacar kamu?"
Shei tersenyum kaku lalu mengangguk.
"Kamu yang tadi tampil sama putri saya, kan?" tanyanya kepada Ello.
"Iyah, Om."
Kevin tampaknya masih harus menyelidiki pacar putrinya. Apakah dia anak baik-baik ataukah tidak. "Terus kalian berdua mau kemana? Memang acaranya udah selesai?"
"Belum, Pah. Shei mau pamit sama papah, mamah, omah. Shei mau dukung temen-temen Shei yang lagi lomba Olimpiade. Bareng sama El sama Rave juga."
"Dimana?"
"Di sekolah lama Shei."
Kevin menyipitkan matanya. "Nggak. Kamu nggak boleh kesana."
"Tapi pah Shei nggak sendirian bareng mereka juga."
Kevin menatap Rave lalu Ello. Kevin hanya tidak ingin melihat putrinya menderita lagi jika dia datang ke sekolah itu. Tapi melihat putrinya terus memohon dan berusaha mempercayainya. Kevin terpaksa mengizinkannya. "Hm."
"Hm apa, Pah?"
"Iyah papah izinin."
"Yes!"
"Tapi. Kamu nggak boleh sendirian, harus ada yang nemenin terus."
"Iyah pah kan ada El, ada Rave, ada temen-temen Shei yang lain juga disana. Yaudah, Shei pergi dulu."
"Tante, om, omah. Ello pamit juga."
"Jagain putri tante ya."
"Siap, tante."
Shei memeluk neneknya sejenak sebelum pergi. Diikuti oleh Rave yang berpamitan kemudian pergi. Kevin, Rosa dan Nenek Kartika pun ikut pergi menunju mobil yang terparkirkan.
__ADS_1
Dalam keberadaan yang cukup dekat, ternyata sosok Lisa mendengar semua yang mereka bicarakan. Lisa benar-benar terkejut, apa yang dikatakan Bimo saat itu memang benar. Gadis itu adalah saudara perempuan Shei, alias saudara tirinya. Lisa berpikir, Shei belum mengetahui hal ini, dia menyeringai mendapatkan jackpot yang menguntungkannya.
...🌸...