
Pada sebuah persimpangan lampu merah yang lampunya berwarna merah sebagai peringatan untuk berhenti. Di sana di antara barisan mobil yang berjejeran ada mobil yang lagi di naiki oleh Melisa dan Yuli. Meraka baru saja pulang dari arisan, mereka lagi membahas tentang pertemuan tadi. Saat lagi berbicara dengan santai nya Yuli melihat ke arah sebuah jendela restoran.
"Melisa bukan kah itu ayah mertua mu sama anakmu, bahkan ada calon menantu mu juga"
"Mana mana" seru Melisa bersemangat mendengar kata calon menantu.
"Itu" tunjuk Yuli ke arah restoran tempat Natasya dan lainnya berada.
Bambang dan Yongki duduk di dekat kaca jendela, sehingga dengan jelas dapat di lihat dari luar.
Melisa melihat ke arah yang Yuli tunjuk. Di sana memang ada ayah mertua dan anaknya sekaligus calon menantunya.
"Pak saya turun di sini ya, nanti saya pulang naik taksi saja, bapak boleh pulang terus".
Melihat calon anak menantunya Melisa segera turun buru buru, Yuli juga ikut menyusul.
"Melisa tunggu"
Yuli berhasil mencegat Melisa yang berjalan ke arah restoran.
"Ada apa lagi sih Yuli, aku mau menemui calon anak menantu aku, jangan halangin jalan aku" Melisa mencoba menyingkirkan Yuli yang menghalangi langkahnya.
"Melisa tunggu dulu, dengarkan aku dulu ya"
"Apa lagi sih, cepat katakan aku sibuk ni"
Yuli hanya bisa mengelengkan kepala nya, akan kemauan Melisa yang cepat punya anak perempuan.
Yuli segera menarik Melisa agak kesepian agar tidak di lihat sama Natasya dan lainnya.
"Melisa dengar kan aku dulu kenapa sih, kamu lihat kan disana ada ayah mertuamu, Yongki dan Natasya"
"Iya aku lihat kok, makanya aku mau menemui mereka"
Yuli menepuk jidat nya, kenapa Melisa nggak peka dan pinter dikit.
"Gini ya, maksud aku kenapa kamu nggak biarin Yongki dan Natasya berduaan, biar mereka bertambah akrab"
"Wah ide kamu boleh juga Yuli, tapi bagaimana dengan ayah mertua aku"
"Kamu telpon saja ayah mertuamu, suruh ayah mertuamu pulang duluan, bilang sama ayah mertuamu suruh mereka makan berdua, gampang kan"
"Pinter kamu Yuli".
"Kalau aku nggak pinter mana mungkin aku jadi dokter, sana cepat ambil telpon dan telpon segera" suruh Yuli.
"Iya, sabar"
Melisa segera menelepon ayah mertuanya.
__ADS_1
"Hallo"
"Hallo ayah, ayah jangan bicara lagi ya takut nanti ketahuan Yongki dan nak Cha Cha Melisa ada di luar"
Bambang melirik sekilas keluar dan melihat Melisa yang melambaikan tangannya.
"Jadi apa ayah bisa pulang duluan, biarkan nak Cha Cha dan Yongki makan berdua, biar mereka tambah akrab biar mereka segera menikah, nanti ayah bilang aja alasannya mau menemui klien" setelah mengatakan itu Melisa segera mematikan telepon takut ketahuan.
Melisa melihat ayah mertuanya keluar dari restoran.
"Melisa aku pulang duluan ya"
"Kenapa kamu pulang duluan"
"Aku masih banyak kerjaan ni"
"Baiklah kalau begitu, makasih idenya ya"
"Iya sama sama aku pergi dulu ya"
"Iya"
Setelah Yuli pergi, Melisa segera menghampiri Bambang yang menuju ke tempat parkir mobil yang nggak jauh dari sana.
"Ayah" panggil Melisa mengandeng Bambang.
"Tadi Melisa nggak sengaja melihat ayah, Yongki dan nak Cha Cha"
"Kamu pinter, punya ide buat bikin mereka makan berdua"
"Iya dong yah, Melisa gitu"
Melisa mengakui bahwa itu adalah idenya padahal idenya Yuli.
"Ayo ayah kita jalan jalan dulu berdua, sekarang waktunya mertua dan menantu"
"Kamu ada ada saja"
Walaupun berkata begitu Bambang dan Melisa memilih menghabiskan waktu berjalan jalan berdua....
***
Buakk
Shila dengan kencang mendorong Natasya setelah Natasya siap makan dan balik lagi ke dapur. Untung saja Natasya bisa memegang sebuah mejanya kalau tidak pasti tubuhnya akan terjerembab di lantai.
"Shila kami apa apaan dorong Natasya begitu" tegur Mari dan jiga Doni.
Mari dan Doni merupakan pelayan di sana juga. Doni segera membantu Natasya yang hampir jatuh.
__ADS_1
"Ini bukan urusan kalian, kalian minggir" Bella ikut membantu Shila.
"Kalian kenapa sih selalu ngebully Natasya" jawab doni tak terima.
"Kalian tau nggak, tadi Natasya dengan ganjen menggoda seorang pelanggan bahkan juga ikut makan bersama" hasut Shila.
"Kamu Shila jangan mengada ngada ya" Mari dan Doni tidak percaya sama Shila yang suka iri.
"Aku memang nggak mengada ngada, tanya aja sendiri sama Natasya, wajah nya aja yang sok polos dan baik tapi hati nya siapa yang tau"
Natasya menggelengkan kepala, saat melihat Doni dan Mari melihat ke arah dia.
"Itu tidak benar, tadi kakek dan mas Yongki sendiri yang mengajak aku makan dan pak manager juga memperbolehkan nya"
"Alah itu cuma alesan kamu doang kan, pakek manggil kakek dan mas segala, sik akrab"
"Aku ngak bohong, pak Bambang memang sudah aku anggap sebagai kakek ku sendiri begitu juga beliau, dan mas Yongki adalah abangnya teman aku, jadi otomatis kami semua memanggilnya mas"
"Tunggu dulu, Yongki Yongki, Yongki yang kamu maksud adalah Yongki sudirman pria idaman seluruh wanita itu?" tanya Mari.
"Iya"
"Ya ampun Natasya aku tidak menyangka kamu bisa mengenal orang sehebat dia".
"Dia nya aja yang genit makanya bisa mengenal Yongki, pasti dia sudah buat hal yang buruk"
"Shila kenapa mulut kamu nggak di saring dulu kalau mau ngomong"
"Ini mulut mulut aku bukan urusan kalian"
"Ada apa ini" tiba tiba pak manager aka bos baru masuk.
"Ini pak, Natasya buat ulah dengan menggoda pelanggan" ujar Shila.
"Bukan pak, tadi bapak sendiri yang ikut menyuruh Natasya makan bareng sama pak Bambang dan mas Yongki" Natasya membela diri.
"Shila kamu jangan jadi pengacau di sini ya, tadi memang saya sendiri yang menyuruh Natasya ikut makan sama mereka, karena Natasya adalah kerabat keluarga sudirman, sekali lagi kamu berbicara yang lancang saya nggak akan segan segan memecat kamu, kamu bikaen sekali inii buat ulah, kamu yang suka menggoda pelanggan tapi kamu malah menuduh orang lain, lebih baik kamu urusi pekerjaan kamu yang ngak becus itu dari pada mengurus urusan orang lain" setelah berkata begitu pak manager segera pergi.
Shila menahan marah karena merasa di permalukan. Shila tidak menerima pak manager memarahinya seperti ini.
'Ini semua salahnya Natasya, coba saja tadi Natasya nggak ikut campur pasti Yongki sekarang akan melirik dan menyukai aku, pokoknya, lain kali aku harus memberinya pelajaran'
"Bella ayo kita pergi dari sini" ajak Shila
"Ayo Shila"
Setelah kepergian mereka berdua, Natasya dan dua pelayan lain segera bekerja kembali. Apapun yang terjadi mereka harus profesional dalam bekerja.
Bersambung....
__ADS_1