
Yongki yang sudah selesai mandi dan memilih baju santai yang kelihatan lebih keren. Biasanya dia hanya akan memilih seadanya, tapi hari ini entah kenapa mau lebih keren. Dia juga tidak lupa memakai parfum yang jarang dipakai saat di rumah.
Setelah memastikan penampilan Yongki segera keluar. Yongki bisa mencium bau wangi makanan, perutnya langsung demo.
"Mas Yongki di sini juga, ayo Mas kita makan. Ini semua masakan Natasya, kami baru tau jika Natasya pandai masak," ujar Rangga senang.
'Apa dia mau cari perhatian dengan cara memasak ya, not bad lah.'
Yongki segera duduk di kursi yang kosong. Natasya selesai menata makanan di bantu sama Aura, Melati dan Angel. Yongki berpikir jika Natasya akan duduk di kursi di sampingnya, tetapi malah Angel yang duduk, Natasya duduk menjauh.
Yongki mendengus dan memakan makanan dengan kasar, lidah Yongki seakan menari-nari kesenangan karena makanan yang dibuat Natasya sangat cocok di lidahnya. Yongki kembali menambahkan makanan.
"Tumben Mas Yongki banyak makan," tegur Rangga.
"Ekhem… Mas lagi lapar karena dari tadi siang belum makan," jawab Yongki berbohong.
Padahal sebelum pulang ke rumah Yongki sudah makan lumayan banyak, entah kenapa masakan Natasya begitu menggoda perutnya.
"Di mana para pembantu, kenapa teman kamu yang masak?" tanya Yongki mengalihkan topik.
Yongki tetap meneruskan makannya.
"Mareka ada di belakang, tadi kami hanya iseng menyuruh Natasya masak saat tau dia bisa masak. Tidak taunya Natasya bisa pandai masak begini."
Yongki menganggukan kepala, sesekali dia melirik ke arah Natasya. Natasya tidak sedikit pun melihat Yongki.
***
Yongki kembali ingin mengetes Natasya, saat ini Natasya sedang membersihkan piring kotor sendiri. Teman-teman yang lain sudah tidak sanggup bergerak karena kekenyangan.
Yongki melewati Natasya berpura pura mengambil air minum di kulkas. Natasya hanya melirik sekilas dan kembali memisahkan sisa makanan ke tempat sampah.
Yongki kembali berjalan di belakang Natasya tapi Natasya tidak merespon. Natasya mulai risih karena Yongki mondar-mandir di belakangnya.
"Apa Mas butuh sesuatu?" tanya Natasya.
"Ah tidak," Jawab Yongki salah tingkah.
Yongki kembali bolak balik di belakang Natasya.
"Apa Mas mau mengatakan sesuatu?" tanya Natasya lagi.
"Tidak ada," Jawab Yongki.
Yongki kembali berputar tapi kali ini Natasya menatap Yongki datar.
"Kalau tidak apa apa kenapa Mas mutar dari tadi seperti setrikaan."
__ADS_1
Yongki jadi salah tingkah.
"Tidak kok, ini lagi mikir," Yongki segera memberi alasan.
Natasya percaya saja sama jawaban Yongki. Setiap orang memiliki cara yang unik dalam berfikir. Dia ingin meninggalkan tempat itu karena pekerjaannya sudah selesai.
"Natasya," panggil Yongki akhirnya.
Natasya membalikkan badannya.
"Iya Mas."
"Ekhem, apa kamu tidak ingat jika kita pernah bertemu dulu," kata Yongki terus terang.
Yongki sudah tidak tahan ingin menanyakan ini sejak tadi.
Natasya mengerutkan alisnya.
"Kayaknya Mas salah orang, Natasya yakin belum pernah melihat Mas satu kalipun sebelumnya. Natasya baru beberapa bulan di sini. Kegiatan Natasya hanya sekolah sama tempat kerja," jawab Natasya.
Yongki bungkam, hatinya sedikit berdenyut.
"Sudah ya Mas, Natasya mau ke depan."
Pamit Natasya dan terus melangkah.
"Masak dia bilang tidak pernah bertemu. Padahal aku masih ingat warna pakaian yang dia pakai saat itu," guman Yongki.
Yongki dengan PD berjalan ke tempat Natasya dan lainnya.
"Lihat itu, masak mereka menikah muda. Baru juga tamat sekolah, apalagi suaminya itu Om Om" guman Aura yang sedang menonton.
Mereka saat ini sedang menonton Film sebentar sebelum lanjut buat tugas.
"Apanya yang Om Om. Belum pun kepala tiga," bantah Dimas.
"Mau kepala tiga itu sudah jadi Om tau, apalagi nikah sama anak sekolah, sudah termasuk pedofil itu. Benarkan Natasya," sahut Aura yang tidak mau kalah.
"Iya iya," guman Natasya tanpa tau topik apa yang lagi mereka bahas.
Yongki yang mendengar jawaban Natasya terasa retak.
'Apa aku jadi pedofil ya?"
Yongki memilih berjalan ke kamar kembali dengan lesu. Sekarang harapan Yongki pupus sudah. Dia tidak mungkin lagi mengejar Natasya, kalau Natasya sendiri bilang jika dia bisa jadi pedofil.
***
__ADS_1
Keesokan harinya Yongki melepaskan emosinya kepada bawahan. Ibarat kata cinta di tolak, bawahan yang kenak. Semua orang di mata Yongki salah semua, tidak ada yang benar.
"Ini kerjaan kamu selama ini, capek capek aku gaji kamu tapi masalah segini aja kamu tidak becus. Sekarang keluar dari ruangan saya, nanti siang semua laporannya harus selesai," kata Yongki pada salah satu Kepala Direksi.
Dia segera memungut lembaran yang berhamburan dan segera keluar.
Putra masuk ke dalam ruangan Yongki.
"Apalagi sekarang hah!" teriak Yongki.
Padahal Yongki belum melihat siapa yang datang.
"Kenapa kamu marah marah. Semua bawahan pada mengeluh, tiap hari kamu sudah seperti singa, sekarang mau jadi apalagi," tegur putra.
Yongki menghela nafas kasar. Dia tau jika dia salah, tapi dia Bos. Pasal pertama Bos selalu benar. Pasal dua jika Bos bersalah maka kembali ke pasal satu. Dan Pasal Ketiga Bos selalu benar.
Walaupun dimarahi, para karyawan tidak ada yang mengundurkan diri karena gaji yang mereka terima sangat besar jika di bandingkan sama perusahaan lain. Apalagi jika mereka melakukan atau memberikan suatu kontribusi, maka pihak perusahaan tidak tanggung-tanggung dalam memberi bonus.
"Sudah kamu lanjut kerja jika tidak mau aku pecat," kata Yongki.
"Coba aja kamu pecat aku jika berani," tantang putra.
Yongki berhenti memeriksa dokumen.
"Iya aku tau aku yang salah, sekarang kamu keluar dan bari pengumuman. Siapapun yang masuk ke ruangan aku hari ini dan yang sempat saya marahi akan dapat bonus," usir Yongki.
"Kamu selalu begini kalau kesambet. Kali ini kamu kenapa lagi?" tanya Putra.
Yongki memutuskan menceritakan masalahnya pada Putra. Hanya putra satu-satunya yang bisa yongki percayai dalam urusan apapun. Putra bukannya memberikan solusi malah menertawakan sikap labil Yongki.
"Aku tau kamu baru kali ini jatuh cinta, pandangan pertama pula. Tapi kamu tidak boleh seenaknya melampiaskan kemarahan kami sama bawahan. Dan menurut aku, kamu cari saja perempuan yang lain. Dia kan sudah menolak kamunya mentah-mentah. Jika kamu menunggu dia pun kamu bakalan karatan. Setidaknya kau harus menunggu dia selama 6 tahun baru bisa menikah."
Yongki menyandar pada kursi, sekarang dia benar-benar harus melupakan Natasya. Bibit baru bertunas tapi sudah layu.
***
"Perhatian semuanya," ujar Putra.
Semuanya menatap Putra.
"Bagi siapa saja yang hari ini masuk ke ruang Bos dan orang yang sempat dimarahi sama Bos hari ini harap segera melaporkan diri ke bagian keuangan hari ini juga. Kalian lagi beruntung yang kenak marah sama Bos, gaji kalian bulan ini akan menjadi dua kali lipat."
Setelah memberi pengumuman kepada bawahan, Putra kembali melanjutkan kerjanya.
"Horeee dapat gaji double," kata Kepala Direksi yang dimarahi tadi.
"Yah tau gitu mau juga dimarahi tadi. Dimarahi lima menit tapi gajinya satu bulan full," sesal kawan yang lain.
__ADS_1
Tadi memang ada beberapa orang yang mau menemui Bos, tapi karena melihat mood Bos yang kurang baik, mereka membatalkan niat mereka.
Bersambung…