
Natasya dalam perjalanan menuju ke sebuah cafe. Setelah dia keluar dari perusahaan yang Yongki, Angel menelponnya. Angel mengajak bertemu. Angel ingin berkumpul-kumpul bersama.
Sibuknya jadwal kuliah membuat mereka jarang bertemu lengkap. Mereka hanya bertemu secara bergantian. Jadi mereka sengaja bertanya di mana Natasya.
Natasya membuka pintu kafe tempat mereka janjian. Dia melihat ke kiri dan ke kanan mencari teman-temannya. Natasya melihat Aura yang melambaikan tangan untuk memudahkan menemukan mereka.
"Tumben kamu lama Natasya, biasanya paling cepat," kata Angel.
"Tadi aku habis dari perusahaan mas Yongki," sahut Natasya.
Natasya menari tempat duduk dan mendudukkan diri. Dia ikut memesan minum tanpa memesan makanan.
"Ngapain kamu ke perusahaan mas Yongki?" tanya Aura dengan menyeruput teh tarik.
"Ada berkas mas Yongki yang ketinggalan di rumah. Jadi, karena aku tidak ada kerjaan maka aku yang mengantarnya," sahut Natasya datar.
"Kenapa muka kamu jadi cemberut sehabis ketemu suami kamu. Kamu seperti habis memergoki suami kamu selingkuh aja," tebak Angel tepat sasaran.
"Bagaimana aku tidak cemburu. Mas Yongki dua minggu lagi akan pergi memeriksa proyek ke luar kota," sahut Natasya bete.
"Kirain ada apa. Ternyata ada yang tidak mau berpisah sama suaminya," goda Aura.
"Itu bukan seperti kamu biasanya Natasya," sambung Melati.
"Iya, dulu mas Yongki pergi kamu tidak ada masalah apapun. Apa kali ini mas Yongki perginya lama?" tanya Angel.
"Bukan, mas Yongki hanya pergi seminggu," jawab Natasya.
"Terus apa? Kamu jangan bikin kepo deh Natasya," kata Aura tidak sabaran.
"Kali ini mas Yongki bekerjasama dengan mantan dia. Mereka akan pergi memeriksa proyek itu bersama," terang Natasya.
"Kok bisa? Kenapa mas Yongki menerimanya. Jika saja itu Rangga, maka aku akan mencabut seluruh bulunya," kata Angel dengan berapi-api.
"Kamu jangan aneh-aneh deh, Angel. Keselek anak orang baru tahu," tegur Aura sok bijak.
Padahal Aura juga akan melakukan hal yang sama jika Dimas berniat selingkuh.
"Apa Mas Yongki tidak menimbang perasaan kamu dia Natasya? Kenapa mas Yongki tidak menyerahkan tugas itu kepada lain" respon Melati yang lebih manusiawi.
"Mas Yongki memang sudah menyerahkan ke asistennya. Tapi tidak semuanya bisa diserahkan. Ada beberapa hal yang harus mas Yongki periksa sendiri," jawab Natasya.
"Iya sih, kalau jadi direktur kita tidak bisa menyerahkan semua kepada yang lain. Gini nih tidak enak punya suami sang direktur, super sibuk. Yang enak hanya sang istri yang bisa kemana-mana," canda Aura.
"Kamu mau jadi istri direktur?" tanya Angel menaikan sebelah alisnya.
"Ya enggak lah. Aku sudah cukup dengan Dimas. Baik sekarang atau pun nanti," bantah Aura tidak terima.
"Kalian ini ribut terus kerjaannya," tegur Natasya.
"Ya dong, ngak ada lho ngak rame," ucap Angel dan Aura barengan.
Natasya dan Melati tertawa dengan tingkah konyol Angel dan Aura. Mereka dengan kompak mengangkat kedua tangan dengan pose seperti menembak.
"Sudah, kita kembali ketopik semula. Jadi berapa lama mereka akan pergi Natasya," ujar Angel serius kembali.
__ADS_1
"Mereka akan ke luar kota selama seminggu," jawab Natasya.
"Ini benar-benar bahaya. Ini tidak bisa dibiarkan. Natasya, apa kamu rela menyerahkan Mas Yongki ke kandang macan?" tanya Aura menggebrak meja.
Aura malu sendiri dengan tingkahnya. Orang-orang jadi melihat Aura yang buat keributan. Aura menunduk minta maaf sebelum duduk kembali.
"Ya mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa aku lakukan. Ini semua juga bagian dari pekerjaan. Tidak mungkin kan, aku secara diam-diam mengikuti mereka," ujar Natasya kembali dengan ide konyolnya.
"Wah ide bagus tuh," ucap Angel setuju.
"Bagaimana kalau kita ikuti Mas Yongki," sambung Aura.
"Kalian jangan berkata yang aneh-aneh," bantah Natasya.
"Siapa yang berkata aneh. Tadi itu ide murni kamu. Kami hanya mengiyakan saja," sahut Aura.
"Iya Natasya, nanti kita bisa awasi mereka. Jika dia macam-macam kita kerjain saja," kata Angel menaik-turunkan alisnya.
"Tapi bagaimana dengan kuliah kita?"
"Kuliah mah, bisa kita ambil libur. Lagian kan, minggu pas kita pergi kita tidak banyak pertemuan lagi. Kita bisa pergi bersama sambil refreshing."
"Kalau ketahuan sama mas Yongki bagaimana?" tanya Natasya lagi.
"Kan tidak apa-apa. Dia juga suami kamu. Anggap aja kita lagi liburan," sahut Aura.
"Aku masih tidak enak, nanti aku dibilang istri yang terlalu posesif sama suami," gumam Natasya kecil.
"Ini bukan posesif Natasya, kita sedang menyelamatkan suami kamu dari bahaya. Bahkan suara alarm sudah berbunyi. Ini bukan tanda-tanda lagi, ini sudah positif danger," sambung Angel.
"Nanti kita pergi rame-rame ya. Kita ajak juga Dimas, Rangga, Bimo dan Herry," potong Aura bersemangat.
"Ngapain kita bawa mereka semua. Yang ada kita malah ketahuan. Kita ini mau melakukan misi rahasia, bukan mau demo," kata Angel.
"Ya tidak apa-apa kali. Aku juga pengen pergi liburan sama Dimas. Jika kamu tidak mau ajak Rangga juga tidak apa-apa. Nanti kamu jangan iri ya jika kami sedang bermesraan," pancing Aura.
"Kalau begitu aku juga ajak Rangga. Mana mau aku menjadi nyamuk," kata Angel tidak mau kalah.
"Sayang sekali, aku juga ingin ikut tapi dua minggu lagi aku ada pertemuan keluarga. Jadi aku tidak bisa ikut bersama kalian," ucap Melati tidak enak.
"Tidak apa-apa Melati. Kalau kamu tidak bisa pergi kami tidak memaksa," ujar Angel.
"Betewe anyway busway kawe, melatih sekarang kenapa malah kamu yang jadi bad mood. Tadi Natasya, sekarang kamu. Apa kamu tertular dari Natasya," tanya Aura kepada Melati dengan mengaduk minuman.
"Tidak apa-apa kok, tidak ada apa-apa," ujar Melati memaksa tersenyum.
Melati sengaja menyembunyikan masalahnya. Dia masih belum ingin bercerita. Dia meraih minum untuk dialirkan pada tenggorokannya yang kering. Melati tidak mau jika teman-temannya khawatir tentang dia.
Sedangkan mereka bertiga diam. Mereka bersikap seperti biasa saja.
"Natasha, hari minggu nanti aku bawa apa saja ke rumah kamu?" tanya Angel.
"Kamu ngapain ke rumah Natasya? Kenapa kalian tidak bilang-bilang sama aku. Aku juga mau ikut," tanya Aura kembali.
"Aku tuh ke tempat Natasya bukan mau main. Kata mama aku, Natasya mau mengajari aku memasak," sahut Angel.
__ADS_1
Aura segera memegang kedua tangan Natasya. Muka Aura terlihat serius dan prihatin.
"Natasya, aku turun ikut berduka cita sebelumnya," ujar Aura menepuk Natasya pelan.
"Yah! Apa maksud kamu?" tanya Angel tidak terima.
"Semoga dapur kamu baik-baik saja setelah dimasuki sama Angel. Semoga kamu masih sehat wal afiat juga," lanjut Aura mengabaikan Angel.
"Hei!" teriak Angel ingin menghentikan Aura.
"Apa perlu aku datang membawa karangan bunga," sambung Aura.
"Awas kamu ya, jika aku berhasil membuat masakan aku tidak akan membaginya sama kamu," ucap Angel yang sudah sangat kesal.
"Siapa juga yang mau mencicipi masakan punya kamu. Yang ada perut aku jadi mules," balas Aura.
"Kamu…."
"Sudah sudah, kalian jangan bertengkar lagi," lerai Natasya.
"Memang beneran Natasya? Kamu mau mengajari Angel?"
"Iya, kemarin mama Angel meminta aku untuk mengajar Angel memasak," sahut Natasya.
"Jadi jika bukan mama aku yang minta, kamu tidak mau?" tanya Angel cemberut.
"Bukannya aku tidak mau. Kamu sendiri yang tidak pernah meminta. Jadi bukan salah aku dong," ujar Natasha.
Drttt….
Drttt….
Mereka berhenti ribut. Mereka melihat melati yang meraih handphone. Melati melihat siapa yang mengirimnya pesan. Ternyata pesan tersebut dari Bimo yang mengatakan jika dia tidak bisa menjemputnya karena ada urusan mendadak.
Melati yang sudah tidak mood lagi untuk hang out bareng dia meminta izin kepada mereka untuk pulang duluan. Melati beralasan jika dia sudah dijemput.
"Kenapa sih sama Melati?"
"Sepertinya hari ini dia beda banget."
"Melati akan diam jika ada masalah. Kita tunggu saja Melati cerita. Dia pasti akan cerita jika semuanya sudah mulai membaik."
Angel dan Aura mengangguk setuju. Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka yang tertunda. Mereka ingin memberikan ruang untuk Melati menyendiri.
***
Ditempat lain....
Rangga tersedak sama minuman yang dia minum.
"Kamu kenapa Rangga?" tanya Dimas.
"Tidak apa,mungkin Angel lagi kangen sama aku," sahut Rangga narsis.
"Paling dia lagi jalan sama yang lain," bantah Dimas.
__ADS_1
Bersambung….