
Herry kembali mengulang memorinya untuk mengingat apa yang terjadi. Mulai dari dia diajak jalan-jalan sama Safira sampai dia menemukan Melati yang sedang diganggu oleh preman.
"Safira, dimana Melati? Bagaimana dengan keadaan Melati?" tanya hari dengan buru-buru dan reflek duduk di atas kasur.
Kepala Herry sempat terasa pusing. Kepala dia terasa seakan-akan sedang dihantam dengan palu.
"Hei, kamu jangan bergerak seperti itu. Kamu masih sakit," tegur Safira.
"Bagaimana dengan keadaan Melati, Safira," tanya Herry lagi mengabaikan kondisi sendiri.
Safira tertegun dengan pertanyaan Herry. Herry bahkan sama sekali tidak peduli dengan kesehatannya.
"Melati baik-baik saja. Tadi kakaknya sudah menjemput Melati pulang," sahut Safira dengan mengalihkan pandangan kepada lain.
Dia tidak mau Herry melihat matanya. Safira juga bersikap seperti biasa saja.
"Dia baik-baik saja?" tanya ulang Herry.
"Iya, dia baik-baik saja. Dia tidak ada terluka sedikitpun. Yang ada kamu yang babak belur," canda Safira.
"Syukurlah jika Melati tidak apa-apa. Sekarang aku lega mendengarnya," ujar Herry dengan memberikan senyum sumringah nya.
Safira membalas senyuman Herry.
"Sekarang kamu istirahat ya. Aku juga telah kabari orang tua kamu. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini."
"Kenapa kamu beritahu orang tuaku sih. Pasti nanti aku diomelin," ucap Herry cemberut.
"Kamu jangan kekanakan. Tidak mungkin jika aku tidak mengabari om dan tante. Mereka pasti khawatir dengan anak semata wayang yang selalu ceroboh. Sudah sana tidur."
"Hei aku tidak ceroboh. Aku ini seorang pahlawan," bantah Herry tidak terima.
"Ya ya ya. Pahlawan, pahlawan kesiangan yang ujung-ujungnya jadi samsak tinju," ejek Safira.
"Aaah… kamu tidak seru ahhh…. Tidak mau memuji aku," ujar Herry cemberut lagi.
"Sudah sana tidur atau aku akan panggilkan dokter buat menyuntik kamu," ancam Safira iseng.
"Iya, aku tidur. Jangan panggil dokter," kata Herry mengalah takut disuntik.
Herry membaringkan lagi tubuhnya. Dia menatap langit-langit rumah sakit.
__ADS_1
"Safira," panggil Herry sebelum dia ingin tidur kembali.
"Hemmm," respon Safira tanpa menatap Herry.
"Terima kasih ya. Kamu memang sahabat terbaikku. Aku janji sampai kapanpun aku akan menganggap kamu adalah teman terbaikku dalam hidupku," ucap Herry tersenyum bangga ke arah Safira.
Kemudian Herry menutup mata mulai istirahat. Dia sudah sangat lelah.
Hati Safira kembali sakit mendengar pernyataan Herry. Dia tidak menyangka jika Herry menganggap dia hanya sebatas teman, tidak lebih.
'Herry, apa tidak bisa kamu membuka sedikit perasaan kamu buat aku,' Fatin Safira menatap Herry dengan tatapan kesedihan yang sangat tersirat.
***
"Melati tunggu!" teriak Bimo dari belakang ingin menghentikan langkah Melati.
Melati mengabaikan teriakan sang kakak. Dia terus saja berjalan cepat menuju ke kamarnya. Dia saat ini tidak mau melihat Bimo karena dia merasakan jika dia tidak bisa bersama dengan Herry semuanya disebabkan oleh Bimo.
"Melati tunggu," panggil Bimo lagi.
Kali ini Bimo berhasil meraih tangan Melati. Dia membalikkan badan Melati agar menghadap kepadanya.
"Tidak Melati, Kakak tidak akan melepaskan tangan kamu," tolak Bimo.
"Sekarang apalagi mau Kakak. Apa Kakak belum puas menyakiti Melati?" tanya Melati sangat lelah.
Bimo tertegun. Dia tertusuk dengan perkataan Melati. Dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak membuat Melati menangis atau terluka.
"Melati, dengarkan Kakak. Maaf Kakak, Kakak tidak bermaksud…."
"Kak cukup. Kakak tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Sekarang semuanya jadi kacau berkat Kakak."
"Melati, dengarkan Kakak dulu."
"Apa yang harus Melati dengarkan? Apa Melati harus dengar jika Herry sekarang sudah bertunangan dengan orang lain," ejek Melati.
"Melati, kamu bisa mencari laki-laki lain. Masih ada lelaki yang lebih baik pada Herry. Kamu ini sangat cantik. Banyak lelaki yang akan menyukai kamu. Sekarang belum apa-apa Herry telah menyakiti kamu dengan dia bertunangan dengan perempuan lain," hibur Bimo.
"Apa Kakak tidak sadar dengan apa yang Kakak ucapkan? Semua ini bukan kesalahan Herry, Kak. Semua ini salah Kakak. Jika saja kakak tidak pernah melarang Melati untuk berhubungan dengan Herry, maka ini tidak akan terjadi," balas Melati.
"Tapi Kakak hanya berharap agar Herry bisa melindungi kamu Melati. Kakak tidak mau kehilangan adik yang Kakak sayangi. Kakak harap agar kamu bisa melihat mengerti. Kakak tidak mau kamu tersakiti," ujar Bimo sakit Melihat Melati seperti ini.
__ADS_1
"Kakak tidak mau melihat Melati tersakiti, tapi apa Kakak sadar jika Kakak lah yang menyakiti hati Melati. Sekarang hati Melati bukan hanya tersusun oleh satu pisau Kak, tapi hati Melati tertusuk oleh ribuan pisau yang tidak berdarah. Ini dada Melati sungguh sangat sesak Kak," ujar Melati menepuk dada di sebelah kiri.
"Melati, hentikan," cegah Bimo memegang tangan Melati agar Melati tidak memukul dada sendiri.
Dada Bimo semakin sesak. Dia jadi terbayang saat adik bungsu mereka tertusuk pisau. Bimo tidak mungkin lupa bagaimana dia kehilangan adik kecilnya. Sekarang dia seperti mengulang kesalahan dulu.
"Kak, lepaskan Melati. Melati tidak mau melihat Kakak untuk sekarang. Melati ingin menenangkan diri," mohon Melati agar Bimo menjauhinya.
"Melati maafkan Kakak," ucap Bimo menyesal dengan sikapnya selama ini.
"Kak cukup, Melati hanya ingin sendiri. Tinggal Melati."
"Tidak, Kakak tidak mau kehilangan kamu," tolak Bimo ketakutan.
Bimo membawa Melati ke dalam pelukannya. Dia memeluk Melati dengan sangat erat. Pikiran Bimo sudah melayang kemana-mana.
"Tidak, lepas... lepaskan Melati. Melati membenci Kakak," ujar Melati dengan memukul punggung Bimo sekuat tenaga.
Bimo sama sekali tidak merasa kesakitan. Hatinya lebih sakit melihat air mata yang terus menetes dari mata Melati. Melati terus saja memukul Bimo dengan air mata yang terus turun. Dia mengeluarkan semua amarahnya kepada Bimo.
Setelah sepuluh menit berlalu, Melati sudah capek dan tidak punya tenaga lagi untuk memukul Bimo. Yang ada tangan Melati yang kesakitan.
"Melati," ujar Bimo pelan.
Bimo melepaskan pelukan setelah Melati mulai tenang.
"Melati, Kakak mohon, kamu jangan menangis lagi seperti ini. Hati kakak terluka melihat kamu seperti ini," ujar Bimo mencoba menghapus air Mata Melati.
"Cukup Kak, cukup tinggalkan Melati sendiri," ujar melati dengan tersedu-sedu.
"Apakah kamu segitunya mencintai Herry?" tanya Bimo serius menatap Melati lembut.
"Kakak sudah tahu bagaimana jawaban Melati. Tanpa Melati katakan, kakak juga sudah tahu bagaimana perasaan Melati kepada Herry. Selama ini Melati mencoba mengalahkan demi Kakak, tapi apa yang m Melati dapat Kak?" tanya Melati balik.
"Apakah sekarang Melati masih mau bersama Herry?"
"Apa maksud kakak?" tanya Melati bingung dengan pertanyaan Bimo.
Bersambung....
Apa maksud dari pertanyaan Bimo? Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Bimo?
__ADS_1