Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 62 Masa Kelam Bimo


__ADS_3

Mereka terus menikmati makan siang mereka. Sampai mata Melati tidak sengaja melihat Herry yang berjalan dengan cewek yang pernah mereka temui saat hari pernikahan Natasya


"Melati, siapa yang kamu lihat sih? Sampai serius itu," tanya Aura penasaran.


Angel dan Natasya melihat kemana arah pandangan Melati. Mereka bisa melihat jika Melati melihat Herry sedang bersama perempuan. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


"Sudah Melati, jangan di lihat lagi. Kamu yang sabar saja," ucap Angel.


"Jika memang Herry adalah jodoh kamu, kalian pasti bisa bersama," ujar Natasya menenangkan Melati.


"Aku harus bagaimana? Kak Bimo masih saja tidak mau merestui hubungan aku dengan Herry," sahut Melati.


"Ini semua gara-gara si Bimo itu. Coba saja jika Bimo tidak melarang hubungan kalian. Pasti saat ini kalian sudah pacaran," ujar Aura sebal.


"Memang kenapa Bimo selalu melarang agar kamu tidak pacaran sama Herry. Aneh saja kita mesti pacaran sama yang bisa beladiri. Bukankah biasanya orang menyuruh mencari yang setia dan yang baik," ujar Angel.


"Iya itu si Bimo. Dia mau menyuruhmu mencari pacar atau buat teman berantem sih," kata Aura.


Melati tersenyum kecut mendengar pertanyaan Angel dan Aura. Melati sesak membayangkan penyebabnya.


"Itu semua karena ada alasan," ucap Melati bergetar.


Melati tidak sanggup untuk meneruskan kata-katanya.  


"Melati, jika kamu sekarang tidak sanggup untuk bercerita kami, kamu tidak perlu memaksa. Kami akan menunggu kamu bisa mengatakannya," ujar Natasya mengelus pundak Melati.


"Iya Melati."


"Terima kasih. Kalian telah percaya sama aku. Tapi kalian juga berhak tahu. Aku tidak mungkin selamanya menyembunyikan hal ini sama kalian. Kalian semua adalah teman-teman baik aku," ujar Melati  menatap mereka satu persatu.


"Jika kamu memang bisa menceritakannya,  kami juga ingin dengar," kata Aura dengan mimik serius.


"Muka kamu tolong dikondisikan. Muka kamu tidak cocok buat serius," sindir Angel.


"Kamu apaan sih. Ganggu orang saja," sahut Aura sensi.


Melati tertawa melihat tingkah temannya. Beban Melati sedikit terangkat.


"Aku akan menceritakannya," ucap Melati tiba-tiba.


"Apa kamu serius Melati?" tanya Natasya.


"Iya aku serius. Kak Bimo melakukan itu semua karena ada sebuah alasan. Dulu pada saat kami masih kecil kami pernah diculik sama penjahat. Saat itu usia kami masih sekitar tujuh tahun. Dan aku juga memiliki seorang adik yang berumur sekitar lima tahun. Ketika itu kami bertiga pergi jalan-jalan. Di tengah jalan kami bertemu penculik. Kami bertiga diculik," jeda Melati berbicara. 


"Pada tengah malam kami berencana kabur, tapi ketahuan. Kak Bimo berusaha keras melindungi kami. Karena kak Bimo masih kecil, dia cepat tumbang. Penculik itu berniat mengancam sama pisau, tidak tahu bagaimana, pisau itu menusuk adik kami. Beberapa saat kemudian, polisi dan orang tua kami datang. Adik kami dilarikan ke rumah sakit tapi semuanya sudah terlambat. Sejak saat itu kak Bimo selalu menyalahkan diri sendiri. Setelah baikan, kak Bimo berusaha keras untuk belajar ilmu bela diri. Katanya agar bisa menjaga aku. Kak Bikin tidak mau kejadian itu terulang lagi," kata Melati mengakhiri cerita.

__ADS_1


Mereka bertiga terdiam mendengar pernyataan Melati. Mereka tidak tahu jika Melati memiliki seorang adik. Sekarang mereka bisa memaklumi kenapa Bimo menyuruh Melati mencari pacar yang bisa melindunginya. 


'Pasti Bimo masih sangat terkejut dengan hilang adik Melati,' batin mereka.


"Kamu yang sabar ya. Semua pasti akan baik-baik saja," bujuk Natasya. 


"Kami pasti akan melindungi kamu," ucap Aura.


"Kita bisa saling melindungi," sambung Angel.


"Terima kasih, kalian semua memang sahabat terbaikku," ujar Melati terharu.


Mereka berempat berpelukan erat. Mereka ingin menyalurkan semangat bersama.


***


Melati memasuki rumah dengan langkah lemas. Perut Melati sudah mulai sakit kembali. Melati ingin cepat-cepat istirahat.


"Kamu dari mana saja?" tanya Bimo yang tiba-tiba muncul.


"Kak Bimo," sahut Melati.


"Kamu dari mana?" tanya Bimo ulang.


"Jadi Natasya sudah balik ya," ucap Bimo.


"Iya Kak, Natasya sudah balik dari bulan madu. Natasya juga memberikan kami oleh-oleh," sahut Melati. 


"Setelah itu kamu tidak kemana-mana lagi kan?" tanya Bimo memicingkan mata melihat Melati curiga.


"Melati tidak kemana-mana lagi kak," balas Melati tetap tersenyum.


Melati sudah biasa di interogasi pergi ke mana saja. Bimo tidak melewatkan sedikitpun hal tentang Melati.


"Baguslah kalau begitu. Jika ada apa-apa jangan sungkan bicara sama Kakak. Kakak tidak mungkin mengawasi kamu dua puluh empat jam," kata Bimo menepuk kepala Melati pelan.


"Iya Kak."


"Sudah sana, kamu istirahat saja. Kamu jangan capek-capek, Nanti bisa sakit ," nasehat Bimo.


"Baiklah Kak. Kalau begitu Melati pamit ke kamar ya." 


Melati meninggalkan Bimo dan menuju ke kamar sendiri. Melati ingin cepat berbaring untuk menetralisir rasa sakit. Dengan tidur bisa membuat rasa sakit berkurang.


***

__ADS_1


"Safira, kenapa kamu terus mencari aku sih. Aku lagi malas jalan-jalan," kata Herry malas dan menyingkirkan tangan Safira. 


Herry lebih suka di rumah daripada keluar. Herry melanjutkan acara menonton yang tertunda karena ulah Safira.


"Ya ampun Herry, ini hari yang cerah. Kita harus jalan-jalan," sahut Safira.


"Aku malas Safira," tolak Herri.


"Tidak, pokoknya kamu temani aku belanja. Aku hanya mau mengajak kamu shopping," ucap Safira mukai menarik tangan Herry.


"Kenapa kamu tidak mengajak teman perempuan? Kenapa harus aku?" tanya Herry mengikuti langkah Safira yang bersemangat.


"Hei, jika aku punya teman perempuan aku tidak mungkin mengajak kamu. Kamu tahu aku sendiri, aku itu baru pulang dari luar negeri," sahut Safira.


"Tapi aku tidak suka pergi sama kamu. Kamu ajak yang lain saja."


"Kamu itu kenapa sih. Pokoknya kamu ikut aku. Nanti aku janji akan traktir kamu makan sepuasnya, bagaimana?" rayu Safira tidak mau kalah.


Safira tahu jika Herry sangat suka makan. Maka dia memiliki metode menyogok untuk Herry.


Herry yang mendengar tawaran Safira tanpa berpikir dua kali menyetujuinya. Herry sudah tidak sabar untuk segera makan.


***


Setelah selesai berbelanja dan makan, Safira kembali mengajak Herry untuk berjalan-jalan. Herry sudah sangat jenuh untuk menemani Safira berjalan. Ketika lagi berjalan Harry tanpa sengaja melihat Melati bersama teman-temannya.


Langkah Herry berbelok. Herry ingin menghampiri Melati. Tapi langkah Herry dicegat oleh Safira. Safira juga melihat mereka. Safira menarik Herry berlawanan arah sama mereka.


"Safira lepaskan. Hei, kamu mau membawa aku ke mana lagi," kata Herry.


"Kamu mau menghampiri mereka kan," kata Safira.


"Tidak, kamu tidak boleh ke sana. Hari ini kamu harus menemani aku," ucap Safira keras kepala.


"Lepaskan aku. Aku mau melihat pujaan hati aku," ucap Herry ingin kabur. 


"Kamu ini jadi cowok jangan genit. Itu tidak bagus sama sekali. Jadi cowok harus jaga image. Jangan bikin malu," tegur Safira.


"Tidak mau. Biar aku tidak tahu malu, asal Melati mau sama aku," bantah Herry. 


"Kamu ini bener-bener," ujar Safira dengan menarik lengan dan telinga Herry.


"Safira, ampun…."


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2