Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 67. Kesempatan Emas


__ADS_3

Yongki adalah seorang pengusaha yang sudah  berpengalaman dalam mengelola perusahaan. Oleh karena itu, bersikap profesional adalah kewajiban dia.


Kontrak sudah terlanjur dibuat dan disepakati. Kontrak itu kerjasama dengan perusahaan papa Amanda.


Saat ini mereka berada di restoran melakukan rapat. Papa Amanda sengaja mengajak Yongki untuk melakukan rapat di luar. Dia beralasan supaya bisa berbicara dengan leluasa. Yongki sama sekali tidak masalah dan menyetujuinya.


Tapi satu hal yang tidak Yongki duga, orang yang mendampingi Subianto adalah Amanda, anaknya sendiri. Dari sekian banyak orang, Yongki paling malas bertemu sama Amanda.


Yongki menyesal memilih menyetujui membahas proyek di luar. Yongki takut Natasya mengetahuinya dan membuat Natasya terluka. Apalagi Yongki pergi sendiri tidak ditemani sama Putra. Putra, Yongki suruh untuk mengecek proyek lain.  


"Pak Yongki, untuk kedepan proyek ini saya serahkan kepada anak saya, Amanda. Apalagi kalian berdua sudah saling kenal sejak dulu. Pasti proyek ini akan berjalan lebih lancar," ujar Subianto. 


Amanda tersenyum senang menatap ke arah Yongki. Begitu pula dengan Subianto. Mereka sudah punya rencana tersendiri untuk mengait Yongki selain proyek yang mereka lakukan.


"Bukankah Bapak mempunyai beberapa kepala bagian yang cukup komponen untuk mengurus proyek ini?" tanya Yongki supaya bisa menolak Amanda yang bekerja sama dengannya.


"Pak Yongki tenang saja. Amanda anak saya jauh lebih baik daripada mereka. Dia didikan saya langsung. Dia juga telah menyelesaikan kuliah di bidang ini. Nanti dia juga yang menjadi perusahaan saya. Jadi Bapak tidak perlu lagi meragukan kemampuan anak saya," kata Subianto memuji anaknya.


"Baiklah," jawab Yongki dengan terpaksa.


'Semoga proyek ini cepat selesai," batin Yongki.


"Aku senang kita bisa melakukan kerjasama sama kamu Yongki," ujar Amanda bersikap lembut.


"Saya juga senang melakukan kerjasama dengan anda Ibu Amanda," balas Yongki dengan menegaskan pada kata Ibu memperingatkan hubungan mereka.


"Kamu jangan terlalu formal dengan aku, Yongki. Kamu panggil saja aku Amanda seperti dulu," ucap Amanda dengan pura-pura tidak nyaman. 


"Maaf Bu Amanda, sekarang kita sedang membahas tentang proyek. Tidak sepatutnya kita bersikap tidak formal. Apalagi sekarang kita tidak terlalu dekat. Masa lalu adalah masa lalu. Masa sekarang adalah yang kita perhatikan," ujar Yongki dengan memperjelas status mereka.


Amanda merasa salah tingkah. Dia tidak mau kalah begitu saja. Dia tidak mau rencananya gagal. Dia harus bisa membuat Yongki untuk tetap bekerja sama dengannya supaya perusahaannya bangkit kembali.

__ADS_1


'Tidak, kerjasama tidak cukup. Aku harus jadi istri Yongki. Aku tidak mau melepaskan tambang emas,' batin Amanda.


"Pak Yongki, saya mewakili anak saya meminta maaf atas sifat kekanakan anak saya. Amanda melakukan itu karena ingin dekat dengan Bapak. Bahkan kalian dulu pernah berpacaran," ucap Subianto memberikan senyuman seolah yang dilakukan oleh anaknya adalah hal yang biasa.


"Pak Subianto, saya tidak mau mengungkit masa lalu lagi. Sekarang saya sudah menikah dan punya istri. Tidak sepantasnya saya membicarakan tentang mantan saya," kata Yongki dengan tegas. 


Amanda dan Subianto hanya memberikan senyuman sekilas. Mereka dalam hati kesal dengan perkataan Yongki yang memberikan kode keras sebagai peringatan.


"Sudah, kita lupakan masa lalu. Sekarang ayo kita lanjut makan siang. Kita lupakan sejenak masalah kerjasama,"kata Subianto mengalihkan perhatian.


"Maaf Pak, sepertinya saya harus segera kembali. Saya tidak bisa untuk makan siang bersama," ujar Yongki menolak makan siang bersama.


"Yongki, kita baru saja bekerja sama. Kamu jangan peduli kan perkataan aku tadi. Ini adalah bisnis kita bersama. Kamu tolong hargai Papa saya yang mengajak kamu untuk makan siang bersama. Apa susahnya kamu bertahan sekitar lima belas menit lagi," ujar Amanda dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.


Yongki sudah sangat ingin pergi jauh dari sana. Demi kesopanan dia duduk kembali. Yongki menganggap jika ini masih dalam ranah kerjasama. 


Mereka mulai memesan makanan. Baru beberapa suap makan HP Subianto berbunyi.


"Sebentar Pak, saya mengangkat telepon dulu," ucap Subianto.


"Apa? Baiklah. Saya akan segera ke sana," sahut Subianto menutup panggilan.


Yongki sudah bisa merasakan firasat yang buruk akan terjadi. 


"Pak Yongki, saya benar-benar minta maaf. Saya ada urusan yang sangat mendadak. Ini sangat gawat darurat. Kalian lanjut saja makan. Saya tidak bisa menemani kalian lagi. Makan siang ini sebagai wujud kerjasama kita," ujar Subianto dengan raut wajah menyesal.


"Baiklah Pak," sahut Yongki datar. 


"Kamu terus saja dekati Yongki. Kamu harus bisa membuat Yongki mencintai kamu lagi," bisik Subianto.


"Iya Pa, Amanda akan berusaha. Pasti Amanda bisa meluluhkan Yongki lagi."

__ADS_1


Mereka berdua berbicara berbisik supaya tidak didengar sama Yongki.


"Sekarang saya pergi dulu Pak Yongki," pamit Subianto segera pergi.


Yongki dan Amanda kembali makan bersama. Yongki sengaja memakan makanannya dengan sangat cepat supaya segera bisa pergi dari sana. Dia tidak ingin berlama-lama dengan Amanda.


"Yongki, kamu makan jangan terburu-buru. Nanti bisa sakit perut," tegur Amanda bersikap perhatian.


Amanda mengambil tisu ingin menyapu mulut Yongki. Yongki menghindari tangan Amanda.


"Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa membersihkannya sendiri," ujar Yongki mengambil tisu.


Yongki mengelap mulut sendiri Padahal di mulut Yongki sama sekali tidak ada apapun. Tadi Amanda memang berniat mencari perhatian.


"Sekarang kamu lanjutkan makan siang kamu. Saya masih banyak pekerjaan yang harus saya urus," perintah Yongki.


Tanpa Yongki dan Amanda sadari, Rangga menatap adegan Yongki dan Amanda dengan serius. Rangga juga sempat melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh mereka berdua.


Tiba-tiba Rangga mempunyai sebuah ide emas. Dia tidak mau melewatkan kesempatan tersebut.


'Akhirnya aku dapat jackpot. Sekarang aku punya hal untuk memeras mas Yongki. Salahkan saja mas sendiri. Kenapa mas tidak mau memberikan aku uang,' batin Rangga tertawa kesetanan.


Orang yang lewat berbisik tentang Rangga. Rangga sudah seperti gembel. Dia berjongkok di depan kaca restoran menatap fokus ke arah Yongki dan Amanda.


Orang yang di dalam restoran yang berada persis di depan Rangga juga menatap dia aneh. Mereka hanya dibatasi oleh kaca. Mereka melihat Rangga yang tersenyum-senyum seperti orang gila.


Di dalam pikiran Rangga, dia sudah berniat ingin membelikan apa-apa saja. Dia sudah tidak sabar untuk mentraktir Angel lagi.


Sekarang Rangga sudah memiliki kartu AS untuk mengancam Yongki. Dia murni berniat ingin uang saja.


"Semoga saja Natasya tidak mengetahui hal ini. Nanti dia bisa cemburu seperti Angel. Kalau dia cemburu seperti gunung bisa dibalikkan dengan aumannya," guman Rangga merinding membayangkan Angel yang pernah marah.

__ADS_1


Saat itu dia tidak sengaja jalan dengan cewek lain. Padahal mereka hanya kebetulan lewat dan jalan bersama. 


Bersambung….


__ADS_2