Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 65 Bersikap Tegas


__ADS_3

"Mas sebaiknya ganti baju dulu. Biar Chacha siapkan air mandinya," ujar Natasya.


"Baiklah. Pa, Ma, kami pamit ke kamar ya," ucap Yongki minta izin ke kamar.


"Iya," sahut Hartato. 


***


Setelah berada di dalam kamar, Natasya meletakkan tas dan jas di tempat penyimpanan. Setelahnya Natasya masuk ke kamar mandi menyiapkan air mandi buat Yongki. 


Yongki mulai membuka baju kemejanya. Satu per satu kancing baju Yongki lepaskan sambil menunggu air mandi disiapkan.


"Mas," panggil Rangga di depan pintu kamar Natasya dan Yongki.


"Ada apa," sahut Yongki dengan melanjutkan kegiatannya.


"Mas, Rangga juga mau tas baru," pinta Rangga lagi.


Rangga tidak mau melewatkan kesempatan agar dia mendapat uang jajan lebih. Jika tidak dapat tas, uang pun jadi.


Yongki mengabaikan Rangga.


"Mas," panggil Rangga lagi.


"Kamu kalau mau beli barang, kamu kerja sendiri. Kamu sudah besar," sahut Yongki.


"Rangga masih mau hidup dengan bebas Mas."


"Ya sudah, sana kamu hidup bebas," balas Yongki.


Yongki ingin bersikap tegas kepada Rangga agar Rangga tidak terlalu manja lagi. Sudah saatnya bagi Yongki untuk memberikan Rangga pekerjaan. Rangga tidak bisa hanya mengandalkan uang dari dirinya. 


"Rangga tidak suka bekerja Mas," kata Rangga tidak putus asa. 


"Kalau kamu tidak suka kerja, maka kamu jangan suka sama uang. Mau uang makanya kerja," sahut Yongki. 


"Mas…."


"Rangga mulai sekarang Mas tidak akan pernah memberi kamu uang lagi." 


"Mas kok begitu sih," kata Rangga tidak terima.


Rangga ke sana mau diberikan uang jajan bukan di PHK uang jajannya. Rangga tidak terima. Nanti dia tidak bisa beli barang dan traktir Angel.


"Mulai sekarang kamu harus mencoba mencari uang sendiri. Bagaimana kamu nanti menikah dengan Angel dan kamu menjadi kepala keluarga. Kamu mau kasih makan istri kamu nanti?" tanya Yongki.

__ADS_1


"Itu kan masih lama Mas. Lagian Rangga hanya mau jadi karyawan biasa. Gajinya Mas samakan dengan Mas. Biar yang lainnya Mas yang urus," tawar Rangga.


"Tidak tidak, tidak ada kerja berat tidak ada uang banyak. Jika kamu ingin menjadi karyawan biasa maka kamu juga akan mendapat gaji karyawan biasa," tolak Yongki. 


"Tapi Mas…." 


"Tidak ada tapi-tapian. Mulai besok kamu mulai kerja. Jika kamu tidak bisa masuk kerja di kantor, kamu bisa mengerjakannya di rumah. Jadi bagaimana pilihan kamu?" tawar Yongki.


Rangga paling malas disuruh untuk bekerja di kantor. Melihat laporan saja Rangga sudah pusing. Jika bisa memilih pekerjaan, Rangga ingin memilih jadi dokter. 


'Jadi dokter paling enak. Tinggal kasih obat dan suntik-suntik saja selesai. Tidak perlu repot sama laporan,' batin Rangga.


Rangga tidak tahu saja jika profesi dokter tidak kalah repot sama mengurus perusahaan.


"Rangga, sampai kapan kamu akan terus berfikir. Perusahaan itu perusahaan milik keluarga kita. Nanti lima puluh persen dari saham itu akan menjadi milik kamu semua. Apa kamu mau, nanti Mas akan mengambil seluruh aset perusahaan dan tidak akan membagikan sama kamu sedikitpun?" tanya Yongki.


"Rangga percaya sama Mas. Mas tidak akan mengambil yang bukan punya Mas," sahut Rangga. 


"Jika kamu tetap begini terus, Mas akan mengambilnya dan tidak akan membagikan sepersenpun kepada kamu. Karena Mas sendiri yang mengurus perusahaan. Biar nanti kamu jadi gembel di jalanan," kata Yongki mengancam.


"Memangnya Mas tega melihat adik Mas yang paling tampan dan satu-satunya ini tinggal di jalanan?" tanya Rangga balik.


Yongki kesal dengan pemikiran Rangga. Yongki berniat memotivasi Rangga tapi Rangga masih saja tidak mau serius. 


"Mas tidak boleh berkata begitu. Apa Mas mau meninggalkan Natasya sendiri. Apa Mas ingin melihat Natasya menjadi janda di waktu yang muda. Nanti bagaimana dengan hidup Natasya tanpa seorang suami," kata Rangga yang mulai berpikir tentang ke mana.


Ada perempatan muncul di dahi Yongki. Yongki yang sudah tidak sabar lagi dengan Rangga memukul kepala Rangga. Jika kata tidak berlaku lagi maka kekerasan adalah solusinya. 


Buakkk….


"Aduh…"


"Mas, kenapa Mas memukul kepala Rangga. Nanti kalau tampan rangga hilang bagaimana?" tanya Rangga tidak terima.


"Kamu ini tidak bisa diajak serius. Bagaimana bisa memukul kepala bisa hilang ketampanan. Yang ada Mas tadi membetulkan kepala kamu yang miring," ujar Yongki kesal.


Yongki menuju ke tempat tasnya. Yongki mengambil salah satu map laporan. Kemudian dia menuju Rangga lagi.


"Ini, kamu pelajari ini. Jika kamu menyelesaikan laporan ini, maka baru Mas akan memberikan kamu uang. Sekarang kamu pergi dari sini. Bicara sama kamu lama-lama Mas jadi lebih tua," ujar Yongki menyerahkan laporan 


"Mas jangan cepat tua dong. Kasihan Natasya jadi kurang belaian," canda Rangga.


Yongki mengambil bantal dan melempar ke arah Rangga. Untung saja Rangga bisa lari dengan cepat dan menghindar dari bantal tersebut.


"Dasar anak itu. Mas mu ini masih muda, Mas masih kuat."

__ADS_1


"Mas bicara sama siapa? Apanya yang kuat Mas?" tanya Natasya yang keluar dari kamar.


"Ahh itu…. Mas masih kuat buat… buat cari uang, iya cari uang," kata Yongki salah tingkah.


"Mas jangan sampai lelah cari uang. Mas juga harus jaga kesehatan," tegur Natasya.


Yongki sangat malu. Untung saja Natasya tidak mendengar dan paham perkataan dia. Kalau tidak Yongki tidak tau mau taruh muka di mana. Yongki tidak mau dikira mesum walaupun Natasya adalah istrinya.


"Apa tadi Rangga ke sini? Chacha seperti mendengar suara Rangga?" tanya Natasya. 


"Iya sayang, tadi di Rangga ke sini?" jawab Yongki.


Mereka memilih duduk di atas kasur buat bicara. 


"Kenapa Rangga ke sini? Apa dia masih mau minta tas?" tebak Natasya yang tahu bagaimana sifat Rangga.


"Iya, dia ke sini masih saja minta tas." 


"Apa Mas memberikannya?" 


"Tidak sayang. Sudah saatnya Rangga mulai bertanggung jawab. Mulai sekarang Mas akan mendisiplinkan dia dengan keras. Mas tidak akan memberikan dia uang tambahan jika dia tidak mau bekerja. Dia adalah ahli waris dari perusahaan Sudirman. Oleh karena itu dia harus mulai bertanggung jawab."


"Jadi apa Chacha juga harus mulai bekerja dari sekarang?" 


"Kamu tidak perlu bekerja sekarang. Nanti kedepannya jika kamu tidak bekerja Mas tidak masalah. Biar Mas yang mencari uang dan kamu cukup melayani Mas dan anak kita nanti," sahut Yongki.


"Chacha juga ingin kerja Mas. Chacha ingin kerja Mandiri. Chacha janji tidak akan kerja terlalu berat." 


"Jika itu keputusan kamu, Mas juga tidak akan melarang jika kamu kerja. Tapi Mas tidak mau jika kamu kerja terlalu berat seperti Mas dan tidak ada waktu luang buat keluarga kita nanti." 


"Iya Mas."


"Nah, sekarang tugas kamu melayani Mas. Ayo kita mandi bersama," ajak Yongki.


Tanpa menunggu jawaban dari Natasya, Yongki segera mengangkat tubuh Natasya. Langkah Yongki menuju ke kamar mandi.


"Mas!" teriak Natasya antara kaget dan malu.


Bersambung….


Jangan lupa like dan komentar ya. Buat komentar supaya saya semakin semangat up dan tahu ada yang menunggu cerita saya. Terimakasih.


Rekomendasi novel karya teman author. Silahkan mampir ya.


__ADS_1


__ADS_2