Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 81 Rencana Bimo


__ADS_3

"Apakah sekarang Melati masih mau bersama Herry?" tanya Bimo


"Apa maksud kakak?" tanya Melati balik karena bingung dengan pertanyaan Bimo.


"Jika kamu masih menyukai Herry, Kakak benar-benar minta maaf. Kakak tidak akan melarang kamu berhubungan dengan Herry lagi. Asal kamu bahagia, tidak seperti ini," sahut Bimo mengelus pipi Melati. 


"Apa maksud Kakak"


"Sekarang Kakak merestui hubungan kamu dengan Herry. Apalagi setelah Kakak tahu jika Herry telah menyelamatkan kamu," ujar Bimo dengan nada yang sudah mulai tenang.


"Apa Kakak lupa jika Herry sudah punya tunangan," kata Melati.


"Kakak dengar Melati. Dia cuma mengatakan jika dia dan Herry itu calon tunangan saja. Jadi kamu masih ada kesempatan bersama Herry."


"Jadi Kakak berniat ingin merusak hubungan mereka?" tanya Melati tidak percaya.


Bimo terdiam. Dia berpikir dulu sebelum melanjutkan perkataannya.


"Jika hanya itu satu-satunya jalan agar kamu bahagia, maka Kakak pasti akan melakukannya Melati," keputusan Bimo.


"Kakak, jangan berpikir aneh-aneh. Melati bukan perusak hubungan orang Kak. Melati bukan pelakor. Jika dulu kami saling mencintai, sekarang Herry sudah punya orang lain," tolak Melati dengan ide Bimo yang konyol.


"Tapi Melati, kalian masih saling mencintai," bantah Bimo.


"Cukup Kak," kata Melati dengan meletakkan telapak tangannya di depan Bimo agar Bimo berhenti berbicara .


"Sekarang semuanya sudah terlambat Kak. Kakak tidak perlu melakukan apapun lagi," ujar Melati dengan menggeleng kecil.


Setelah itu Melati segera berlari ke arah kamarnya. Semuanya sudah terlambat untuk diperjuangkan. Walaupun Bimo sudah merestui hubungan mereka berdua, tapi tidak ada lagi harapan untuk mereka berdua. Dulu saat mereka ada jalan Bimo dengan keras melarang mereka. Sekarang jalan itu sudah tertutup rapat.


Melati bukanlah perempuan yang menghalalkan segala cara. Melati bukan perempuan yang mau menyakiti hati perempuan orang lain untuk menyenangkan dirinya. Melati tidak akan sekejam itu. 


Bimo yang ditinggalkan oleh Melati sangat kesal dan penuh emosi. Dengan keras dia menendang sebuah vas bunga yang berada di dekatnya untuk menyalurkan emosi.


Dia sudah bukan seorang kakak yang baik. Dua tidak bisa membahagiakan adik semata wayang. 


"Sial," umpat Bimo dengan berkata kasar.


Bimo segera berbalik arah. Dia kembali menuju ke rumah sakit. Dia tidak bisa sanggup membayangkan jika Melati akan benar-benar terluka.

__ADS_1


Bimo berencana akan menemui tunangan Herry. Dia akan melakukan apa saja agar Safira mau berpisah sama Herry.


***


Bimo sudah satu jam berdiri di depan ruang rawat Herry. Dia tidak berani masuk ke dalam ruang rawat. Tadi dia sempat melihat ke dalam ruangan. Di dalam ruang itu sudah ada orang tua Herry. Bimo semakin segan untuk menemui Safira. Akhirnya Bimo memutuskan menunggu Safira keluar dari ruangan sendiri.


Lima menit kemudian Safira tiba-tiba keluar. Safira sedikit kaget melihat Bimo mondar mandir kayak setrikaan. 


"Ngapain kamu di sini?" tanya Safira judes.


Safira menatap Bimo dari ujung kaki sampai ujung kepala. Penampilan Bimo lebih berantakan daripada saat menjemput Melati tadi.


"Aku ingin bicara sesuatu sama kamu," ujar Bimo sedikit gugup.


"Apa yang ingin kamu bicarakan. Jika kamu ingin bicarakan, kata kan saja. Aku akan mendengar nya," sahut Safira. 


Shafira melipatkan kedua tangannya di depan dada. Dia menatap dengan tatapan serius. Dia penasaran apa yang akan dikatakan sama Bimo.


"Kita jangan bicara di sini. Kamu ikut aku saja," ujar Bimo dengan nada memerintah.


"Memangnya kamu siapa berani memerintah aku. Kenal saja tidak," ejek Safira tidak suka.


"Apa susahnya sih, kamu tinggal ikut aku," balas Bimo. 


"Kamu ini keras kepala ya."


"Yang keras kepala itu siapa? Kamu atau aku? Benar laki-laki tidak tahu malu," tantang Safira tidak terima.


Safira menatap dengan tatapan tajam. Dia sama sekali tidak takut dengan Bimo. 


Bimo tidak suka dibantah. Dia segera meraih tangan Safira. Dia menyeret Safira pergi. Mereka akan menjauh dari ruang inap Herry.


Bimo berencana membawa Safira ke kafe terdekat supaya dia bisa berbicara dengan tenang berdua. Bimo tidak mau kepergok sama orang tua Herry. Dia tidak mau gagal membatalkan pertunangan Herry dan Safira.


"Hei! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan aku," kata Shafira dengan memberontak dan berteriak keras.


Safira mencoba menarik tangan dari Bimo. Bimo memegang tangan Safira begitu erat.


"Lepaskan tangan aku," teriak Safira lagi.

__ADS_1


"Kamu bisa diam tidak sih," ujar Bimo mendadak tuli dengan teriakan Safira.


Teriakan Safira tidak tanggung-tanggung. Teriakannya membuat orang-orang melihat kepada mereka berdua. Mereka tampak seperti kekasih yang sedang bertengkar.


Safira tidak melihat gelagat Bimo akan melepaskan tangannya. Bimo terus saja menyeret dia pergi menjauhi kamar Herry. Dengan kesal Safira mengangkat tangan Bimo. Dia menggigit tangan Bimo dengan keras, sehingga Bimo terpaksa melepaskan tangan Safira.


Safira menggunakan kesempatan itu untuk segera kabur. Tapi dia kalah dengan kecepatan Bimo. Bimo dengan lebih cepat merangkul tubuh Safira agar mudah dengan membawa Safira. 


"Kyaaa….. apa yang kamu lakukan," teriak Safira lagi.


"Kamu bisa lebih anggun sedikit tidak sih. Jadi cewek tidak ada anggun-anggunnya. Kayak tarzan di tengah hutan aja," ujar Bimo dengan nada kesal karena kesusahan menangani Safira.


Safira jadi tersipu mendengar perkataan Bimo. Selama ini tidak ada yang berkata seperti itu kepada Safira. Safira menganggap kita perkataan Bimo sebagai bentuk perhatian.


***


"Sekarang kamu naik," perintah Bimo.


Bimo sudah ada di atas motornya. Sedangkan Safira berdiri di samping motor. 


"Tidak mau," tolak Safira.


Safira kembali membuang muka. Dia tidak mau menatap Bimo.


Bimo kesal dengan sikap Safira. Kemudian dia meletakkan kembali helm yang sudah dia pakai di atas motornya. Dia kembali turun dari motor.


"Naik," suruh Bimo lagi.


"Kalau tidak ya tidak. Memangnya kamu kenapa dari tadi memaksa aku. Teman bukan, saudara bukan, pacar apalagi. Maunya suruh-suruh aku naik… naik… naik...," cibir Safira mengejek.


"Selagi aku bicara baik-baik, kamu mau naik sendiri atau aku paksakan naik," ujar Bimo dengan suara dilembutkan sehalus mungkin tapi dengan nada menekan.


"Kamu tuli ya, sudah dari tadi aku bilang tidak mau naik," balas Safira.


"Hah… jadi itu pilihan kamu," ujar Bimo.


Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Bimo kepada Safira?


Yuk main tebak-tebak buah manggis....

__ADS_1


Bersambung....


Yang kangen Natasya dan lainnya tunggu selesai bagian Melati ya. Biar selesai satu bagian dan tidak penasaran dengan adegan yang kepotong-potong.


__ADS_2