Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 85. Manja


__ADS_3

"Mas, Mas sudah pulang?" tanya Natasya yang membuka pintu kamar.


Waktu masih menunjukkan pukul lima sore. Tidak heran jika Natasya sedikit terkejut melihat Yongki berada di kamar. Yongki biasa pulang jam enam.


"Iya Cha,Mas udah pulang," sahut Yongki. 


"Apa Mas mau mandi sekarang? Biar Chacha siapkan air hangat," ucap Natasya mendekati Yongki.


"Tidak perlu Cha, nanti saja. Kamu pasti juga capek baru pulang," balas Yongki.


"Baiklah Mas. Jadi, apa pekerjaan Mas hari ini tidak banyak di kantor?" tanya Natasya penasaran. 


"Masih ada pekerjaan, hanya saja tadi Mas bertemu klien di luar kantor. Karena jarak antara kantor dan tempat pertemuan kami cukup jauh, jadi Mas memutuskan pulang. Jarak ke rumah lebih dekat. Sebentar lagi Mas akan lanjut di kamar."


"Mas, Mas jangan terlalu sibuk sama pekerjaan. Mas harus memperhatikan kesehatan Mas juga."


"Iya Cha, Mas janji tidak akan sampai lelah," sahut Yongki.


Yongki meneruskan kegiatannya, di mana Yongki mengambil beberapa dokumen dan juga laptop di dalam tas. Kemudian dia naik di atas ranjang. Yongki memutuskan mengerjakan di kamar.


Sedangkan Natasya segera pergi ke kamar mandi. Kemudian dia menggantikan pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.


"Kamu hari ini ke mana saja?" tanya Yongki setelah Natasya selesai ganti baju.


"Tadi Chacha habis ketemuan sama teman-teman. Angel Aura dan Melati."


Setelah Natasya berganti pakaian, dia juga ikut naik ke atas ranjang. Dia duduk di depan Yongki yang duduk sila. Jarak mereka hanya dibatasi oleh sebuah meja kecil yang digunakan Yongki untuk meletakkan laptop.


"Bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Yongki ingin mengetahui bagaimana kondisi perkuliahan Natasya langsung.


"Kuliah Chacha lancar-lancar saja Mas. Hanya saja…." ucap Natasya terputus dengan raut wajah terlihat sendu. 


"Hanya saja apa? tanya Yongki khawatir.


Yongki menyingkirkan meja beserta laptop ke samping kiri. Kemudian dia membawa Natasya untuk lebih dekat dengannya. Natasya tidak menolak rangkulan Yongki. Malahan dia merasa lebih nyaman.


"Hanya saja tadi Chacha dapat kabar, kalau Herry masuk ke rumah sakit," ucap Natasya menatap Yongki.

__ADS_1


"Herry? Herry teman Rangga yang biasa ke sini?" tanya Yongki untuk memastikan biar tidak salah orang.


"Iya Mas, Herry kawan Rangga, juga kawan Chacha," sahut Natasya. 


"Ada apa dengan dia? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"


"Tadi Chacha dapat kabar dari Rangga, kalau Herry dipukul oleh preman. Katanya Rangga, Herry dipukul gara-gara menolong Melati. Andai saja kami tahu kalau Melati akan berada dalam bahaya, maka kami tidak akan membiarkan Melati pulang sendirian. Padahal tadi Melati berkumpul sama kami, Mas," ucap Natasya sedikit menyesal.


Natasya menyesal telah membiarkan Melati tadi pergi sendirian. Jika dia bisa dia tahu bahwa Melati bahaya pulang sendiri, maka mereka bertiga lebih memilih untuk tidak membiarkan Melati pulang sendiri.


"Melati sendiri bagaimana keadaannya" 


"Melati tidak apa-apa Mas, hanya Herry saja yang babak belur," sahut Natasya dengan mata yang mulai mengantuk. 


Natasya begitu nyaman berada di dalam pelukan Yongki. Kenyamanan itu membuat Natasya semakin mengantuk. Apalagi tadi siang dia cukup banyak kegiatan dan capek. Jadi tidak heran jika Natasya begitu rileks.


"Itu bukan salah kamu sayang. Itu sudah ditakdirkan. Tapi, bukankah hal itu bagus," kata Yongki.


"Bagus? Apanya yang bagus Mas?" ucap Natasya kembali membuka lebar-lebar.


Natasya bahkan bangkit dari pangkuan Yongki. Dia duduk kembali di depan Yongki dengan tegap. Natasya tidak menduga dengan respon Yongki. 


"Kok Mas tahu?" tanya Natasya memicingkan mata menatap Yongki penuh selidiki. 


"Iya lah Mas tahu," balas Yongki mengusap rambut Natasya dengan pelan.


"Mas juga tahu jika mereka saling mencintai, tapi cinta mereka dihalangi oleh kakaknya Melati." 


"Mas menyelidiki ini semua?" tanya Natasya masih memicingkan matanya dengan tajam. 


"Walaupun Mas tidak menyelidikinya, Mas tahu. Karena kalian sering bermain ke sini. Mas sering memperhatikan kalian. Mas cukup peka untuk membaca keadaan di sekitar," jabar Yongki. 


Natasya menganggukkan kepala. Natasya paham dengan pemikiran Yongki. Yongki memang beda dengan orang lain, terutama adiknya, Rangga.


"Ayo sini," ajak Yongki.


Yongki kembali membawa Natasya kembali ke dalam pelukannya. Punggung Natasya kembali bersandar pada dada bidang Yongki.

__ADS_1


"Terus, apa maksud Mas kalau semua ini bagus?" tanya Natasya belum nyambung sama pemikiran Yongki.


"Dengan kejadian ini, siapa tahu bisa membuka matanya kakak nya Melati. Dia kan selama ini selalu menolak Herry karena tidak bisa melindungi Melati. Jadi sekarang pasti kakak nya Melati bisa mempertimbangkan Herry. Herry telah berhasil menjaga Melati," terang Yongki.


"Apa yang Mas bilang bener juga," ujar Natasya ikut senang jika hubungan temannya berjalan lancar. 


"Tapi tetap saja Chacha kasihan sama Herry, Mas," sambung Natasya kembali sedih mengingat Herry yang kesakitan. 


"Apa kondisi Herry cukup mengkhawatirkan?"


"Tidak juga sih Mas. Hanya beberapa luka memar dan babak belur saja. Tapi yang namanya dipukuli tetap sakit Mas."


"Iya iya, kita doakan agar Herry cepat sembuh."


"Iya Mas," sahut Natasya dengan suara kecil.


Mata Natasya semakin sayu. Tangan kiri Yongki dari mengusap lembut lengan kanan milik Natasya. Natasya yang merasa nyaman menutup mata sedikit demi sedikit. Lambat laun Natasya jatuh tertidur di pangkuan Yongki.


Yongki mencoba menatap Natasya. Dia menggeser kan sedikit tubuh Natasya. Dia hanya heran kenapa Natasya tidak berbicara lagi. Dia bisa mendengar deru nafas Natasya yang stabil. Setelah itu Yongki terkekeh melihat Natasya tertidur di dalam pelukannya. 


"Bisa-bisanya kamu tidur di jam sekarang, Cha," ucap Yongki melirik jam yang sudah setengah enam.


"Sayang, sayang ayo bangun. Tidak baik kalau tidur sore," ujar Yongki pelan dengan menggoyangkan tubuh Natasya. 


Natasya merasa terganggu dengan panggilan Yongki. Dia membalikkan sedikit tubuhnya menjadi miring. 


"Sayang, ayo bangun," ujar Yongki kembali mencolek hidung Natasya.


Natasya menyingkirkan tangan Yongki. Hidungnya jadi geli gagal karena ulah Yongki. 


"Ah kamu ini. Kamu ini ya... benar-benar menggemaskan," ucap Yongki mencium pipi Natasya beberapa kali.


"Sudahlah, kali ini Mas biarkan kamu tidur sore. Lain kali tidak akan Mas biarkan. Tidur sore itu tidak baik bagi tubuh kamu. Kamu pasti sangat lelah hari ini," sambung Yongki.


Yongki menggesekan tubuhnya dan membaringkan tubuh Natasya dengan benar di atas tempat tidur. Setelah memastikan posisi Natasya sudah nyaman, Yongki kembali meraih laptop dan dokumennya yang diabaikan tadi di atas kasur. Dia tidak mengganggu tidur Natasya. 


'Sebaiknya aku kerja di ruang kerja saja. Jika di sini nanti bisa mengganggu Natasya," putus Yongki.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2