Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 72 Kemampuan Angel


__ADS_3

"Asal kalian tahu ya, hotel itu adalah punya Natasya, menantu saya," kata Melisa membalas kata-kata temannya.


'Tidak boleh ada yang menghina menantu keluarga Sudirman. Jika ada yang berani berarti mereka mencari perkara sama keluarga Sudirman,' batin Melisa. 


Mereka serempak melihat ke arah Melisa. Mereka terkejut mendengar pernyataan Melisa. Termasuk Natasya yang terkejut mendengar perkataan Melisa. 


Natasya tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. Natasya tidak tahu tentang perihal itu sama sekali. 


'Pasti Mama mengatakan ini agar Mama tidak malu punya menantu seperti saya,' batin Natasya sedih membayangkan kebohongan Melisa.


"Yang bener jeng?" tanya mereka tidak percaya.


"Buat apa saya bohong. Hotel itu adalah hadiah pernikahan dari ayah kami buat nak Chacha," terang Melisa.


Natasya tidak tahu lagi apa Melisa berkata benar atau berbohong. Tapi Natasya punya firasat jika semua itu adalah benar. Ibu dan ayah mertua nya saja memberikan hadiah yang sangat fantastis. Jadi dia menduga jika sang kakek tidak mau kalah juga.


Kepala Natasya seakan-akan berputar. Natasya jadi serba salah. Natasya sedih jika perkataan Melisa bohong. Tapi jika benar pun Natasya berharap jika semua itu berbohong. Natasya tidak tau harus berkata apa lagi. 


Semua pemberian keluarga Rangga di luar batas pemikiran Natasya. Jangan kan berpikir, bermimpi pun Natasya tidak pernah kesampaian. Bagaikan pemancing berharap dapat ikan tongkol tapi pas diangkat kail malah dapat paus.


"Beruntung sekali jadi menantu dari keluarga Sudirman. Bisa langsung kaya mendadak."


"Tapi untuk menjadi menantu saya punya kualifikasi tinggi. Tidak sembarang bisa jadi menantu kami," kata Melisa tidak suka.


Donita meletakkan gelas minuman kembali. Dia jadi merasa tidak enak dengan Melisa. Donita tahu jika anaknya dekat dengan anak Melisa. Donita tahu kekurangan anaknya yang menjadi kualifikasi Melisa.


"Aduh jeng, apa sih kualifikasi nya. Jeng kan punya satu anak laki-laki yang masuk kuliah. Saya punya anak perempuan, siapa tahu bisa jadi menantu jeng juga," kata dia penuh harap bisa kecipratan kekayaan Sudirman.


"Maaf ya jeng, walaupun anak saya yang kedua itu produk gagal, tapi sudah sold out," ujar Melisa bagaikan mbak-mbak penjual pakaian.


Melisa tidak suka jika Rangga dijodohkan sama anak mereka. Belum apa-apa saja sudah mata duitan. 


"Haha… jeng bisa saja. Siapa sih yang tidak suka sama keluarga Sudirman," sahut ibu itu canggung.


"Ma, Chacha pamit ke dapur ya. Chacha mau lihat apa cake yang Chacha buat sudah matang atau belum," ujar Natasya.


"Ah... Iya sayang. Sana kamu lihat sayang, nanti bisa hangus," saran Melisa.


"Baik Ma. Tante, saya pamit ke dapur dulu ya," ucap Natasya dengan sopan.


Mereka menganggukkan kepala. Mereka juga tidak mungkin menahan Natasya.


"Ngomong-ngomong tentang cake, cheese cake yang kemarin kita beli itu, rasanya sangat enak. Rasanya masih tertinggal di lidah sampai sekarang."


"Satu gigitan itu bisa membuat kita meleleh. Andai saja cake itu ada lagi, saya mau membeli lagi."


"Sayangnya jeng Melisa kemarin telat beli katanya. Tumben jeng tidak dapat?"

__ADS_1


Melissa kembali bad mood membahas tentang cheese cake kemarin. Mereka sengaja menyindir dia.


"Bukannya saya telat beli tapi…."


"Maaf menunggu lama. Ini ada cheese cake yang baru saya buatkan. Semoga Tante semua suka," ujar Natasya tidak sengaja memotong perkataan Melisa.


Natasya meletakkan di atas meja. Bau cheese membuat mereka melirik ke cake yang mereka sajikan. Mereka tergiur melihat cake yang ingin mereka makan lagi.


"Pantesan jeng kemarin tidak beli. Ternyata jeng menyewa chef itu secara khusus untuk membuat spesial buat jeng ya."


"Jeng hebat ya bisa menyewa chef itu. Sangat susah buat menyewa jasa chef itu," kata mereka salah paham.


"Kalian salah paham, ini adalah cake yang dibuat oleh menantu saya," sahut Melisa.


"Masa sih, jeng?" tanya dia tidak percaya.


"Jangan-jangan hanya bau nya saja yang sama."


"Silahkan Mama dan Tante menikmati waktunya. Natasya ingin pamit keluar," ucap Natasya.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Melisa menatap Natasya.


"Kebetulan tadi mas Yongki telepon, kata mas Yongki ada dokumen mas Yongki yang ketinggalan. Jadi sekalian Chacha ingin mengantarkan cake ini karena masih hangat. Siapa tahu mas Yongki suka Ma," sahut Natasya.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Kamu minta sopir Mama saja yang antar. Mama tidak mau kamu pergi sendiri," saran Melisa.


Natasya meninggalkan Melisa dan teman Melisa. Teman Melisa tanpa disuruh lagi sudah mencicipi cake tersebut. Hidung mereka sudah gatal ingin menikmati rasa yang pernah ada.


"Jeng, cake ini rasanya persis seperti yang dibuat chef itu."


"Jeng sangat beruntung punya menantu seperti Natasya."


"Selain masakan yang enak, dia bisa membuat resep yang sama persis seperti koki berbintang."


"Jeng menemukan menantu seperti itu dimana sih. Saya masih punya satu orang anak perjaka yang belum menikah. Saya juga ingin mendapat menantu seperti menantu jeng."


"Maaf ya jeng, menantu seperti menantu saya sangat sulit ditemukan. Dia adalah menantu limited edition. Tidak ada lagi satupun di dunia yang sama persis seperti dia. Kalau yang suka dandan banyak," sahut Melisa bangga.


"Kenapa perkataan jeng mengingatkan saya pada sebuah iklan ya?"


Mereka tertawa dengan obrolan aneh mereka sendiri. Melisa tidak mau ketinggalan mencicipi cake. Dia begitu menikmati di setiap gigitan dengan mata merem. Saking fokus makan, Melisa tidak menduga jika cake di piring nya sudah habis. Melisa ingin nambah. Melisa berharap agar temannya segera pulang agar dia bisa makan lagi.


Beberapa menit kemudian teman Melisa pamit undur diri. Satu persatu dari mereka pamit pulang. Sekarang hanya tinggal Melisa dan Donita. Donita sengaja menunggu yang lain pulang terlebih dahulu.


"Jeng Melisa," panggil Donita.


"Kamu jangan panggil jeng, panggil Melisa saja. Kita ini kan mau jadi besanan," ujar Melisa.

__ADS_1


Jika di depan Rangga dan Angel, Melisa tidak mau mengakui jika dia merestui mereka. Melisa ingin agar mereka lebih dewasa dan belajar lebih banyak.


"Baik Melisa," balas Donita.


"Ada apa ya. Sepertinya kamu mau mau bicara sesuatu. Kamu jangan gugup gini, aku tidak gigit kok," canda Melisa.


"Ini mengenai anak saya, Angel," kata Donita tidak enak.


"Ada apa dengan Angel?" tanya Melisa penasaran.


"Melisa tahu sendiri jika anak saya tidak bisa memasak apapun," jeda Donita menunggu respon Melisa.


"Jadi?" tanya Melisa menaikan sebelah alisnya.


"Aku pikir, Natasya bisa mengajari Angel," ucap Donita mengecilkan suara.


'Aku sih tidak masalah jika Angel mau belajar memasak. Nanti bagus juga jika dia menikah dengan Rangga. Tapi yang aku takutkan adalah 'kemampuan' Angel dalam memasak. Aku masih toleransi jika hanya dapur aku yang kebakar dan jadi kapal pecah. Tapi bagaimana jika melukai anakku. Aku tidak mau anakku terluka," batin Melisa ngeri membayangkan apa yang terjadi.


Melisa sampai menggelengkan kepala. Dia tidak sanggup melihat Natasya terluka seujung jari pun.


"Jika kamu keberatan tidak apa juga. Nanti aku akan cari cara lain," ujar Donita salah paham.


Donita menganggap Melisa yang geleng kepala sebagai penolakan. Donita memaklumi semuanya.


"Aku bukan bermaksud menolak. Aku hanya membayangkan 'kemampuan luar biasa' anak kamu. Tapi aku yakin jika anakku bisa membantu Angel. Chacha pasti mau membantu Angel. Mereka sudah berteman baik. Jika aku tolak pasti Chacha juga mau menerima tawaran ini," hibur Melisa.


"Iya Melisa, aku juga takjub sama kemampuan Angel. Padahal dari silsilah keluarga kami tidak ada yang seperti dia. Kami juga heran dari mana dia dapat kemampuan itu."


"Setiap anak punya kelebihan masing-masing Donita. Kamu jangan pesimis. Hari minggu nanti, kamu suruh sama Angel ke sini. Nanti aku bilangin sama Chacha," ujar Melisa.


"Iya, baik. Nanti aku bilang sama Angel. Terima kasih ya Melisa," ucap Donita senang.


"Iya sama-sama," balas Melisa.


"Kalau begitu aku pamit ya."


"Iya hati-hati."


Donita masuk ke dalam mobil. Perasaan dia cukup lega dengan perkataan Melisa. Sekarang ada harapan untuk obat buat 'kemampuan' Angel.


"Oh cheese cake aku…."


Melisa teringat kembali dengan cheese cake. Dia segera berjalan cepat ke dapur. Dia menemukan satu loyang penuh. Tanpa memotong terlebih dahulu, Melisa membawa semua ke ruang santai tanpa lupa dengan sebuah garpu.


Bersambung….


Seperti biasa, jangan lupa like dan comment ya.

__ADS_1


__ADS_2