
Yongki dan Amanda sedang berjalan menuju ke ruangan. Mereka tadi telah melakukan rapat. Cakra telah menyerahkan tugas ini kepada Putra. Semua jauh dari bayangan Cakra, Amanda dengan segala cara bersilat lidah memutar balik kata harus ada Cakra yang menyelesaikan semua. Sehingga mau tak mau harus Cakra yang mengurus masalah proyek tersebut.
Selama rapat sikap Amanda tidak menunjukkan hal aneh. Hal itu yang memuat Yongki lebih leluasa membahas tentang proyek. Cakra berharap jika akan seperti terus untuk ke depan. Maka urusan proyek mereka akan berjalan lebih lancar.
Cakra hanya berharap sedikit, tidak lebih. Dia tidak mau kecewa dengan pemikiran sendiri.
"Ayo masuk Amanda," kata Yongki mempersilahkan Amanda masuk.
Langkah kaki Amanda menuju ke dalam ruangan Yongki. Kemudian Yongki menyusul Amanda masuk tanpa menutup pintu. Yongki sengaja membuka pintu lebar-lebar agar Amanda tidak berbuat sesuatu yang aneh-aneh. Dia melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga saja. Lebih baik waspada daripada terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Yongki, kenapa kamu tidak menutup pintunya?" tanya Amanda membalik badan ke arah Yongki.
Sekarang Yongki sedang membelakangi pintu ruangan.
"Ruangan aku sedikit apek. Jadi aku buka pintu," kata Yongki beralasan.
"Masak sih, ini ruangan direktur. Jangan-jangan office boy di sini yang tidak becus menjaga ruangan. Apa perlu aku carikan pekerja baru?" tawar Amanda mencari kesempatan.
Amanda sengaja menawarkan pekerja baru agar dia bisa menyusupkan mata-mata. Dengan begitu dia bisa mencari kelemahan Yongki dan perusahaan.
"Tidak apa-apa kok. Ini hanya untuk menukar udara saja," bantah Yongki.
"Jika kamu ingin menggantikan udara, kan bisa buka jendela," ucap Amanda.
"Kita tidak perlu membahas tentang itu lagi. Lebih baik kita bahas lagi proyek yang akan kita laksanakan," ucap Yongki mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah," sahut Amanda.
Amanda ingin membalikkan badan lagi menuju ke arah sofa. Tapi niatnya diurungkan. Dari belakang tubuh Yongki, Amanda bisa melihat Putra yang datang bersama Natasya. Amanda tersenyum menyeringai tanpa sepengetahuan Yongki. Dia punya ide untuk membuat Natasya salah paham.
Ketika Natasya sudah semakin dekat, Amanda berjalan satu langkah ke arah Yongki. Mereka berdiri tidak terlalu jauh. Amanda pura-pura keseleo dan jatuh ke depan Yongki. Sehingga Yongki dengan reflek menangkap tubuh Amanda yang jatuh ke arahnya.
"Akh…."
Jika dilihat sekilas, mereka terlihat seperti sedang berpelukan. Dengan tangan Amanda di leher Yongki dan tangan Yongki di pinggang Amanda.
"Amanda apa yang…."
"Mas," ucap Natasya.
Telinga Yongki begitu sensitif dengan suara Natasya. Dia segera menoleh ke belakang dengan cepat. Kemudian dia mendorong tubuh Amanda dengan cepat.
__ADS_1
Amanda kaget dan tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Dia yang menggunakan high heels terjatuh di lantai. Amanda bisa merasakan kakinya yang sakit. Amanda bisa menebak jika kakinya keseleo beneran.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat. Ini salah paham," ujar Yongki dengan cepat.
Natasya menatap mereka berdua. Dia juga memperhatikan Amanda yang bangkit dari lantai. Amanda bangun sendiri tanpa ada yang berniat menolongnya. Amanda kesusahan berdiri dengan high heels yang tinggi dan juga kakinya yang sakit.
'Lebih baik aku panaskan dia saja. Biar dia semakin curiga,' batin Amanda melihat Natasya yang diam.
"Iya Natasya, kamu jangan salah paham. Tadi aku tidak sengaja jatuh ke arah Yongki. Yongki hanya membantu aku saja," ujar Amanda dengan mimik yang dibuat-buat untuk meminta maaf.
'Dengan begini pasti istri Yongki akan semakin salah paham. Dia pasti akan berpikir yang sebaliknya,' batin Amanda senang.
"Salah paham bagaimana? Jadi yang saya lihat adalah salah paham?" tanya Natasya dengan ekspresi datar.
"Sayang kamu dengarkan Ma…."
"Stop Mas, Mas berhenti bicara," kata Natasya menggerakkan tangan ke arah Yongki sebagai kode berhenti berbicara.
"Natasya, kamu dengarkan perkataan Yongki. Kamu ini salah paham. Dia hanya menolong aku saja, tidak lebih," ucap Amanda semakin memperkeruh keadaan.
"Mbak bilang salah paham? Tadi aku jelas-jelas melihat semua itu dengan jelas," ujar Natasya menatap Amanda.
"Sayang…," ujar Yongki lagi.
'Bagus, terus kamu marah yang tidak jelas. Dengan begitu Yongki akan membenci kamu. Jadi aku dengan mudah bisa merebut Yongki. Hahaha," batin Amanda semakin senang.
"Mbak!" ucap Natasya dengan menatap serius ke arah Amanda.
"Iya," sahut Amanda dengan suara pelan.
Natasya melangkah mendekati Amanda. Matanya tidak lepas dari mata Amanda.
"Mbak, apa yang Mbak lakukan tadi?" tanya Natasya lagi.
"Tadi aku sudah jelaskan. Aku tidak sengaja terjatuh karena kaki aku keseleo dan Yongki menolong aku," sahut Amanda.
"Mbak ini bagaimana sih, lain kali Mbak lebih hati-hati dong kalau berjalan. Bagaimana jika Mbak membuat suami saya juga ikut terjatuh?" tanya Natasya.
Amanda melongo dengan pertanyaan Natasya. Dia tidak menyangka Natasya akan bertanya seperti itu. Bukan marah-marah yang seperti dia harapkan.
Yongki menarik nafas lega diam-diam karena ternyata Natasya tidak marah kepadanya. Dia juga mengelus dada yang tadi terasa sesak. Sudah rugi dia tadi ragu kepada Natasya dan tidak percaya pada kepercayaan Natasya.
__ADS_1
Sedangkan Putra hanya menonton drama dadakan yang terjadi di depannya. Dia tidak mau berkomentar dan ikut campur. Putra hanya akan mengawasi saja, lebih baik dia mojok dan menonton sampai final.
"Aaa… maaf Natasya, aku… aku tadi tidak tidak sengaja. Aku sedikit kesusahan dengan high heels yang aku gunakan," kata Amanda beralasan dan canggung.
Natasha melihat ke arah kaki Amanda. Amanda sedang menggunakan high heels yang cukup tinggi dan runcing. Dia juga melihat kaki Amanda yang bengkak.
"Jika Mbak tahu menggunakan high heels bisa terjatuh, kenapa Mbak tidak menggunakan hak yang lebih rendah. Mbak tahu, bagaimana jika tadi Mbak jatuh ke dalam pelukan suami orang lain. Kemudian Mbak ketahuan sama istrinya. Mbak bisa dijambak sama istri sahnya. Mbak bisa dianggap sebagai orang ketika dan merebut suami orang. Untung tadi saya juga tidak salah paham Mbak. Kalau tidak, Mbak bisa saya anggap pelakor," ujar Natasya dengan ekspresi serius.
Natasya sengaja menyindir Amanda secara terang-terangan dengan cara halus.
Amanda menggenggam tangannya dengan erat. Dia sangat kesal dengan sindiran yang dibuat oleh Natasya. Dia bisa memahami perkataan Natasya dengan baik.
"Maaf ya Natasya, aku sudah terbiasa menggunakan high heels seperti ini," sahut Amanda mempertahankan image.
"Kalau sudah terbiasa, kenapa Mbak masih bisa terjatuh?"
"Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh pula. Jadi, walaupun aku sudah terbiasa menggunakan high heels bukan berarti aku tidak pernah terjatuh," balas Amanda mencari alasan.
"Jadi Mbak ini adalah tupai toh," kata Natasya berpura-pura polos.
Yongki menahan tawa mendengar perkataan Natasya. Dia geli dengan perkataan Natasya. Dari sekian perkataan Amanda, hanya itu balasan Natasya. Dia mengacungkan jempol kepada Natasya dengan bangga atas jawaban Natasya membuat Amanda emosi.
Beda halnya dengan Lutra. Putra malah tertawa dengan keras. Dia bahkan memegang perutnya yang sakit karena tertawa. Pertunjukan yang dia lihat sangat menarik.
"Sial, dia berani mempermalukan aku. Kenapa anak ingusan ini bisa pandai berbicara seperti ini. Aku tidak boleh kalah dari dia.'
"Sudahlah, kalian jangan mempermasalahkan lagi hal tadi," ujar Amanda ingin mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, aku tidak mempermasalahkan lagi," sahut Yongki.
"Aku senang jika istri kamu tidak salah paham," ucap Amanda dengan tersenyum semanis mungkin.
"Iya Mbak, saya juga tidak mungkin salah paham. Saya sangat percaya dengan suami saya sendiri," ujar Natasya dengan menggandeng tangan Yongki.
'Berani-beraninya dia memanasi aku. Awas saja kamu, aku akan membuat kamu lebih merasakan lebih panas daripada sekarang,' batin Amanda berapi-api.
Bersambung….
Kira-kira apa yang akan Amanda lakukan untuk membuat Natasya marah. Apakah rencana Amanda berhasil?
Ayo kita main tebak kan. Prediksi jawaban kalian di kolom komentar ya.
__ADS_1
Rekomendasi novel tamat buat kalian. Silahkan mampir, siapa tahu cocok sama kalian juga.