Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 68 Taktik Rangga


__ADS_3

Rangga terus menunggu Yongki untuk keluar dari restoran agar dia segera bisa dapat uang. Dia tidak mau meminta di rumah. Dia takut ketahuan sama Natasya. Rangga tidak mau hubungan Natasha dan Yongki jadi berantakan. Rangga mau nya hanyalah uang Yongki.


Setelah selesai makan siang, Yongki segera berpamitan dengan Amanda. Amanda dengan segala cara ingin mencegah Yongki pergi. Dia tapi berhasil. Tiba-tiba dia ada sebuah ide yang muncul.


Dengan sengaja Amanda berpura-pura terjatuh dan memeluk tubuh Yongki. Amanda ingin membuat istri Yongki salah paham dengannya. Amanda menggunakan banyak parfum sehingga jika dia memeluk Yongki dengan erat pasti akan tinggal baunya pada badan Yongki.


"Amanda, kamu apa-apaan ini," ucap Yongki dengan segera melepaskan Amanda.


"Maaf Yongki, tadi aku tidak sengaja terjatuh. Untung ada kamu," sahut Amanda.


"Lain kali hati-hati," tegur Yongki yang tidak suka.


"Iya, lain kali aku akan hati-hati sama kamu. Aku pamit dulu ya," ucap Amanda.


Amanda ingin mencium pipi Yongki. Yongki dengan gesit segera menghindar dari Amanda. 


Alarm Yongki berbunyi sehingga sikap refleknya muncul. 


Amanda hanya mencium angin. Ada beberapa orang yang melihat adegan itu menertawakan tingkah tidak malu Amanda.


"Lihat deh perempuan itu."


"Perempuan sekarang tidak tahu malu. Main nyosor aja," terkekeh mereka.


Rangga yang berdiri di luar restoran juga ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat Amanda yang malu dengan ulah sendiri.


"Sepertinya pelet yang Natasya taruh begitu ampuh. Padahal dulu mas Yongki sangat menyukai nenek sihir itu. Sekarang mas Yongki sama sekali tidak melihat nenek sihir itu," guman Rangga.


Rangga dari kecil tidak menyukai Amanda. Amanda sering membuat Yongki menghabiskan waktu bersama dia. Rangga jadi tidak bisa bermain dengan Yongki. 


Amanda bersikap sangat dingin terhadap Rangga. Dia tidak pernah mau bicara sama Rangga jika tidak ada orang. Semua masa lalu membekas di ingatan Rangga.


Amanda yang merasa malu segera pergi dari sana. Dia tidak mau jadi bahan pembicaraan.


'Awas kamu Yongki. Aku janji akan membuat kamu bertekuk lutut padaku lagi seperti saat dulu,' batin Amanda dengan gerak langkah cepat meninggalkan restoran.


Setelah kepergian Amanda, Yongki juga ikut keluar dari restoran. Dia ingin kembali ke kantor. 

__ADS_1


"Asyik nih, yang lagi kencan sama mantannya," ucap Rangga menghampiri Yongki.


"Rangga, apa yang kamu lakukan ini?" tanya Yongki dengan melihat ke sekeliling.


Yongki menghela nafas lega tidak ada Natasya.


"Mas mau cari siapa? Natasya?" tanya Rangga.


"Tidak… kamu kenapa bisa di sini?" tanya Yongki ulang.


"Aku hanya melihat seorang suami yang sedang berkencan dengan mantan istrinya dan mengabaikan istrinya di rumah," ujar Rangga dengan bermain-main manja.


"Apa mau kamu?" tanya Yongki yang sudah tahu bagaimana sifat Rangga.


"Mas tahu saja. Tentu dong aku mau ini," sahut Rangga dengan tersenyum serta menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah digesek kan, pertanda dia meminta uang.


"Tidak ada. Jika kamu belum menyelesaikan tugas, Mas tidak akan kasih kamu uang," balas Yongki.


"Kira-kira... apa kabar ya... jika Natasya mengetahui ini," ucap Rangga berpura-pura sedih. 


"Rangga, kamu jangan macam-macam. Kamu ingin melihat rumah tangga Mas dan teman kamu hancur," tegur Yongki marah.


"Mas tidak kencan sama dia," bantah Yongki.


"Kalau bukan kencan, apa itu... main sapu-sapu bibirlah, pelukan lah," cibir Rangga.


"Itu tidak seperti yang kamu, Rangga," bantah yongki lagi.


"Mas, walaupun Mas adalah abang Rangga. Tapi Rangga tidak suka apa yang Mas lakukan tadi. Natasya itu teman Rangga. Mas jangan sakiti Natasya lagi. Mas harus ingat, jika Mas menyakiti Natasya maka Mas tidak hanya berhadapan dengan Natasya sendiri. Mas juga harus berhadapan dengan mama, papa dan kakek," ujar Rangga dengan serius.


Sekarang tidak ada lagi muka kekanakan pada Rangga. Rangga sudah dalam mode serius. Rangga ingin memperingati Yongki.


"Mas tidak pernah berniat mengkhianati Natasya. Mas tadi sedang melakukan rapat dengan papanya Amanda. Papanya Amanda meninggalkan kami untuk makan siang berdua," terang Yongki.


Rangga percaya apa yang diucapkan Yongki. Dia bisa melihat mas nya yang risih dengan pendekatan Amanda. Mas nya adakah tipe orang yang bisa dipercaya.


"Sepertinya dibalik kerjasama mas sama nenek sihir itu ada udang dibalik bakwan. Kan enak banget makan bakwan sambil merencanakan merusak rumah tangga orang," ujar Rangga berdecih. 

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan bercanda lagi."


"Rangga tidak bercanda Mas. Rangga tidak akan membiarkan Mas menyakiti Natasya," ucap Rangga kembali serius.


Untung saja Yongki sudah tau mana Rangga yang serius dan bercanda. Kalau tidak, tidak ada percaya sama Rangga yang suka iseng.


"Iya, Mas tahu itu. Maksud Mas, kamu jangan lagi mengungkit tentang Amanda."


"Rangga tidak akan mengungkit lagi. Mas cukup berikan Rangga uang tutup mulut," ujar Rangga dengan menengadahkan dua tangannya kepada Yongki.


Yongki diam tanpa merespon apapun. Rangga memutar kan otak supaya tidak hilang kesempatan emasnya.


"Untung saja Rangga yang melihat kejadian tadi. Coba Mas bayangkan jika itu adalah mama," kata Rangga menakuti Yongki.


Yongki langsung merinding seketika membayangkan jika mamanya memergoki dia makan sama Amanda. Bisa jadi tadi di restoran sudah heboh. Mamanya pasti akan langsung melabrak dia dan Amanda. 


"Ayo Mas, bagaimana?" tanya Rangga dengan menaikkan turunkan alisnya.


Akhirnya Yongki mengalah. Dengan terpaksa dia mengambil dompet dan memberikan beberapa uang kepada Rangga.


"Nah gitu dong. Kalau dari tadi kan enak," ucap Rangga dengan menghitung uang yang dia dapatkan.


Rangga sudah seperti rentenir yang sedang menagih hutang. Rangga puas dengan jumlah yang dia dapatkan. Segera uang itu masuk ke dalam dompetnya.


"Mas harap hal ini tidak sampai diketahui sama Natasya," ujar Yongki menatap Rangga.


"Ya iyalah Mas. Siapa juga yang mau kasih tahu sama Natasya," sahut Rangga menepuk dompet yang sudah tebal. 


"Terus buat apa kamu mengancam Mas?" tanya Yongki menaikkan sebelah alisnya.


"Rangga itu hanya mau uangnya Mas. Terima kasih banyak ya Mas," ujar Rangga dengan sikap hormat.


Setelah itu Rangga segera kabur dengan langkah seribu dari sana sebelum Yongki meminta uangnya kembali.


"Dasar anak itu. Benar-benar mata duitan," guman Yongki menggelengkan kepalanya.


"Padahal kalau dia kerja bisa dapat uang lebih banyak. Dia bisa membeli apapun tanpa takut tidak ada uang. Ini malah takut untuk bekerja. Zaman sekarang tidak ada yang gratis di dunia. Parkir sedetik aja juga bayar."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa komentar buat kasih semangat ya. Semakin banyak komentar semakin saya semangat up.


__ADS_2