Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 60 Tidak Jadi Pindah


__ADS_3

"Ma, Yongki berniat untuk pindah dari sini bersama Chacha beberapa hari lagi," ujar Yongki. 


Melisa menjatuhkan sendok yang dia pegang. 


"Apa kata kamu?" tanya Melisa yang mengira jika dia salah mendengar.


"Mama tidak salah dengar. Yongki berencana untuk segera pindah ke rumah milik kami berdua. Yongki sudah jauh-jauh hari membeli sebuah rumah yang dekat dengan kampus Chacha," ulang Yongki.


"Tidak, Mama tidak akan pernah setuju!" teriak Melisa.


"Ma sabar," tegur Hartato.


"Bagaimana Mama bisa sabar Pa. Papa dengar sendiri, Yongki mau membawa kabur anak Mama. Mama tidak mau, Mama menolak," sahut Melisa.


"Ma, kami berdua sudah menikah. Jadi sudah seharusnya jika kami berdua tinggal di rumah sendiri," jawab Yongki memberi pengertian.


"Tidak, pokoknya Mama tidak setuju sampai kapan pun. Jika kamu mau pindah, sana silahkan kamu pindah sendiri. Kamu jangan harap bisa bawa anak Mama," usir Melisa sambil memeluk Natasya posesif.


"Ma, Chacha itu istrinya Yongki. Jadi wajar jika yongki membawa Chacha bersama Yongki," sahut Yongki.


"Jika kamu berani membawa kabur anak Mama, maka Mama tidak akan segan-segan melaporkan kamu kepada polisi," ancam Melisa. 


'Melaporkan polisi? Yang ada Mama malah ditertawakan polisi. Kami/mereka sudah menikah Ma,' batin Yongki dan Hartato. 


'Pagi-pagi begini aku sudah melihat drama iklan terbang secara live. Sayang tidak ada kerupuk, kalau ada kerupuk pasti lebih seru nontonnya,' batin Rangga dengan terus sarapan sambil memperhatikan drama dadakan yang terjadi di depan matanya.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu mau mengatakan Mama bodoh?" tuduh Melisa. 


"Tidak Ma, bukan seperti itu," kata Yongki dengan menggelengkan kepala.


"Apanya yang bukan. Jika kamu masih nekad juga, Mama tidak akan pernah menganggap kamu sebagai anak Mama lagi," ucap Melisa. 


"Mama tidak baik berkata begitu," tegur Hartato pusing dengan obsesi Melisa.


"Tapi Pa, Mama tidak rela jika Yongki memisahkan Mama sama anak Mama. Mama sudah lama menginginkan seorang anak perempuan. Sekarang saat Mama sudah mempunyai anak perempuan, malah mau Yongki mau merebut Chacha dari Mama," ujar Melisa sedih. 


"Ma, nanti Chacha dan Yongki bisa berkunjung kesini. Mama juga bisa bermain ke sana," sahut Yongki.

__ADS_1


"Pokoknya Mama tetap tidak setuju," tolak Melisa. 


Natasya hanya bisa diam mendengar perdebatan di antara Yongki dan Melisa. Natasya tidak tahu harus membela siapa. Natasya sudah terlalu nyaman bersama dengan kasih sayang yang diberikan sama Melisa. Natasya sudah menganggap Melisa sebagai ibunya sendiri. 


Tapi di satu sisi dia sudah menjadi istri Yongki. Sehingga Natasya harus mengikuti bagaimanapun keputusan yang dibuat sama Yongki. Apalagi keputusan Yongki berniat baik.


Dari tadi Rangga dengan cuek memperhatikan perdebatan antara Melisa dan Yongki ambil terus makan. Perdebatan seperti ini sudah biasa Rangga tonton sejak dulu. Walaupun topik yang dibahas selalu berbeda. 


Rangga tidak mau pusing membela siapapun. Jika Rangga membela Yongki maka Melisa akan marah juga kepadanya. Dan jika Rangga membela Melisa maka dia tidak akan mendapat jajan dari Yongki lagi. Rangga tidak mau Yongki tidak memberinya jajan lagi. Jadi Rangga memilih aman. 


Rangga juga sudah yakin siapa yang akan menang dalam sesi debat Melisa vs Yongki ronde yang kesekian kali, pasti yang menang adalah mamanya. mamanya memiliki seribu satu cara untuk mematahkan pendapat orang lain.


"Jika kamu masih tetap ngotot ingin membawa nak Chacha pergi dari sini, Mama juga akan ikut pindah bersama kalian," putus Melisa untuk terakhir kali.


Natasya malai kasihan melihat Melisa yang begitu sayang padanya. Natasya yakin jika Natasya adalah perempuan  paling beruntung di dunia karena memiliki mertua seperti Melisa. Melisa lebih menyayangi dia daripada anak kandung sendiri.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita pindah nanti dulu. Bukannya Chacha tidak mau pindah dan mengikuti perkataan Mas, tapi Chacha kasihan sama Mama. Chacha sayang kepada Mama Melisa," bujuk Natasya.


Melisa senang Natasha mau membelanya. Melisa. Melisa seperti di bawah terbang tinggi. Melisa tidak peduli jika Yongki dan Rangga pergi, tapi tidak dengan Natasya. 


"Ma!" teriak mereka semua.


Hartato segera menangkap tubuh Melisa yang menghantam lantai. Melisa  memegang kepalanya yang terasa pusing. Melisa tidak ada tenaga lagi untuk berdiri.


Hartato membimbing Melisa untuk duduk kembali di kursi.


"Ma, Mama tidak apa-apa?" tanya mereka cemas.


"Mama tidak setuju Chacha pergi," sahut Melisa tidak nyambung.


"Ma, Mama jangan terbawa emosi lagi. Kemarin dokter sudah memperingatkan Mama agar Mama banyak istirahat," ujar Hartato.


"Apa maksud perkataan Papa?" tanya Yongki mewakili Natasya.


"Yongki, tiga hari yang lalu Mama sempat dirawat di rumah sakit. Mama sering kali melewatkan waktu makan. Mama kamu sangat rindu kepada Chacha karena tidak melihat," terang Hartato.


"Bahkan Mama hampir menyusu kalian pergi bulan madu. Untung saja Mama berubah pikiran setelah dibujuk sama Papa," sambung Rangga.

__ADS_1


"Mama tidak apa-apa sayang. Mama hanya rindu sama kamu," kata Melisa lemah sambil menggenggam tangan Natasya.


Natasya semakin tidak tega meninggalkan Melisa. Kasih sayang Melisa melebihi seorang ibu kandung pada umumnya. 


"Mas," panggil Natasya sambil memohon pada Yongki supaya dia bisa menunda dulu permintaan. 


"Baiklah Ma, Yongki tidak akan membawa Natasya sekarang. Kapan-kapan saja kami pindahnya. Sekarang Mama jaga kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran," ujar Yongki mengalah.


Yongki tidak tega jika melihat Melisa sakit seperti ini. Yongki mengenal Melisa sebagai sosok yang kuat. Tidak lemah seperti ini.


"Mama senang mendengarnya," ucap Melisa dengan suara yang lemah dan mengecup tangan Natasya berkali-kali.


"Sekarang Mama lebih baik istirahat saja," bujuk Hartato.


Melisa mengangguk kepala. Sekarang tidak ada lagi yang memisahkan dia sama Natasya. Masalah mereka akan pergi a nanti, nanti akan Melisa pikirkan. Sekarang Melisa sangat pusing.


Melisa dan Hartato berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruang makan. Hartato membawa Melisa ke dalam kamar.


"Tuh kan benar sesuai dugaan aku. Pasti mama yang menang," kata Rangga dengan menyuapkan suapan sarapan yang terakhir.


Yongki mengabaikan perkataan Rangga. Yongki melihat jam di pergelangan tangannya. Yongki sudah sedikit terlambat ke kantor.


"Chacha, Mas juga harus segera berangkat ke kantor. Apa kamu mau berangkat bareng Mas?" tanya Yongki.


"Mas pergi duluan saja biar tidak terlambat. Nanti Chacha pergi sama Rangga. Apalagi Rangga dan Chacha satu ruangan," sahut Natasya. 


"Baiklah kalau begitu. Mas pergi sekarang ya. Kamu teruskan saja sarapan paginya. Mas sudah selesai makan," ujar Yongki.


"Baik Mas," jawab Natasya. 


Natasya segera menyelami tangan Yongki sebelum pergi. Yongki membalas dengan mengecup sekilas kening Natasya. Kemudian Yongki pergi dari sana. 


Bersambung....


Terima kasih yang mau menunggu novel ini. Mulai sekarang novel ini akan rajin up karena yang sebelah sudah tamat. Saya usahakan up sehari sekali. Jadwal up tidak menentu, tapi saya sering ngetik malam (malam idenya lebih lancar). Jika siang sempat ngetik dan lancar ide maka akan saya up. Terima kasih.


Jangan lupa like, komentar dan vote ya.

__ADS_1


__ADS_2