Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 64 Rangga Juga Mau


__ADS_3

Pada waktu sore hari, Natasya menemani Melisa dan Hartato minum teh di ruang keluarga. Mereka menikmati teh dengan menonton televisi. Melisa sedang fokus menonton tentang seorang chef yang ingin membuat cheese cake. Chef baru saja membahas apa yang akan dibuat.


Chef tersebut terkenal dengan membuat dessert dessert yang sangat menggugah selera. Biasanya dessert tersebut akan dijual keesokan harinya. Sistem penjualannya siapa cepat dia yang dapat. Banyak orang yang mengantri untuk membeli.


Melisa termasuk salah satu orang yang selalu ingin membeli dessert tersebut. Melisa tidak mau kalah sama kawan-kawannya. Mereka juga menginginkan buatan chef ternama tersebut. Chef itu hanya akan membuat beberapa potong dessert khusus agar pembelinya semakin berminat.


Di sana juga sudah ada Rangga yang pulang dari kampus. Rangga juga baru pulang makanya ada di sana.


Yongki memasuki ke dalam rumah dengan langkah pelan. Yongki bisa mendengar suara televisi yang menyala.


"Kalian di sini semua. Pantesan tadi tidak ada yang menjawab," kata Yongki sesudah berada di dekat mereka.


"Mas sudah pulang," ujar Natasya. 


Natasya mendekat ke arah Yongki. Natasya mengambil tas dan juga jas yang dipegang oleh Yongki. Natasya juga ikut mengambil paper bag.


Yongki tanpa segan dan malu mencium kening Natasya sekilas. Seperti yang biasa Hartato lakukan kepada Melisa sehabis pulang kerja. 


"Mas," tegur Natasya malu.


 Natasya sangat malu dilihat sama yang lainnya. Melisa dan Hartato memaklumi pasangan baru. Beda dengan Rangga yang menatap kesal sambil makan kacang. 


Sedangkan Yongki tidak peduli sama sekali. Yongki malah memeluk Natasya dengan erat. Kemudian Yongki membawa ke arah sofa. Natasya hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan jas punya Yongki.


"Bagaimana? Enakan kalau sudah menikah. Bisa peluk dan cium sepulang kerja," canda Melisa. 


"Uhuk uhuk," Yongki hanya berpura-pura batuk mendengar perkataan Melisa.


"Dulu saat Mama suruh kamu nikah kamu tidak mau. Untung kali ini kamu tidak menolaknya. Kalau tidak kamu pulang hanya bisa memeluk bantal guling buat menemani hidup kamu yang menjomblo terus," sindir Melisa kepada Yongki.


Yongki hanya bisa membalas dengan senyuman. Yongki beruntung dulu menolak gadis yang lain. Kalau tidak dia tidak mungkin menikah sama Natasya. 


Natasya sendiri sudah biasa melihat Melisa yang kadang judes sama yang lain. Melisa selalu lembut kepada Natasya.


Tapi kali ini sasaran sindir Melisa salah sasaran. Melisa menyindir Yongki tapi malah Rangga yang ke sindir. Rangga jadi ingin segera menikahi Angel juga. Tapi dia belum punya masa depan untuk diberikan sama Angel. 


"Apa Mama tidak pernah bosan melihat acara itu?" tanya Hartato.


"Kenapa Mama harus bosan. Papa jika ingin melihat berita baca di koran atau menonton di kamar saja. Sekarang waktunya Mama menonton," sahut Melisa. 


"Tidak, Papa hanya bertanya saja," sahut Hartato berbohong. 

__ADS_1


Tadi Hartato memang berniat mau menonton berita. Hartato tidak mau menonton di kamar. Menonton di kamar sendiri tidak seru. Tidak ada kawannya.


"Kenapa Mama tidak menyewa chef itu menjadi koki Mama saja? Mama kan bisa menyewa dia. Tidak perlu Mama repot-repot beli lagi," tanya Yongki.


"Mama sudah pernah coba Yongki. Chef itu tidak mau. Mama sudah coba berbagai cara. Mama juga bilang akan bayar dia dengan harga mahal dan membuka toko khusus buat dia sendiri tetapi dia tidak mau. Dia lebih suka bekerja sendiri. Bahkan Mama harus bersaing dengan teman Mama dan lainnya untuk menikmati dessert punya dia," ujar Melisa sebal.


Natasya hanya tersenyum mendengar obrolan Yongki dan Melisa. Natasya tidak menyangka jika Melisa berniat mendirikan toko dessert hanya karena dia menyukai dessert buatan chef tersebut. Natasya tidak bisa membayangkan apalagi yang bisa mereka beli dengan uang mereka.


"Mas, apa yang Mas Yongki bawa itu?" tanya Rangga melihat Yongki membawa pulang paper bag.


"Oh ini, ini tas," sahut Yongki mengambil paper bag yang Natasya letakkan di samping mereka.


"Apa tas itu buat Rangga?" tanya Rangga senang.


"Bukan, ini bukan buat kamu. Ini buat Chacha. Chacha, ini buat kamu," kata Yongki menyerahkan tas itu kepada Natasya.


Natasya menerima tas pemberian dari Yongki.


"Terima kasih Mas," ucap Natasya.


"Iya sayang, sama-sama," balas Yongki. 


"Terus untuk Rangga mana," tuntut Rangga. 


"Mas tidak adil. Dulu Mas selalu beli buat Rangga. Sekarang Mas pilih kasih," kata Rangga tidak terima. 


"Kamu ini sudah kuliah masih seperti bayi. Chacha itu istrinya Yongki, wajar dia beli untuk Chacha. Mau mas mu ini membelikan sebuah pabrik tas pun itu tidak masalah. Itu Hak Natasya. Sekarang uang mas Yongki itu uang Natasya juga," sahut Melisa.


"Tapi aku ini adiknya mas Yongki," balas Rangga. 


"Kamu ini masih saja suka merengek. Apa mau kamu Mama masukin ke perut lagi. Dasar tidak tau umur," sindir Melisa.


Rangga cemberut. Semuanya pilih kasih bagi Rangga. Rangga kan juga ingin di manja. Maksudnya di beli ini itu.


Natasya jadi tidak enak sama Rangga. Natasya seperti merebut perhatian yang lain dari Rangga.


"Sudah, kamu jangan dengarkan Rangga. Dia sudah punya banyak tas di kamar," ujar Yongki mengusap kepala Natasya.


"Benar apa yang dikatakan sama Mas Yongki. Kamu abaikan saja si Rangga. Rangga itu sama monyet dikasih pisang saja juga cemburu," sambung Melisa.


"Sekalian saja bilang aku mirip sama monyet," kata Rangga sebal dengan mengunyah kacang secara kasar. 

__ADS_1


"Nah itu kamu sadar sendiri jika wajah kamu mirip monyet," sahut Melisa. 


"Mama!" teriak Rangga tidak terima. 


"Ayo sayang, dibuka tasnya. Mama mau lihat bagaimana tas yang dibelikan oleh Yongki. Tas yang dipilih Yongki dulu sangat norak," kata Melisa dengan jujur. 


Dulu pernah sekali Yongki membeli tas buat Melisa. Sampai sekarang Melisa tidak pernah memakai tas itu sekalipun. Karena dari warna dan motifnya sangat jauh dari selera Melisa. Melisa bahkan tidak habis pikir sama desainer yang membuat tas dengan corak seperti itu. Kalau bukan pemberian Yongki mungkin sudah Melisa buang jauh-jauh hari.


Yongki hanya bisa diam. Yongki memang tidak tau sama sekali masalah model. Sejak saat itu Yongki memilih memberikan kartu kredit daripada salah membeli lagi. Biar Mama nya sendiri yang pilih sesuka hati.


Natasya mengeluarkan tas tersebut. Di mata Natasya tas itu sangat cantik. 


"Bagaimana?" tanya Yongki.


"Cantik Mas, Chacha suka. Terima kasih," ucap Natasya sekali lagi.


"Tumben kamu belinya bagus. Kalau buat sang istri tahu saja mana yang bagus. Pasti ini bukan kamu yang pilih kan?" tuduh Melisa.


"...."


"Kamu tidak usah basa-basi atau berbohong sama Mama. Mama sudah tahu apa yang mau kamu jawab," potong Melisa sebelum Yongki menjawab.


"Chacha tidak masalah jika ini bukan Mas yang  pilih sendiri. Mas Yongki sudah beli buat Chacha saja, Chacha sudah senang kamu," sahut Natasya.


"Kamu memang istri yang bisa menyenangkan suami," puji Melisa.


"Jadi ini beneran Rangga tidak dibelikan. Kalau tidak ada sekarang besok boleh juga," kata Rangga menawar.


Rangga bisa menebak harga tas itu dari merk yang ada. Rangga tahu jika Natasya tidak akan tahu berapa harga tas itu. Jika tas itu seharga rempeyek di kaki lima Rangga tidak akan masalah. Tapi masalahnya tas itu lumayan mahal, jadi Rangga juga mau, setidaknya jika Rangga jual kembali maka Rangga masih ada untung. 


"Kamu kalau mau makanya kerja," sahut Yongki.


"Tapi Mas…." 


"Sudah jangan ribut lagi. Sekarang acara Mama mau dimulai. Awas saja jika Mama lewat menonton sedikit pun," kata Melisa dengan tegas.


Rangga segera pergi dari sana dengan menghentak kaki. Gagal sudah rencana Rangga buat dapatkan tas atau uang. Rangga mau menunggu Yongki di depan kamar saja.


Bersambung....


Rekomendasi karya teman author juga ya. Silahkan mampir.

__ADS_1



__ADS_2