Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 84 Tipuan Safira


__ADS_3

Setelah melihat ekspresi Safira, Bimo jadi segan untuk berkata lagi sama Safira. Tadi dia tertegun melihat titik lemah Safira sesaat . Andai saja jika dia nekad bertanya lagi, pasti dia akan melihat Safira dalam titik lemah lebih lama lagi. Bimo memutuskan untuk segera makan. 


Bimo menatap meja sekilas. Meja sudah penuh dengan makanan-makanan yang dipesan oleh Safira yang tidak tanggung-tanggung. Makanan hampir menguasai seluruh meja. 


Bimo telah menyelesaikan sebagian makanannya. Sedangkan Safira sudah selesai sepertiga. Bimo tidak menyangka jika Safira akan makan banyak.


"Ternyata nafsu makan kamu tidak jauh beda dengan Herry," ujar Bimo dengan makan pelan.


"Iya dong, kan Herry sama aku sepupuan," sahut Safira tanpa sadar.


"Jadi Herry sepupu kamu?" tanya Bimo.


Bimo marah. Dia merasa dipermaikan oleh Safira.


Sedangkan Safira membeku. Dia baru ingat apa yang dia katakan. Dengan pelan dia memukul mulutnya yang lancang. 


'Kenapa aku bisa keceplosan sih,' batin Safira mendumel sendiri. 


"Jadi kamu yang bertunangan dengan Herry juga kebohongan? Kamu bohong sama aku dan Melati begitu" tanya Bimo dengan ekspresi marah.


"Kamu jangan ngaco deh. Siapa bilang aku berbohong. Sekarang sepupu bisa menikah. Apalagi kami sepupu jau… uh dari pihak ibu, bukan pihak ayah. Jadi masih wajar-wajar saja jika kami bertunangan," sahut Safira tanpa kebohongan. 


"Apa tidak ada lelaki lain di dunia ini? Kenapa harus Herry sepupu kamu sendiri?" 


"Terserah orang tua kami dong. Orang tua kami yang mengutusnya. Kami sudah di tunang kan sejak kecil," ucap Safira.


Kali ini Safira juga tidak berbohong. Memang benar kalau saat mereka kecil orang tua mereka bercanda akan menjodohkan Herry dan Safira. Tapi itu hanyalah sebatas guyonan karena melihat Safira yang terus mengganggu Herry, bukan serius. Jadi satu sisi Safira tidak sepenuhnya berbohong.


'Yup… yang aku katakan tidak salah.'


"Sudahlah, semuanya tidak penting. Pokoknya aku ingin kamu jangan dekat-dekat lagi sama Herry," paksa Bimo.


"Memangnya kamu siapa, berani menyuruh-nyuruh aku," tantang Safira.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menjauh dari Herry?" tanya Bimo yang sudah lelah menghadapi Safira yang dari tadi berputar-putar terus.


Ini dia yang diharapkan Safira. Dia sudah mendapat pancingan yang besar. Sudah dari tadi Safira menunggu perkataan ini. Safira meletakkan kembali sendok dan garpu nya.


"Kamu yakin akan menuruti semua permintaan aku jika aku menjauhi Herry? Karena aku tidak mau rugi begitu saja. Ini juga bisa mencemarkan nama baik aku," ujar Safira sebagai korban pemerasan. 

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"  


"Kamu kan meminta aku menjauhi Herry. Otomatis kami harus punya alasan agar kami bisa putus. Akan aneh jika kami putih tanpa sebab," ucap Safira menyedot minuman. 


"Masuk akal juga perkataan kamu," kata Bimo setuju dengan pendapat Safira. 


"Jadi sebagai konsekuensinya, aku ingin kamu menjadi pacar aku," ucap Safira mencari kesempatan dalam kesempitan. 


'Ah... tidak dapat helikopter (nama panggilan Herry semasa kecil), pesawat pun jadi. Tidak mungkin aku melewatkan kesempatan ini. Nanti aku bisa memanfaatkan Bimo menemani aku belanja dan jalan-jalan. Sebelum dia punya pacar aku akan terus mengganggu dia,' batin Safira kesenangan. 


"Apa! Safira, kamu jangan gila ya!" bentak Bimo kaget dengan permintaan Safira. 


"Aku tidak mau menjadi pacar kamu," sambung Bimo. 


"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Aku juga tidak mau putus sama Herry," sahut Safira tanpa beban.


"Apa tidak ada tawaran lain yang masuk akal?" tanya Bimo tidak mau kalah. 


"Kan tadi aku sudah bilang, aku butuh alasan buat putus dengan Herry. Jadi dengan ada kamu sebagai pacar aku, maka nanti aku akan katakan kepada orang tua kami jika aku punya lelaki lain yang aku cintai. Orang tua kami pasti akan setuju membatalkan pertunangan kaki," kata Safira beralasan.


"Kenapa lelaki itu harus aku? Kenapa kamu tidak cari jawab lain saja," tawar Bimo.


Bimo menimbang dulu mana yang harus dia pilih. Jika dia menolak maka melati akan terus menangis. Jika dia menerima tawaran Safira, dia merasakan firasat buruk akan terjadi padanya.


"Oke baiklah, aku setuju," final Bimo.


'Sekarang aku setujui saja. Nanti kalau hubungan Melati dan Herry sudah baikan, aku bisa membatalkan tawaran Safira. Kamu harus Bisa bertahan beberapa hari Bimo. Ini demi kebaikan Melati. Awas saja jika Herry masih mengulur waktu untuk berpacaran sama Melati. Akan aku ikat dia di pohon toge.' 


"Nah gitu dong," ucap Safira.


Safira tertawa kesetanan di dalam hati. Sekarang dia bisa pergi bebas kapan saja. Tidak pusing lagi memikirkan orang yang bisa dia ajak kemanapun.


"Karena kesepakatan sudah selesai, aku pulang duluan. Kamu teruskan saja makan nya. Nanti makanannya akan aku bayar duluan," kata Bimo pamit pergi. 


"Apa? kamu mau pulang tinggalin aku sendiri?" tanya Safira tidak percaya ditanggalkan begitu saja. Habis manis, Safira ditinggalkan.


"Iya, aku akan mengabarkan berita ini kepada Melati secepatnya. Biar dia tidak sedih lagi," sahut Bimo yang sudah berdiri.


"Aku tidak mau kamu tinggalkan begitu saja. Mana ada seorang pacar yang meninggalkan pacarnya yang sedang makan," sindir Safira. 

__ADS_1


"Kan kita hanya pacar bohongan," bantah Bimo. 


"Walaupun cuma bohongan, kita juga perlu berlatih untuk kekompakan," kata Safira beralasan.


"Sana kamu lanjut makan, biar kita segera pergi," kata Bimo mengalah. 


"Tenang dong, aku tidak mungkin makan dengan cepat-cepat. Nanti perut aku sakit."


"Makanya, kalau pesan makan jangan yang banyak. Badan segede itu mana sebanding dengan makanan yang kamu pesan."


"Kali kamu mau, kamu bisa bantu aku menghabiskan nya kok." 


"Tidak, aku tidak selera. Melihat kamu makan saja aku sudah kenyang," tolak Bimo.


"Ya sudah kalau tidak mau," sahut Safira acuh. 


Beberapa menit berlalu dengan kesunyian. Safira fokus dengan makan dengan begitu pelan. Bimo sudah mulai curiga, dia yakin jika Safira tadi makan dengan sangat cepat, tidak seanggun sekarang. Dia tetap diam saja menunggu Safira selesai makan. 


"Jadi apa kegiatan kamu sehari-hari?"


"Buat apa kamu tanya-tanya?" 


"Sebagai pacar yang baik aku harus tahu dong apa kebiasaan kamu, kesukaan kamu. Kalau tidak, nanti aku harus jawab apa jika orang tuaku bertanya?" 


Bima kesal sebentar. Tetapi ujung-ujungnya dia menjawab semua pertanyaan yang diajukan Safira. Safira menanyakan semua kepribadian ataupun apa yang dilakukan oleh Bimo. Sesekali Bimo juga melemparkan pertanyaan kepada Safira. 


Sore itu merupakan sore yang sangat menyenangkan bagi Safira. Safira tidak pernah sesenang itu ketika berjalan dengan teman manapun, termasuk Herry. Berbicara sama Bimo sangat seru dan nyambung.


Tidak salah jika Safira menangkap ikan besar ini. Safira menguatkan diri jika dia tidak akan melepas tangkapan kali ini. Dia akan membuat Bimo terus di samping dia.


***


Tempat lain.


"Herry kamu kenapa sayang?" tanya mama Herry.


"Tidak tahu Ma. Tiba-tiba Herry merinding," sahut Herry.


"Apa AC nya terlalu rendah ya. Ya sudah, Mama naikkan suhunya."

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2