
"Chacha sayang! Chacha anak Mama," panggil Melisa di luar kamar Yongki dengan keras.
Ketika Yongki ke luar dari kamar, Melisa langsung mendekat dengan cepat.
"Yongki, apa kamu melihat anak Mama? Apa dia ada di kamar? Tadi Mama sempat lihat dia sudah pulang? tanya Melisa menggebu-gebu.
"A.…"
"Mama ingin mengajak dia minum teh sore. Mama ingin habiskan waktu sore dengan anak Mama. Mama sudah menyiapkan tah dan juga beberapa snack," sambung Melisa tanpa memberikan Yongki kesempatan berbicara.
Yongki menghela nafas sebentar. Kemudian Yongki melirik antara Melisa dan kamar Mereka. Melisa tidak ada obat jika menyangkut Natasya.
"Kenapa kamu diam? Mana anak Mama?" tanya Melisa lagi.
"Ma, saat ini Chacha sedang tidur," sahut Yongki apa adanya.
"Tidur?" ujar Melisa mengernyitkan alisnya.
"Tumben anak Mama tidur jam segini."
"Mungkin Chacha sangat lelah hari ini, Ma. Jadi Yongki biarkan dia tidur sebentar. Nanti akan Yongki bangunkan sebelum gelap."
"Anak Mama pasti sangat capek. Ya sudahlah, Mama minum teh sendirian saja. Tidak mungkin juga Mama mengganggu tidur anak Mama," kata Melisa mengalah.
"Iya, Ma."
"Terus, kamu mau kemana bawa laptop dan berkas?" tanya Melisa kembali setelah melihat tangan Yongki penuh dengan barang.
"Yongki mau melanjutkan kerja di ruang kerja, Ma. Yongki tidak mau mengganggu tidur Chacha," sahut Yongki.
"Kamu ini ya…. Kerja! Kerja! Kerja terus yang diurus! Kapan kamu akan memikirkan kapan kamu akan memberikan Mama seorang cucu. Ingat ya, Mama membiarkan kamu menikah dengan Chacha agar kalian bisa memberikan Mama seorang cucu. Mama ingin cepat-cepat punya cucu," kata Melisa dengan panjang kali lebar.
Yongki lelah mendengar permintaan sang Mama. Menghadapi proyek belasan lebih mudah menghadapi Melisa.
"Ma, mungkin sekarang belum waktu yang tepat. Jika kami sudah ditakdirkan, pasti kami akan dikaruniai anak, Ma," jawab Yongki dengan halus.
"Kapan waktu tepatnya? Apa kamu tahu…."
__ADS_1
"Yongki, ternyata kamu di sini nak. Papa dari tadi mencari kamu," kata Hartato memotong perkataan Melisa.
"Iya Pa."
"Itu ada klien yang menelepon Papa. Dia mencari kamu. Ada hal penting yang perlu dibahas sama kamu," tambah Hartato.
"Siapa Pa? Kenapa tidak langsung menelepon Yongki?" tanya Yongki kebingungan.
Melisa berhenti mendesak Yongki. Melisa menunggu sang suami selesai bicara. Takutnya ada hal yang sangat penting.
"Itu... kamu pergi saja ke ruang Papa. Kami barusan teleponan," usir Hartati.
Hartato memberikan kode kepada Yongki untuk segera pergi dari sana tanpa sepengetahuan Melisa. Hartato kasihan sama Yongki yang sering disudutkan oleh sang istri.
Yongki pertama-tama sedikit curiga dengan tingkah Hartato. Tapi setelah Hartati memberikan kode, baru Yongki paham.
*Baiklah Pa, Yongki akan segera ke sana. Tidak baik membiarkan klien menunggu lama," sahut Yongki mengikuti akting Hartato.
Yongki segera pergi dari sana. Dia bersyukur papa nya mau membantu dia lari dari sang Mama.
"Yongki… tunggu dulu. Mama belum selesai berbicara," teriak Melisa tidak terima dengan kepergian Yongki.
Bisa gawat jika Melisa tahu jika dia berbohong. Bisa-bisa dia tidur di luar.
"Pa, Mama belum selesai bicara sama Yongki. Urusan Mama lebih penting sekarang. Kita tidak masalah kehilangan beberapa proyek, asalkan kita tidak boleh kehilangan kesempatan punya cucu segera," kata Melisa memberontak dari Hartati yang menahannya.
"Ma, apa Mama sadar apa yang Mama katakan?" tanya Hartato.
"Pa, Mama sadar apa yang Mama katakan. Apa Papa pikir Mama ini tidak waras. Kita tidak akan jatuh hanya karena kehilangan beberapa proyek. Anggap saja kita bersedekah untuk perusahaan lain," balas Melisa.
"Bukan begitu maksud Papa, Ma."
"Terus apa lagi maksud Papa?" tanya Melisa yang sudah lelah melawan Hartato untuk mengejar Yongki.
"Sekarang Papa ingin bertanya sama Mama."
"Tanya ya tanya aja Pa. Tidak perlu pakek banyak drama," respon Melisa.
__ADS_1
Hartato menepuk jidat dengan lidah Melisa. Lidah Melisa sangat pedas, sepedas bon cabe. Dia menghela nafas sebentar sebelum bertanya. Menghadapi Melisa butuh kekuatan iman yang kuat. Seperti saat dia mendekati Melisa dulu.
"Yang ingin Papa tanyakan adalah... kenapa Mama tidak membiarkan Yongki dan nak Chacha pindah ke tempat tinggal mereka sendiri?"
"Yang benar saja Pa. Mana mungkin Mama membiarkan mereka tinggal berdua. Pa, Chacha itu anak Mama, mana mungkin Mama ikhlas membiarkan Chacha dibawa pergi dari rumah ini. Kalau Yongki masih mau pindah, biarkan saja dia pindah sendiri," sewot Melisa tidak suka.
Melisa membayangkan saja sudah ngeri, apalagi jika hal itu menjadi kenyataan.
"Kalau begitu yang Mama harapkan, maka Mama yang sabar ya," kata Hartato dengan muka penuh kasihan.
"Apa maksud perkataan Papa? Kenapa muka Papa rasanya ingin bertemu sama tangan Mama?" tanya Melisa tersinggung.
Hartato mengelus dada biar tidak emosi.
'Istri aku memang paling unik' batin Hartato ikhlas menerima sifat Melisa.
Hartato kembali membuat muka seperti biasa. Dia tidak akan berani menantang Melisa. Apa yang dikatakan Melisa tidak pernah bercanda jika lagi serius. Hartato tidak mau mendapatkan cap merah di pipinya.
Hartato kemudian melihat ke kiri dan ke kanan sebentar. Dia ingin memastikan jika tidak ada orang. Sesudah dipastikan tidak ada orang, Hartato membawa istrinya ke kamar. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang ingin dia katakan di depan kamar Natasya. Dia takut jika ada yang dengar.
"Pa, apa yang mau Papa lakukan. Lepaskan Mama," kata Melisa.
Melisa kembali berontak. Dia tidak mau ditarik begitu saja. Apalagi dia masih menunggu penjelasan dari kelanjutan pembicaraan Hartato tadi. Melisa tidak suka dengan apa yang dilakukan Hartato sekarang.
"Sudah, Mama ikut sama Papa saja," kata Hartato mengabaikan Melisa.
Hartato membuka pintu dengan cepat. Setelah mereka berada di kamar, Hartato menutup pintu kamar kembali.
"Pa, Papa kenapa sih bawa Mama ke kamar segala. Mana pintu pakek dikunci segala. Pa, Mama masih mau bicara sama Yongki, Mama…."
"Mama mau cucu kan?" tanya Hartato.
"Kalau Papa sudah tahu, Papa jangan halangi Mama.Papa minggir, Mama mau bicara lagi sama Yongki," ujar Melisa mendorong Hartato yang menghalangi pintu.
"Maka dari itu, Papa ajak Mama bicara di kamar. Jadi tidak ada orang yang akan dengar suara kita," ujar Hartato dengan suara kecil. Seakan-akan akan ada orang yang mendengar suaranya.
"Pa, apa maksud Papa. Apa jangan-jangan Papa mau punya…." kata Melisa kehabisan kata-kata
__ADS_1
Kira-kira apa yang mau dikatakan Hartato kepada Melisa? Kenapa Hartato lebih memilih berbicara di kamar daripada tempat tadi? Padahal mereka lagi membahas tentang seorang Cucu.
Bersambung....