Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 91. Dilema Rangga


__ADS_3

Pada hari Minggu, sesuai janjian mereka, Angel akan belajar memasak pada Natasya. Angel sudah dalam perjalanan menuju ke rumah Natasya. Dia sudah tidak sabar untuk belajar memasak lagi. Sedangkan Natasya menunggu Angel di ruang tamu sambil menemani Yongki yang sedang membaca koran. 


"Kamu tidak pergi kemana-mana, Natasya?" tanya Rangga yang baru turun dari tangga.


"Tidak, hari ini aku sudah janjian sama Angel buat ngajarin dia masak," sahut Natasya.


"Yang bener? Serius?" tanya Rangga tidak percaya.


"Iya, buat apa aku berbohong."


"Tumben aja dia mau belajar masak. Kayaknya dunia lagi tidak baik-baik saja, nih," ucok Rangga masih tidak percaya. 


"Kamu jangan begitu, Rangga. Kalau Angel dengar, nanti dia bisa tersinggung," tegur Natasya. 


"Aku bukan bermaksud mau menyindir Angel, tapi kemampuan Angel berbanding terbalik dengan kamu Natasya. Kalau dia sudah masuk ke dapur, dia bisa menghancurkan apa saja. " 


"Kalau diawasi, pasti akan baik-baik saja." 


"Pokoknya, kamu harus mengawasi dia. Jangan oleng sedikitpun, ok. Oleng sedetik dapur bisa meledak," ujar Rangga dramatis.


"...." Natasya memilih diam dan tidak merespon perkataan Rangga. Rangga terlalu berlebihan. 


Rangga jadi kikuk sendiri karena Natasya tidak merespon nya. Dia menatap Natasya dan mas Yongki yang mengabaikan dia.


'Apa mereka nggak percaya apa yang aku omongin ya. Mending aku pergi sajalah. Aku cari aman saja,' batin Rangga.


"Ya sudah lah, aku mau pergi jalan-jalan sama Dimas dan Bimo saja," pamit Rangga. 


"Kamu mau pergi?" 


"Iya, lagian aku tidak mau jadi sasaran Angle kalau dia menghancurkan dapur. Bisa-bisa aku nanti jadi sasaran kesalahan oleh Mama. Kan mama tidak mungkin nyalahin kamu," ujar Rangga.


Rangga langsung merinding membayangkan mamanya akan marah. Dia dengan cepat kembali ke kamarnya tanpa buang waktu. Dia mengambil jaket, dompet dan kunci mobil. Rangga akan segera kabur sebelum bencana datang. Dengan kecepatan kilat dia keluar dari kamar dan menuju ke pintu rumah.


Natasya dan Yongki hanya menatap kepergian Rangga ke kamar dengan muka datar. Mereka sudah bisa membayangkan siapa yang akan disalahkan jika Angel gagal. Jika mereka berada di posisi Rangga, mungkin mereka juga akan memilih ke luar rumah.


"Mau kemana kamu?" tanya Melisa yang ke luar dari kamar sebelum Rangga ke luar rumah.

__ADS_1


"Eeeh …  ada Mama," ujar Rangga dengan keringat mulai mengalir.


'Wah gawat. Kenapa mama pakek keluar sekarang sih. Alamat bisa gagal kabur nih,' batin Rangga sambil memberikan senyuman untuk mamanya agar tidak curiga.


"Tidak usah basa-basi. Kamu mau pergi ke mana?" tanya Melisa sekali lagi. 


"Rangga mau main sama Dimas dan Bimo, Ma." 


"Tidak! Hari ini kamu tidak boleh pergi kemanapun," larang Melisa. 


"Tapi Ma, Rangga udah janji sama teman-teman. Tidak mungkin Rangga mengingkari janji kan?"


"Mama bilang kamu tidak boleh pergi ya tidak boleh pergi. Hari ini Angel mau belajar memasak sama Natasya. Kamu tunggu dia sampai selesai memasak baru boleh pergi. Tidak ada bantahan," kata Melisa tegas ketika Rangga ingin membantah lagi.


Rangga langsung kecut. Mamanya sudah mengeluarkan perintah mutlak. 


"Nanti kamu yang akan mencicipi masakan Angel. Kalau kamu pergi siapa yang akan mencicipinya," lanjut Melisa.


"Kenapa Rangga, Ma. Kan ada Natasya yang mengajari Angel.


"Kamu ini bagaimana sih. Angel itu pacar kamu atau bukan? Wajar saja kalau kamu yang mencoba hasil masakan dia pertama kali," terang Melisa.


"Kamu ini ya," kata Melisa geram.


Melisa menjewer telinga Rangga. Bisa bisanya Rangga berkata seperti itu kepada pacar atau calon istrinya. Melisa yang ibunya saja tersinggung, apalagi kalau di dengar Angel.


"Ampun Ma, sakit," mohon Rangga memegang tangan Melisa.


"Sakit mana saat mendengar pacarnya sendiri takut keracunan oleh masakannya. Kalau Mama jadi Angel, Mama akan putusin kamu berkali-kali. Sudah untung Angel mau belajar masak demi kamu. Kamu malah tidak mendukungnya sama sekali." 


"Bukan Rangga tidak mau dukung, Ma. Tapi Rangga …." 


"Ya sudah kalau kamu tidak mau mendukung Angel. Sekalian saja kamu jangan menikah sama Angel. Biar Angel dapat lelaki yang lebih baik dan pengertian dari pada kamu. Belum menikah saja kamu sudah begini. Bagaimana kalau kalian sudah menikah. Apa kamu mau meninggalkan Angel begitu saja kalau Angel ada kekurangan," ujar Melisa sudah melepaskan jeweran pada telinga Rangga. 


"Bukan begitu maksud Rangga, Ma. Rangga …." 


"Kalau bukan begitu, maka nya kamu tetap di rumah. Awas aja kalau kamu berani melawan perintah Mama. Jangan harap Mama akan merestui kamu menikah dengan Angel," ancam Melisa. 

__ADS_1


"Ma," ujar Rangga memelas.


Karena Melisa tidak terpengaruh dengan tatapan Rangga, dia mengubah arah menatap ke arah Natasya dan Yongki untuk meminta pertolongan. Dia tidak mau jadi bahan percobaan. 


"Benar kata Mama. Kalau kamu tidak bisa mendampingi Angel dari bawah dari sekarang, bagaimana kedepannya," kata Yongki dengan membalikkan koran tanpa membalas menatap Rangga. 


"Mas Yongki enak bilang begitu. Natasya sudah pandai masak, jadi Mas Yongki bisa langsung makan makanan enak," sahut Rangga.


"Apa kamu masih mengeluh. Biar Mama telepon Angel biar dia tidak jadi datang sekalian." 


"Ma, jangan," cegah Rangga. 


"Katanya kamu tidak mau jadi bahan percobaan?"


"Iya deh iya. Rangga mengalah. Rangga tidak jadi pergi," ujar Rangga lesu dan menuju ke arah sofa. 


Dengan bahunya yang sudah merosot, Rangga menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke arah sofa. Sekarang dia sudah tidak bersemangat pergi keluar. Tubuhnya telungkup menguasai sofa. 


"Nah, gitu dong. Kamu harus bisa mensupport apa yang menjadi pilihan kamu. Jangan mau enaknya saja," kata Melisa puas dengan pilihan Rangga. 


"Mama hampir telat gara-gara kamu. Sayang, Mama mau pergi arisan, ya. Mungkin nanti siang Mama tidak makan di rumah ya sayang. Mama akan makan di luar dengan teman Mama," ucap Melisa manis kepada Natasya.


"Iya, Ma. Mama hati-hati di jalan," sahut Natasya. 


Setelah berpamit sama Natasya dan Yongki, Melisa pergi dari sana. Dia bahkan tidak repot-repot untuk berpamitan sama Rangga yang masih telungkup di sofa. 


"Kamu jangan seperti anak kecil, Rangga," tegus Yongki.


Rangga masih saja betah telungkup di sofa. Dia hanya menggerakkan kepalanya ke arah Yongki. Lama-lama dia kesulitan bernafas jika wajahnya tidak di miringkan.


"Mas, tolong Rangga," mohon Rangga dengan wajah memelas.


Bersambung....


Halo, apa masih ada yang menunggu cerita ini setelah dua purnama. Semoga masih ada.


Maaf jika lama hiatus karena ada kendala dan fokus buat nerbitkan karya pertama saya. Rasanya saya senang saat kejar terbit dan revisi dan sejenis nya. Sekarang baru tahap buat cover. Jika cover sudah selesai akan dibuat vote cover (sambil give away bagi satu orang yang beruntung). Baru setelah itu akan di buka PO.

__ADS_1


Untuk novel apa yang akan saya terbitkan itu. Itu adalah novel Ritual Pemanggil. Ada kok di aplikasi ini tapi tidak saya lanjutkan. Jika mau baca online tamat bisa diaplikasi KB* si hijau melalui judulnya. Di sana berbayar. Atau bagi kalian yang berminat boleh ikut PO nanti (Semoga ada yang minat) Kalian bisa cek di akun ig saya @andriani_keumala.


__ADS_2