Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 82 Permintaan Bimo


__ADS_3

Bimo menaikkan sedikit kerah lengan bajunya. Dia sudah bersiap-siap memaksa Safira naik ke atas motor. Dia juga merenggangkan sendi kepalanya yang membuat Safira sedikit ketakutan. 


"A... apa... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Safira dengan menunjuk ke arah Bimo.


Safira mengira jika Bimo akan menghajarnya. Gelagat Bimo persis seperti orang yang ingin bertarung. 


Bimo menangkap tangan kanan Safira yang terjulur ke arahnya. Kemudian dia dengan gerakan cepat menaikkan Safira duduk di atas boncengan.


"Yakkk… apa yang kamu lakukan," teriak Safira kaget.


"Jika kamu terus berteriak tidak jelas seperti ini, tidak ada lelaki yang mau menikah sama kamu," ucap Bimo mengorek telinga yang berdengung. 


"Kamu jangan kurang ajar ya. Aku ini…."


Bimo tidak mendengar percakapan Safira selanjutnya. Dia dengan cepat menggunakan helm yang dia pakai tadi ke kepala Safira. Setelah itu Bimo naik ke atas motor.


Safira masih belum selesai memproses apa yang terjadi. Dia malah sempat membetulkan rambutnya yang rusak karena Bimo sembarang memasangkan helm.


"kamu pegangan yang erat kalau tidak mau terjatuh," tegur Bimo. 


"Hei! aku tidak mau pergi sama kamu," ujar Safira dengan masih kesal.


Safira memukul bahu Bimo. Bimo bahkan tidak berkutik. Bimo mengabaikan Safira, dia dengan cepat menancapkan gas. Sehingga otomatis Safira hampir saja terjungkal jika dia tidak cepat merangkul Bimo. 


"Kamu pegangannya jangan terlalu keras," ucap Bimo yang kesakitan.


"Masih untung aku pegang pinggang kamu, bukan leher tahu tidak. Salah siapa bawa ngebut," ucap Safira sewot.


Bimo memilih mengalah, dia tidak mau lagi berdebat dengan Safira. Sekarang tujuannya adalah ke kafe dan berbicara dengan Safira berdua. 


Sedangkan Safira dibelakang Bimo tersenyum kecil. Lumayan dia ada kesempatan dalam kesempitan. Belum pernah dia naik motor dan bermanja-manja seperti itu.


***


"Jadi apa yang mau kamu bicarakan sama aku?" tanya Shafira melipatkan kedua tangannya di depan.


Mereka sudah berada di cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


"Sebelum kita bicara, lebih baik kita pesan makanan terlebih dahulu," saran Bimo.


"Tidak usah banyak basa-basi. Aku tidak mau lama-lama sama kamu. Kamu katakan saja apa keperluan kamu. Setelah itu antar aku pulang. Aku sibuk," ujar Safira sok sibuk. 


Padahal Safira tidak ada kegiatan sama sekali. Dia sedang menjaga image di depan Bimo.


"Tidak salahnya kalau kita bicara sambil makan," tambah Bimo. 


"Tidak, aku tidak lapar," sahut Safira.


"Krukkkk…." 

__ADS_1


Perkataan Safira tidak sesuai dengan kondisi perutnya. Perut Safira berbunyi dengan keras. Perutnya tidak tahan mencium wangi makanan. Safira merasa malu sendiri dengan bunyi perutnya. 


"Kamu bilang, kamu tidak lapar. Tapi kenapa perut kamu berbunyi," sindir Bimo.


"Itu... itu bukan aku. Kamu salah dengar kali," kata Safira beralasan.


"Tidak mungkin aku salah dengar. Atau jangan-jangan tadi suara kentut kamu," tuduh Bimo. 


"Hai… bagaimana kamu bisa bertanya seperti itu di depan seorang gadis," ujar Safira kesal kembali menunjuk ke arah Bimo.


"Sudah aku bilang, kamu itu bukankah seorang gadis. Tidak ada seorang gadis yang bar-bar seperti kamu."


"Sudahlah, bicara sama kamu semakin membuat aku kelaparan," sahut Safira yang tambah pusing diantara lapar.


"Jadi kamu mengakui jika kamu sudah lapar," kata Bimo tersenyum menang. 


Safira memberikan pandangan setajam mungkin kepada Bimo. Emosi Safira bagaikan sedang naik roller coaster bersama Bimo. 


"Jika kamu terus menatap aku seperti itu, maka perut kamu tidak akan berhenti berbunyi," ujar Bimo sudah fokus pada buku menu.


"Dasar lelaki tidak peka. Tidak ada lemah lembut sekalipun kepada cewek," cibir Safira dengan suara kecil. 


"Suara kamu masih terdengar di telingaku," sahut Bimo yang mendengar cibiran Safira.


'Aku bergumam kecil saja masih bisa dengar. Jangan-jangan dia bisa membaca pikiran orang lain lagi,' terka Safira menatap Bimo.


"Kamu jangan berpikir aneh-aneh. Aku hanya manusia biasa." 


"Jadi kamu mau pesan apa?" ulang Bimo.


"Terserah kamu mau pesan apa. Aku bisa makan apapun," sahut Safira.


"Baik, kalau begitu aku mau pesan spaghetti," gumam Bimo.


"Jangan pesan spaghetti. Aku lagi diet. Nanti aku bisa tambah gemuk," tolak Safira.


"Badan kerempeng seperti itu kamu bilang gemuk? Lemak aja takut lihat kamu," sindir Bimo.


Safira kembali memelototi Bimo. 


"Ya sudah kalau kamu tidak mau makan spaghetti. Bagaimana kalau makan kentang goreng," tawar Bimo. 


"Jangan kentang goreng. Itu tidak akan membuat aku kenyang," tolak Safira lagi.


"Oke, kita pesan nasi aja," putus Bimo. 


"Jangan nasi, aku mau makan cemilan."


"Kamu ini mau makan apa sih?" tanya Bimo menaikan sebelah alisnya. 

__ADS_1


"Terserah," sahut Safira menatap ke sekeliling cafe. 


"Tadi aku pilih ini itu kamu tidak mau. Sekarang kamu jawab terserah. Kamu ini mau makan apa?'


"Ya terserah kamu. Kan kamu yang ngajak aku, jadi kamu yang pilih dan bayar ya," sahut Safira.


"Oke, fine kalau gitu. Mbak," panggil Bimo kepada pelayan.


"Iya Mas, apa pesanan nya sudah selesai?"


"Mbak saya pesan hot cappucino sama kentang goreng satu," kata Bimo. 


"Terus Mbak ini?" tanya pelayan.


"Mbak ini kasih air putih saja," ucap Bimo santai.


"Hei…," kata Safira menggebrak meja.


"Mana mungkin aku kenyang dengan air putih," sambung Safira. 


"Katanya terserah, jadi terserah aku dong mau pesan apa buat kamu."


"Tapi tidak segitunya juga kali." 


Safira segera merebut buku menu dari Bimo. Dengan kasar dia membolak-balikkan buku menu.


"Mbak saya pesan ini, ini, ini, ini semuanya saya pesan. Semua makanan ini dia yang bayar," ucap Safira memesan berbagai menu.


Bimo meringis melihat pesanan Safira. Dia janji jika itu pertama dan terakhir kali mengajak Safira makan. 


Setelah mencatat pesanan, pelayan itu segera pergi dari sana.


"Apa? Kamu mau protes habis ngajak cewek makan tapi tidak ada uang buat bayar," hina Safira.


"Ahhh… bukan itu. Cewek memang sudah aneh, apalagi cewek jadi-jadian seperti kamu," kata Bimo yang menyulut emosi Safira. 


"Apa maksud kamu?" 


"Katanya tadi diet, tapi pesan makanan seperti orang tidak makan tujuh hari tujuh malam." 


"Itu kan tadi, sekarang ya sekarang. Aku berubah pikiran mumpung ada gratis," bantah Safira.


"Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi. Sekarang aku akan mengatakan tujuan aku membawa kamu ke sini." 


"Jadi apa tujuan kamu membawa aku ke sini?" tanya Safira.


"Kamu batalkan pertunangan kamu sama Herry," ujar Bimo inti masalahnya.


Safira memfokuskan matanya kepada Bimo. Safira sudah menebak jika Bimo akan melakukan hal seperti ini. Sekarang Safira benar-benar akan kehilangan Herry. Dia telah berjanji jika Herry ada jalan bersama Melati, maka Safira akan mundur. Sekarang jalan itu sudah terbuka lebar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2