Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 66 Iri Bilang Bos


__ADS_3

Mereka menikmati sarapan pagi bersama. Natasya dan semua sudah berpakaian rapi dan perlengkapan sendiri. Termasuk Melisa. Biasanya Melisa hanya menggunakan pakaian rumahan. Tapi kali ini Melisa sudah rapi dengan gaunnya.


"Mama mau pergi ke mana. Pagi-pagi sudah rapi?" tanya Rangga. 


"Mama hari ini mau beli dessert yang dibuat sama chef yang kemarin. Mereka kali ini hanya menjualkan tujuh potong. Mama tidak mau ketinggalan buat antri. Pokoknya Mama harus bisa membeli dessert itu," tekad Melisa. 


"Jika Mama mau membeli dessert itu, kenapa Mama tidak menyuruh orang untuk mengganti Mama saja. Mama tidak perlu repot mengantri. Pasti di sana sangat ramai Ma," saran Hartato.


"Papa, Mama tidak mau. Mama mau membeli sendiri. Ada sensasi tersendiri jika Mama bisa mendapatkan sendiri," suhut Melisa. 


"Nanti jangan salahkan yang lain jika Mama tidak dapat kebagian," kata Rangga.


"Kenapa kamu berdoa seperti itu. Bukannya mendoakan Mama yang bagus," kata Melisa tidak suka.


Melisa kembali makan dengan cepat. Melisa  tidak mau kehabisan. Toko baru akan dibuka  jam sembilan. Melisa ingin mengantri dari sekarang hari ini.


"Mama sudah selesai. Mama berangkat duluan," ujar Melisa.


Mereka melanjutkan makan dengan santai. Mereka sudah biasa melihat Melisa yang terburu-buru jika menginginkan sesuatu. 


***


Natasya pergi ke kampus dengan menggunakan tas yang diberikan oleh Yongki. Kemarin Yongki yang menyuruh Natasya agar menggunakan tas yang dia beli. Natasya menuruti keinginan Yongki.i Natasha tidak enak untuk menolaknya.


Natasya dan Rangga sudah tiba di tempat parkiran kampus. Natasya keluar dari mobil, sedangkan Rangga tidak turun. Rangga ingin melihat Angel dulu di fakultas kedokteran.


Natasya melangkah masuk ke gedung. Natasya berjalan sendiri. Natasya juga belum melihat Bimo. 


"Pagi Natasya," sapa Aura pagi memeluk Natasya.


"Aura? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Natasya heran. 


"Memangnya aku tidak boleh jalan ke sini?" tanya Aura balik.


Aura melepaskan pelukan. Aura pura-pura cemberut.


"Tidak ada masalah sih. Tapi kan, gedung kamu ada di sebelah," kata Natasya. 


"Hari ini aku masuk ke kelas kamu ya," ucap Aura tidak nyambung.


"Memangnya kamu tidak ada jadwal?" tanya Natasya.


Mereka kembali berjalan ke ruang kelas Natasya. Aura mengikuti Natasya dengan mengandeng tangan.


"Ternyata hari ini aku salah lihat jadwal kuliah. Aku pagi ini tidak ada jadwal kuliah. Jadwal kuliah aku ada di jam ketiga nanti. Daripada aku pulang lagi dan ketiduran, mending aku ikut sama kamu ya. Sekalian nyuci mata," ucap Aura genit.


"Cuci aja matanya. Nanti giliran Dimas yang cuci mata juga baru tahu rasanya," ujar Natasya memperingati.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda Natasya," bantah Aura tidak terima jika Dimas melirik perempuan lain.


"Itu namanya karma. Kamu jangan pernah main api," tegur Natasya.


"Iya, aku mengaku salah. Suwer, aku janji sama kamu kalau aku tidak akan cuci mata lagi," kata Aura serius.


"Kamu tidak perlu janji sama aku. Kamu jaga saja komitmen kamu sama Dimas. Jika kalian saling menjaga, hubungan kalian pasti tidak akan pernah retak," jawab Natasya.


"Ah… kamu memang teman baik aku. Untung saja kamu memperingati aku. Kalau tidak aku bisa khilaf," ucap Aura manja.


"Kita ini adalah teman. Sudah seharusnya kita saling memperingati saat teman kita berbuat salah," balas Natasya.


Aura senang punya kawan seperti Natasya. Ada yang mau menasehati dia. Aura terus berjalan di samping Natasya. Mata Aura tanpa sengaja melihat ke tas punya Natasya.


"Betewe busway, tas kamu baru ya. Aku baru lihat?"


"Oh ini, Iya. Tas ini kemarin Mas Yongki yang membelikannya," sahut Natasya. 


"Enak ya kalau punya suami kayak Mas Yongki," ucap Aura bercanda.


"Iya dong enak punya suami kaya. Kan bisa menyuruh membeli apapun," sahut Mita.


Mita adalah perempuan yang kemarin di php-in sama Yongki. Mita semakin kesal melihat Natasya yang menggunakan tas itu. Mita masih bersama teman yang kemarin, Tika.


'Seharusnya tas itu milik aku.'


"Memang tidak ada urusan sama aku sih. Hanya saja jika gadis kampung menikahi orang kaya, ya begitu, sukanya menyuruh suami membeli tas yang mahal. Maklumlah dulu kan tidak uang buat membeli barang yang mahal-mahal. Kapan lagi coba, bisa memanfaatkan suami yang kaya raya," ejek Mita dengan tertawa sinis.


Tika tertawa mendengar perkataan Mika.


"Benar yang kamu bilang Mika. Kapan lagi bisa punya tas mewah, mobil mewah, perhiasan mahal," tambah Tika. 


"Bilang saja kamu iri kan. Tidak punya suami kaya yang bisa membeli barang mewah buat kamu," ejek Aura balik.


"Aura sudah," tegur Natasya


Natasya tidak mau nanti ada keributan. Jika diteruskan pasti tidak ada ujungnya.


"Bukan aku duluan yang mulai Natasya. Tapi mereka berdua. Apa kamu tidak marah mereka menghina kamu," sahut Aura.


"Aku tahu Aura. Kita tidak usah peduli sama omongan mereka. Tidak ada untungnya," jawab Natasya.


"Kenapa? Apa kalian mau kabur?" tanya Mika.


"Kabur kenapa? Memangnya kami pencuri," balas Aura.


"Dia itu bukan pencuri, tapi penggoda," hina Mika. 

__ADS_1


"Siapa yang kamu maksud, hah!" kata Aura yang semakin emosi melihat Natasha dihina. 


"Aura," tegur Natasya memegang Aura.


"Kalau bukan penggoda apalagi? Oh, jangan-jangan dia menggunakan susuk lagi. Kalau tidak, mana mungkin lelaki sempurna seperti mas Yongki itu mau melirik dia," kata Mika melirik Natasya dengan ujung mata.


"Wah… wah... sepertinya mulut kamu memang benar-benar perlu dikasih pelajaran. Kayaknya waktu sekolah dasar mulut kamu itu kurang pelajaran matematika. Jadi mulut kamu tidak bisa menjabarkan perkataan dengan baik," ujar Aura menggulung lengan baju sudah siap tempur. 


"Apa... apa mau kamu?" tanya Mika takut dengan gerak-gerik Aura. 


Mika adalah teman satu sekolah menengah dengan Natasya. Jadi mereka sudah tahu jika Aura tidak akan segan memukul orang.  


"Ayo sini maju. Biar aku ajar itu mulut kamu," sahut Aura sudah memasangkan kuda-kuda. 


"Bu… buat apa aku meladeni kamu. Aku tidak ada urusan sama kamu. Gara-gara kalian, aku terlambat masuk. Ayo kita pergi Tika," ujar Mika dengan ketakutan.


Mereka bersua segera pergi dari sana. Mereka tidak mau berurusan sama Aura. Bisa habis mereka di pukul sama Aura. 


"Mau kemana kalian, hah! Kalau berani ayo ke sini," panggil Aura.


"Aura sudah. Kamu bisa menarik perhatian orang lain," ucap Natasya. 


"Natasya, kamu jika diperlakukan seperti itu jangan mau. Kamu hajar balik mereka," saran Aura yang menyesatkan.


"Itu tidak baik Aura. Kita sendiri yang capek. Tidak ada untungnya kita meladeni mereka. Nanti akan ada orang seperti Mika yang hadir di kehidupan kita. Kita tidak perlu memikirkan semua perkataan orang. Selama kita tidak berbuat salah dan masih bisa mengabaikan masalah seperti itu, kita menghindar saja. Jika kita meladeni mereka, mereka akan terus mencari kesalahan kita. Kita biarkan saja, nanti mereka juga bosan sendiri," terang Natasya. 


"Kamu ini ya, dari dulu seperti itu," ucap Aura bangga punya teman seperti Natasya. 


Natasya hanya tersenyum menanggapi Aura.  


"Sudah, ayo kita masuk ke ruangan," ajak Natasya.


"Ayo kita pergi, kita taklukkan semua rintangan dan hambatan yang menghadang," sahut Aura bersemangat.


"Kita mau belajar Aura, bukan bertempur," ujar Natasya.


"Hehe…." ketawa Aura. 


Bersambung….


Jangan lupa like dan komentar ya. Biar saya semakin semangat ketik. Semakin banyak like dan komentar, semakin semangat buat saya up.


Rekomendasi Novel karya teman saya buat kalian.



__ADS_1


__ADS_2