Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 32. Jurusan


__ADS_3

Mereka telah tiba di salah satu restoran yang menjadi tempat tujuan mereka. Mereka berdelapan segera masuk ketempat itu dan mencari tempat duduk yang muat buat rame rame. Pelayan segera menghampiri mereka dan memberikan daftar menu.


Sekarang semua pesanan mereka telah ada di atas meja. Mereka berbincang sambil makan.


"Angel kamu jadi ambil jurusan Dokter Kandungan," tanya Rangga memulai percakapan.


"Jadilah, kan dari dulu aku pengen jadi Dokter. Setelah itu aku mau ambil Spesialis Kandungan," jawab Angel.


"Yah siapa tau juga kamu berubah pikiran," sahut Rangga.


"Bagaimana aku berubah pikiran jika aku sudah daftar di Universitas itu," ujar Angel.


Rangga hanya tersenyum mendengar ucapan pacarnya.


"Kalau kamu sendiri ambil jurusan apa?" tanya Dimas.


"Aku sama Bimo sudah daftar jurusan bisnis. Suka atau tidak suka, nanti aku juga harus bantu perusahan Kakek aku. Nantikan aku juga salah satu yang akan menjadi pewarisnya," terang Rangga.


"Bukannya kamu tidak suka kerja kantoran apalagi jadi bos?" tanya Natasya lagi.


Rangga mengaruk tekutnya yang tidak terasa gatal.


"Aku sebenarnya bukan tidak suka kerja kantoran, aku hanya tidak ingin segera disuruh kerja, aku kan masih pengen nikmati masa muda," sanggah Rangga.


"Kalau kamu sendiri gimana Natasya, apa jadi ambil kuliah di luar negeri, bukannya kamu mau segera nikah ya," tanya Melati.


"Sebenarnya aku pengen kuliah di luar negeri, tapi apa Tante Melisa setuju?" tanya Natasya pada diri sendiri.


"Pasti Mama tidak akan setuju, lagian Mama kepengen kalian segera menikah, kan tidak lucu kalau kalian menikah tapi satu di sini satu di sana," ujar Rangga.


"Kan kami masih perlu waktu dulu Rangga buat dekat, jangan main asal nikah aja. Aku tidak mau menikah dulu sebelum aku dan pasangan aku belum saling menyukai, meskipun itu adalah Mas Yongki atau permintaan Mama kamu. Karena kedepannya aku yang menjalani dan merasakannya," sahut Natasya.


"Iya bener yang dikatakan sama Natasya, nanti Natasya yang merasakannya. Kita kalau menikah memang harus saling mencintai, buat apa menikah jika tidak ada mereka tidak saling menyukai, yang ada nanti cerai," tambah Aura.


"Jadi gimana jika Mama aku tidak setuju kamu pergi keluar negeri, lagian jika kamu pergi kesana bagaimana kamu sama Mas Yongki bisa saling mengenal?" tanya Rangga lagi.


"Itulah masalahnya, aku berencana tidak jadi kuliah di luar negeri, aku akan masuk ke universitas yang sama dengan kalian," ujar Natasya.


"Horeee, walaupun nanti kita beda jurusan tapi kita akan tetap bersama sama," ujar Aura senang.


Aura segera memeluk Natasya senang, mereka bisa bersama sama lagi.


"Tapi apa kamu tidak apa apa Natasya tidak jadi kuliah di luar negeri?" tanya Rangga merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa apa kok, kan mau di sana atau di sini yang penting aku masih tetap dapat beasiswa," sahut Natasya.


"Enaknya yang dapat beasiswa siswa," ujar Aura iri.


"Tapi kenapa kamu pindah ke sini, bukankah kamu sangat ingin kuliah di luar negeri?" tanya Dimas penasaran.


Natasya tau, pasti teman teman yang lain ingin tau juga. Walaupun agak sedikit malu tapi Natasya ingin jujur dengan teman temannya.


"Aku... kalian kah tau, aku mulai mencoba menerima perjodohan ini Apalagi aku juga sudah terlanjur sayang sana Mama dan Kakek Rangga. Jadi, jika aku memutuskan ingin mencobanya maka aku harus ada di sini atau harus Mas Yongki yang ke sana. Jadi karena tidak memungkinkan Mas Yongki ke sana, apa salahnya jika aku yang kuliah di sini, apalagi seperti kata Rangga, jika kami tidak dekat bagaimana kami bisa saling mengenal," kata Natasya sedikit malu.


"Cie... Yang sudah siap menikah," goda Aura.


"Akukan bukan bilang segera menikah, aku hanya mencoba saja, siapa tau kami juga tidak cocok," bantah Natasya.


"Natasya Natasya, jika lelaki sempurna seperti Mas Yongki aja kamu tolak bagaimana ada lelaki yang lebih baik dari Mas Yongki," kata Herry.


"Iya Natasya, Mas Yongki itu tampan dan mapan lho," tambah Aura.


"Aku bukan mencari orang yang akan menjadi imamku itu yang tampan atau mapan saja, apalagi yang sempurna. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bagiku yang penting kami bisa saling mempercayai dan saling melindungi," terang Natasya.


"Uhhh... so sweet banget sih," ujar Angel, Aura dan Melati.


Yang laki laki juga ikut tersentuh dengan omongan Natasya. Mereka juga setuju dengan pendapat Natasya.


Dia juga jadi malu sendiri mendengar ucapannya.


"Kamukan Natasya belum bilang jurusan apa," sahut Angel.


"Aku ambil jurusan bisnis juga sama seperti Rangga dan Bimo, nah kalau Dimas mau ambil jurusan apa," ujar Natasya.


"Aku ingin ambil jurusan kedokteran sama seperti Angel, tapi nanti aku mau ambil Spesialis Bedah, karena orang tua aku juga Dokter Bedah. Dari kecil aku memang sudah ingin jadi Dokter Bedah," terang Dimas.


"Bagus sih kamu ambil jurusan yang sama seperti orang tua kamu, nanti kamu bisa minta diajarkan sama mereka. Mama sama Papa aku ada perusahan, mereka juga meminta aku masuk jurusan bisnis, tapi aku menolak karena aku mau jadi Dokter Kandungan," cerita Angel.


"Nah kalau kamu Aura masuk jurusan Apa?" tanya Angel ke Aura.


"Aku mau ambil jurusan Desainer, aku sangat suka fashion, nanti aku ingin buka brand sendiri dan juga buka banyak cabang butik di seluruh negeri," ujar Aura bersemangat.


"Bilang aja kamu tidak mau ribet," sahut Dimas.


"Kok kamu gitu sih beb, tidak dukung aku," Aura mulai merajuk.


"Iya aku hanya bercanda, apapun jurusan yang kamu pilih aku pasti akan mendukung kok, kamu jangan sedih ya," hibur Dimas.

__ADS_1


"Candaan kamu tidak lucu tau tidak," kesal Aura.


Aura memang sangat suka fashion, bukan karena ribet, walaupun sebenarnya dia juga malas sama jurusan yang lain, menurut Aura jurusan bisnis dan kedokteran bisa bikin kepalanya pecah.


"Sudah ya, sekarang gilirannya Herry," kata Dimas.


"Hah aku?" tanya Herry balik.


"Kalau bukan kamu siapa lagi," ujar Rangga.


"Kalau aku pilih jurusan perhotelan seperti orang tua aku, kan lumayan kalau kerja di hotel bisa makan gratis," jawab Herry.


"Kamu selalu makan yang dipikirkan," cibir Aura.


"Sekarang giliran terakhir, Melati,"


Melati melirik dulu ke arah Bimo.


"Aku juga ambil jurusan perhotelan," ucap Melati tersipu.


"Kenapa kami ambil jurusan yang sama dengan bocah tengik ini, pokoknya aku tidak setuju kalau kalian satu jurusan, ada aku aja dia genit apalagi tidak ada aku," bantah Bimo.


"Tapi kak Bimo, Melati kuliah karena keinginan sendiri bukan mengikuti Herry," sahut Melati.


"Pokoknya aku tetap tidak setuju, kamu akan mengambil jurusan yang sama seperti kakak, atau ambil di universitas yang lain," tolak Bimo.


"Bimo kamu jangan begini sama Melati bagaimanapun itu jurusan yang Melati pilih. Kamu tidak bisa memaksa kehendak kamu sama Melati. Apa kamu yakin jika Melati kuliah di tempat lain, apa ada jaminan jika dia tidak akan di ganggu sama cowok yang lain. Setidaknya kita telah mengenal Herry, jadi Herry bisa menjaga Melati, minimal ada yang mengawasinya," saran Natasya.


Bimo memikirkan sebentar ucapan Natasya. Ucapan Natasya ada benernya juga, jika nanti Melati di ganggu ada Herry yang membantu, dan jika Herry dengan lancang menyentuh Adiknya, maka Bimo bisa segera memberikan pelajaran untuk Herry.


"Aku setuju kamu kuliah di sana, tapi jika kamu berani adik aku, aku tidak akan segan segan jadiin kamu samsak latihan," ancam Bimo.


"Kak Bimo," tegur Melati.


"Sudahlah, kami pamit duluan," ucap Bimo.


Bimo segera menarik Melati untuk di bawa pulang, Bimo tidak suka Melati dekat sama cowok yang tidak bisa melindungi Adiknya.


Mereka hanya melihat kepergian Melati dan Bimo tanpa mencegah. Sekarang Bimo lagi badmood.


"Kamu yang sabar ya Herry," Natasya memberi semangat buat Herry.


"Terima kasih," jawab Herry dengan senyum kecut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2