
"Melati, akhirnya kamu datang juga. Ayo bantu aku, dari tadi mereka terus mengejek dan menyakiti aku," lapor Herry manja begitu Melihat Melati masuk.
"Halah, cemen kamu. Beraninya lapor sama cewek," ejek Dimas.
"Habis kalian dari tadi ganggu aku," sanggah Herry.
"Kamu datang sendiri Melati?" tanya Natasya.
"Aku datang bersama kak Bimo," sahut Melati.
"Terus di mana Bimo?" sambung Angel.
"Aku di sini," sahut Bimo langsung masuk ke dalam ruangan disusul Safira.
"Kenapa kalian bisa datang berbarengan?" tanya Herry.
"Ini pasti karena sudah jo…."
"Kami hanya kebetulan bertemu di depan pintu kamar," kata Bimo memotong ucapan Safira.
"Kamu membawa bekal siang buat aku, Safira? Kamu baik banget," ujar Herry tanpa sadar menyakiti hati Melati.
Tadi Heri tidak terlalu memperhatikan Melati yang membawa bekal siang. Karena dia masih terfokus pada Dimas dan Rangga yang terus mengganggunya.
Hati Melati bagaikan tercubit diabaikan oleh Herry. Dia jadi ragu antara ingin memberikan makan siang itu untuk Herry atau tidak.
"Hei, Herry. Apa kamu tidak melihat jika Melati duluan yang masuk dan bawa bekal buat kamu. Kamu malah bertanya sama Safira duluan," sindir Aura secara terang-terangan.
Herry langsung beralih ke arah Melati dan melihat Melati yang masih menggenggam makanan.
"Ternyata kamu bawa bekal untuk aku juga. Maaf, tadi aku tidak sempat lihat," kata Herry dengan bersalah.
"Ah… iya, tidak apa-apa," sahut Melati canggung.
"Terima kasih banyak kalian sudah membawa makan siang buat aku. Tapi tangan aku masih sakit, belum bisa bergerak bebas. Siapa yang mau bantu aku buat makanan siang?" tanya Herry.
Melati ingin mengajukan diri, tapi dia tidak berani karena sungkan dengan Safira dan masih takut sama Bimo.
"Biar aku saja yang akan menyuapi kamu," sahut Safira.
Semua menatap ke arah Safira. Kemudian Mereka menatap cepat ke arah Melati kecuali Herry.
"Kamu," tegur Bimo menatap tajam ke arah Safira.
"Padahal tadi aku niatnya ingin makan siang dengan seseorang. Tapi dia menolak ajakan makan siang dariku. Jadi kita bisa makan siang bersama. Aku juga bisa bantu kamu makan siang," nyindir Safira sambil meletakkan makanan di samping tempat tidur Herry.
Bimo kembali melihat ke arah Melati. Ketika matanya melihat Melati yang raut wajahnya sedih dia jadi marah. Dia meremas kedua genggaman tangannya. Dia merasa menyesal menolak tawaran Safira. Sehingga interaksi antara Melati dan Herry diganggu sama Safira.
Tanpa berkata Bimo mendekat ke arah Safira. Kemudian dia menarik tangan Safira.
"Kamu sudah janji sama aku. Ayo pergi," ajak Bimo menarik Safira.
Mereka ternganga melihat Bimo yang menarik Safira. Mereka belum pernah melihat Bimo yang menarik seseorang gadis seperti itu. Biasanya Bimo akan cuek kepada perempuan mana pun kecuali sama mereka.
__ADS_1
"Apa hubungan mereka?" tanya Angel.
"Apa Safira telah meluluhkan sifat dingin Bimo?" lanjut Aura.
"Tidak mungkin, tidak mungkin jika Bimo menyukai Safira. Tipe Bimo itu cewek yang lembut, anggun, feminim. Sedangkan Safira itu cewek barbar, suka memerintah, tidak ada anggun-anggunnya," sahut Herry tanpa rem.
Dimas, Rangga, Aura dan Angel berdecak lidah melihat Harry yang tidak peka sama sekali. Mereka yakin jika ada sesuatu yang terjadi antara Bimo dan Safira.
" Sekarang Safira sudah pergi, sekarang siapa yang mau menyuapkan makan siang aku? tanya Herry menatap Dimas dan Rangga secara bergantian.
"Ogah aku suapin kamu. Mending aku suapin Angel saja. Sudahlah, aku pamit pulang dulu. Kamu makan saja sendiri," sahut Rangga pergi meninggalkan ruang kamar inap Herry.
Herry beralih ke arah Dimas.
"Apa? Aku juga ada keperluan mendadak. Aku pamit ya," ujar Dimas kabur tidak mau menyuap Herry.
Herry kecewa melihat Rangga dan Dimas yang kabur begitu saja. Dia seperti tidak dianggap teman lagi.
"Sudah Herry, biar Melati saja yang suapin kamu makan. Kami bertiga pergi juga ya," pamit Angel dengan menggandeng tangan Aura dan Natasya.
Mereka bertiga dengan buru-buru keluar dari kamar itu dan meninggalkan Melati dan Herry berdua. Herry dan Melati sedikit canggung jika ditinggalkan berdua. Herry yang biasanya cerewet terdiam seribu bahasa.
"Jadi, apa kamu mau makan sekarang?" tanya Melati menghilangkan kesunyian.
"Emmm," sahut Herry mengangguk kepala dengan sedikit gugup.
Melati mulai membuka makan siang dan menyuapkan Herry. Melati menyuapkan Herry dengan diam. Mereka sama-sama terdiam tidak berani berbicara.
Herry yang pada dasarnya suka bicara dia mulai gatal untuk berbicara. Dia tidak suka keheningan yang terjadi.
"Tidak, kenapa kak Bimo harus marah?"
"Yah… siapa tahu aja Bimo tidak suka jika kamu menjenguk aku," sahut Herry.
"Tidak kok. Malahan kak Bimo yang menunggu Melati untuk siapkan bekal untuk kamu," sanggah Melati.
"Masak sih? Aku tidak percaya?" tanya Herry mengerutkan kening tanpa menutupi kecurigaannya sedikitpun.
Melati tersenyum kecil melihat raut wajah Herry yang lucu baginya. Mereka menghabiskan siang itu dengan Melati yang terus menyuapi Herry sambil mengobrol ringan untuk menghilangkan kesunyian.
***
Kalian masih di sini?" tanya Natasya yang melihat Dimas dan Rangga yang berdiri di depan pintu kamar Herry.
"Iya, kami menunggu kalian bertiga," sahut Rangga.
"Bukannya kalian ada urusan penting ya?" tanya Aura.
"Tidak, itu hanya alasan saja agar aku tidak disuruh nyuapin Herry. Mana mau aku menyuapin Herry," sahut Dimas.
"Kamu ini, katanya Herry teman kalian," sindir Angel.
"Teman ya teman, tapi lihat dulu kondisinya dong. Masak cowok nyuapin cowok. Beda cerita jika cewek," sanggah Rangga.
__ADS_1
"Jadi hanya tinggal Melati di ruangan Herry?" tanya Dimas.
"Iya, hanya tinggal mereka berdua. Biarkan mereka berdua supaya hubungan mereka berkembang. Untung saja Bimo tadi pergi," sahut Natasya.
"Aku heran sama Bimo. Tumben- tumbenan dia mau meninggalkan Herry bersama Melati," kata Aura curiga.
"Bukankah itu bagus. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Semoga saja hubungan Herry dan Melati semakin membaik kedepannya," kata Natasya.
"Iya, aku setuju sama kamu. Jadi sekarang kita mau ke mana?" tanya Angel.
"Bagaimana kalau kita pergi kencan saja?" usul Aura.
"Kalau kalian pergi kencan, aku sama siapa?" tanya Natasya karena hanya yang tidak ada pasangan. Tidak mungkin jika dia mengajak Yongki yang lagi berkerja.
"Kamu kan sudah tiap malam sama suami. Apa masih kurang," goda Aura.
"Kamu jangan mulai lagu deh," balas Natasya.
"Kalau begitu ayo kita pergi kencan berlima," ajak Angel.
"Tidak, kalian saja yang pergi. Aku tidak mau menganggu kalian," tolak Natasya.
"Tidak, kita ini best friend forever. Kita akan tetap bersama. Tidak ada penolakan," kata Angel.
"Baiklah," sahut Natasya mengalah. Dia sudah terbiasa menyempil di saat mereka pacaran sejak sekolah. Tidak ada bedanya jika dia ikut sekarang.
"Kalau begitu ayo pergi makan siang," ajak Aura semangat.
"Siapa yang ajan bayar?" tanya Rangga.
"Kamu yang bayar. Ayo kita pergi," jawan Angel, Natasya dan Aura berbarengan.
"Lho, kok, kenapa aku?"
"Kan kamu yang tanya siapa yang bayar. Jadi kamu dong yang bayar," sahut Aura mengedipkan sebelah mata.
"Nyesel aku tanya. Tidak, pokoknya kita bayar sendiri-sendiri," bantah Rangga.
"Sudah diputuskan, Rangga yang akan mentraktir kita makan siang," final Angel.
Mereka pergi dengan meninggalkan Rangga dan Dimas.
"Dimas, nanti kita bayar patungan ya."
"Tidak, aku mau makan enak hari ini," tolak Dimas.
"Kamu ini teman apa setan, hah."
"Tidak apa setan asal bukan demen."
"Gila kamu."
Akhirnya makan siang itu dibayar oleh Rangga dan Dimas. Dimas tidak tega melihat Rangga yang harus bayar sendiri.
__ADS_1
Bersambung....