
"Kamu jangan seperti anak kecil, Rangga," tegur Yongki.
Rangga masih saja betah telungkup di sofa. Dia hanya menggerakkan kepalanya ke arah Yongki. Lama-lama dia kesulitan bernafas jika wajahnya tidak dimiringkan.
"Mas, tolong Rangga," mohon Rangga dengan wajah memelas.
"Rangga, seharusnya kamu bersyukur. Sekarang mama sudah mengizinkan kamu berpacaran sama Angel. Bukankah dulu mama sama sekali tidak suka kamu dekat dengan Angel?" sahut Yongki membalikkan koran.
Rangga dengan cepat memposisikan diri untuk duduk tegak. Dia baru sadar jika mamanya mulai merestui mereka. Dulu mamanya tidak pernah melirik Angel. Sekarang bahkan mamanya lebih membela Angel daripada dirinya.
'Iya ya, sejak kapan mama merestui hubungan aku dengan Angel. Kenapa aku tidak menyadarinya. Apa ini karena pengaruh Natasya ya. Mama begitu sangat menyayangi Natasya. Angel juga mulai dibela. Apa jangan-jangan nanti mama akan lebih menyayangi Angel daripada aku, kek mas Yongki? Ah … aku pusing memikirkan mama yang tidak bisa membedakan anaknya,' batin Rangga mengeluh.
Rangga kembali berbaring seperti semula. Dia pusing memikirkan bagaimana cara bekerja pola pikir mamanya. Biasanya seorang ibu akan lebih menyayangi anak kandungnya daripada menantunya.
'Kayaknya lebih enak jadi menantu mama daripada jadi anak kandung. Nasib nasib.'
"Kenapa kamu berbaring lagi?" tanya Yongki menatap Rangga heran.
"Rangga capek Mas," sahut Rangga.
"Capek apanya. Kamu dari tadi bermalas-malasan. Ayo banguntuk," kata Yongki yang sudah mendekat ke arah Rangga.
Tangan Yongki masih memegang koran. Sekarang koran itu sudah berubah menjadi seperti pentungan. Dia menggunakan koran itu untuk memukul pantat Rangga agar bangun dari rebahan malasnya.
"Capek, Mas," tolak Rangga.
"Kamu masih sekolah udah kayak kakek-kakek. Ayo bangun sekarang. Kamu ikut sama Mas aja," perintah Yongki.
"Mau kemana?" tanya Rangga senang supaya bisa menghindar Natasya mengajari Angel memasak.
"Sudah ikut saja daripada kamu buang-buang waktu di sini. Ayo bantu Mas bereskan laporan."
"Apa? Laporan?" tanya Rangga horor.
"Iya, ayo," kata Yongki menarik Rangga yang tidak kunjung bangun.
"Tidak mau Mas Yongki. Natasya, tolong aku," teriak Rangga yang berontak dari Yongki.
Natasya menggeleng kepala melihat tingkah Rangga. Rangga seperti anak kecil yang direbut permennya.
"Hai Natasya," sapa Angel yang sudah tiba.
__ADS_1
"Kamu sudah sampai. Kok aku nggak dengar suara kamu masuk?" tanya Natasya.
"Baru saja. Tadi pas aku datang, aku melihat mas Yongki menarik Rangga. Apa yang dilakukan Rangga kali ini sampai segitunya?"
"Tidak apa-apa. Mas Yongki hanya menyuruh Rangga memeriksa dokumen. Kamu tahu sendiri, dia paling males berurusan sama laporan dan dokumen," sahut Natasya.
"Aku juga tidak tahu Rangga akan jadi kedepannya," gumam Angel.
"Daripada kita mikirin Rangga yang tidak jelas, mending kita belajar memasak," ajak Natasya.
"Ayo Nat, aku sudah tidak sabar," sambung Angel menarik Natasya ke dapur.
***
Natasya dan Angel sudah tiba di dapur. Dapur sengaja Natasya kosongkan dari pembantu agar tidak mengganggu mereka untuk belajar memasak. Natasya juga sudah menyiapkan beberapa bahan untuk belajar masak. Masakan pertama yang ingin mereka masak adalah telur mata sapi, mulai dari yang mudah dulu. Baru setelah itu akan belajar menumis sayuran.
Natasya sengaja memilih menu yang paling sederhana agar Angel bisa dengan mudah mempelajarinya. Jika sudah selesai tingkat yang mudah, baru nanti akan belajar memasak yang lebih sulit. Seperti masak makanan yang mengandung rempah.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan, nih?" tanya Angel bersemangat.
Angel dan Natasya sudah memakai celemek agar baju mereka tidak kotor.
"Itu kan gampang," kata Angel.
"Kalau gitu, tolong kamu ambil telur di tempat sana. Biar aku siapkan beberapa sayuran. Nanti menu yang kedua, kita akan memasak sayur," pinta Natasya.
"Baiklah."
Dengan semangat Angel menuju ke tempat telur yang tersusun rapi. Dapur memiliki bentuk seperti huruf U dengan sebuah meja yang berada di tengah. Meja itu untuk meletakkan bahan makanan atau memudahkan untuk memilah barang.
Sedangkan Natasya menuju ke arah kulkas. Berlawanan dengan arah Angel. Dia mengambil bahan-bahan yang diperlukan.
"Berapa banyak ambil telur nya?" tanya Angel menatap tiga papan telur.
"Kamu ambil saja satu papan," suruh Natasya.
"Satu papan? Apa itu satu papan? tanya Angel tidak paham.
"Maksud aku, satu papan yang jumlahnya itu 30 butir," sahut Natasya masih memilah bahan di depan kulkas.
"Oh, maksud kamu segini?" tanya Angel mengangkat satu papan telur."
__ADS_1
"Iya," jawab Natasya setelah melihat ke arah Angel.
Angel membawa telur itu ke arah meja. Tapi sayangnya Angel kurang hati-hati memegang telur. Akhirnya telur itu jatuh berhamburan di lantai. Semua telur hancur berantakan.
Natasya sedikit kaget mendengar suara telur yang jatuh. Dia segera bangun dan mengangkat sayuran yang sudah ada di tangannya. Dia meletakkan bahan tersebut di atas meja. Dia mendekati Angel yang masih kedip-kedip mata.
Angel menatap telur yang berhamburan. Tangannya masih melayang di udara. Baru saja mulai, dia sudah berbuat ulah. Untung saja telur itu jatuh di lantai. Tidak mengenai Angel dan juga meja.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Natasya.
"Aku tidak apa-apa. Maaf Natasya, telurnya jatuh. Aku tidak hati-hati," kata Angel merengut.
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu tidak terluka," sahut Natasya.
"Bagaimana ini, telurnya berhamburan. Apa kita bersihkan ini dulu?" tawarin Angel.
"Sudah, kamu tenang saja. Biar aku panggil Rangga untuk membersihkannya. Kalau kita membersihkan sendiri akan membutuhkan waktu yang lama. Nanti keburu siang."
"Apa, tidak apa-apa mengganggu Rangga yang sedang bersama mas Yongki," ujar Angel tidak enak.
"Tidak apa-apa, Rangga pasti akan lebih senang membantu kita di sini daripada mengurus dokumen."
"Baiklah."
"Kamu tunggu di sini ya. Duduk saja di atas kursi itu. Jangan ke mana-mana."
"Oke."
Natasya meninggalkan Angel sendiri di dapur. Dia mengabaikan peringatan Rangga karena dia ingin memanggil Rangga agar membantu mereka untuk membersihkan telur dan cangkang telur yang sudah berhamburan.
Angel mendekat ke arah meja yang sudah ada beberapa sayuran. Di sana hanya ada sayuran dan bahan-bahan saja.
"Sepertinya kita butuh tempat untuk menaruh sayur-sayur ini," gumam Angel.
"Aku bantu cari tempatnya saja ah. Jadi nanti Natasya tidak perlu cari lagu," ide Angel.
Angel mencari tempat untuk menaruh sayuran. Dia pergi ke tempat penyimpanan barang. Matanya menatap wadah yang berada di atas lemari dapur. Dia ingin mengambil sebuah wadah yang terbuat dari kaca.
"Kayaknya ini bisa," ucap Angel bangga karena dia bisa membantu tanpa disuruh.
Bersambung ….
__ADS_1