
"Melati kamu tidak apa-apa?" tanya Bimo yang baru datang dengan terburu-buru.
Penampilan Bimo sangat kacau. Banyak keringat yang mengalir di tubuhnya. Bimo yang mendapat kabar jika Melati berada di rumah sakit dia tidak bisa berpikir yang tidak-tidak. Dia sudah membayangkan hal apa saja yang terjadi kepada Melati.
Safira membalikkan badannya melihat kedatangan Bimo. Sedangkan Melati menatap fokus sang kakak.
Bimo segera meraih Melati untuk melihat seluruh tubuh Melati supaya tidak ada terluka sedikitpun.
"Melati, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bimo dengan lembut ketika melihat Melati baik-baik saja.
"Aku... Aku tidak apa-apa kak. Tapi...," jawab Melati gagap.
"Ya… dia tidak apa-apa, tapi Herry yang berada di ruang pemeriksaan," potong Safira gemas dengan Melati.
"Kamu?" tanya Bimo dengan mengingat kembali siapa gadis yang berada di depannya.
"Apa kamu sudah lupa sama aku? Lita sudah pernah bertemu sekali di pernikahan Natasya dan mas Yongki," sahut Safira.
"Ah Maaf, aku lupa sama kamu," balas Bimo.
Safira berdecak kesal dengan respon Bimo. Dia juga tidak bisa marah dengan Bimo. Wajar jika lupa, mereka hanya bertemu sebentar.
"Tidak apa-apa jika kamu lupa sama aku. Perkenalkan kembali, aku adalah Safira, tunangannya Herry," ujar Safira dengan berbohong.
Bimo membulatkan matanya mendengar pernyataan Safira. Kemudian dia melirik ke arah Melati yang masih duduk. Bimo bisa merasakan jika tubuh Melati tiba-tiba membeku. Tangan dia masih berada di pundak Melati.
"Tunangan? Apa maksud kamu?" tanya Bimo mewakili pertanyaan Melati.
"Sebenarnya kami masih ingin merahasiakan tentang hubungan kami. Tapi berhubung kalian adalah teman baiknya Herry, jadi... aku pikir tidak masalah jika aku kasih tahu. Aku dan Herry sebentar lagi akan bertunangan. Jadi bisa dikatakan jika aku ini adalah tunangannya Herry," ujar Safira menatap Bimo dengan serius untuk menunjukkan seberapa benar yang dia katakan.
"Apa kamu katakan? Herry sama sekali tidak mengatakannya kepada kami," bantah Bimo.
"Kamu tidak dengar ya, tadi aku sudah bilang jika hubungan kami dirahasiakan. Jika dikasih tahu bukan rahasia lagi," balas Safira.
__ADS_1
"Bukankah Herry itu…," kata Bimo terputus dengan melirik Melati.
Safira paham maksud perkataan Bimo.
"Sifat manusia tidak ada yang tahu. Perasaan seseorang juga bisa berubah seiring berjalannya waktu. Apalagi jika dia hanya mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Dia bukan batu tidak punya perasaan yang akan tersakiti," sindir Safira.
"Tapi…."
"Kak Bimo cukup. Melati capek Kak. Melati ingin pulang. Melati ingin istirahat," ujar Melati menatap Bimo.
Melati menggenggam kedua tangannya dengan erat. Melati dari tadi diam menyimak. Dia sudah tidak ingin mendengar semua itu. Hati Melati terluka mendengar pernyataan Safira.
Bimo tidak sanggup melihat mata Melati yang begitu terluka. Dia sudah berjanji agar Melati tidak akan terluka. Sekarang dia melihat Melati yang terasa hancur.
Bimo menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata di pipi Melati yang terus mengalir. Tangan Bimo ikut bergetar seperti tubuh Melati. Hati Bimo juga ikut hancur melihat kondisi Melati.
"Baik, kita pulang ya," ujar Bima dengan lembut.
Bimo mengikutinya dari belakang. Menjaga Melati agar tidak terjadi sesuatu kepada Melati.
'Melati, ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan untuk kalian berdua. Jika kakak kamu masih saja melarang kamu untuk berhubungan dengan Herry dan membuat Herry semakin terluka, maka setelah kejadian ini aku janji, aku tidak akan memberikan kesempatan buat kamu untuk dekat lagi dengan Herry. Aku akan membawa Herry jauh dari kota ini. Herry maafkan aku, jika aku berbuat egois seperti ini. Ini semua demi kebaikan kamu. Biarkan kali ini Bimo melihat yang dia jaga terluka dengan sikapnya. Apa dia akan melepaskan Melati atau tetap menggenggamnya. Jika dia masih menggenggamnya maka aku akan meminta kepada orang tua kita untuk menjodohkan kita dan memaksa kamu pergi keluar negeri. Tapi… jika Bimo melepaskan Melati, maka aku… aku juga akan melepaskan kamu. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia,' batin Safira terluka.
Safira menepuk dadanya beberapa kali untuk mengurangi rasa sesak. Safira tahu jika apa yang dia lakukan bisa saja menyakiti salah satu dari mereka. Jika Melati dan Herry bisa menjalin hubungan maka dia yang akan terluka.
Safira mencoba menguatkan diri jika dia bisa menerima langkah yang diambil ini. Jauh di dalam hati, Safira berdoa jika semua berjalan baik bagi mereka semua.
Safira jatuh merosot di lantai. Dia meletakan muka di antara lipatan lututnya. Safira menangis dalam diam. Dia ingin meluapkan emosi saat ini.
***
"Dengan keluarga pasien," kata dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan.
Safira segera berdiri. Dia menghapuskan air mata. Dia sama sekali tidak mendengar dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan.
__ADS_1
"Dokter, saya adalah temannya. Bagaimana dengan keadaan Herry?" tanya Safira dengan mata yang sudah bengkak.
"Pasien, tidak apa-apa. Tidak ada luka yang serius. Hanya saja pada bagian kaki dan tubuh memiliki banyak memar karena pukulan. Serta tangan pasien yang terkilir. Usahakan jika tangan kanan jangan terlalu banyak bergerak."
"Syukurlah jika Herry baik-baik saja," ucap Safira sedikit tenang.
"Sekarang kamu tidak perlu menangis lagi. Beberapa hari juga sudah sembuh," hibur dokter salah paham.
"Ah… iya dok," jawab Safira kikuk.
Setelah dokter mengatakan bagaimana kondisi Herry, dia segera pergi dari sana. Safira merasa lega jika Herry tidak mengalami luka yang fatal.
Safira telah mengabari keluarga Herry tentang kondisi Herry. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
***
Safira duduk di samping Herry untuk menemaninya sebelum orang tua Herry datang. Safira menggenggam tangan Herry memberikan kekuatan bagi Herry. Tangan Herry diletakkan di keningnya tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
Safira melakukan itu untuk menutupi mukanya yang masih meneteskan air mata, antara sedih dan takut kehilangan Herry. Safira segera menghapus air matanya ketika merasakan Herry mulai menggerakkan tangannya.
"Safira aku di mana?" tanya Hery dengan belum terlalu fokus.
"Herry, bagaimana keadaan kamu? Kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Safira mencoba memberikan senyuman terbaik.
"Apa yang terjadi sama aku? Kenapa aku disini? Apa yang akh…," ringis Herry kesakitan karena tangannya dia gerakkan sembarangan.
"Herry, kamu jangan terlalu banyak menggerakkan tangan kamu dulu. Tangan kamu terkilir," terang Safira.
"Tangan aku tergilir," ucap Herry.
Herry kembali mengulang memorinya untuk mengingat apa yang terjadi. Mulai dari dia diajak jalan-jalan sama Safira sampai dia menemukan Melati yang sedang diganggu oleh preman.
Bersambung....
__ADS_1