Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 89. Menjenguk Herry


__ADS_3

Yongki sudah terbalut dengan jas yang sudah rapi. Dia berdiri di depan kaca untuk memastikan jika penampilannya sudah sempurna. Dia hanya tinggal memasangkan dasi saja. Dua sengaja tidak memasang dasi sendiri karena sudah menjadi kebiasaan Natasya yang akan memasangkan dasinya. 


Yongki bisa saja memasang sendiri, tapi dia lebih suka menikmati momen dimana Natasya memasangkan dasi kepada dirinya. Menatap wajah Natasya yang sedang memasangkan dasi, ada perasaan senang tersendiri bagi Yongki.


Yongki membalikkan badannya menghadap ke arah Natasya yang masuk kembali ke dalam kamar. Tadi setelah Natasya selesai mandi giliran Yongki masuk ke kamar mandi. Setelah Yongki keluar dari kamar mandi, Natasya sudah tidak ada lagi di kamar.


"Cha, kamu tidak kuliah hari ini?" tanya Yongki melihat Natasya yang menggunakan baju rumahan.


"Tidak Mas, Hari ini Natasya tidak ada ke kampus. Ada dosen yang berhalangan masuk," sahut Natasya mendekat ke arah Yongki.


Tangan Natasya dengan cekatan memasangkan dasi pada kerah kemeja Yongki.


"Apa kamu tidak bosan hanya di rumah dan kampus saja?" tanya Yongki basa basi sambil menunggu Natasya memasangkan dasi.


"Tidak Mas, kenapa Chacha harus bosan. Di rumah ada mama yang selalu menemani Chacha. Di kampus Chacha juga sering bertemu sama teman-teman, Mas. Memangnya kenapa Mas," tanya Natasya balik. 


"Tidak, Mas hanya bertanya saja. Jika kamu bosan pergilah berbelanja seperti gadis seusia kamu. Jika uang belanjanya tidak cukup, kamu tinggal bilang sama Mas saja. Nanti akan Mas berikan kartu kredit Mas buat kamu untuk belanja." 


"Kartu blackcard yang pernah Mas kasih ke Chacha saja jarang dipakai, Mas. Apalagi uang jajan yang diberikan oleh kakek, mama dan papa juga sudah lebih dari cukup. Kalau dihitung-hitung, uang jajan Chacha dari Mas, kakek, papa dan mama melebihi seorang manager di kantor," canda Natasya. 


"Itu tandanya kakek, papa dan mama sangat sayang padamu," sahut Yongki dengan menepuk kepala Natasya. 


"Iya Mas, Chacha sangat bersyukur mempunyai keluarga baru. Chacha tidak menduga jika keluarga Mas akan menerima Chacha dengan baik," kata Natasya menatap Yongki.


Kemudian tangan Natasya melingkar di pinggang Yongki. Dia ingin memeluk Yongki sebagai bentuk terima kasih atas segalanya.


"Mas yang lebih beruntung mempunyai kamu disisi Mas," balas Yongki membalas pelukan Natasya. 


"Mas bisa saja," sahut Natasya mengeratkan pelukan.


"Mas bicara yang jujur. Mas tidak bohong," lanjut Yongki.


Mereka terdiam sebentar untuk saling mensyukuri. 


"Jadi kamu tidak ada rencana keluar sama sekali hari ini?" tanya Yongki setelah beberapa saat. 


"Ada Mas, rencana nanti siang Chacha dan teman-teman mau menjenguk Herry di rumah sakit. Kan kemarin Chacha sudah bercerita sama Mas tentang kondisi Herry," kata Natasya sambil melepaskan pelukan. 


"Mas sampai lupa dengan Herri. Ya sudah, kamu hati-hati perginya." 

__ADS_1


"Iya Mas." 


"Ayo kita pergi sarapan sarapan. Nanti Mas bisa telat," ajak Natasya. 


Mereka memutuskan pergi ke ruang makan. Di sana Melisa dan lainnya sudah menunggu kedatangan mereka.


***


"Bagaimana kabarmu? Apa masih hidup?" tanya Rangga begitu membuka pintu ruang rawat Herry.


Kemudian Rangga masuk dan mendekat ke arah Herry. Di belakangnya disusul dengan Dimas, Aura, Natasya dan Angel. Sedangkan Bimo dan Melati tidak ikut pergi berbarengan sama mereka. Alasan kenapa Mereka tidak ikut barengan karena Melati ingin menyiapkan makan siang untuk Herry. Supaya Harry bisa makan yang banyak dan cepat sembuh. Makanan rumah sakit tidak akan cukup untuk lambung Herry yang sangat besar.


"Gila kamu. Kamu mau tanya kabar aku, apa mengharapkan aku mati, hah," kata Herry sewot.


"Oh... masih hidup ternyata," balas Rangga usil. 


"Kamu ini jika tidak ikhlas menjenguk aku sana pergi," usir Herry melemparkan bantal ke arah Rangga.


Rangga dengan reflek menghindar dari lemparan Herry. Sehingga bantal itu hampir mengenai Aura yang ada di belakang Rangga.


Aura dengan reflek juga menangkap bantal itu. Untung saja bantal itu tidak mengenai mukanya yang sudah cantik. 


"Aduh... aduh... sakit," ngeluh Herry kesakitan. 


Tanpa sengaja Dimas mengenai luka di lengan Herry. Karena Herry memberontak dari cekalan tangan Dimas. Dimas segera melepaskan tangannya dari Herry.


"Jika kalian benar-benar tidak ikhlas ingin menjenguk aku pergi saja," usir Herry ngambek.


Mereka berlima tertawa kecil melihat Herry yang pura-pura marah sambil mengelus lengannya. 


"Sudah, kalian jangan ganggu Herry. Kasihan dia," tegur Aura sambil melempar bantal kembali ke arah Herry. 


Tapi sayangnya, bantal itu mendarat di atas kaki Herry.


"Aura!" teriak Herry.


"Uuups... sorry," kata Aura dengan angkat kedua tangannya dengan rasa bersalah.


Aura tidak menyangka jika lempar dia akan mengenai kaki Herry yang sakit. Tadi dia hanya berniat melempar bantal itu kembali ke atas kasur. 

__ADS_1


"Kalian ini bener-bener ya. Sudah tahu aku sakit, tapi kalian masih saja bully aku."


"Sudah untung kamu hanya babak belur segitu. Coba saja jika Safira tidak minta tolong, kamu sudah menjadi mummi sekarang," ejek Rangga.


Mereka sudah tahu secara lengkap kejadian yang menimpa Herry. Tidak perlu lama jika ada masalah mengenai Herry. Herry dengan sendiri akan menceritakan masalahnya.


***


"Melati, Bimo," sapa Safira yang berpapasan dengan Melati dan Bimo di dekat kamar rawat Herry.


"Safira," sapa Melati balik dengan suara pelan. 


Melati meremas bekal makan siang yang telah dia suapkan untuk Herry setelah melihat Safira datang. Safira juga datang dengan membawa bekal siang. Melati yakin jika bekal siang itu untuk Herry. Dia jadi minder. 


"Kalian mau jenguk Herry juga ya," tanya Safira basa-basi.


"Kalau bukan jenguk Herry mau jenguk siapa lagi," jawab Bimo dingin. 


"Ya... siapa tahu kamu mau jenguk ak…." 


"Kak Bimo, Melati duluan ya. Mau kasih ini buat Herry. Melati ada keperluan lain yang sangat penting," potong Melati dengan raut wajah yang sudah kehilangan semangat.


Melati tahu jika dia tidak sopan. Melati sadar jika Safira fokus berbicara kepada Bimo. Makanya dia ingin pergi duluan agar bisa cepat pulang. Sedangkan Bimo tahu tahu jika Melati berbohong. Sebelum pergi Melati sudah bilang jika tidak ada kegiatan lain. 


"Ya sudah, Melati kamu duluan saja. Aku mau bicara sesuatu sama kakak kamu," sahut Safira. 


"Baiklah, Melati duluan ya," pamit Melati meninggalkan Safira dan Bimo berdua.


"Apa yang mau kamu bicarakan sama aku?" tanya Bimo tidak suka. 


"Kebetulan sekali kita ketemu di sini. Bagaimana kalau kita makan siang setelah menjenguk Herry," ajak Safira.


"Jangan mimpi kamu," sahut Bimo judes.


 Bimo segera meninggalkan Safira dan menyusul Melati masuk ke kamar rawat Herry.


"Jangan mimpi kamu, jangan mimpi kamu," ejek Safira mengulang kalimat Bimo sebelum dia menyusul yang lainnya masuk.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2