Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 61 Curhatan Perempuan


__ADS_3

Setelah kepergian Yongki, Natasya kembali berbalik badan. Natasya  baru sadar jika Rangga melihat mereka berdua. Natasya jadi malu sendiri. 


"Ya ya… yang dunia terasa milik berdua. Yang lain ngontrak," kata Rangga kesal. 


Rangga pagi-pagi sudah melihat orang yang bermesraan. Dia kan jadi iri.


"Kamu ini kenapa sewot. Biasanya kamu sering seperti itu. Aku tidak pernah tuh protes," ujar Natasya.


Rangga berdecak kesal. Kalau sudah seperti ini dia ingin sekali cepat-cepat bertemu sama Angel. Tetapi hari ini mereka tidak bisa bertemu karena Angel ada keperluan sama keluarga. 


"Sudah sana makan lagi. Atau aku tinggal kamu," ancam Rangga mengalihkan topik. 


"Coba saja kalau kamu berani ninggalin aku," ancam Natasya balik.


"Oh, kamu pikir aku tidak berani," tantang Rangga dengan ancang-ancang ingin pergi meninggalkan Natasya.


"Memang kamu tidak berani kan. Kamu dengar jika aku bilang kita pergi ke kampus berdua. Nanti bagaimana ya reaksi mas Yongki jika dia tahu kalau kamu meninggalkan aku sendiri di rumah.  Dan aku pergi ke kampus dengan naik kendaraan umum," kata Natasya mulai menyuapkan makan ke dalam mulutnya. 


Rangga kembali duduk. Rangga tidak mau Yongki marah. Bisa gawat nasib dompet dia. 


"Sekarang kamu sudah pandai ya mengancam aku," kata Rangga menatap Natasya dengan memicingkan mata.


"Kan kamu duluan yang tadinya mengancam aku. Apa salahnya jika aku mengancam kamu balik. Aku itu belajar dari ahlinya, yaitu kamu," sahut Natasya sambil mengarahkan garpu yang dia pegang ke arah Rangga. 


"Ngomong ya ngomong, tapi itu garpu tolong dikondisikan. Nanti bisa terbang," ujar Rangga menyingkirkan garpu yang Natasya pegang.


Natasya menaikan kedua bahunya tidak peduli. Natasya meneruskan sarapan paginya. Setelah Natasya selesai sarapan baru mereka berdua berangkat ke kampus.


***


Saat makan siang Angle, Melati, Aura dan Natasya mereka memilih berkumpul. Mereka bertiga sangat penasaran dengan bulan madu Natasya dan Yongki. Mereka mau cerita secara live dari orang bersangkutan.


Angel sengaja membatalkan acara yang lain dan memilih berkumpul bersama. Padahal Angel sengaja tadi pagi menolak Rangga saat Rangga meminta untuk pergi bersamanya.  


Tapi saat Aura menelpon mengajak Angel makan siang bersama dengan Natasya dengan embel-embel membahas perjalanan bulan madu Natasya, maka tanpa berpikir panjang Angel langsung menyetujuinya.


"Jadi bagaimana perjalanan kalian?" tanya Aura mewakili Melati dan Angel. 


"Liburannya seru sekali. Kami menghabiskan waktu bersama. Kami banyak menjelajah tempat-tempat di sana," jawab Natasya. 


"Aduh Natasya, bukan Itu yang mau kami dengar," sahut Aura berdecak sebal.


"Terus kalian mau dengar apa juga?" kata Natasya tidak paham.


"Yang aku maksud itu…," kata Aura menaik turunkan alisnya. 


"Kamu ini tanya apa sih," kata Natasya dengan melemparkan tisu ke arah Aura.

__ADS_1


Natasya tersipu malu mengerti kode dari Aura. Natasya memegang pipinya yang memerah.


"Iya dong. Kami kan penasaran?" elak Aura.


"Itu masalah pribadi. Tidak mungkin aku mengumbarnya," tolak Natasya. 


"Natasya tidak seru ah. Padahal sama teman sendiri, bukan sama orang lain," balas Aura.


"Aura, benar apa yang dikatakan oleh Natasya. Masalah itu biar mereka yang tahu. Walaupun kita ini temannya, masalah ranjang suami istri cukup mereka yang tahu," sahut Melati.


"Huuu….tidak seru ah," ucap Aura tidak semangat.


"Padahal aku juga penasaran sekali Natasya," sahut Angel.


"Memangnya jika nanti kalian berdua menikah dan aku menanyakan hal yang sama, apa kalian juga akan dengan sukarela menjelaskannya?" tanya Natasya balik.


Aura dan Angel terdiam. Mereka memikirkan pertanyaan Natasya. Mereka yang membayangkannya saja juga enggan untuk bercerita kepada siapapun. 


"Iya iya. Kami salah. Kami minta maaf," kata Aura menyesal.


"Aduh," kata Melati mengaduh kesakitan.


"Melati, kamu tidak apa-apa?" tanya Angel. 


"Tidak apa-apa kok. Perut aku cuma lagi muter-muter. Biasa kalau lagi ada tamu," ujar Melati.


"Kalau kamu sedang ada tamu bulanan, kenapa tidak istirahat saja?" tanya Natasya.


"Tadi pagi tidak apa-apa. Sekarang baru terasa. Selama aku tidak banyak bergerak tidak masalah," jawab Melati.


Mereka kembali melanjutkan makan siang. Ketika sedang minum Aura mengingat sesuatu hal yang dia lupakan. Aura memikirkan keras apa yang dia lupakan. Setelah ingat, Aura berhenti minum.


"Tunggu dulu, tunggu dulu," ujar Aura merentangkan tangan. 


Mereka bertiga menatap ke arah Aura. Mereka penasaran sama tingkah aneh Aura.


"Ada apa Aura?" tanya Natasya. 


"Sekarang hari apa, tanggal berapa?" tanya Aura seakan baru hilang ingatan.


"Aura, kamu jangan aneh-aneh deh," sahut Angel.


"Aku lagi tidak bercanda, aku lagi serius," kata Aura dengan mimik serius.


"Hari ini hari Rabu tanggal delapan jika kamu lupa," jawab Melati.


"Dan hari kedua puluh tiga kamu belum bayar hutang kamu sama aku," sambung Angel.

__ADS_1


"Kamu masih saja ingat itu," kata Aura sebal.


"Itu salah kamu sendiri. Makan di restoran tapi lupa bawa dompet. Coba jika aku sibuk, pasti kamu sudah jadi tukang cuci piring. Dan kamu harus ingat, saat itu kamu bilangnya ngu… tang, bukan minta dibayarin," ucap Angel.


"Kamu sama teman perhitungan sekali sih, pelit," ujar Angel.


"Karena aku sebagai teman kamu makanya aku mau menagihnya. Walaupun kita teman tapi yang namanya hutang tetap hutang. Aku sebagai teman baik sudah berbaik hati mau mengingatkan kamu. Jika tidak kamu bisa masuk neraka," terang Angel.


"Iya deh, iya. Nanti jika aku ada uang aku akan bayar. Sekarang kembali ke topik utama. Tadi Melati bilang kalau hari ini hari Rabu tanggal  delapan berati…."


Aura mulai menggunakan tangannya untuk membantu menghitung. Setelah selesai menghitung Aura menatap ke arah Natasya dengan tatapan horor.


"Apaan sih," ujar Natasya risih sama tatapan Aura.


Natasya merasakan aura yang tidak enak melihat betapa Aura memelototi dia. 


"Bukannya jadwal kamu sama Melati jaraknya sekitar tujuh hari. Jangan-jangan kamu saat itu juga…," tebak Aura tidak meneruskan lagi perkataannya.


Angle dan Melati langsung paham maksud perkataan Aura. Mereka berteman sudah terlalu akrab. Mereka bisa tahu kapan jadwal teman dekat sendiri. Angel dan Melati juga menatap horor ke arah Natasya.


Natasya sendiri terbatuk mendengar perkataan Aura. Natasya tidak menduga jika Aura akan berpikiran sampai di sana. Susah punya teman yang tingkat kepo tinggi. Masih saja ada celah yang bocor.


"Pasti dugaan aku benar. Kalau tidak kamu tidak akan mungkin tersedak," tambah Aura. 


"Apaan sih. Jangan ngomong sembarangan," jawab Natasya mencari alasan.


"Siapa yang ngomong sembarangan," bantah Aura.


"Kamu tidak usah bicara yang aneh-aneh," ujar Natasya. 


"Ini adalah fakta Natasya," sahut Aura memutar kan mata malas.


"Jadi benar kamu dan Yongki tidak begitu-begitu?" tanya Angel sengaja tidak meneruskan perkataan karena dia tidak enak menyebutkan.


"Iya," sahut Natasya jujur.


Jika Natasha mengelak pun temannya juga tidak akan percaya.


Mereka tertawa terbahak-bahak membayangkan nasib mas Yongki. Angel yang duduk di dekat Aura segera menutup mulut Aura yang tertawa paling keras.


"Kamu kalau ketawa kayak orang stres tahu Tidak. Kayak emak-emak anak lusinan," sindir Angel.


"Maaf deh, aku tidak bisa menahan membayangkan nasib mas Yongki," sahut Aura.


"Tapi tidak dengan segitunya juga kali," cibir Natasya.


Mereka terus menikmati makan siang mereka. Sampai mata Melati tidak sengaja melihat Herry yang berjalan dengan cewek yang pernah mereka temui saat hari pernikahan Natasya.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2