
Setelah pulang dari kampus Natasya langsung pulang ke rumah. Di ruang keluarga Natasya elihat Melisa yang sedang minum teh.
"Mama sudah sehat?" tanya Natasya.
Natasya mendekati Melisa. Natasya memberi salam kepada Melisa sebelum dia duduk di samping Melisa.
"Mama sudah baik-baik saja. Apalagi karena kamu sudah pulang," sahut Melisa memegang tangan Natasya.
"Iya Ma, Chacha sudah pulang," kata Natasya memeluk Melisa.
Melisa membalas pelukan Natasya. Natasya merasa sangat nyaman dalam pelukan Melisa. Natasya mulai terbawa suasana. Natasya jadi mengantuk.
"Ma, apa Mama sudah makan siang?" tanya Natasya dengan menutup mata.
"Mama sedang tidak ada nafsu makan. Nanti saja Mama makan," jawab Melisa.
"Mama tidak boleh begitu. Mama lagi kurang sehat. Mama harus banyak makan," ucap Natasya langsung melek dan bangun.
"Mama lihat makanan saja sudah kenyang Chacha. Bagaimana Mama mau makan," balas Melisa lesu.
"Bagaimana kalau Chacha yang masak buat mama," tawar Natasya agar Melinda mau makan.
"Apa kamu tidak capek buat masak untuk Mama. Kamu baru saja pulang," kata Melisa.
"Tidak Ma, Chacha tidak capek. Chacha malah sangat semangat sekarang," sahut Natasya mengepalkan tangan buat Melisa percaya.
"Ya sudah, Mama mau makan jika kamu yang masak," jawab Melisa.
"Apa yang mau Mau Mama makan? Biar Chacha buatkan," tanya Natasya.
"Terserah kamu saja sayang. Apapun yang kamu buat pasti akan Mama makan," ucap Melisa.
"Kalau begitu Mama tunggu di sini sebentar ya. Chacha mau ke dapur dulu buat masak."
"iya sayang. Kamu hati-hati jangan melukai tangan kamu," kata Melisa memperingati Natasya.
"Iya Ma.
***
Tiga puluh menit kemudian Natasya telah selesai memasak .Natasha memasak makanan yang sederhana agar Melisa bisa segera makan. Waktu makan siang sudah sangat lewat.
"Ayo Ma, makanan sudah siap," ajak Natasya setelah menyajikan makanan di atas meja.
"Masakan kamu membuat Mama jadi sangat lapar," kata Melisa mendekati Natasya.
"Kalau Mama lapar, Mama makan yang banyak ya," suruh Natasha.
Natasha menyiapkan piring dan mengambil beberapa lauk-pauk untuk Melisa. Melisa menatap Natasha dengan sangat fokus.
"Kenapa Mama dari tadi melihat Chacha. Apa ada sesuatu yang aneh di muka Chacha?" tanya Natasya memegang muka setelah menyerahkan piring buat Melisa.
__ADS_1
"Tidak sayang, di muka kamu tidak aneh. Mama hanya senang saja. Begini rasanya jika mempunyai anak perempuan. Mama senang kamu memperhatikan Mama seperti ini. Kamu tahu sendiri mas Yongki dan Rangga itu anak laki-laki. Mereka tidak bisa menyenangkan hati Mama. Hanya kamu yang bisa membuat Mama senang."
"Mama jangan begitu. Bagaimanapun mas Yongki dan Rangga adalah anak Mama. Pasti mereka mengharapkan yang terbaik juga buat Mama. Mungkin cara penyampaian kasih sayang mereka berbeda."
"Ya sayang Mama tidak membantah dengan apa yang kamu katakan. Tapi mempunyai anak yang terlalu jaim juga sangat membosankan. Mereka tidak bisa menyenangkan Mama saat Mama perlu."
"Kalau Mama terus bicara, kapan mulai makannya?" tanya Natasya.
Melisa mulai memakan sarapan siangnya yang sudah sangat terlambat. Melisa makan dengan begitu lahap.
"Akhirnya Mama mau makan juga. Tadi Papa sudah capek menyuruh Mama untuk makan," ujar Hartato yang tiba-tiba datang.
"Iya dong Pa, masakan anak Mama sangat enak. Mama langsung lapar. Cacing diperut Mama langsung konser," canda Melisa.
Hartato memberikan senyuman kepada Natasya sebagai wujud terima kasih karena bisa membuat Melisa bisa makan.
"Mama kalau sudah makan jangan lupa minum obat ya," kata Hartato sengaja biar didengar Natasya.
"Pa, nanti Mama minum," kata Melisa dengan alasan.
"Mama, Mama harus minum obat biar cepat sembuh. Chacha tidak mau jika sesuatu terjadi sama Mama," ucap Natasya.
"Iya sayang, pasti nanti akan Mama minum," janji Melisa.
Melisa memelototi Hartato. Padahal Melisa sudah berusaha untuk tidak minum obat. Melisa tidak suka dengan bau dan rasa obat. Tidak mungkin Melisa menolak permintaan Natasya.
Sedangkan Hartato sang pelaku pura-pura tidak melihat Melisa. Dia segera berjalan menuju ke tempat lain untuk menghindari Melisa.
***
"Kalau jalan pakai mata dong," kata gadis itu dengan sinis tanpa melihat Yongki.
"Maaf, apa kamu tidak apa-apa. Tadi saya tidak sengaja," kata Yongki ingin membantu gadis itu sebagai bentuk pertanggung jawab.
Gadis itu melihat ke arah Yongki langsung terpesona. Dia meraih tangan Yongki untuk berdiri.
"Mbak, apa Mbak tidak apa-apa? Biar bajunya saya gantikan," kata Putra mewakili Yongki.
'Apa? mbak katanya? Yang benar saja. Apa dia buta ya. Aku ini masih muda dipanggil mbak-mbak,' batin gadis itu kesal.
"Tidak tidak apa-apa. Noda ini masih bisa dibersihkan," sahut gadis itu.
Gadis itu dengan tetap menahan senyuman. Dia menjaga image di depan Yongki.
"Kalau tidak ada masalah lagi, kami pamit," kata Yongki.
Yongki dan Putra meninggalkan mereka.
Gadis itu tidak percaya jika Yongki sama sekali tidak membujuk dia lagi. Dia pergi dengan mendumel.
***
__ADS_1
Setelah selesai rapat Yongki dan Putra berniat pulang langsung ke kantor. Tapi langkah Yongki terhenti mendengar gadis yang sempat ditabrak oleh Yongki tadi. Tapi Yongki sama sekali tidak mengingatnya mereka. Yang difokuskan Yongki adalah topik yang mereka bahas.
"Mbak, apa tasnya bisa dicicil?"
"Tidak bisa Mbak. Semua tas di sini tidak bisa dicicil."
"Atau bisa nggak Mbak tasnya disimpan dulu. Besok saya bayar."
"Maaf Mbak, di toko kami siapa cepat dia yang dapat.
"Sayang sekali, padahal aku sangat ingin tas itu."
"Iya, tas itu sangat cantik. Pasti semua perempuan akan menyukainya."
"Pasti yang lain bakal iri."
"Apa tas itu memang secantik dan semenarik itu bagi kalian?" tanya Yongki tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Putra tadi yang berjalan di samping Yongki memutarkan arahnya kembali ketika Yongki memasuki toko tas.
Mereka terkejut dengan kedatangan Yongki.
"Mas Yongki," panggil mereka.
Yongki menaikkan kedua alisnya. Dia tidak heran jika gadis-gadis itu mengenalnya.
"Apa semua perempuan akan menyukai tas itu dan akan iri?" tanya Yongki lagi.
"Iya Mas, semua perempuan pasti akan senang jika memiliki tas itu," sahut gadis itu dengan merapikan rambut di belakang telinga untuk menarik perhatian Yongki.
"Kalau gitu tolong bungkus kan tas itu," suruh Yongki kepada penjaga toko dan menyerahkan kartu kredit.
Gadis itu tersipu. Dia mengira jika tas itu dibeli untuknya dia. Dia bersama temannya tersenyum senang.
"Ini Tuan tasnya," kata pegawai itu menyerahkan kepada Yongki.
Yongki menerima tas itu dan mengambil kartu kredit kembali.
"Terima kasih Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu," ujar Yongki.
Yongki segera pergi dari sana sambil tersenyum. Yongki yakin jika Natasya akan menyukai hadiah yang dia berikan.
Sedangkan gadis-gadis itu melongo melihat Yongki yang pergi begitu saja.
"Apa-apaan ini," kata gadis itu tidak terima.
"Aku pikir tadi dia akan beli tas itu buat kamu."
Mereka meninggalkan toko dengan kesal.
"Gadis zaman sekarang memang tidak tahu malu. Maunya barang gratisan dan bermerek tapi tidak punya uang," kata pegawai itu menggeleng kepala.
__ADS_1
Bersambung….