Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab 31. Hari Kelulusan


__ADS_3

Pembicaraan tentang Yongki yang sudah mempunyai calon istri masih menjadi berita hangat. Padahal sudah berminggu minggu waktu berlalu. Pihak Wartawan juga sudah menanyakan langsung kepada keluarga Sudirman tentang kebenaran berita itu.


Melisa dengan bangga dan lantang mengucapkan bahwa benar anaknya sudah mempunyai calon istri saat para wartawan menanyakan langsung pada Melisa. Mungkin itulah yang menjadi penyebab beritanya semakin heboh. Banyak Wartawan yang menunggu di depan perusahaan Sudirman dan juga di rumah.


Para Wartawan ingin tau siapa calon istri dari Yongki. Melisa hanya membenarkan isu saja. Melisa merahasiakan calon istri Yongki tidak menyebutkan siapa calonnya. Bahkan Rangga juga menjadi target pertanyaan Wartawan.


Ditengah berita itu, Natasya dan kawan kawan tetap fokus mengikuti ujian akhir sekolah. Natasya yang menjadi sosok yang dicari oleh Wartawan untuk sementara menghindari keluarga Sudirman. Natasya hanya akan pergi jika teman temannya juga ikut pergi ke kediaman Sudirman. Natasya tidak mau Wartawan curiga sedikitpun sama dia.


Melisa bahkan ingin sekali tiap hari berjumpa dengan Natasya. Tapi saat tau ini demi kebaikan Natasya agar tidak tercium sama Wartawan baru Melisa mengalah. Jadi solusi terakhir ya mengajar Natasya berserta teman temannya.


Teman teman Natasya sangat senang jika mereka mampir ke rumah Rangga sekarang. Karena mama Melisa akan menyambut mereka dengan sangat baik. Mama Melisa pasti akan menyuruh Pembantu memasakkan makanan yang enak saat calon anak menantunya datang.


Mereka kini telah siap mengikuti ujian akhir sekolah. Saat ini mereka tengah menunggu pengumuman kelulusan dengan hati yang berdebar. Banyak para siswa dan siswi yang menunggu hasil pengumanan sambil melafalkan doa.


Mereka rela berdesak desakan ingin melihat nilai dan peringkat saat guru mulai menempelkan kertas pengumuman. Ada beberapa tempat yang menjadi tempat penempelan pengumuman lulusan agar tidak membuat siswa saling berebutan.


Ada siswa yang senang melihat hasil ujian ada juga yang kecewa. Semua siswa dinyatakan lulus, yang membuat mereka kecewa adalah hasil perangkingan.


Natasya beserta kawan lainnya lebih memilih menunggu yang lain siap melihat dari pada berdesakan begitu. Siswa yang sudah melihat langsung pergi untuk pesta kelulusan.


Natasya dan kawan kawan juga kini ingin melihat hasil tes mereka setelah tinggal beberapa siswa. Dan urutannya adalah....


Natasya peringkat 1


Rangga peringkat 2


Dimas peringkat 4


Bimo peringkat 7


Angel peringkat 10


Melati peringkat 18


Herry peringkat 76


Aura peringkat 101


Jumlah siswa dari setiap angkatan ada 350 orang. Sekolah ini hanya menerima 7 kelas pertahun dengan jumlah siswa 30 orang perkelas.

__ADS_1


"Kenapa hanya aku yang tidak masuk ke 100 besar, sedangkan Herry yang lebih bodoh sama aku bisa dapat rangking 76," protes Aura tidak terima.


Herry tidak merasa tersinggung dengan ucapan Aura. Dia malah tersenyum senang, Herry mengganggap itu adalah sebagai pujian.


"Kamu pasti main curangkan," tuduh Aura yang masih tidak terima.


"Enak aja," sahut Herry.


"Sayang, tidak baik main tuduh begitu, apalagi sama teman sendiri," tegur Dimas.


"Tapi kenapa dia bisa masuk 100 besar, sedangkan aku tidak," sahut Aura.


"Ya bisa dong aku masuk 100 besar, jika gurunya aja bisa rangking 1 selalu," ujar Herry bangga.


"Apa maksud kamu?" tanya Aura.


Aura langsung melirik antara Natasya dan Herry.


"Kemarin Natasya yang jadi guru privat aku, gimana hebatkan, dulu jangankan rangking 100 besar, masuk peringkat rangking 300 aja syukur Alhamdulillah," kata Herry bangga.


"Iya, beberapa minggu yang lalu Herry minta aku jadi guru lesnya, sebenarnya aku mau nolak, tapi Herry maksa aku jadi gurunya, ditambah dia juga menawarkan biaya les yang lumayan banyak, kan lumayan buat nambah pemasukan," tambah Natasya.


"Buat apa kamu diajarkan sama Natasya jika hasilnya sama saja, aku aja yang ngajak kamu belajar malasnya minta ampun, ada aja alasannya. Kamu niat belajarnya yang tidak ada, sedangkan Herry itu walaupun bodoh, dia bukan orang pemalas. Dia sendiri yang minta diajarkan sendiri tanpa dipaksa beda sama kamu," kata Dimas mendengus.


Aura hanya bisa ketawa tidak jelas. Seperti yang dikatakan Dimas, Aura bukan bodoh tapi pemalas, sedangkan Herry kebalikan sama Aura.


"Aduh tidak sabar lagi mau malam perpisahan," kata siswi A.


Tiba tiba mereka mendengar siswa lainnya yang lari berbicara tentang malam perpisahan yang akan diadakan tiga hari lagi.


"Iya, tinggal tiga hari lagi," jawab siswi B.


"Iya, nanti pulang dari sini kita langsung pergi shopping yuk, buat beli gaun di malam perpisahan. Aku dengar perpisahan kali ini sangat spesial, kali ini akan diadakan di hotel bintang 5, hotel yang baru di buka itu," ujar siswi C.


Malam perpisahan ini sedikit beda dengan perpisahan tahun tahun lau, biasanya malam perpisahan diadakan di sekolah atau jika ada sponsor maka akan diadakan di hotel juga. Tetapi bukan hotel yang mewah seperti sekarang melainkan di hotel yang biasa.


"Iya, hebat sekali hotel itu, baru sebulan buka tapi ratinya sudah sangat bagus," sahut siswi B.


"Pokoknya nanti kita harus tampil secantik mungkin, karena perpisahan kali ini juga datang para investor dan pengusaha muda, lulusan alumni sekolah ini," tambah siswi C.

__ADS_1


"Wah gila, aku baru tau, sehabis pulang dari sini kita ke mall langsung ya, kita beli semua yang kita butuhkan, kita harus tampil secantik mungkin," sahut siswi A.


"Iya dong, kita harus tampil secantik mungkin sama pakai pakaian dan perhiasan yang mahal, kan kita anak dari orang kaya. eda tuh yang anak dari kampung, dapat biaya di sini aja syukur, semoga saja dia tidak mempermalukan sekolah kita nanti," Sindir siswi C sambil melirik Natasya yang juga lagi melihat pengumuman.


"Iya betul, tapi kayaknya dia tidak ada uang deh buat beli baju yang bagus, mungkin harus sewa gaun bekas kali," hina siswi B.


Mereka masih tetap menyindir Natasya yang orang miskin dan datang dari kampung. Mereka sengaja mengerjakan suara agar bisa didengar sama Natasya langsung.


Aura yang mendengarnya naik pitam. Aura ingin sekali merobek ketiga mulut siswi itu, mulut mereka pasti tidak pernah dicuci. Dimas dari tadi memegang pinggang Aura biar tidak lepas kendali.


"Dimas lepas, buar aku sobek itu mulut, itu mulut tidak pernah di sekolahkan," marah Aura.


"Aura sabar dong," pinta Dimas.


"Lepas Dimas biar aku beri mereka pelajaran," Aura masih berusaha melepaskan diri dari Dimas


"Hai kalian sini, jika berani sini ngomong didepan jangan main nyindir begitu," teriak Aura akhirnya.


Aura ingin sekali mendekati mereka jika dia bisa. Mereka bertiga yang mendengar teriakan Aura langsung kabur.


"Hai mau kemana, kenapa malah kabur," teriak Aura lagi tidak terima.


"Udah Aura, jangan mengurusi mereka," ujar Natasya.


Dimas segera melepaskan Aura karena Aura sudah tidak berontak lagi.


"Kamu kenapa diam begitu saja si Natasya," protes Aura.


"Yah mau gimana lagi, jika kita meladeni mereka, nanti mereka bertambah senang," sahut Natasya.


"Betul itu yang dikatakan sama Natasya," setuju Angel.


"Kalian tidak asih ah," ujar Angel.


"Udah jangan lagi ribut, ayo kita rayakan hari kelulusan kita," ajak Rangga.


"Ayo, kita pergi makan makan," sahut Herry senang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2