
"Sayang, kamu ada membawa berkas yang Mas minta?" tanya Yongki.
"Ada Mas. Ini, sekalian Natasya membawakan sesuatu buat Mas," sahut Natasya.
"Ayo kita duduk Chacha," ajak Yongki.
Yongki menuntun Natasya dengan lembut ke arah sofa tanpa mempedulikan Amanda. Mereka berdua sudah duduk nyaman di atas sofa. Natasya tidak lupa menyerahkan berkas kepada Yongki dan meletakkan bingkisan di atas meja.
"Yongki, aku masih ada urusan lain yang harus aku urus. Jadi apa boleh aku pergi," pinta Putra.
"Iya, kamu boleh pergi," ujar Yongki.
Setelah memberi hormat kepada Yongki dan Natasya, Putra meninggalkan mereka bertiga. Putra tidak perlu repot-repot memberi hormat kepada Amanda. Dia sudah mengenal Amanda, dari dulu dia memang tidak suka sama Amanda. Jika bukan karena pekerjaan maka dia sama sekali tidak mau ingin bertemu sama Amanda.
Amanda berdiri sendiri di tengah ruangan. Dia tidak dipersilahkan duduk. Akhirnya Amanda memilih duduk tanpa disuruh. Sekarang dia bagaikan nyamuk di depan Yongki dan Natasya.
Natasya duduk sangat dekat di samping Yongki. Dengan jari lentiknya, dua membuka cake yang dia bawa.
"Apa ini sayang?"
"Ini cake yang mama ingin makan kemarin. Chacha sengaja buat lebih buat Mas. Semoga Mas suka,",ucap Natasya dengan ragu.
"Natasya, apa kamu tidak tahu jika Yongki tidak tidak suka makanan yang manis?" sindir Amanda.
Natasya terdiam. Dia jadi pesimis Yongki akan makan cake yang dia buat. Dia sudah terlanjur membawa ke sana.
"Sini sayang, biar Mas coba," sahut Yongki.
'Aku tidak mau membuat Natasya sedih. Dia sudah capek-capek datang ke sini. Dan aku tidak mau dia dipandang rendah sama Amanda. Pasti Amanda akan senang jika aku tidak makan cake ini,' batin Yongki menatap raut wajah Natasya.
Tok… tok….
"Permisi Pak."
Salah satu office girls mengetuk pintu. Dia ingin masuk ke dalam ruangan Yongki untuk mengantar minuman.
"Iya, silahkan masuk," suruh Yongki.
"Ini Pak, saya mau mengantarkan minuman," kata office girls.
"Iya."
__ADS_1
Office girls itu meletakkan secangkir kopi di depan Yongki. Kopi yang biasa diminum oleh Yongki. Kemudian dia bingung untuk meletakkan satu gelas teh untuk siapa. Dia hanya membuatkan dua minuman saja. Karena tadi pesannya hanya dua, sekarang ada tiga orang.
"Minuman ini untuk Mbak ini, Mbak," ujar Natasya mendorong gelas tersebut ke arah Amanda.
"Saya minta maaf, tadi pesannya hanya dua," ucapnya tidak enak.
"Tidak apa-apa Mbak, saya juga hanya sebentar. Sebentar lagi saya akan pulang," terang Natasya.
'Syukurlah.'
"Saya permisi Pak, Mbak," pamit office girls.
"Oh ya Mbak, ini buat Mbak," ujar Natasya menyerahkan sepotong cake kepada Amanda.
"Tidak usah Natasya. Bukannya aku nolak, tapi makanan kayak gini bisa membuat aku tambah gemuk. Aku sedang duet buat jaga badan," tolak Amanda tanpa sungkan.
'Lagian mana sudi aku makan makanan buatan kamu. Yang ada aku bisa sakit perut,' remeh Amanda memandang sebelah mata.
"Oh... baiklah," sahut Natasya.
Yongki mengambil garpu dan cake yang ingin dia makan. Dia memotongnya tidak terlalu besar atau kecil supaya rasa manisnya nya tidak terlalu memenuhi seluruh rongga mulutnya. Begitu cake itu menyentuh lidahnya, dia bisa merasakan rasa manis yang meleleh di mulutnya. Setelah mengunyah dia segera meminum kopi untuk membuat rasa manis berkurang.
"Yongki, jika kamu tidak sanggup makan, kamu tidak perlu memaksa diri," tegur Amanda melirik Natasya dengan ekor matanya.
"...."
Yongki sengaja memotong agar Natasya tidak merasa sungkan. Dia tidak mau Natasya terlihat lemah di depan Amanda. Yongki mau istrinya itu terlihat kuat selalu. Terutama di depan Amanda.
"Ah... begitu ya," respon Amanda dengan kesal.
Natasya menatap Yongki dengan mata berbinar. Dia tersentuh Yongki mau makannya walaupun tidak suka.
Amanda meminum tehnya sedikit. Kemudian meletakkan gelas itu kembali.
"Baiklah, pembahasan kita cukup sampai disini saja," ucap Amanda yang sudah sangat gerah melihat Natasya dan Yongki yang terus dekat.
Mereka membuat Amanda tidak suka. Apa yang dilakukan oleh Yongki adalah hal kecil. Hal yang tak pernah Amanda dapatkan dari lelaki manapun. Lelaki yang mendekati dia hanya karena dia cantik dan kaya.
"Iya Bu Amanda," balas Yongki.
"Kalau begitu sampai bertemu lagi dua minggu ke depan di tempat proyek. Semoga semua berjalan lancar, jadi kita hanya menghabiskan waktu hanya seminggu," ujar Amanda dengan sengaja.
__ADS_1
Natasya ingin bertanya apa maksud dari perkataan Amanda. Tapi dia menahan diri karena itu adalah urusan bisnis. Sedangkan Yongki yakin jika Amanda sengaja mengatakannya untuk membuat Natasha cemburu.
"Iya Bu Amanda. Sekarang Ibu sudah bisa pergi. Saya masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan," usir Yongki dengan halus.
Dia sudah tidak ingin melihat Amanda lagi. Sekarang dia harus segera menjelaskan semuanya kepada Natasya.
Amanda segera pergi dari sana dengan senang. Dia sudah tidak sabar mendengar jika mereka bertengkar. Jika mereka masih baik-baik saja, Amanda masih ada waktu untuk membuat mereka terpisah.
'Rasain kamu Natasya. Aku yakin jika kamu akan cemburu mendengar hal tadi. Sekarang apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui aku dan Yongki akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk menyelesaikan proyek ini. Selama di sana aku pasti akan mencari kesempatan membuat Yongki jatuh cinta kembali kepada aku. Setelah kami pulang dari sana maka kamu tidak akan pernah bisa bersama Yongki lagi," batin Amanda tersenyum puas.
Natasya tidak bertanya apapun kepada Yongki. Dia ingin Yongki menjelaskan sendiri tanpa dia harus bertanya.
"Sayang, kamu jangan salah paham ya," ujar Yongki.
Natasya masih diam saja. Dua melipat kedua tangan menatap ke arah Yongki. Natasya meminta untuk menjelaskan apa yang terjadi, bukan untuk diberikan alasan.
"Sayang, Mas sudah menolak untuk pergi mengecek lokasi proyek. Mas sudah bilang akan menyerahkan masalah ini kepada Putra. Tapi… tapi ada berapa hal juga yang harus Mas lakukan. Mas harus melihat secara langsung pembangunan proyek. Amanda yang memaksa Mas buat mengecek langsung. Ada laporan yang membutuhkan tanda tangan Mas dan lainnya," terang Yongki panjang lebar.
"...."
Natasya masih diam. Dia menunggu Yongki untuk mengatakan isi hatinya.
"Kamu tenang saja, Mas tidak pergi berdua saja sama Amanda. Nanti Putra juga akan ikut sama kami. Mas tidak mungkin akan melihat perempuan lain selain kamu. Mas janji. Kamu percaya sama Mas kan?" tanya Yongki penuh harap.
"Mas, Chacha percaya sama Mas. Chacha hanya tidak percaya sama Amanda. Bagaimana jika Amanda mengambil kesempatan ini untuk berbuat yang tidak-tidak. Mas lihat tuh sinetron yang sering mama nonton. Dimana pihak bibit pelakor menaruh sesuatu di minuman," ujar Natasya dengan tidak rela Yongki pergi bersama Amanda.
Amanda sudah jelas ular berbisa. Mana mungkin Natasya tidak takut terjadi apa-apa. Di depan Natasya saja dia berani mau nikung. Apalagi saat Natasya tidak ada. Bisa jadi Yongki diajak ke gunung yang banyak tikungan agar mudah ditikung.
"Mas janji sayang, Mas akan berjaga diri. Mas tidak akan makanan atau minuman apapun yang akan diberikan oleh Amanda. Bila perlu biar Putra yang mencobanya," kata Yongki dengan mengkorbankan putra.
Yongki bukan bermaksud menganiaya Putra. Dia hanya ingin menenangkan Natasya.
"Chacha tetap khawatir jika Mas pergi dengan Amanda," ujar Natasya sulit mengikhlaskan Yongki pergi.
"Andai saja Mas bisa membawa kamu ke sana, Mas pasti akan membawa kamu," ucap Yongki.
"Sudah lah Mas, maafkan Chacha yang sedikit kekanakan. Masalah ini adalah masalah pekerjaan. Sekarang yang bisa Chacha lakukan yaitu percaya sepenuhnya sama Mas. Tapi Mas jangan sekali-sekali mengecewakan kepercayaan Chacha," ujar Natasya tidak punya pilihan lain.
"Iya sayang, Mas janji tidak akan pernah mengecewakan kamu," ucap Yongki.
Yongki membawa Natasya ke dalam pelukan. Dia ingin menenangkan Natasya. Natasya membalas pelukan Yongki. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Bersambung….