Diburu Nikah

Diburu Nikah
Bab. 83 Ada Luka Dibalik Senyuman


__ADS_3

'Tapi aku tidak akan membiarkan kan semua ini berjalan dengan mulus. Aku harus memberi cowok tidak peka di depan ini pelajaran. Tidak mungkin aku akan langsung mengatakan iya. Pasti dia akan curiga nanti,' batin Melati.


"Memangnya kamu siapa, bisa-bisa nya menyuruh aku membatalkan pertunangan aku sama Herry," ujar Safira berpura-pura marah.


"Aku tahu, kamu pasti tahu jika Herry mencintai Melati, adik aku," ucap Bimo.


"Jadi apa masalahnya?"


"Apa kamu mau bertunangan sama orang yang tidak mencintai kamu?"


"Herry adalah lelaki yang baik. Mungkin saat ini dia tidak mencintai aku, tapi aku yakin suatu saat dia akan luluh jika aku tulus mencintai dia," sahut Safira menerawang.


"Safira, kamu tidak boleh bertunangan sama Herry," ulang Bimo.


"Sudahlah, ini bukan urusan kamu. Kamu jangan ikut campur. Kamu bukan siapa-siapa di antara hubungan aku dan Herry," kata Safira yang berdiri dari tempat duduknya.


Safira berancang-ancang seperti akan pergi. Dia semakin mendramatisir berbicara sama Bimo. Dia ingin membuat semua seakan natural dengan dia terlihat marah.


"Safira tunggu," cegah Bimo dengan menarik tangan Safira.


"Kamu duduk dulu, jangan pergi begitu saja. Aku belum selesai bicara," sambung Bimo.


"Apalagi yang mau kamu bicarakan. Kamu jangan meminta sesuatu yang aneh-aneh. Mana ada orang yang mau membatalkan pertunangannya tanpa sebab dan akibat," tolak Safira.


"Kamu duduk dulu ya," ujar Bimo mendudukkan Safira kembali di tempat duduk tadi.


"Safira, aku yakin jika kamu adalah gadis yang yang baik. Kamu tidak akan tega menjauhkan dua orang yang saling mencintai," kata Bimo dengan nada halus kali ini.


"Tadi kamu bilang jika aku ini adalah gadis bar-bar."


Bimo menghela nafas berat. Dia mencoba sabar dengan sikap Safira. Dia akui tadi dia sendiri yang menghina Safira. Sekarang Safira tidak salah membalikan kata-katanya kembali.


"Aku tidak bermaksud mengatakan begitu. Tadi aku hanya bercanda," ujar Bimo memaksakan tersenyum.

__ADS_1


Bimo memaksa menarik ujung bibirnya. Safira yang melihat ekspresi Bimo ingin tertawa keras. Ekspresi Bimo terlalu lucu untuk dilewatkan. Safira menahan tawa sekuat mungkin. Dia tidak mau aktingnya gagal.


"Jadi, aku ini bukan gadis barbar?"


"Iya kamu bukan gadis bar-bar. Kamu gadis yang cantik dan baik," puji Bimo untuk menyenangkan Safira.


"Terima kasih, aku memang gadis yang cantik. Apa kamu baru sadar," kata Safira dengan menggoyangkan rambutnya.


'Benar-benar gadis ini…. Sudahlah, aku harus memuji dia dulu supaya dia mau putus dengan Herry. Dengan begitu Melati tidak lagi bersedih,' batin Bimo sudah tidak kuat.


"Jadi bagaimana? Apa kamu mau putus dengan Herry?" tanya Bimo deg-degan.


Safira sengaja menunda jawabannya. Dia akan membuat Bimo penasaran dengan jawabannya.


"Apa untungnya jika aku aku putus dengan Herry?" tanya Safira balik.


"Kamu kan cantik. Kamu bisa mencari laki-laki yang lebih baik daripada Herry. Asal kamu tahu, Herry itu adalah laki-laki yang ceroboh dan tidak pekaan," kata Bimo menjatuhkan Herry.


'Tidak peka teriak tidak peka. Dia itu tidak beda jauh sama kamu sendiri. Apa kamu tidak punya cermin di rumah ya. Atau biar sekalian aku berikan cermin sebesar tembok. Biar kamu bisa ngaca,' batin Safira bosan.


Bimo mengangguk kepalanya dengan puas. Dia sudah yakin jika Safira sudah luluh dengan perkataannya.


"Tapi tetap saja jika aku putus dengan Harry sekarang, nanti siapa yang akan menemani aku shopping dan jalan-jalan. Setidaknya aku bisa mengajak Herry kemana-mana. Yah… walaupun dia bodoh bisa disuap," ujar Safira menatap lekat kepada Bimo.


Safira sudah meletakkan sikunya di atas meja dengan tangan menahan pipinya.


"Kamu kan bisa mengajak teman-teman kamu," sahut Bimo.


Senyuman Safira luntur seketika. Safira terbayang kepada teman-temannya. Safira memang beruntung dari segi materi dan fisiknya. Dia bisa membeli apa saja dengan uang dari orangtuanya. Serta fisiknya yang sempurna sehingga dia memperoleh banyak teman.


Tapi seperti kata pepatah, tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga dengan Safira. Selama ini Safira belum menemukan teman yang benar-benar tulus mau berteman dengan dia. Teman Safira selalu memanfaatkan kekayaan orang tua Safira.


Bahkan mereka juga memanfaatkan kecantikan Safira untuk berkenalan dengan para cowok. Safira dijadikan ajang pemikat pertemuan dengan teman cowok. Setelah mereka mendapatkan teman cowok, mereka akan meninggalkan Safira begitu saja.

__ADS_1


Nasib Safira dengan pacarnya juga tidak berjalan dengan mulus. Tidak ada yang bertahan lama bersama Safira. Pacar Safira juga seperti teman-teman lain yang memanfaatkan dia. Mereka sering meminta Safira untuk membeli ini dan itu. Dan yang lebih menyakitkan, barang yang dia bayar untuk diberikan ke perempuan lain.


Ada juga yang berpacaran sama Safira hanya untuk dipamerkan ke teman-teman pacar Safira. Dia dengan bangga bilang jika dia mempunyai pacar yang cantik dan kaya raya.


Tidak sekali dua kali Safira diselingkuhi dan dibodohi. Safira padahal sudah belajar dari pengalaman agar tidak jatuh ke lobang yang sama. Tapi lobang itu yang suka mengikuti Safira.


Safira tersenyum pahit mengingat semua itu. Hanya Herry lah satu-satunya teman dia yang tulus memperlakukan dia sebagai teman. Makanya Safira sering bersama Herry. Herry tidak pernah memanfaatkan Safira sedikitpun.


Herry adalah tipe laki-laki yang sangat baik. Bahkan kebaikannya bisa dibodohi. Seperti dia yang sering dibodohi oleh teman dan mantan pacarnya.


Tanpa Safira sadari, dia meneteskan air mata. Safira sudah jauh-jauh hari melupakan masa lalunya, masa lalu yang sangat pahit untuk dikenang. Tapi sekarang Bimo malah mengingatkan dia kepada masa lalunya.


"Safira, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Bimo khawatir dengan keadaan Safira.


Bimo tidak bisa melihat perempuan menangis. Jika dia melihat perempuan menangis maka dia jadi terbayang jika Melati yang menangis di depannya.


"Safira," panggil Bimo ulang.


Safira kembali tersadar di mana dia berada sekarang. Dia dengan buru-buru menghapus air matanya.


"Kamu tidak apa-apa sekarang? Kenapa kamu menangis?" tanya Bimo ulang.


"Aku tidak apa-apa kok. Tadi hanya kelilipan," ujar Safira berbohong.


"Jika kamu sedang tidak enak badan, bagaimana kalau kita pulang saja," tawar Bimo cemas.


"Tidak apa, aku tidak mau pulang. Tidak mungkin aku melewatkan kesempatan untuk memeras kamu. Aku mau makan banyak," kata Safira dengan memaksakan tersenyum.


"Ya sudah jika kamu tidak apa-apa. Jika kamu sedang tidak enak badan, segera bilang aku ya," kata Bimo penuh perhatian.


"Iya, terima kasih," ucap Safira mengalihkan perhatian.


Beberapa menit kemudian makanan mereka tiba di meja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2